Penjara Suci

Penjara Suci
PS 12 - Hadiah untuk Mama


__ADS_3

“Mbak Nindy!” segerombolan santri menghampiriku. Kali ini aku sedang berjalan menuju kamar pondokku bersama Farha.


Duhhh, gila, mereka pada mau ngapain coba? Jangan bilang mau ngelabrak gue. Di Jakarta dulu gue tukang ngelabrak masa disini jadi yang dilabrak. Nggak asik amat. -Batinku


“Kenapa?” tanyaku, ketus.


Mereka bicara menggunakan bahasa Jawa, aku hanya memandang mereka malas, menyadari kalau aku tak dapat mengerti apa yang dikatakan mereka, salah satu dari mereka berinisatif untuk berbicara pada Farha. Dan sepertinya mereka meminta Farha menerjemahkannya kepadaku. Kali ini aku merasa sedang berada di luar negeri, bukan di luar angkasa, di Mars.


“Mereka tanya bagaimana rasanya digendong Gus Faiz, Mbak.” tanya Farha.


“Hah? Maksudnya?” tanyaku bingung. Apa maksudnya? Aku rasa mereka memiliki pikiran yang tak waras. Jangankan digendong, diajak salaman saja Gus Faiz tidak mau katanya bukan mahram.


“Anu, Mbak. Mereka melihat Mbak ketika digendong Gus Faiz saat pingsan tadi.” kata Farha.


“Emang tadi gue beneran digendong Gus Faiz?” tanyaku. Antusias. Sepertinya aku bisa memanfaatkan situasi ini.


“Iya, Mbak, tadi waktu Mbak pingsan ndak ada orang sama sekali, lalu ada Gus Faiz, lalu dia gendong Mbak. M-mm, aku juga iri Mbak tadi.” kata Farha.


“Aneh banget si, kok ada ya orang iri bilang-bilang.” kataku. “Bilang sama mereka rasanya itu kayak di surga. Udah itu aja.” lanjutku. Dan saat Farha menerjemahkan bahasaku ke bahasa mereka, mereka semua teriak histeris. Dengan tampang mupeng (muka pengen). Aku hanya bisa tertawa jahat. Hari ini aku tahu, sealim apapun santri, mereka tetaplah gadis ‘abege’ sepertiku yang pasti bisa menyukai lawan jenis.


Hanya gaya menyukainya saja yang berbeda.


Kalo di Jakarta dulu, saat anak seumuranku menyukai lawan jenis, ya, biasa saja. Tak seheboh mereka. Mereka memang terkadang lebay namun tak lebay seperti santri-santri ini yang terlihat sangat menghindari laki-laki bahkan takut melihat laki-laki namun di belakang mencari tahu. Rasanya aku ingin tertawa melihat tingkah konyol mereka. Namun aku tetap memasang tampang angkuh. Anggap saja sedang sombong pada mereka seakan mendapat durian runtuh.

__ADS_1


Mari kembali ke topik pembicaraan yang sebelumnya. Aku bisa memanfaatkan Gus Faiz. Dari awal bertemu, aku tahu, Gus Faiz sangat anti dengan yang namanya perempuan. Kini aku membayangkan apa jadinya jika aku mengancam Gus Faiz. Nanti, aku akan mengancamnya untuk memberitahukan kepada Abah dan Umi akan kelakuannya (Menggendongku yang bukan mahramnya). Meski dalam keadaan terpaksa, akan kubumbui cerita itu dengan sesuatu yang dramatis.


Aku yakin, dia akan ketakutan mendengar ancamanku. Apalagi reputasinya akan hancur. Aku pasti bisa memanfaatkan ini. Aku yakin ancaman ini ampuh untuk membuat dia mau membantuku keluar dari pesantren ini.


Aku membubarkan kerumunan. Lalu kembali masuk ke kamar, mengeluarkan semua pakaianku yang ada di dalam lemari dan memasukkannya ke dalam kardus yang telah kubeli seharga gopek atau lima ratus rupiah di Koperasi Komplek Darul (Nama komplek pondok yang kami tempati).


Melihat aku mengeluarkan semua baju, teman-teman sekamarku mengerubungiku. Mereka terlihat bertanya-tanya apa yang terjadi padaku hingga aku beres-beres.


“Mbak iku itu jangan iku Mbaknya jangan boyong.” kata salah satu dari mereka.


“Boyong? ****, itu apaan?” tanyaku padanya.


“Boyong itu pindah, Mbak.” kata Farha.


“Hahaha, gue tuh cuma masukin baju, oke? Bubar-bubar!” teriakku. Dan merekapun bubar meninggalkanku dengan Farha.


