Penjara Suci

Penjara Suci
PS 50 - Dokter Spesial


__ADS_3

“Eh, nggak usah, takut ada yang lihat.” kataku, tanpa menarik tanganku. Mulutku memang mengatakan tidak usah namun tubuh dan hatiku sepertinya berkata hal sebaliknya.


“Memang kenapa kalau ada yang lihat?” tanyanya. Sambil terus membersihkan lukaku.


“Ahh..” aku meringis kesakitan. Gus Faiz menghantikan aktivitasnya sebentar lalu melanjutkan lagi.


“Gue nggak mau dihukum lagi.” kataku.


“Makanya diam.” kata Gus Faiz.


“Maksudnya?” tanyaku, tak paham dengan apa yang dikatakannya.


“Kalau rintihan kamu seperti itu, orang-orang akan berpikir macam-macam." jelasnya. Enteng sekali.


“Maksudnya?” tanyaku. Seketika kecerdasanku menguap ntah kemana.


Ntah sengaja atau tidak Gus Faiz menekan tanganku. “Ahh.. sakit.. Gus..” seketika aku tersadar lalu menggigit bibirku.


Aku bisa melihat sudut bibir Gus Faiz tertarik menandakan kalau dia tersenyum.


Aku benar-benar ingin menendangnya namun kakiku terlipat, ingin memukulnya tapi tanganku dalam genggamannya, tak kehabisan akal akupun membenturkan keningku ke keningnya. “Dasar mesum!” kataku.


Dia mendongak memandangku sekilas lalu mengalihkan matanya ke arah lain lalu kembali ke tanganku. Mulai memakaikan obat merah di area yang luka.


“Siapa yang mesum coba?” tanya Gus Faiz.


“Ya elo lah.” kataku.


“Kenapa bisa begitu?” tanyanya dengan wajah tanpa dosanya yang sangat amat ingin aku cium. Tidak, aku tonjok. Dengan kasih sayang mungkin? Aku pasti sudah gila. Sepertinya aku tak pernah waras setiap berada di sampingnya.


Gus Faiz melepas sarungnya. Ternyata dia masih pakai celana panjang.


“Eh, lo mau ngapain?” tanyaku, curiga.


“Ya, melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.” katanya sambil mengangkat bahunya sekilas.


“Lo kalo macem-macem gue bilangin Abah!” kataku. Sambil merapatkan diri ke tembok.


Dia menyobek sarung yang dilepaskannya. Menyobek tiga bagian kecil memanjang.


“Bukannya bagus? Kita bisa lebih cepat menikah.” katanya lagi.


Aku merasakan pipiku benar-benar panas saat ini. Ingin rasanya aku meminta tolong agar bisa menetralisir semua yang terjadi pada hati dan tubuhku.


Aku begitu ingin teriak. Bahagia sekali. Biarlah. Aku akan ikuti apapun permainannya kali ini.


Aku melihatnya memakai sarung itu kembali, lalu membetulkan sarungnya agar sobekan itu tidak terlihat.


“Lho? Nggak jadi?” tanyaku, B-O-D-O-H.

__ADS_1


“Apanya yang tidak jadi?” kali ini dia sedikit mengangkat alis.


Kali ini giliran aku yang tidak berani menatapnya. Ampun. Aku malu sekali. Apa sebetulnya yang aku pikirkan?


“Eh, enggak.” kataku. Memalingkan wajahku.


“Coba katakan, siapa sebetulnya diantara kita yang punya pikiran kotor?” katanya sambil terkekeh geli. Kali ini tidak bisa disembunyikan.


Setelah dia membersihkan telapak tanganku, dan memberikan obat merah di bagian yang luka, kini dia membalut telapak tangan kanan dan kiriku dengan dua kain sobekan itu. Sepertinya agar darah dari tanganku berhenti.


Tuhan, aku malu sekali. -batinku.


Aku benar-benar malu pada Gus Faiz. Benar apa katanya. Sebetulnya akulah yang berpikiran sangat jauh. Bodoh sekali aku hingga berpikir sejauh itu. Ada sedikit rasa kecewa ntah karena apa.


“Niat ngobatin nggak sih?” tanyaku, pura-pura sebal untuk menutupi rasa maluku.


“Sudah selesai.” kata Gus Faiz.


Dia mendongak. Kini mata kita bertemu. Wajahnya benar-benar tampan. Rasanya aku kehabisan nafas.


Dia mengambil kain sobekan terakhir. Lalu dia mulai mendekatkan wajahku padanya. Betul-betul aku diam saja. Seakan pasrah. Jantungku rasanya benar-benar akan meledak seketika.


Aku menunggunya. Mulai menduga-duga apa yang akan di lakukannya padaku.


Aku mulai memejamkan mata karena tak tahan menatap wajah tampannya.


