Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 60 - Kelahiran


__ADS_3

Aku terbangun, wajah yang pertama aku dapati adalah Mas Faiz. Ternyata memang benar, dia pulang lebih awal karena telepon itu. Dia menatapku sambil tersenyum. Akupun melakukan hal yang sama.


“Kamu pasti lelah ya?” tanya Mas Faiz.


Aku menggeleng.


Aku buru-buru menoleh ke samping mencari keberadaan Marsya yang tadi sedang pulas di sampingku. Namun, Marsya tidak ada. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaannya.


“Di mana Marsya, Mas?” tanyaku bingung karena tidak menemukan keberadaan Marsya.


“Sudah dijemput ibunya.” kata Mas Faiz.


“Sepertinya aku terlalu pulas ya?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk, tersenyum dan mengusap pipiku.


“Mas..” kataku.


“Iya?” tanya Mas Faiz.


“Apa Mas mendengar semuanya?” tanyaku.


“Iya, Mas mendengar semuanya.” kata Mas Faiz.


Aku mendekati Mas Faiz dan memeluknya dari samping.


“Aku harus bagaimana?” tanyaku.


“Coba tanyakan baik-baik pada Kakakmu, berikan pengertian.” kata Mas Faiz.


“Kalau dia tetap tidak mengerti?” tanyaku.


“Kamu tidak boleh memaksa, karena itu pilihan kakakmu.” kata Mas Faiz.


“Baiklah.” kataku.


***


Aku menghampiri Kak Ulfa yang sedang duduk menonton TV di ruangan keluarga. sepertinya ini waktu yang tepat untuk aku menanyakan kebenaran tentang dirinya dengan Dimas. Dia menyilakanku duduk. Akupun duduk di sampingnya.


“Kak, apa kakak serius?” tanyaku pada Kak Ulfa.


“Serius apa, Dik?” tanya Kak Ulfa bingung dengan pertanyaanku.


“Serius menjadikan Dimas kakak iparku?” kataku balik bertanya.


“Iya, Memang kenapa?” tanya Kak Ulfa padaku.


“Dimas itu kan..” kataku.

__ADS_1


“Aku tidak mau mendengarnya bila kamu ingin menjelek-jelekkannya di depanku.” seru Kak Ulfa.


Wajahnya yang semula cerah kini menjadi cemberut, dia terlihat sangat tidak suka mendengar aku yang mencoba menjelskan keburukan Dimas, agar Kak Ulfa tidak salah pilih suami. Menikah itu hanya sekali, aku tidak mau pernikahan Kak Ulfa sampai kandas di tengah jalan.


“Tapi, Kak. Linda bilang kalau..” kataku. Belum juga aku selesai berbicara, Kak Ulfa langsung.


“Tidak ada yang lebih mengenal Dimas dari pada Kakak.” kata Kak Ulfa.


“Aduh ada apa sih ribut-ribut?” tanya Mama yang tiba-tiba datang.


“Ini, Ma. Nindy menjelek-jelekkan Dimas.” kata Kak Ulfa mengadu pada Mama.


“Bukan begitu, Ma. Linda itu sepupu Dimas, dan Linda berkata..” aku mencoba meenjelaskan namun buru-buru di potong oleh Kak Ulfa.


“Kamu mau menjelek-jelekkan Dimas dengan mengatakan kalau dia yang menyabotase mobil Aaron kan? Sekarang kita pikir, kalau memang Dimas yang melakukannya kini dia sudah mendekam di penjara!” seru Kak Ulfa.


Kali ini Kak Ulfa bangkit dan langsung pergi meninggalkan aku dan Mama. Mama menatapku meminta penjelasan.


“Apa Mama mengenal Dimas?” tanyaku.


“Tentu saja, Nak. Dia sering ke sini. Ada apa sebetulnya, Nak? Mengapa kakakmu mengatakan hal seperti itu?” tanya Mama.


Aku menghembuskan nafas. Aku benar-benar tidak mengetahui itu semua. Mengapa tidak ada yang memberitahuku mengenai kedekatan Kak Ulfa dan Dimas? Tadinya aku hanya mengira kalau hubungan Kak Ulfa dan Dimas berakhir sejak kejadian di Raja Ampat lalu.


“Dimas bukanlah orang baik, Ma.” kataku.


“Tapi dia sudah menyabotase mobil Aaron hingga Aaron kecelakaan dan menabrak ayah Farha.” Kataku.


“Nak, untuk masalah ini, betul apa yang dikatakan Kak Ulfa. Bila Dimas memang melakukan hal tersebut tentu dia tidak ada di sini, namun dia ada di penjara.” kata Mama.


“Tapi, Ma. Linda tidak mungkin berbohong.” kataku.


