Penjara Suci

Penjara Suci
PS 69 - Persiapan


__ADS_3

"Ayo, Dik. Semua orang udah tungguin kamu." kata Kak Ulfa.


Aku mengangguk.


Aku hendak berpamitan dengan Gus Faiz namun Kak Ulfa lebih dahulu mengucapkan kalimat itu.


"Kami pergi dulu ya, Gus." kata Kak Ulfa.


Aku mengangguk pada Gus Faiz.


"Hati-hati." katanya.


Aku memandang wajah Kak Ulfa. Wajah itu terlihat benar-benar bahagia.


"Terima kasih, Gus." kata Kak Ulfa. Kini giliran Kak Ulfa melirikku.


Aku yang mengerti arti lirikan tersebut langsung berkata, "Iya, terima kasih."


"Eh, e, Dik, kamu duluan aja ya. Nanti Kakak nyusul." kata Kak Ulfa.


Aku mengangguk lagi.


"As-salamu 'alaikum." pamitku.


"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh." mereka menjawab salamku.


Aku sangat sadar atas posisiku. Akupun menjauh meninggalkan mereka yang tak aku tahu sedang membicarakan apa. Mereka butuh privasi. Aku harus mengerti. Akupun semakin mempercepat langkahku.


Aku menghampiri orangtuaku di parkiran. Di sana ada Umi dan Abah.


"Kita besanan saja, Lukman." suara Abah. Sambil tertawa.


"Wah, dengan senang hati, Mas. Saya yakin, anak saya akan sangat bahagia kalau itu bisa terjadi." kata Papa. Papa pun ikut tertawa.


Mama dan Umi yang mendengar kalimat Abah dan Papa pun tersenyum. Raut mereka semua sungguh bahagia. Apakah hanya aku di sini yang merasa sakit?


Aku tidak boleh bersedih hati. Aku harus tersenyum dan terlihat gembira. Akupun tersenyum.


"As-salamu 'alaikum." salamku.


"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh."


"Maaf, Nindy lama." kataku.


"Nggakpapa, Nak." kata Mama.


"Ayo, pamit dulu, Nindy." kata Papa.


"Umi, maafin Nindy ya kalau selama ini, Nindy sering menyusahkan Umi." kataku.


"Tidak, Sayang. Umi sama sekali tidak merasa direpotkan Nindy." kata Umi.


"Terima kasih untuk semuanya, Umi. Terima kasih sudah jadi ibu kedua Nindy di pesantren." kataku.


Beliau memeluk dan mencium pipiku. "Dengan senang hati, Sayang."


Akupun beralih ke Abah. "Abah, maafkan Nindy. Terima kasih atas segala ilmu dan kebaikan Abah kepada Nindy." kataku. Lalu mencium tangan Abah.


Abah mengusap kepalaku. "Iya, Nak. Semoga kamu bisa menjadi anak yang bisa membawa kedua orang tuamu dan suamimu kelak ke surga." kata Abah.


"Amin. Terima kasih, Abah." kataku.


Kak Ulfapun datang bersama Gus Faiz. Hatiku kembali berdenyut. Namun, aku terus mencoba terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Kami semua mulai memasuki mobil setelah Mama dan Papa mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Abah dan Umi.


Mobil pun mulai melaju menjauhi pondok.


"Ini." kata Kak Ulfa menyodorkan ponsel.


Aku mengambil ponsel itu. Aku membolak-balik ponsel pemberian Kak Ulfa. Ini ponselku.


"Dari Gus Faiz." katanya.


"Terima kasih, Kak." kataku.


***


Sesampainya di rumah. Aku pun kembali masuk ke kamarku. Aku memandangi kamar yang sudah lama tidak aku tinggali.


Meski aku sudah meninggalkan kamar bertahun-tahun tapi ternyata kamarku tetap terawat dengan baik. Mungkin Kak Ulfa dan Mama yang membuat kamarku selalu rapih.


Aku mengeluarkan pakaianku. Kak Ulfa pun masuk. Jujur aku senang bisa berjumpa dan bersama lagi dengan Kak Ulfa. Namun, karena lamaran itu. Aku merasa sedikit sedih. Aku tidak boleh begini. Kak Ulfa adalah kakakku. Aku harus selalu bahagia melihatnya bahagia.


"Dik.." kata Kak Ulfa.


"Iya, Kak?" tanyaku.


"Kakak bantu ya." katanya.


"Nggakpapa, Kak. Barang aku cuma sedikit kok. jadi nggakpapa, Kak. Kakak duduk saja temani aku ya." kataku pada Kak Ulfa.


Tiba-tiba Kak Ulfa memelukku erat sekali. Aku mengusap punggungnya.


"Dia datang, Nin." kata Kak Ulfa.


Aku memutar otakku mencerna siapa orang yang dimaksud Kak Ulfa. Namun, sepertinya hanya satu dia yang datang.


Kak Ulfa mengangguk.