Sumpah, lo mau ngapain gue, Gus? - batinku.


Aku cepat-cepat membuka mata. Dadaku berdesir sungguh aku tidak bohong. Perutku. Ah, bagaimana caranya menjelaskan perasaan ini?


"Eh?" kataku salah tingkah.


Dia mulai mendekatkan wajahnya. Aku mulai mengamati mata coklatnya, matanya yang kini mulai terlihat redup. Setelah itu, kuamati hidungnya, sempurna sekali. Lalu tatapan terakhirku berhenti di bibirnya.


Aku menahan nafas. Mencoba memikirkan kemungkinan mengapa dia mendekatkan wajahnya. Ntah pengaruh dari mana aku tak mau coba untuk menghindar.


Tiba-tiba dia berhenti, beristighfar, “Ayo, kamu harus kembali ke kamarmu.” lanjutnya.


Bodoh, Nindy! Mengharapkan apa lo sebenernya? -teriakku dalam hati. Aku menggigit bibir bawahku menahan untuk tidak berteriak.


Dia menjauhiku dan berbalik. Kulihat dia mengusap wajahnya beberapa kali. Dia terlihat gusar. Lalu mendekatiku lagi. Kali ini dia tak berani menatap mataku.


Aku berdiri. Tapi baru saja aku hendak berdiri rasa nyeri di bahuku datang lagi. “Aishh...” rintihku tertahan karena takut dikatakan mesum oleh Gus Faiz lagi.


Karena merasa tak kuat berjalan lagi, aku pun kembali duduk. Kepalaku kini terasa pusing.


Sial, padahal kaki gue gak luka. Kenapa bisa jadi lemes begini? Kepala gue juga gak kebentur tapi kenapa pusing banget? -batinku.


Aku menengok ke arah bahu kananku dan benar saja ada robekan menganga di sana. Gus Faiz mengikuti arah mataku. Seketika itu juga dia memalingkan wajahnya lalu kembali beristighfar.

__ADS_1


Rasanya malu sekali. Padahal dulu aku sering menggunakan tanktop dan hotpants ke mana-mana. Aku menutupi bagian yang sobek dengan tanganku.


“Maaf, An. Aku tidak mungkin mengobati di bagian itu.” kata Gus Faiz.


“Siapa juga yang minta lo obatin, Gus.” kataku asal.


“Ayo, kembali ke kamar!” ajak Gus Faiz.


Aku menatapnya benar-benar ambigu kali ini.


“Kamar pondokmu.” lanjutnya. Seakan mengerti arah pikiranku.


“Dih, siapa juga yang mikir kamar pernikahan kita, Gus.” kataku.


Otak gue kayaknya bener-bener udah nggak waras! -batinku.


“Kamar pernikahan?” tanya Gus Faiz dengan wajah polosnya.


“Iya, kamar pernikahan. Kamar pernikahan lo sama gue, pernikahan kita.” kataku asal.


Dia hanya tersenyum. Manis sekali.


Gus Faiz mendekatiku lalu menggendongku ala bridal (membopongku) refleks aku melingkarkan tanganku di lehernya. Kurasakan tubuhnya menegang.


“Lepaskan tanganmu, An.” katanya. Akupun menurut.


“Padahal kita mau ke kamar pernikahan kita tapi meluk aja nggak boleh.” kataku asal.


Kini dia mulai melangkah.


Aku mendekatkan telingaku ke dada Gus Faiz. Mencoba mencari suara degup jantungnya. Dan benarkah ini? Degupannya benar-benar sebelas dua belas denganku. Benar-benar kencang.


“Khatamkan Al-Qur’an dulu.” kata Gus Faiz. Mengalihkan aksiku.


“Emang susah ya jadi calon istrinya anak Kyai.” kataku asal.


Gus Faiz hanya terkekeh.


"Kenapa gak sekalian aja afalin 30juz?" kataku, mencibirnya.


"Itu lebih baik." katanya. Aku bisa melihat kalau dia tersenyum.


Ntah apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, yang jelas aku tahu aku tidak akan bisa berada di dalam pelukan Gus Faiz lagi.


Selamat tinggal, Gus. Tetaplah jadi Gus Faiz yang tak tersentuh. Maafin gue, karena setiap lo sama gue keadaan terus memaksa lo untuk menyentuh gue. -batinku.


Hari ini aku merasa doa kecilku terkabul. Aku seperti benar-benar menemukan dokter yang bisa menyembuhkan lukaku.


Aku mengamati wajah tampan milik Gus Faiz dari bawah. Lalu tersenyum. Kepalaku kembali berdenyut.

__ADS_1


Aku tak mengerti


Dan gelap. Aku tak lagi merasakan sakit.


__ADS_2