“Mungkin ada salah paham diantara temanmu dan Dimas. Itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan kalau Dimas bukanlah orang baik.” kata Mama.


Aku sangat sedih. Tadinya aku ingin mendekatkan Kak Ulfa dengan Rizki namun ternyata Kak Ulfa sudah memutuskan untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan Dimas. Laki-laki yang sangat membuatku sedih.


“Nak..” panggil Mama.


Aku menoleh ke arah Mama. “Iya, Ma?” tanyaku.


“Jangan ganggu Kakakmu lagi ya. Kasian dia. Dia sudah mengiklaskan suamimu dan sudah mau membuka hatinya untuk orang baru. Jadi, Mama mohon jangan lagi campuri urusan Kakakmu. Jangan mengatakan yang tidak-tidak bila tidak ada bukti yang nyata.” kata Mama.


“Tapi Linda dan Aaron tidak mungkin berbohong, Ma.” kataku.


“Mereka mungkin tidak berbohong, namun mereka salah paham. Bukankah setiap keluarga memiliki sengketa masing-masing? Kita tak perlulah ikut campur.” kata Mama.


Aku benar-benar kecewa, ternyata Mama tidak mempercayaiku. Andai saja aku langsung mengenalkan Rizki pada Kak Ulfa enam bulan lalu. Kak Ulfa tidak akan dekat dengan Dimas. Walaupun aku tidak tahu apakah Kak Ulfa mau aku dekatkan atau tidak, namun aku tetap harus mencobanya.


“Aku ingin Kak Ulfa bahagia, Ma.” Kataku.

__ADS_1


“Kami semua juga sama, Nak. Namun sepertinya bila kamu terus begini, kamu justru menghambat kebahagiaannya.” kata Mama.


“Baiklah, Ma.” kataku.


***


Kini aku menyandarkan tubuhku di kamar. Mas Faiz masuk ke dalam kamar. Melihatku lesu, dia mendekatkan dirinya padaku.


“Apa kamu sakit, An?” tanya Mas.


“Tidak, Mas.” Kataku menggeleng.


“Kenapa mukamu pucat?” tanyanya.


“Ntahlah, Mas. Mungkin karena aku tidak memakai lipstick.” kataku.


Mas Faiz mengangguk. Dia memperhatikan wajahku. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Mas Faiz.


“Aduh, Mas. Aku kebelet pipis.” kataku.


Mas Faiz membantuku duduk dan berjalan. Belakangan aku jadi sering buang air kecil.


Tiba-tiba di kamar mandi dari bagian sensitifku keluar air ketuban bercampur darah menderas dan membasahi lantai. Aku terduduk syok.


“Mas!” seruku memanggil Mas Faiz.


Mas Faiz langsung masuk ke dalam kamar mandi. Melihatku yang terduduk di lantai, Mas Faiz langsung berlari ke arahku. “Kita ke rumah sakit.” kata Mas Faiz.


Mas Faiz membawaku ke rumah sakit, Mama, Papa, dan Kak Ulfa juga ikut. Lalu aku dibawa ke ruang persalinan. Aku pun melahirkan dengan normal ditemani Mas Faiz dalam ruangan.


Setelah melahirkan akupun pingsan. Aku tidak ingat apa yang tengah terjadi.


***


Lamat-lamat aku mendengar suara indah suamiku yang sedang mengaji. Suaranya benar-benar menyejukkan hatiku. Aku pun mulai membuka mata. Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk memperjelas penglihatanku.


Hal yang aku temui pertama kali adalah langit-langit. Melihat langit-langit yang bukan rumahku atau rumah mama, membuatku berpikir kalau aku berada di rumah sakit. Aku pun tersadar kalau aku baru saja melahirkan.


“MasyaAllah, kamu sudah bangun, An?” tanya Mas Faiz.


Aku tersenyum. Aku mengamati wajah Mas Faiz, tampilan Mas Faiz begitu berantakan. Meski bajunya bersih namun rambutnya berantakan dan matanya memerah. Seperti habis menangis.


Aku mengulurkan tanganku padanya, dan mengusap satu butir air mata yang mengalir tanpa pamit di pipinya. Dia mencium tanganku. Akupun ikut menangis melihat bagaimana mata Mas Faiz yang berbinar dan merah dalam satu waktu.


“Mas.. Anak kita?” tanyaku.


“Anak kita sehat, Sayang. Terima kasih, terima kasih telah bertahan, terima kasih telah melahirkan anak kita. Terima kasih.” kata Mas Faiz.


Kini air mata Mas Faiz mengalir deras. Aku mengusapnya dengan lembut sambil mengangguk. Mas Faiz mencium keningku lama. Aku bisa merasakan kehangatan air katanya di keningku.

__ADS_1


__ADS_2