Penjara Suci

Penjara Suci
PS 45 - Pencarian


__ADS_3

“Ayo, Mbak kita cari ATM Mbak, biar Mbak ndak kena hukuman lagi.” kata Arum. Di sampingnya Farha juga ikut-ikutan membujukku.


“Kayaknya kalaupun ATM gue ketemu nggak ada gunanya, Rum, lo liat sendiri kan semalam.” kataku.


“Begini, Mbak, seendaknya kita coba dulu Mbak, kalau misalnya ketemu dan sepahit-pahitnya mereka tetap ndak percaya, Mbak kan masih punya kartu ATM buat jaga-jaga kalau Mbak butuh uang.” kata Arum.


Benar juga apa yang dikatakan Arum. Aku perlu kartu ATM itu. Bagaimana mungkin aku bisa kabur dari sini tanpa kartu ATM itu? Aku pasti membutuhkan uang banyak untuk biaya di luar sana. Apa lagi tujuanku kabur masih bingung mau kemana. Pokoknya ATM itu harus ketemu sebelum aku ketemu dengan Aaron.


“Oke deh, ayo kita cari.” kataku.


Mereka berdua langsung berdiri, binaran mata mereka terpancar lagi, dan mereka pun beranjak mengambil mukenanya masing-masing. Sebelum Arum keluar kamar karena dia tidak sekamar denganku Farha memanggilnya.


"Arum pakai mukena aku aja.” kata Farha. Farhapun menyodorkan atasan mukena miliknya kepada Arum lalu dia memakai mukena yang lainnya. Akupun menyambar mukenaku dengan cepat. Aku tidak nafsu untuk berbuat onar kali ini.


Kamipun bergegas keluar. Pertama-tama Farha mengusulkan untuk ke kantor pengurus, meminta pengurus yang berjaga di sana untuk mengumumkan kalau ada yang menemukan ATM-ku harap mengembalikannya ke kantor pengurus.


“Mbak, kemarin pergi ke mana aja?” tanya Farha.


“Gak kemana-mana cuma bolak-balik ngaji bareng kalian.” kataku.


“Kita mulai dari Masjid aja, yuk!” saran Arum.


Aku mengangguk menyetujui. Masjid adalah tempat paling jauh. Kalau mau dibuat peta, Masjid berada paling ujung dari kelas-kelas kami mengaji yang lain. Masjid sangat dekat dengan kompleks Putra. Tunggu! Itu artinya aku bisa bertemu Aaron di sana. Aku harap tidak ada Gus Faiz di sana.


“Tapikan jam segini pasti ada cowok yang ro’an Mbak disana.” kata Farha.


“Ro’an? Bersih-bersih?” tanyaku.


"Iya, Mbak. Betul." kata Farha.


“Sudah selesai kali, Mbak, coba aja dulu yuk!” kata Arum lagi.

__ADS_1


“Tapi dekat kompleks putra.” kata Farha.


Aku tau persis dia sangat tidak mau bersinggungan dengan santri putra karena malu dan tentunya takut di takzir oleh pengurus yang asal catat tanpa bertanya terlebih dahulu saat ada santri putra dan putri mengobrol. Tak peduli santri putra itu saudara kita sendiri. Karena bagi pengurus kita tidak boleh mengobrol dengan santri putra kecuali sudah mendapat izin dari pengurus.


“Mbak, tenang aja, akukan pengurus jadi Mbak ndak akan kena takzir.” kata Arum, sambil nyengir kuda. Aku terkekeh melihatnya lalu beralih kepada Farha. Diapun akhirnya mengangguk. Ada gunanya juga punya temen pengurus.


Kamipun berjalan menuju Masjid sambil mata kami terus menelusuri jalan dengan telaten mencari ATM-ku yang hilang. Bisa jadi ATM-ku jatuh di jalan kan?


BRUGG!! Aku jatuh terduduk di jalanan, mataku yang terus menunduk mencari ATM tidak memperhatikan Farha yang sedari tadi ada di depanku.


“Doh! Farha liat-liat dong kalo jalan.” kataku, seraya bangkit berdiri. Tanpa menoleh aku menepuk-nepuk mukenaku yang aku jamin kotor dibagian belakang


“Bukan aku, Mbak.” kata Farha. Suaranya bukan berasal dari hadapanku.


“Astaghfirullah!” teriakku refleks. Ini kali pertama aku mengucapkan istighfar dalam keadaan genting. Ternyata efek berada di lingkungan islami sedikit-sedikit membawaku terjerat di dalamnya.


Ternyata benar kata orang. Saat kita berteman dengan seorang tukang minyak wangi kita akan ikutan wangi. Eh, tapi tunggu dulu.


Dia benar-benar pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf atau kata lain sama sekali. Aku mengambil sendal di kakiku hendak melemparnya ke Gus Faiz, tapi seketika aku diam merasakan dejavu.


“Jangan, Mbak.” kata Farha yang buru-buru mengetahui aksiku yang tertunda. Aku memakai sendalku lagi. Lagian kalau aku melakukan hal itu lagi pasti berujung pada hukuman bahkan Umi. Bisa repot urusannya.


