
Aku memilih diam saja, memejamkan mata. Ntah, aku hanya ingin benar-benar bertemu Ilham. Aku mau makan, minum, ataupun minum obat. Semoga dengan begini aku bisa sakit dan secepatnya menyusul Ilham.
"Mbak, a-aku sudah bawa Ilham." kata Arum.
Mendengar suara Arum yang membawa Ilham aku buru-buru membuka mata. Saat aku membuka mata, ruangan sedikit gelap. Sepertinya, Arum menyuruh teman-teman kamar untuk menutup jendela kamar, dan menutup pintu.
Aku mengedarkan pandangan. Seseorang menggunakan sarung hitam berjalan mendekatiku. Mata sayuku tak bisa menangkap wajahnya. Benarkan dia Ilham? Pandangan mataku benar-benar kabur.
"Ilham.." kataku.
Dia diam saja. "Bawa gue, Ham. Bawa gue! Ayo, kita harus pergi secepatnya dari sini." kataku, mengguncang lengan yang tertutup baju koko.
"Ini saya." suara seseorang.
Aku melepaskan tanganku. Memejamkan mataku dan menutup telingaku. Aku pasti gila. Karena suara yang kudengar mirip suara Gus Faiz.
"Pergi!" teriakku.
"Pergi!" teriakku. Sambil meringkuk. Tak mau melihat atau mendengar suaranya.
"Sttt.. Mbak, aku mohon Mbak, jangan teriak-teriak." terdengar suara Arum. Suaranya betul-betul ketakutan dan panik.
"Suruh dia pergi." kataku lirih.
Suara pintu kamar di buka. Ntah siapa yang kali ini datang.
"Tapi An.." suaranya menggantung.
"Minggir!" suara seseorang.
"Mbak, Mas Ilham yang asli datang." kata Arum.
"Ilham?" kataku.
"Ini gue." ternyata kali inipun bukan Ilham.
__ADS_1
Aku tak beranjak hingga seseorang memegang tanganku yang masih menempel di telinga.
"Jangan sentuh dia!" teriak Gus Faiz.
Aaron mengabaikan suara itu. "Buka mata lo, Nin. Ini gue." kata Aaron lagi. Kali ini aku membuka mata. Air mataku menetes.
"Saya bilang jangan sentuh dia!" Faiz menarik Aaron.
"Lo mau dia mati gitu aja, hah?" Aaron mendorong Gus Faiz. "Setelah apa yang lo lakuin ke dia, sekarang lo ngerasa perduli?" bentak Aaron pada Faiz.
"Waduh, Mas Ilham, Gus Faiz, sudah-sudah." Farha dan Arum mencoba melerai mereka.
Aku hanya bisa melihat mereka dengan tatapan kosong. "Istighfar, Nin!" seru Gus Faiz. Dia berlari ke arahku tanpa menyentuhku.
"Minggir!" suara Aaron lagi.
"Kamu tidak berhak atas dia sama sekali." suara Gus Faiz.
"Lo lebih gak berhak." suara Aaron.
Aku benar-benar tak bisa mengucapkan apapun.Tubuhku seakan diam saja, tak merespon apapun. Rasanya aku ingin berteriak melerai Gus Faiz dan Aaron, namun aku hanya bisa diam. Namun tiba-tiba semuanya gelap.
***
"Mbak, maafin aku. Aku ndak bermaksud membohongi, Mbak. Aku menyesal menyembunyikan kebenaran itu." suara Farha.
"Nggorohi apa ya, Mbak?" suara Arum.
Tak ada jawaban. Sepertinya Farha tak mau menjawab.
"Aku emang ora ngerti opo masalahe. Tapi, nek olih nein saran mending Mbake lunga disit bae. Ben aku sing jaga." suara Arum.
Aku tak mendengar apa-apa lagi. Hanya ada suara langkah mendekat, seperti ada seseorang yang menarik kursi dan duduk menatapku.
"Maafin aku ya, Mbak. Aku kira santri putra itu namanya Ilham. Jadi, aku minta anak kamar buat datengin dia buat Mbak. Tapi ternyata gak ada yang tau Mas Ilham, jadi aku minta tolong Gus Faiz buat cari dia. Biar Mbak mau makan." katanya.