“Nah selesai, bantuin gue bawa ini ke ruang pengurus, Far.” kataku. Farha pun menganggukkan kepalanya. Dan sepertinya tidak tega melihat keadaanku yang masih sakit. Tapi aku sudah merasa baikan hanya sedikit mengantuk. Ini semua pasti karena obat yang tadi aku minum di Ndalem (rumah) Abah sudah bereaksi.


Farha mengucapkan salam lalu mengetuk pintu si pengurus. Tak lama seorang pengurus keluar. Memandang aneh ke arah kardus yang aku bawa. Tapi sedetik kemudian dia menyuruh kami berdua masuk. Kali ini pengurusnya berbeda dengan pengurus yang sering aku jumpai. Ntah ada berapa banyak pengurus di pesantren ini, aku tidak perduli.


“Ini untuk apa, Mbak?” tanya Si Pengurus yang aku tak berniat mengetahui namanya sama sekali. Dia bisa berbahasa Indonesia. Kalau kuperhatikan semua pengurus yang pernah aku ajak bicara bisa menggunakan bahasa Indonesia. Sepertinya, semua pengurus bisa berbicara bahasa Indonesia. Kalau fakta ini benar, ini cukup menguntungkan.


“Ini hadiah buat nyokap gue, eh maksud gue, ini hadiah buat mama gue, tadi gue udah telepon nyok- eh mama gue.” kataku.

__ADS_1


Aku membayangkan wajah Mama di Jakarta. Pasti beliau akan memandang sinis ke arah paketanku ini dan bilang aku anak yang tak tau diuntung.


Yeah, memang seperti ini Nindy, Mah, Pah. Nindy yang selamanya jadi Nindy tanpa mau dibayang-bayangi Kak Ulfa si anak emas kalian. - Batinku


“Oh, baik Mbak, Mbak ngisi surat-surat ini dulu ya!” kata si pengurus ini dengan ramah. Tanpa membalas senyum ramahnya itu, aku langsung mengisi data-data yang cukup banyak dan rumit. Dan benar saja kata Farha, mengurus hal seperti ini sangatlah rumit.


“Udah nih.” kataku. Setelah memberikan kertas itu pada Si Pengurus, aku langsung pergi ke kamar tanpa mengucapkan terima kasih maupun salam.


Aku kembali lagi ke kamar, baju yang tadi aku pesan kebetulan sudah datang. Sebetulnya, aku tidak berniat sama sekali untuk melipat baju-baju itu tapi Farha dan teman-temannya datang dan langsung melipat semua baju itu dengan sangat rapih. Sementara aku hanya bisa melihat mereka semua bekerja. Baguslah aku tidak usah repot-repot melipatnya.


“Di sini semuanya harus rapi sama bersih, Mbak, soalnya sering ada kontrolan dari pengurus, Abah juga sering kontrol keliling. Kalau ndak rapi nanti kena takzir.” kata Farha, dengan susah payah menjelaskan.


“Dih, ini di takjir, ini ditakjir, itu ditakjir.. penjara banget sih!” kataku.


Aku tak habis pikir. Di sini kami benar-benar diajarkan tentang kedisiplinan dan keteraturan. Kalau kubandingkan dengan kedisiplian saat LDKS, mirip. Hanya saja ketika makan kami tidak diberikan waktu oleh tutor. Dan perbedaannya lagi, kalau LDKS-ku kemarin hanya 3 hari, mungkin di tempat lain paling lama hanya seminggu. Sedangkan di sini bertahun-tahun.


“Mbak, Abah pernah bilang, Hotel tempat banyak orang maksiat saja bersih, masa pesantren tempat orang-orang suci yang sedang cari ilmu kotor seperti kandang sapi? Hehehe.” kata Farha, dia tertawa.


“Dih, kok lo nanya gue?” kataku.


“Eh, maaf, Mbak. Anu, Mbak, seperti itu, Abah mau pesantren kita bersih, agar kita betah. Dan tidak kalah dengan hotel-hotel di Jakarta.” kata Farha.


Aku hanya beroh-oh ria. Toh bukan aku memintanya untuk menceritakannya padakukan? Dia sendiri yang ingin cerita. Farha pergi dan datang dengan minyak kayu putih di tangannya. Lalu menyodorkannya padaku. Aku menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih karena aku merasa tidak meminta, dia yang memberikan, justru seharusnya ia yang berterima kasih karena aku sudi menerima pemberiannya itu.

__ADS_1


Aku mengantuk. Sungguh.


Lalu semuanya gelap.


__ADS_2