Kamipun meneruskan perjalanan kami sampai di samping Masjid kartu ATM-ku belum juga ditemukan. Saat kami benar-benar sampai di depan masjid, ternyata benar beberapa santri putra sedang piket membersihkan Masjid. Farha dan Arum tidak berani masuk. Aku kesal sekali. Seorang santri putra akhirnya menghampiri kami.


“Wonten nopo toh, Mbak?” tanyanya. Matanya tak tertuju pada kami tapi kami tau pertanyaan itu ditujukan untuk kami karena tak ada orang lain disamping kanan dan kiri kami. Farha dan Arum diam saling berpendangan. Aku menghela nafas.


“Dia ngomong apa?” tanyaku berbisik pada Arum.


“Dia nanya ada apa, Mbak.” katanya.


“Begini, Mas, kita mau cari kartu ATM saya yang jatuh. Boleh kita naik ke atas?” tanyaku. Kali ini aku mendekat padanya dan mentapnya jail. Dia terlihat sangat gugup saat aku menatapnya. Dia hanya mencuri-curi pandang padaku tak berani menatap lebih.

__ADS_1


“S-silakan.” katanya setelah menggaruk tengkuk lehernya yang aku yakin tidak gatal.


“Terima kasih.” kataku. Sekali-sekali mengerjai santri putra tidak apa kali ya, akupun tersenyum sok diramah-ramahkan. Wajah santri putra yang putih itu seketika menjadi merah. Aku hanya bisa terkekeh geli lalu berjalan ke atas di ekori Farha dan Arum. Aku masih sempat mendengar santri putra itu ber-istighfar. Memang benar-benar beda.


“Mbak, itu putranya diapain? Kok mukanya jadi merah?” tanya Arum.


“Nggak tau, udah ayo ke atas!” kataku.


Kamipun mencari dari sudut satu kesudut yang lainnya. Lantai masjid masih sedikit basah, terlihat sekali kalau lantai ini baru saja di pel.


“Gimana ketemu?” tanyaku pada Arum dan Farha. Kami memutuskan berpencar sebelumnya. Mereka berdua pun menggeleng. “Sama” kataku lesu. Kami sudah memastikannya hingga 3x tapi tetap saja tidak ketemu.


Kamipun mulai menuruni tangga. Santri yang tadi menghampiri lagi. Sepertinya ingin menanyakan apakah kartu ATM-ku ketemu atau tidak. Aku buru-buru mengirnya, “Ngapain sih! ATM-nya gak ketemu, sana-sana balik!” kataku kesal.


Aku sudah tak ada niatan untuk menggoda santri itu lagi. Katakanlah aku jahat tapi jika dilihat dari dia yang datang lagi menghampiri kami, itu berarti dia cuman caper (Baca: cari perhatian).


Aku rasa tak ada gunanya untuk melihatnya cari perhatian. Lebih baik aku pergi, mencari ATM di tempat lain. Akupun menyeret Arum dan Farha untuk bergegas, membiarkan si santri putra tadi bergeming di tempatnya. Biarkan saja.


“Mbak, ndak boleh kasar kayak gitu.” kata Farha.


“Iya, iyaa.. udah ah yok cari lagi!” kataku. Aku tidak mempersalahkan hal ini karena aku memang sengaja.


Kami berjalan menuju kelas tempat kita mengaji. Nihil. Tidak ada kartu ATM, bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan kartu ATM itu. Kami bertiga sama-sama berbaring di atas kelas. Beruntung kelas tidak ada bangkunya jadi kami tidak perlu mengangkat-angkat. Kepala kami berisi dengan di mana perginya kartu ATM tersebut.


“Ada tempat lain, Mbak?” tanya Farha.


“Ada! Ayok!” kataku langsung bangkit berdiri. Mereka berdua mengikutiku. Aku membawa mereka ke arah taman tempat bertemunya aku dengan anak-anak kecil dari yang pertama sampai si Za tadi. Tempat yang sama dengan kejadian pelukan yang berujung disiram air kotor.


“Di dini, Mbak?” tanya Arum. Tak percaya. Aku hanya mengangguk. Dan tanpa ada yang bertanya lagi kami langsung menyusuri kawasan ini. Kami berpencar dan terus mencarinya dengan teliti.


Aku mendesah kecewa saat hampir 7x putaran aku mencari tapi tidak juga ketemu. Kalau sudah begini aku harus apa? Aku hanya memiliki satu kartu ATM. Kamipun kembali kepondok dengan tangan hampa.

__ADS_1


Waktu masih menunjukkan setengah dua siang. Waktu berjalan lambat sekali, padahal aku sudah muter-muter mencari kartu ATM. Aku memutuskan untuk tidur. Efek belum tidur sepertinya membuatku ingin terus tidur. Kali ini aku memilih tidur di luar kamar dengan AC alam yang cukup meninabobokanku dengan cepat. Beruntung ‘kamarku’ berada di pojok jadi kalau aku tidur di luar kamarpun tak menggangu aktivitas orang lewat.


__ADS_2