
Dua puluh hari kemudian.
Hari-hariku semakin menyenangkan. Gosip tentang aku dan Gus Faizpun kian menghilang dari peraduan. Waktu benar-benar mampu menghilangkan gosip-gosip itu.
Surat dari Aaron tak pernah aku pikirkan lagi walau kami sering bertemu di jalan dan dia terus melancarkan aksinya dengan terus memanas-manasiku dengan embel-embel aku bisa pindah dari pondok dan hidup bahagia di luaran sana.
Hari ini aku berjalan sendirian ke warung untuk membeli sabun mandi karena Arum dan Farha sedang ada tugas. Namun tanpa kusangka, aku berpapasan dengan Aaron.
Aku memutar bola mata, malas. Saat hendak pergi dia menghalangi jalanku.
"Awas!" kataku.
Namun, bukannya menyingkir dia justru makin menghalangi jalanku. Tipikal orang yang keras kepala.
"Gimana?" tanya Aaron.
"Kalo gue bilang enggak ya enggak. Batu banget sih lo." kataku, kesal.
Pasalnya ini bukan kali pertama aku berpapasan dengannya dan dimintai jawaban atas suratnya.
"Kenapa enggak?" kataku.
"Karena gue gak mau." kataku.
"Benar? Lo mau terus-terusan tersiksa di sini? Lo bisa kabur sama gue." kata Aron.
"Belakangan gue gak ngerasa disiksa." kataku.
"Siapa yang tau masa depan?" tanyanya.
Aku terdiam. Apa yang dikatakan ada benarnya juga. Namun, kata-kata Gus Faiz kembali terngiang di kepala.
"Gak ada yang bisa ngejamin kalau kabur sama lo bakal masa depan gue cerah." kataku.
Karena aku sedang sendiri. Jadi, aku sedikit bebas membalas semua kata-kata Aaron.
"Gue. Gue yang bakal jamin kalo lo gak akan nyesel pergi sama gue. Gue bakalan jadi pacar lo, jagain lo, dan bikin lo bahagia semampu gue. Kalo lo mau yang lebih serius, gue bahkan mau nikahin lo." katanya sungguh-sungguh.
"Nah, masalahnya gue gak mau sama lo." kataku.
"Lo bisa coba pelan-pelan." kata Aaron, terus meyakinkan aku.
"Gue gak ngerti caranya. Dan gue gak mau." kataku.
"Caranya gampang. Mulai dari penuhi persyaratan dari gue, jadi pacar gue. Lo bisa mulai semuanya dari situ. Gue janji. Gue bakal bahagiain lo semampu gue." katanya.
"Gimana caranya lo tau kalo lo bakal bisa bahagiain gue?" kataku, sinis.
Dia keras kepala.
"Gue tau semua tentang lo. Dengar, Nin, cuma orang yang tau gimana penderitaan kitalah yang bisa bahagiain kita." kata Aaron.
__ADS_1
Deg! kata-kata itu sangat menyentuh.
Aku membenarkan kata-kata Aaron. Melihat dia yang begitu gigih dan terus mengatakan hal-hal logis, lama-lama otakku membenarkan semua ucapannya.
Aku terus berpikir.
"Gimana?" tanyanya.
"G-gue.." kataku hendak menjawab mau, namun terpotong oleh seseorang.
"Tidak ada yang bisa bahagiakan dia selain saya." suara Gus Faiz.
Aku menoleh. Jantungku berdegup kencang.
Aaron yang melihat Gus Faiz hanya bisa mengepalkan jari. Lalu, tanpa sebab yang jelas dia langsung pergi begitu saja meninggalkan aku dan Gus Faiz.
Aku ingin memanggil Aaron namun rasanya suaraku tercekat di kerongkongan.
"Jangan pernah terpengaruh, An. Saya mohon." katanya.
Dia hendak pergi. Jika diperhatikan belakangan dia semakin mau mengobrol denganku. Meski singkat-singkat. Apa dia kini sudah menganggap aku sebagai mahramnya? Maksudku, dia sudah mau berdekatan denganku berarti secara otomatis dia sudah menjadikan aku temannya.
"Tunggu!" kataku, sedikit berteriak.
Gus Faiz menoleh.
"Jadi, gue udah dimahramin sama lo?" tanyaku.
Melihat tawanya membuat jantungku berdegup kencang. Ada apa?
"Kamu tau arti mahram?" tanyanya.
"Eh? E.. tahu." kataku sedikit tak yakin.
