
Melihat kebahagiaan dan tawaan di wajah cantik Linda, mau tak mau aku tertawa. Tawa Linda benar-benar menular. Mendengar perkataannya pula aku jadi tersipu malu. Karena dia tahu persis kalau aku sudah mencintai Mas Faiz sejak lama.
“Kamu apa kabar?” tanyaku pada Linda.
“Alhamdulillah, baik, Mbak. Mbak sendiri bagaimana?” kata Linda.
“Alhamdulillah baik juga, Lin.” kataku.
“Tentu saja kamu baik-baik saja, Mbak, kan sudah ada yang menemani.” kata Linda sambil terkekeh menggodaku.
Akupun terkekeh mendengar godaan Linda. “Semoga kamu juga lekas bertemu jodoh ya. Eh, apa sudah ada calon?” tanyaku.
“Belum, Mbak, nanti sajalah itu. Melihat Bang Aaron aku jadi tidak berpikir untuk mencari suami.” kata Linda.
“Lho, memang kenapa? Oiya, aku dengar Aaron menikah dengan Farha, apa benar?” tanyaku pada Linda.
Linda membeku ditempatnya. Dia terkejut mendengar pertanyaanku. Dia terlihat begitu sedih. Aku jadi tidak enak hati karena telah melontarkan pertanyaan itu padanya. Sepertinya sesuatu tengah terjadi di dalam kehidupan Farha dan Aaron.
“Iya, Mbak. Betul. Apa Mbak ingat saat Farha pamit pada kita untuk kembali ke rumahnya karena ayahnya meninggal?” tanya Linda.
“Iya, aku masih ingat, apa ada kaitannya dengan itu?” tanyaku.
“Iya, Mbak. Ada.” kata Linda sedih.
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Ternyata penyebab kematian Ayah Farha adalah Bang Aaron. Di perjalanan dinasnya, Bang Aaron tidak sengaja menabrak Ayah Farha.” kata Linda, diapun menangis. Tidak kuasa menahan air matanya.
Aku buru-buru menghampiri Linda, aku mengusap bahunya, mencoba menenangkannya.
“Sebagai bentuk pertanggungjawaban, keluarga Farha tidak mau hanya dengan ganti rugi uang atau Bang Aaron masuk penjara. Padahal, Bang Aaron sudah pasrah bila dia harus masuk penjara atau mengganti dengan sejumlah uang. Namun, keluarga Farha meminta Bang Aaron untuk menikahi Farha, katanya itu juga permintaan yang diminta ayah Farha sebelum meninggal. Farha tidak tahu fakta ini sampai mereka bedua menikah, karena keluarga Farha hanya mengatakan kalau Farha harus menikahi Aaron karena wasiat Ayahnya.” kata Linda.
Aku menyodorkan tisu pada Linda.
“Setelah pernikahan, Farha di bawa ke rumahku. Di sana aku sangat sengat senang bertemu dengan Farha. Begitupun sebaliknya. Namun, saat Farha tahu kebenarannya, dia berubah. Aku benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa, Mbak. Aku kasihan pada Bang Aaron, namun aku bisa mengerti alasan perubahan sifat Farha.” kata Linda.
“Berubah seperti apa?” tanyaku.
“Dia terus marah-marah pada Bang Aaron, tidak tersentuh, dan tidak mau lagi bergaul dengan orang rumah. Termasuk denganku, dia membuat jarak. Aku benar-benar tidak tahu, Mbak, harus bagaimana.” kata Linda. Dia mengusap air mata di pipinya.
Aku mengangguk. Pikiranku kembali pada ketika aku bertemu dengan Farha dan Aaron saat pergi ke Monas. Aku ingat betul seperti apa Farha pada Aaron.
__ADS_1
“Ya Allah, aku benar-benar baru tahu fakta ini.” kataku.
“Oiya, Mbak, apakah Mbak baru tahu kalau Bang Aaron menikah dengan Farha?” tanya Linda.
“Iya, aku baru tahu kalau Aaron dan Farha menikah beberapa hari yang lalu.” kataku.
“Saat pernikahan berlangsung, kalau tidak salah, Mbak Ulfa datang. Aku jadi bingung, kata Mbak Ulfa, Mbak tidak bisa datang karena sedang tidak enak badan. Mengapa Mbak baru tahu beberapa hari yang lalu? Apa Mbak Ulfa tidak memberi tahu?” tanya Linda.
Aku menggeleng lemah. Ternyata Kak Ulfapun berbohong pada Linda. Namun, aku tidak bisa menjelekkan kakakku sendiri. Jadi, aku hanya bisa mengangguk. “Mungkin dia lupa. Karena kerjaannya banyak.” Kataku.
Lindapun mengangguk. Aku bersyukur karena Linda tidak menanyakan Kak Ulfa lebih lanjut. Karena aku tidak suka berboong, dan aku tidak mau melakukan itu.
