Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 71 - Memori yang Kembali


__ADS_3

Aku terbangun. Aku membuka mata, langit-langit kamar rumah sakit lagi-lagi menjadi pemandangan tersendiri bagiku. Aku melihat Umi di sampingku. Aku mengerjapkan pandanganku.


Bayangan-bayangan itu telah kembali. Kini aku mengingat semuanya.


Aku memaksakan duduk. Umi membantuku, dan di sana aku melihat Mas Faiz dan Akbar yang mendekat. Air mataku menderas. Aku langsung keluar kamar rumah sakit dan berlari. Sungguh aku sangat malu kepada suamiku. Malu atas apa yang terjadi kepadaku.


Aku tidak pantas berada di sampingmu, Mas. –seruku dalam hati.


“An!” seru Mas Faiz.


Dia sepertinya mengejarku. Aku tidak berani menoleh. Aku benar-benar malu dan jijik kepada tubuhku sendiri.


“An!” teriak Mas Faiz.


Dia berhasil meraih tubuhku dari belakang.


“Jangan sentuh aku, Mas. Tubuhku kotor.” kataku sambil meronta.


“Tidak, Sayang. Maafkan Mas, maafkan Mas. Mas tidak bisa menjagamu. Mas mohon maafkan Mas karena terlambat menemukanmu. Maafkan Mas yang saat itu tidak mengangkat telepon darimu. Mas mohon, maafkan Mas..” kata Mas Faiz.


“Akulah yang bersalah, Mas. Akulah yang pergi tanpa meminta izin kepada Mas. Aku memang istri yang sangat tidak taat kepada suaminya. Dan, aku.. aku..” aku tidak bisa lagi mengatakan banyak hal kepada Mas Faiz. Air mataku kembali mengalir.


Mas Faiz membalik tubuhku. Aku menunduk.


“Mas lah yang salah, An. Maslah yang menyebabkan ini semua terjadi. Tolong maafkan Mas.” kata Mas Faiz.


“Aku malu kepadamu, Mas. Aku merasa tidak pantas lagi menjadi istrimu, bibir dan leher ini..” aku terisak.


“Kamu tetaplah istriku. Kamu tidak perlu malu. Tidak ada yang terjadi pada bibir dan lehermu. Tidak ada apapun yang terjadi.” kata Mas Faiz memelukku.


Aku kembali menangis dipelukannya.


“Ayo kita pulang, An. Kita lupakan semuanya. Kita pulang ya? Mas mohon.” kata Mas Faiz. Mata Mas Faiz memerah.


“Kau tidak jijik kepadaku, Mas?” tanyaku.


“Tidak. Tidak ada yang terjadi. Mas sama sekali tidak jijik kepadamu. Kamu adalah istri Mas. Istri Mas.” kata Mas Faiz.


Aku mengangguk.


“Mas, mohon maafkan Mas. Ini semua kesalahan Mas.” kata Mas Faiz.

__ADS_1


“Tidak, Mas. Mas tidak salah apapun. Akulah yang bersalah karena keluar tanpa izin hingga semua ini terjadi. Ampuni aku, Mas.” kataku.


Mas Faiz menyentuh pipiku dan mendekatkan wajahnya. Seketika bayangan itu kembali muncul. Secara refleks aku mendorong suamiku hingga Mas Faiz terjengkang.


“Maafkan aku, Mas.” kataku. “Aku benar-benar tidak bisa. Bayangan itu. Bayangan itu..” lanjutku.


Aku memeluk lututku ketakutan.


“Tidak apa-apa, An. Aku mengerti. Maafkan Mas.” katanya.


Aku menggeleng berharap Mas Faiz tidak langsung meminta maaf kepadaku. Biar aku saja yang meminta maaf kepadanya. Mas Faiz mengangkatku, dan membawaku ke kamar.


“Aku takut.” kataku.


“Jangan takut, An. Ada Allah dan ada aku yang akan terus menjagamu.” kata Mas Faiz.


***


Mas Faiz terus menemaniku dia selalu menyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja. Aku mulai tegar. Umi dan Abahpun terus berada di sampingku, bantu menguatkanku. Kepulanganku ditunda 2 hari lagi. Hingga hari ini, hari di mana aku bisa pulang, mereka tetap berada di sisiku. Mama dan Papa pun datang menemaniku juga.


Kali ini Mama, Papa, Abah, dan Umi berada di luar ruangan. Kini hanya aku dan Mas Faizlah yang ada di sini. Karena Haidar ada dalam gendongan Abah. Abah terlihat sangat menyayangi cucu pertamanya begitu pula dengan yang lainnya. Hanya saja dua hari ini Haidar terlihat ingin terus bersama Abah bukan Papa. Sepertinya dia sangat merindukan kakek dan neneknya itu.