__ADS_1
Hening sesaat.
"Mbak, tau ndak? Aku sama anak kamar habis dapet hukuman bersihin kolam. Karena ketauan bawa Gus Faiz sama Mas Aaron ke kamar. Hahaha. Tau ndak, Mbak. Kita semua sayang sama, Mbak. Buktinya, saat dihukum teman-teman kamarnya Mbak, ndak ada yang protes. Justru semuanya khawatir sama Mbak." katanya.
Kali ini dia mengusap punggung tanganku.
"Mereka ndak bisa masuk ke sini, Mbak. Kayaknya mereka juga dapat hukuman di pondok putra." katanya lagi.
Aku tak mau mempercayai siapapun lagi.
***
Aku masih berada di bawah selimut tebal. Di kamar ini bersama Tika yang kebetulan sedang tidak salat. Aku masih diam, tak ada satu katapun yang bisa kuucapkan dari kemarin. Aku hanya ingin diam. Suhu tubuhku sudah mulai normal. Hari inipun aku puasa. Ntah puasaku diterima atau tidak. Yang pasti aku tak mau melakukan apapun untuk saat ini. Tak selera untuk makan apa lagi bicara.
Aku masih memikirkan aku harus bagaimana? Aku tidak mau bertemu atau berurusan sedikitpun dengan keluargaku. Terlalu sakit hati ini saat mereka kembali hadir ke kehidupanku. Hatiku sakit. Begitu sakit hingga mengingat nama merekapun otakku memberikan peringatan keras bahwa aku sudah di buang tanpa hati.
“Mbak, ada tamu.” kata Tika masuk. Dia masuk bersama Kak Ulfa. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu pura-pura tidur.
Untuk apa lo dateng, Kak? Belom puas buat hati gue sakit? –batinku.
“Nindy..” kata Kak Ulfa lirih. Aku bisa merasakan dia duduk di sampingku. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Tika, fakta ini sangat merugikanku. “Kakak, minta maaf." lanjutnya lagi.
Aku masih pura-pura tidur. Berharap Kak Ulfa pergi dari sini. Aku masih ingin menenangkan pikiranku. Diam-diam aku berdoa agar anak-anak kamar yang sedang mengaji buru-buru pulang dan mereka bisa mengusir Kak Ulfa dari sini. Aku muak mendengar suaranya. Rasa benci sudah terpatri dalam pikiranku, meski ada secuil rasa rindu juga.
“Kakak tahu kalau kamu nggak tidur. Kakak cuma mau bilang kalau..,” kata-katanya terpotong dengan suara derap langkah berpuluh-puluh kaki.
Please, Tuhan. - batinku.
Brug-brug-brug! “Hahahhaa.” suara bising itu menyelamatkanku.
“Eh, Mbak, siapa? Tamunya Mbak Nindy, ya?” tanya Nafiz.
Dan mulailah mereka semua mengobrol dengan Kak Ulfa. Hingga mereka semua tahu kalau aku adalah adiknya. Terus berkata kalau aku beruntung memiliki kakak seperti dia. Dalam mata terpejam aku hanya bisa menghela nafas. Tiba-tiba ada yang mengguncang tubuhku. Aku benar-benar tak mau bangun.
“Mbak, bangun, sebentar lagi Magrib, aku udah siapin makanannya.” kata seseorang aku tahu itu Farha. Mau tak mau aku bangun. Kak Ulfa masih di sana. Aku mengarahkan pandanganku pada sepinggan nasi dengan lauk sayur asem dan 1 tempe goreng.
__ADS_1
Kak Ulfa pamit padaku dan pada yang lainnya. Dan setelah kepergian Kak Ulfa suara azanpun terdengar. Semuanya memanjatkan doa. Lalu minum untuk membatalkan puas, salat lalu makan bersama dengan canda-tawa yang mengiringi mereka. Aku sesekali hanya tersenyum menanggapinya.
Badanku masih terasa sangat menyiksa namun aku berpikir kalau aku izin untuk di kamar, Kak Ulfa pasti akan datang ke kamar ini lagi. Aku tidak mau hal ini terjadi. Jadi, aku putuskan aku akan ikut salat isya dan tarawih berjamaah. Bersama mereka aku punya alibi untuk tidak mengindahkan keberadaannya.