Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 50 - Terbang ke Angkasa


__ADS_3

Hari ini aku ingin sekali menulis. Meski sudah diberikan laptop oleh Mas Faiz namun aku belum menggunakannya. Jadi, aku rasa aku harus pergi ke ruang kerja Mas Faiz, sekalian aku ingin melihat wajah tampan suamiku.


TOK TOK TOK!


Aku mengetuk pintu. Lalu membukanya. Dan benar saja kini aku melihat Mas Faiz sedang fokus pada laptopnya. Aku mendekat dan duduk di depan laptopku yang berada satu meter dari Mas Faiz. Mas Faiz tidak melihatku datang. Aku berjalan menuju mejaku, dan duduk di sana sambil mengamati suamiku.


Dia melirikku singkat.


“Sepertinya aku begitu merindukan istriku sampai aku berhalusinasi.” gumam Mas Faiz. Aku mendengar suaranya.


Akupun terkekeh. Mas Faiz yang mendengar suaraku langsung menoleh.


“Lho, An. Sejak kapan kamu di sana?” tanya Mas Faiz.


“Baru saja, Mas.” kataku.


“Mas kira, Mas hanya berhalusinasi.” kata Mas Faiz sambil terkekeh.


“Lanjutkan saja, Mas. Aku ingin menulis.” kataku sambil salah tingkah. Ntah mengapa rasanya malu mengatakan kalau aku akan menulis.


Mas Faiz menutup laptopnya dan mendekat, “Benarkah?” tanya Mas Faiz.


“Iyaaa..” kataku meyakinkannya.


Mas Faiz menarik kursinya dan duduk di sebelahku. Aku mulai membuka laptopku. Lalu kumulai mendapati wajahku di sana, aku buru-buru menutup matanya dengan tangan kananku.


“Jangan lihat, aku malu.” kataku.


“Aku bahkan sudah melihatnya selama bertahun-tahun, An.” kata Mas Faiz.


“Masss..” kataku lalu mencubit pipinya gemas.


“Kenapa?” tanyanya sambil terkekeh.


Aku membuka Microsoft Word, “Jangan ganggu aku.” kataku.


“Oke, Mas akan diam saja.” kata Mas Faiz.


Mas menumpukan dagunya menggunakan tangan dan mulai memandangiku. Seketika jantungku maraton lagi.


Sepuluh jariku berada di atas papan ketik. Tidak mau bergerak. Bukan tidak mau, tapi aku belum bisa menggerakkannya karena aku tidak tahu ingin menulis apa. Terlebih tatapan Mas Faiz terus membuatku deg-degan.


Aku melirik Mas Faiz. Mas Faiz memindahkan rambutku bagian depan sebelah kanan ke belakang telinga. Mau tak mau aku menatapnya sempurna.


“Cantik.” katanya.


Aku menggigit bibirku, menahan senyum.


“Ann..” Mas Faiz memperingatiku. Aku buru-buru melepaskan gigitanku.

__ADS_1


“Bagaimana aku menulis, Mas?” tanyaku.


Mas Faiz menatapku tidak mengerti.


“Bagaimana aku menulis bila jantungku berpacu lebih cepat dari pada otakku?” tanyaku.


Mas Faiz tertawa. Aku hanya bisa tersenyum salah tingkah. Tiba-tiba Mas Faiz meraih tanganku, lalu membawanya ke dadanya. “Mana yang lebih cepat?” tanyanya.


Kondisi Mas Faiz ternyata tidak jauh berbeda denganku. Diapun mengarahkan tanganku agar kembali ke papan ketik. Sungguh, kisah kami sepertinya lebih romantis dari novel yang hendak aku tulis.


“Aku akan diam di sini, tidak akan mengganggumu lagi.” kata Mas Faiz.


Aku menggoyangkan tubuhku pelan ke dapan dan kebelakang, selain aku salah tingkah. Aku bingung mau menulis apa. Apa karena ini efek sudah lama aku meninggalkan dunia kepenulisan? Aku melirik Mas Faiz. Dia masih betah mengamati wajahku. Aku menyingkirkan rambutku agar ke belakang. Ah, rambutku repot sekali. Harusnya aku menguncirnya tadi.


Tiba-tiba Mas Faiz berdiri dan meninggalkanku sendiri. Melihat bagaimana Mas Faiz meninggalkanku dan mendengar derap langkah Mas Faiz. Aku mulai memikirkan mengapa suamiku meninggalkanku sendiri.


Tak lama kemudian, Mas Faiz datang lagi, dan duduk lagi di sampingku. Dia mengamati layar laptopku yang masih kosong, belum terisi satu katapun. Aku tersenyum sambil mengusap tengkukku yang tidak gatal.


Mas Faiz tersenyum, dia mendekat padaku. “Eh, apa yang akan Mas lakukan padaku?” tanyaku refleks.


