
KABAR GEMBIRA
Assalamualaikum, Teman-Teman Semua.
Apa kabar? Semua kalian dalam keadaan baik dan sehat yaaa. Untuk yang lagi sakit semoga lekas sembuh❤️
Ada kabar bahagia nih hehehe. Seperti janjiku kemarin, aku buat cerita tentang Gus Faiz, lho.
Judulnya: Beyond Blassed
Kalian bisa klik profil aku atau bisa search Beyond Blassed langsung. Nah, nanti muncul.
Novel Beyond Blassed ini sedang aku ikutkan lomba You Are The Writer Season 4. Jadi, mohon dukungannya yaaa. Dukungan bisa berupa like dan vote.
Terima kasih semuanya. ❤️❤️❤️
__ADS_1
Wassalamualaikum.
...***...
...Sedikit Cuplikan...
...***...
Gus Faiz terus menggeliat dalam tidurnya, tubuhnya begitu gemetar, butiran-butiran keringat membasahi baju yang dipakainya, nafasnya memburu dan kepalanya terus menggeleng. Gus Faiz mencengkram selimut yang membalit tubuhnya dengan kuat.
Inilah Gus Faiz setiap malamnya. Dia terus bermimpi tentang Anindya. Seorang Anindya yang diam-diam sudah menyelinap kerelung hatinya. Kali ini Gus Faiz bermimpi Anin sedang di siksa oleh dua sosok berjubah hitam bertongkat yang ujungnya membentuk huruf 'W' dan dengan keruncingan yang tak bisa di ragukan lagi ketajamannya.
"Jangan! Anin!" Gus Faiz semakin gusar dalam tidurnya. Pasalnya. Kini wanita yang telah mencuri hatinya sedang menangis karena siksaan-siksaan kejam dari kedua sosok berjubah hitam.
"ANIN!!!" teriaknya, hingga dia bangun terduduk.
Gus Faiz memperhatikan sekitar, setelah merasakan kalau kejadian itu hanya mimpi belaka, diapun mengusap wajahnya sambil beristighfar. Tiba-tiba perasaan Gus Faiz tak enak. Benaknya kini terpenuhi oleh Anin. Gus Faiz mencoba menepis bayangan Anin namun bayangan itu tetap di sana tak beranjak sedikitpun.
__ADS_1
Gus Faizpun bangun, masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu berwudu. Setiap tetesan air wudu membuat hatinya berangsur-angsur tenang. Gus Faiz tahu inilah cara terampuh mengobati kegelisahannya adalah dengan mendekatkan diri dengan Allah SWT. Setelah selesai berwudu Gus Faizpun berganti pakaian, ia memakai baju koko, sarung, dan peci, lalu menggelar sajadah. Dia memilih salat dengan khusyuk.
Gus Faiz ingin mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta dan memohon ampunan atas dosa yang telah dilakukannya, terlebih dosa akhir-akhir ini setiap bertemu dengan Anin. Kini fikirannya melayang saat dia menggendong Anin untuk pertama kalinya. Dia sadar apa yang dilakukannya itu sangatlah salah. Namun setiap bersama Anin dirinya lemah, tubuhnya secara refleks selalu ingin melindungi Anin. Dia tak bisa menjaga tubuhnya agar tidak menyentuhnya.
Fikiran keduanya beralih kepada gelang yang di pakai Anin. Gelang itu miliknya. Gelang yang sudah dia pasrahkan kepada sahabatnya Ilham untuk diberikan pada seseorang yang dipercayakan Ilham untuk dijaga seumur hidupnya.
Gus Faiz tak pernah mengenal gadis yang akan memakai gelang itu. Dia hanya bisa menyelipkan namanya diantara doa-doa panjangnya. Walau Gus Faiz tidak tahu seperti apa wajah, sifat dan kepribadiannya, namun ntah mengapa tetap saja hatinya selalu ingin memanjakan gadis itu dalam doanya. Salah satu doa itu berisi permohonan untuk dipertemukan dengan gadis itu jika memang gadis itu adalah jodohnya.
Dan sekarang mereka sudah bertemu, apakah benar kalau Anin adalah jodohnya?
Fikiran ketiganya beralih ke kejadian di hutan saat Anin mencoba kabur. Gus Faiz selalu mencoba menghindari Anin karena takut setan merasuki akalnya lagi. Tapi ntah mengapa takdir terus mempertemukannya. Ulfa, Kakak Anin datang, wajahnya begitu ketakutan, dia meminta Gus Faiz untuk menyusul Anin. Ulfa begitu menyayangi Adiknya. Dia selalu memperhatikan adiknya itu dari jauh. Dan ntah mengapa hatinya selalu menbawanya datang kepada Gus Faiz untuk mencari Adiknya. Di pondok pesantren ini tak ada yang mengenal dirinya dengan baik kecuali keluarga Umi. Dan Ulfa tidak mungkin meminta bantuan kepada Umi ataupun Abah karena takut orangtua Gus Faiz itu menelepon orangtuanya di Jakarta. Dan terjadilah kejadian hutan. Gus Faiz beristighfar lagi.
Dan Fikiran terakhirnya adalah hatinya. Semakin hari semakin Gus Faiz merasakan takut kepada dirinya sendiri. Perasaan itu tak bisa di bendung. Gus Faiz mulai sadar cintanya kepada Anin semakin besar. Terlebih degupan jantungnya setiap melihat Anin memperjelas semuanya.
Gus Faiz semakin takut akan rasa itu. Ia sangat takut kalau rasa cintanya kepada makhluk ciptaan-Nya lebih besar dari sang Penciptanya.
Dalam doanya Gus Faiz meminta petunjuk kepada Allah SWT atas segala kegelisahannya. Tiba-tiba, Gus Faiz menangkap surat beasiswa ke Kairo yang ada di atas meja belajarnya. Inikah jawaban atas doanya?
__ADS_1