“Apa yang aku harus lakukan ya, Mbak, untuk membantu menyatukan Farha dan Bang Aaron agar menjadi keluarga yang sesungguhnya?” tanya Linda.
“Apa kamu sudah berbicara empat mata dengan Farha?” tanyaku.
“Sudah, Mbak. Dia diam saja, tidak memperdulikan aku. Dan sejak saat itu, dia terus-terusan menghindariku. Aku jadi tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbicara dengan dirinya." kata Linda menggebu-gebu.
“Saran ku kamu terus dekati Farha, Lin. Karena mungkin ini karena dia masih belum menerima keadaan dan bingung harus melakukan apa, siapa tahu dengan terus mengajak Farha berbicara dan menunjukkan perhatianmu kepadanya, dia akan luluh.” kataku pada Linda.
“Akan aku coba, Mbak. Tapi melihat sikapnya sepertinya akan mustahil.” kata Linda terlihat sangat sedih. “Em, Mbak, maukah Mbak datang ke rumahku dan bertemu dengan Farha?” tanyanya.
“Terima kasih banyak, ya, Mbak.” kata Linda.
“Rumah kamu sekarang di mana?” tanyaku.
“Aku kembali ke rumahku yang dulu, Mbak. Kata Bang Aaron, Mbak dulu pernah main ke rumah sama Bang Ilham kan?” tanya Linda.
Aku meengangguk. “Iya, aku pernah ke rumahmu.” kataku.
“Datanglah, Mbak. Aku sangat berharap kamu bisa datang. Aku benar-benar kasihan pada Bang Aaron.” kata Linda. “Tapi aku pun kasihan pada Farha yang sudah tidak memiliki orang tua lagi untuk mengadu atau berkeluh kesah.” kata Linda.
“InsyaAllah aku datang ya, aku kan mengatakan pada suamiku dulu. Kalau dia mengizinkan secepatnya aku berikan kabar kepadamu.” kataku.
Linda mengangguk dan memegangi tanganku. “Terima kasih banyak, Mbak.” katanya.
Aku mengangguk. “Selama aku bisa bantu, insyaAllah aku akan terus membantumu.” kataku.
Linda mengangguk. “Oh, Ya Allah aku lupa, kita belum memesan apa-apa.” kata Linda sambil terkekeh.
Aku tersenyum. Linda pun memesan dua coklat panas dan dua potong donat. Dia tahu kalau aku sangat menyukai coklat. Aku pernah mengatakannya saat di pondok dulu. Ternyata Linda masih ingat. Aku benar-benar bersyukur.
__ADS_1
...***...
“Mas..” panggilku.
“Iya, ada apa, An?” tanya suamiku.
“Ternyata Aaron menikahi Farha karena sebuah Alasan.” Kataku.
“Alasan bagaimana?” tanya Mas Faiz.
“Aaron tidak sengata menabrak Ayah Farha sampai meninggal. Jadi, sesuai wasiat Ayah Farha, keluarga meminta Aaron untuk menikahi Farha karena Farha sudah tidak memiliki orang tua.” kataku.
Mas Faiz, diam. Menyimak ceritaku.
“Awalnya Farha hanya tahu kalau pernikahannya merupakan wasiat ayahnya. Jadi, dia menjalaninya dengan ikhlas. Namun, setelah menikah dan mengetahui fakta bahwa Aaron yang menyebabkan Ayahnya meninggal. Dia syok dan sikapnya jadi berubah.” kataku pada Mas Faiz.
“Tentu saja, mungkin kalau kita berada di posisinya, kita akan melakukan hal yang sama.” kata Mas Faiz.
Aku mengangguk. Aku sangat setuju dengan perkataan suamiku itu. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika kejadian itu menimpaku. “Lalu, aku harus bagaimana, Mas?” tanyaku.
“Temuilah, coba dekati dia, sepertinya dia butuh teman.” kata Mas Faiz.
Aku mengangguk. “Apakah aku boleh ke rumah Linda, Mas?” tanyaku.
“Lho, bukankah kita sedang membahas temanmu yang bernama Farha dan Aaron?” tanya Mas Faiz.
“Iya, Mas. Farha dan Aaron tinggal di rumah Linda beserta orang tua Linda.” kataku menjelaskan.
Mas Faiz mengangguk, “Rumahnya di mana?” tanya Mas Faiz.
“Rumah Ilham yang dulu, Mas.” kataku. “Bisakah kita main ke rumah Linda, Mas?” tanyaku.
“Baik. Besok kita ke rumah Linda ya.” Kata Mas Faiz.
“Terima kasih, Mas.” Kataku.
“Berhentilah mengucap terima kasih. Aku tidak terlalu suka mendengarnya.” kata Mas Faiz.
“Tapi, Mas..” kataku.
“Tidak ada penolakan.” kata Mas Faiz seraya tersenyum. Akupun mengangguk dan membalas senyumannya.
__ADS_1