Ternyata benar orang yang dimaksud adalah Kak Ulfa. Aku mengerti bagaimana perasaan Kak Ulfa. dia telah menanti Gus Faiz selama 4tahun sama sepertiku. Namun, bedanya mereka berdua pasti sudah sering berkomunikasi. Di rumah, sesering apapun mereka berkomunikasi tidak akan mendapat masalah, justru baik.


"Boleh kakak sesekali tidur di sini? Kakak nggak tau kapan lagi bisa tidur sama kamu." kata Kak Ulfa.


Aku mulai mengerti arah pembicaraan Kak Ulfa. ternyata saat aku meninggalkan dia dengan Gus Faiz, Gus Faiz sudah mengutarakan keinginannya untuk melamar Kak Ulfa. Aku hanya bisa tersenyum. Turut berbahagia.


"Tidur sini aja terus gakpapa Kak sampai hari itu tiba." kataku.


***


Hari pun berlalu. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Kak Ulfa. Hari dimana dia akan dilamar oleh seorang pria yang sangat dicintainya. Gus Faiz tipikal calon suami yang sempurna, jadi aku tak mengkhawatirkan kebahagiaan Kak Ulfa. Dia pasti akan bahagia bahkan akan menjadi istri paling bahagia. Dan akan berstatus 'Ning'.


"Kak Ulfa, boleh aku ke rumah Mia?" tanyaku.


"Boleh, Sayang. Siang udah pulang ya kita masak-masak, kan Gus Faiz dan keluarganya mau ke sini. Yakan Ulfa?" kata Mama.


Kak Ulfapun mengangguk.


Akupun berpamitan ke rumah Mia.


***


"Lo yakin yang bakal di lamar Gus Faiz itu, Kak Ulfa bukan elo?" tanya Mia.


Aku mengangguk.


"Kok bisa?" tanya Mia.

__ADS_1


"Ya bisa." kataku.


"Tapi iya juga si. Lo sama dia gak pernah kontak-kontakan selama 4tahun. Lo di sana megang hape aja enggak, sedangkan Kak Ulfa di sini mudah banget berkomunikasi." kata Mia.


Mendengar pernyataan Mia yang seratus persen benar mambuatku sedih lagi.


"Jahat banget kakak lo." kata Mia.


"Eh, bukan begitu. Dia nggak jahat. Aku cerita sama kamu bukan untuk mengadu ya, cuma mau undang kamu aja nanti malam." kataku.


"Kenapa temen gue jadi baik banget begini sih?" katanya.


Aku tertawa mendengar pertanyaan konyolnya. "Dulu kan kamu yang suruh aku ke pondok." kataku, mencoba bercanda.


"Iya, gue kira saat itu Gus Faiz kuat iman." kata Mia. Asal bicara.


"Husss, Mia." kataku memperingati Mia.


Mia memutar bola mata.


"Salah lagi, gue. Salah mulu dah gue perasaan." kata Mia.


Mendengar perkataan Mia aku merasa dejavu. Aku teringat Farha. Dulu aku seperti Mia. Aku serinh mengatakan pada Farha kalau aku selalu salah bila berada di dekatnya.


Aku tersenyum kecut memikirkan aku yang tak mengetahui kabar Farha hingga saat ini.


"Gue minta maaf ya. Coba aja gue gak nyuruh lo ke pesantren itu." kata Mia.


"Eh, enggak kok. Aku justru bersyukur kamu mau ingatin aku. Coba kalau kamu nggak ingatkan aku dan menyuruhku ke pondok. Mungkin aku tidak akan bisa merasa kebahagiaan ini." kataku.


"Lo terlalu baik." kata Mia.


"Mama-mama!" teriak seorang anak kecil pada Mia.


"D-dia?" tanyaku pada Mia.


Mia tersenyum dan mengangguk. "Iya, dia anak gue." katanya. "Salim dulu sama Mama Indy, Sayang!" kata Mia sambil tersenyum pada putrinya.


Putri Mia ini langsung menghampiriku dan mengulurkan tangan mungilnya. Akupun menyalami dia, lalu memeluk dan menciumnya.


"Mama ndi." katanya.


Aku mengangguk. "Siapa namamu sayang?" tanyaku.


"Alca." katanya.


Aku melirik Mia, "Arca?" tanyaku dengan isyarat mulut. Aku tak mau anak Mia mendengar.


"Enak aja lo. Lo kata anak gue peninggalan prasejarah? Namanya Marsya." kata Mia


Aku terkekeh, lalu menaikkan Marsya ke pangkuanku.


"Okay, anak baik. Mau ya ikut Mama Indy ke rumah?" tanyaku.


"Ada pelmen, Mama Ndi?" tanyanya.


"Nanti Mama Ndi belikan." kataku. "Mau?" tanyaku.


Marsya mengangguk semangat.


"Kamu ganti baju sana. Biar aku yang jagain Marsya." kataku pada Mia.


Miapun menurut.

__ADS_1


__ADS_2