
“Oiya, Nak. Ulfa juga akan ke Lombok ada tugas dari bosnya ke sana.” kata Mama.
“Oh, begitu, Ma.” aku hanya sampai situ menanggapi.
“Kalian berangkat kapan?” tanya Kak Ulfa.
“Besok pagi.” kata.
“Lho sama dong? Aku juga besok pagi.” kata Kak Ulfa.
Aku melirik Mas Faiz.
“Aku naik Garuda. Kalian?” tanya Kak Ulfa.
“Kami belum tahu.” kali ini Mas Faiz yang menjawab.
Aku tidak yakin dengan kata-kata Mas Faiz, Mas Faiz berkata kalau kita akan berangkat besok pagi jadi sepertinya dia sudah membeli tiket kami. Namun, aku berdoa agar tiket yang dipesan tidak sama dengan Kak Ulfa. Katakanlah aku jahat namun jujur ntah di bagian mana, aku merasa tidak ingin satu pesawat dengan Kak Ulfa. Hubunganku dengan Kak Ulfa belum terlalu baik, itu akan membuat kami canggung.
“Nah, bagaimana kalau aku ikut saja dengan kalian?” tanya Kak Ulfa.
“Tapikan mereka mau berbulan madu. Kamu tidak bisa ikut bersama mereka.” kata Mama.
“Ma, apa Mama tega melihat aku tinggal sendiri nanti di sana?” tanya Kak Ulfa.
“Maka dari itu Papa katakan kalau kamu tolak saja tawaran itu.” kata Papa.
“Menolak tugas ini sama saja seperti aku mengundurkan diri, Pa. Aku tidak mau karir aku di sana yang sudah kubangun bertahun-tahun karena ini.” kata Kak Ulfa.
“Tapi mereka akan berbulan madu.” kata Papa.
“Aku bisa memilih kamar yang lain saat di hotel, Pa. Aku hanya perlu teman di sana.” kata Kak Ulfa.
“Tapi, Nak. Mama takut nanti kamu mengganggu acara mereka di sana.” kata Mama.
“Ma, aku itu sudah besar. Sudah bisa mengatur waktu kapan aku harus bersama mereka kapan tidak. Lagi pula aku tidak akan mengganggu acara mereka. Iya kan, Nindy? Boleh kan kakak ikut sama kamu?” tanya Kak Ulfa. Kak Ulfa memegangi tanganku.
“Aku..” aku menggantungkan kata-kataku.
Aku bingung harus berbuat atau berkata apa. Aku hendak melirik Mas Faiz namun suara Kak Ulfa menghentikan pergerakanku.
“Apa kamu masih dendam padaku karena aku telah merebut perhatian Mama bertahun-tahun yang lalu? Apa karena alasan itu kamu berniat menolakku?” tanya Kak Ulfa.
Kini mata Kak Ulfa berkaca-kaca.
“Eh, tidak, Kak. Aku tidak memiliki dendam apapun pada kakak, tapi..” belum sempat aku melanjutkan. Kak Ulfa bangkit.
“Adikku masih menyimpan dendam padaku, dan Mama Papa tidak mendukung karirku. Aku sungguh-sungguh tidak beruntung di rumah ini!” seru Kak Ulfa.
__ADS_1
Dia menangis dan langsung lari menuju tangga. Sepertinya menuju kamar.
“Eh, bukan seperti itu, Kak!” seruku.
Kak Ulfa tetap saja berlari meninggalkan kami. Kini perasaanku semakin tidak enak padanya. Sepertinya kali ini akulah yang keterlaluan. Kak Ulfa hanya meminta bersama ke Lombok. Lagi pula bulan madu tidak mengharuskan aku dan Mas Faiz selalu bersama dari berangkat hingga pulang.
“Nak Faiz, Mama mohon, bolehkan Ulfa ikut bersama kalian ya? Iyakan, Pa?” kata Mama.
“Iya, Nak. Sejujurnya Papa tidak tega menyuruhnya berhenti dari pekerjaan yang sangat dia suka, kalau dia berada di dekat kalian, Papa bisa bernafas lega. Lagi pula dia wanita jadi Papa tidak bisa membiarkan dia pergi jauh sendirian.” kata Papa.
Mas Faiz melirikku, seakan meminta persetujuan. Mendengar Mama dan Papa yang memohon, tentu saja aku tidak akan pernah bisa menolah. Akupun mengangguk.
“Baik, Ma. Pa.” kata Mas Faiz.
“Terima kasih, Nak. Kamu baik sekali.” kata Mama.