“Mas hanya ingin menguncir rambutmu.” kata Mas Faiz, cuek.


Benar saja, Mas Faiz mulai menguncir rambutku. Aku langsung merasakan pipiku merah. Aku benar-benar tidak bisa mengerti mengapa suamiku begitu romantis seperti ini.


Menguncirkan rambut seseorang memanglah hal yang biasa, namun ketika yang melakukannya adalah orang yang selalu berhasil membuat berbunga-bunga, tentulah istimewa.


Aku memegangi ujung rambutku, melihatnya, dan tersenyum. Aku memeluk suamiku. “Aku tidak ingin menulis malam ini.” kataku.


“Lho, memang kenapa?” tanya Mas Faiz.


“Aku ingin memelukmu saja sampai pagi.” kataku.


Mas Faiz mengacak puncak rambutku gemas.


“Yasudah ayo ke kamar.” kata Mas Faiz.


Aku tersenyum lalu menggeleng. Mas Faiz tentu masih banyak pekerjaan, aku tidak boleh manja dan menghalangi waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan yang dia kerjakan dengan serius tadi saat aku pertama kali datang.


“Tapi aku masih ingin menulis.” kataku.


“Jadi, mau menulis atau ke kamar?” tanya Mas Faiz.


“Menulis lalu ke kamar.” kataku lalu terkekeh.


Mas Faiz pun ikut terkekeh.


“Mas kembali saja berkerja. Aku akan menyelesaikan tulisanku. Meskipun aku tidak tahu harus menulis apa.” kataku.


“Kamu tutup mata, Mas akan bantu kamu.” kata Mas Faiz.

__ADS_1


“Baiklah.” kataku lalu menutup mataku. Aku jadi penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh suamiku.


TIK TIK TIK!


Suara papan ketik diketik.


“Mas kembali ke meja Mas yaa..” bisik Mas Faiz di telingaku.


Aku pun membuka mata. Apa kamu tahu apa yang ditulis suamiku di laptopku?


I LOVE YOU


Iya, hanya tiga kata itulah yang tertulis di layar laptopku. Aku merasakan dadaku berdesir. Tingkah suamiku ada-ada saja. Akupun tertawa sambil menoleh ke arah Mas Faiz. Dia terkekeh di tempatnya. Lalu dia mengisyaratkanku untuk menulis, akupun mengangguk.


Aku pura-pura memfokuskan diriku pada laptop. Padahal aku sedang menikmati wajah Mas Faiz yang kini terlihat sangat serius.


Dari raut wajah seriusnya aku bisa melihat bagaimana suamiku yang bekerja keras dalam menjalankan usahanya. Aku memang tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya, namun sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat penting.


“Apa kamu akan terus menatapku seperti itu, Sayang?” tanya Mas Faiz.


“Ah, aku sedang mengetik.” kataku.


Mas Faiz tersenyum ke arahku. Akupun balas tersenyum padanya.


Melihat Mas Faiz aku jadi terpikirkan untuk menuliskan sebuah cerita tentang kehidupan di pesantren. Kali ini tujuanku adalah membuat pembacaku bisa merasakan pengalaman menjadi santri. Bila pembacaku memang santri atau mantan santri aku akan mencoba untuk mengajak mereka bernostalgia.


Selain aku lebih mudah menggambarkan bagaimana kehidupan pesantren karena aku sendiri pernah merasakannya, aku juga mulai memiliki gambaran real sosok pemeran utama yang nantinya aku ingin tulis. Aku bisa mendeskripsikan suamiku dan aku.


Aku mulai menulis, seperti biasanya (dulu), aku memulai cerita dengan bagian klimaks. Karena bagiku jika bagian klimaks kuletakkan di awal cerita, itu akan jauh menarik pembaca untuk penasaran dan melanjutkan membaca ceritaku.


“An, sudah jam 10. Ayo, kita tidur!” ajak Mas Faiz. Menghampiriku.


“Lho, kan baru jam 10, Mas.” kataku.


“Tidak baik kalau tidur malam-malam, kasian juga anak kita.” kata Mas Faiz mengusap perutku.


Aku tersenyum lalu memperhatikan tangan Mas Faiz.


“Ayo, kita ke kamar!” kata Mas Faiz. Lalu mengangkatku dan menggendongku ala bridal style seperti biasanya.


Jujur setiap Mas Faiz menggendongku di depan seperti ini aku selalu teringat bagaimana dulu dia melakukan hal serupa setelah dia mengobati lukaku. Mas Faiz mulai melangkahkan kaki.


“Mas..” panggilku.


Mas Faiz menoleh tanpa menghentikan langkahnya. “Aku sayang, Mas.” kataku.


“Mas tahu.” kata Mas Faiz sambil terkekeh.


***

__ADS_1


__ADS_2