Mata Mas Faiz memancarkan kebencian saat aku mengucapkan nama Kak Ulfa.


“Di kantor polisi.” kata Mas Faiz.


“Bolehkah aku meminta kamu mengantarkanku ke kantor polisi, Mas?” tanyaku.


“Sepertinya kita tidak perlu bertemu penjahat-penjahat itu.” kata Mas Faiz.


“Ada aku hanya ingin bertemu dengannya, Mas. Satu kali saja.” kataku.


“Baiklah, besok, Mas antarkan.” kata Mas Faiz.


***


Keesokkan harinya Mas Faiz membawaku ke kantor polisi tempat Kak Ulfa dan Kak Dimas berada. Aku hanya mau bertemu kakakku, bukan Kak Dimas. Kini aku dan Mas Faiz masuk ke ruang kunjungan, dimana terdapat pemisah antara ruangan berupa tembok dan kaca


“Nindy! Tolong katakan pada suamimu, tolong keluarkan kakak dari sini!” seru Kak Ulfa saat melihatku datang.


Kami hanya mengobrol melalui kaca berhadap-hadapan.

__ADS_1


Aku mengamati wajah kakakku. Kini di wajahnya banyak lebam. Aku tidak tahu apa yang tengah menimpanya di dalam penjara sana. Yang aku tahu hanya wajahnya menunjukkan kalau kakakku baik-baik saja.


Aku diam saja. Hanya menatap kakakku dengan tatapan datar.


“Maafkan kakak, Nindy. Kakak mengaku kalau kakak telah berbuat kesalahan. Kakak janji kalau kamu mengeluarkan kakak, kakak tidak akan jahat lagi kepadamu.” kata Kak Ulfa.


“Rasanya sudah berulang kali kau mengatakan itu kepadaku, Kak. Hingga aku tidak tahu lagi makna kata ‘maaf’ yang kau ucapkan. Aku tidak pernah tahu apakah maaf itu berarti maaf untuk bertaubat atau maaf untuk niat akan kembali berbuat salah.” kataku.


Aku bangkit. “Tebuslah kesalahanmu di dalam, Kak. Semoga kau selalu diberikan kesehatan dan diberikan jalan untuk bertaubat.” kataku. Akupun berbalik.


“Kau akan menyesal! Tunggu pembalasan dariku!” seru Kak Ulfa.


Aku mengabaikannya.


“Wanita murahan!” seru Kak Ulfa.


Aku berhenti. Aku benar-benar sedih mendengar kakakku mengatakan hal serupa. Dia yang membuat ini semua terjadi namun dia masih berani mengatakan bahwa aku adalah wanita murahan.


Aku menoleh.


“Kaulah yang murahan!” seru Mas Faiz. “Sudah saya katakan, bila kau berani menyentuh istri dan anak saya, saya akan membuatmu menyesal seumur hidup.” kata Mas Faiz.


Aku melihat Mas Faiz hendak menghampiri Kak Ulfa. Akupun menahannya.


“Aku hanya bisa berdoa semoga kata-kata itu tidak berbalik ke arahmu.” kataku.


Aku menatap Kak Ulfa dengan marah. Sungguh siapa yang tidak marah dikatakan demikian?


Akupun keluar ruangan. Aku tidak memerdulikan teriakan-teriakan Kak Ulfa di belakangku. Satu butir air mataku jatuh. Teringat bagaimana jahatnya kakakku di tempat penyekapan itu dan betapa jahatnya kakakku yang mengatakan aku wanita murahan. Aku kembali merasa tidak pantas di dekat Mas Faiz.


Aku dan Mas Faiz pun pergi menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.


“Jangan pikirkan kata-katanya. Anggaplah kata-katanya angin berlalu. Mari kita mulai lagi dari awal. Kita lupakan apa yang telah terjadi.” kata Mas Faiz.


Aku mengangguk, “Namun, aku tidak tahu sampai kapan tubuhku akan menolak sentuhanmu, Mas.” kataku.


“Ingat saat Mas di rumah sakit saat menjenguk Marsya di rumah sakit untuk pertama kalinya?” tanya Mas Faiz.


Aku mengangguk. Aku tentu masih mengingatnya.


“Bukankah katamu semua hal, baik trauma ataupun masalah harus kita hadapi agar tidak berlarut-larut?” tanya Mas Faiz.

__ADS_1


__ADS_2