Mas Faiz hanya mengangguk.
***
Malamnya sepulang dari rumah Mama, Mas Faiz mengajakku ke sebuah restaurant yang menjual beraneka makanan berat. Kami tidak sempat makan malam di rumah mama, dan perutku telanjur lapar. Mas Faiz benar-benar tidak ingin aku sakit.
“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Mas Faiz.
Aku menggigit bibirku mendengar panggilan itu.
“Eh iya, Mas. Aku mau makan ayam goreng.” kataku sambil tersenyum.
“Kamu sepertinya sangat suka ayam goreng.” kata Mas Faiz sambil terkekeh.
“Eh, tapi aku mau bebek juga. Aku pilih yang mana ya, Mas?” tanyaku.
“Pesan saja dua-duanya.” kata Mas Faiz.
“Nanti tidak habis, mubazir.” kataku.
“Yasudah kamu pesan ayam, nanti Mas pesan bebek. Nanti kamu bisa coba semuanya.” kata Mas Faiz.
“Kamu suka makan bebek, Mas?” tanyaku.
“Akan Mas coba.” katanya.
Mas Faiz sepertinya tidak pernah merasakan bebek. Baguslah kalau begitu, aku bisa membantunya merasakan bebek goreng, sesuatu yang belum pernah dicobanya.
“Minumnya?” tanya Mas Faiz.
“Aku mau es jeruk.” kataku.
__ADS_1
“Baik.” kata Maa Faiz.
Seketika aku dan Mas Faiz tertawa. Dia benar-benar seperti pelayan restaurant yang sedang menanyakan pesanan pada pengunjung yang datang. Mas Faiz tertawa, berarti Mas Faiz merasakan apa yang aku rasakan
“Mas!” seru Mas Faiz memanggil seorang pelayan.
Pelayan laki-laki yang merasa di panggil Mas Faizpun mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Kami pesan satu ayam goreng, satu bebek goreng, dan dua es jeruk ya. Kamu mau yang lain, An?” tanya Mas Faiz padaku.
Aku menggeleng.
“Sudah, itu saja.” kata Mas Faiz.
“Baik, tunggu sebentar ya.” kata pelayan itu.
Kami mengangguk. Pelayan itu langsung melenggang pergi.
Aku mengamati restaurant ntah sengaja atau tidak, Mas Faiz membawaku ke restaurant yang sangat romantis. Restaurant ini di dominasi warna coklat dnegan interior klasik jawa yang sangat bagus dan enak untuk dipandang. Pendar lampu yang berwarna kuning keemasan membuat suasana menjadi tambah romantis. Bukan itu saja, untuk menambah suasana romantis kami disajikan lagu-lagu jazz yang romantis.
“Kita seperti sedang kencan ya, Mas?” kataku.
“Bukannya kita memang sedang kencan?” tanya Mas Faiz.
“Ah? Jadi, kita sedang kencan, Mas?” tanyaku.
Mas Faiz terkekeh. “Katakanlah seperti itu.”
Saat dia terkekeh seperti itu, aura dinginnya benar-benar lenyap. Saat itu terjadi aku benar-benar merasa spesial. Bagiku senyuman dan kekehannya saat bersamaku merupakan bentuk kespesialan aku di hidupnya.
Seperti yang kita tahu, Mas Faiz itu jarang tertawa, beraura dingin, dan irit berbicara. Namun lihatlah setiap dia bersamaku. Dia benar-benar menjadi sosok yang sangat berbeda. Dia menjadi hangat. Aku sangat rela suamiku dicap dingin dan tak tersentuh oleh orang-orang terutama wanita-wanita yang menyukainya di luar sana asalkan saat bersamaku dia tetaplah lelakiku yang hangat.
“Apa Mas terlalu tampan, An. Hingga kau tidak berkedip memandangku?” tanya Mas Faiz.
“Masss..” rengekku.
Tidak ada yang salah dengan kata-kata Mas Faiz sebetulnya, namun ada banyak masalah di jantungku yang kian berpacu lebih cepat dari biasanya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Mas Faiz.
“Masss.. Stop it, aku mohon.” kataku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, mencoba menyembunyikan wajahku yang sudah pasti merah seperti tomat.
“Jadilah pasangan hidupku, jadilah ibu dari anak-anakku~” tiba-tiba Mas Faiz bernyanyi mengikuti lagu yang kini sedang diputar.
“Masss, tolong kasihani jantungku.” kataku.
__ADS_1
Mas Faiz tertawa, “Kamu lucu sekali, An.” katanya.