"Apa?" tanyanya lagi.
"Teman." kataku matap.
Dia tertawa lagi.
Sial, kayaknya gue salah nih. -batinku.
Dia menggeleng. "Mahram itu orang yang masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, kesusuan, atau hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah."
Aku kesulitan mengerti kata-katanya. Betul-betul mirip penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sepertinya.
Aku tak mau terlihat bodoh. Aku memacu otakku lebih keras.
"Oh, jadi orang yang gak boleh dinikahin namanya mahram?" katanya.
"Iya, betul." jawabnya singkat.
__ADS_1
"Kalau dimahramin?" tanyaku.
Kali ini dia menatapku sambil menaikkan alis menyuruhku berpikir. Aku mengalihkan pandanganku, begitu pula dia. Kami seperti orang yang suka lepas kendali saat bersama.
Dimahramin. Dimahramin. Dimahramin. Dibuat mahram? Caranya dibuat mahram? Menikah. Jadi, dimahramin? Dinikahin. - Otakku menjawab pertanyaan itu
Aku membekap mulutku. Tak percaya aku telah melakukan hal bodoh.
Dinikahin? Jadi, gue minta dinikahin Gus Faiz dari kemarin-kemarin waktu pingsan? Bodoooh, Nindy, Bodoooh! - teriakku dalam hati.
Seperti bisa membaca pikiranku, dia tersenyum.
"Perlu saya jelaskan lagi?" tanyanya.
"Enggak! Enggak! Enggak perlu. G-gue duluan. Permisi." kataku langsung lari meninggalkan Gus Faiz.
Aku tak bisa menjelaskan bagaimana ekspresi Gus Faiz karena aku benar-benar tak berani melihat dia. Bodoh. Benar-benar bodoh.
Saat berlari aku bertemu Arum. Lalu dengan spontan aku menarik Arum ke tempat sepi.
"Ada apa, Mbak?" tanyanya, panik.
"Dengerin gue, dengerin gue. Kalau ada cewek minta dimahramin ke cowok. Itu artinya apa?" tanyaku.
Aku tak mau menyebutkan hasil pikiranku. Takut salah lagi. Jika kali ini aku salah, pasti aku tambah malu. Tapi ntah keyakinan dari mana, sepertinya aku benar-benar benar kali ini.
"Hahahahaha, Mbak, Mbak, kirain ada apa toh." kata Arum.
"Udah ketawanya nanti aja, jawab dulu." kataku, menuntut penjelasan.
"Mudah banget. Itu artinya si cewek minta dinikahin sama cowok. Mbak, Mbak, gitu aja ndak tahu." kata Arum, menyombongkan diri karena dia lebih tau dariku.
"Duhhh, bodoh, bodoh, bodoh." kataku. Kelepasan berkata kasar. Aku menjambak rambut dari luar kerudung. Frustasi.
Aku benar-banar merasa malu dengan Gus Faiz. Mengapa sebetulnya hal memalukan selalu terjadi saat aku bersama Gus Faiz. Padahal, belakangan ini aku selalu mencoba menjadi lebih natural dan anggun tanpa melakukan hal-hal konyol. Namun, sepertinya semesta tak merestuiku tuk berubah menjadi baik hanya untuk pencitraan di mata Gus Faiz.
Mengingat aku mengatakan pencitraan untuk Gus Faiz, aku kesal lagi. Mengapa sebetulnya dengan otakku yang selalu dipenuhi dengan Gus Faiz, Gus Faiz, dan Gus Faiz? Aku pasti sudah gila.
"Ih, Mbak, ndak boleh ngomong kasar lagi. Siapa sih yang bodoh? Cewek yang Mbak ceritain yah?" katanya.
Aku mengangguk, pasrah. Aku tak bohong.
"Iya, Mbak, betul sekali. Kok ada ya, Mbak, orang ndak tau malu kayak gitu." kata Arum, dengan wajah tanpa dosa.
"Gak tau malu?" kataku memastikan. Aku meringis mendengar kata-kata Arum.
"Iya, Mbak, betul. Betul kata, Mbak, bodoh." kataku
Rasanya kupingku panas mendengar kata-kata Arum. Andai dia tahu, gadis bodoh yang dibicarakannya adalah aku. Dia pasti tak akan mengatakan hal serupa.
"Itu bukan bodoh. Itu namanya emansipasi wanita. Khodijah aja dulu ngelamar Rasulullah duluan." kataku. Langsung meninggalkan Arum. Jujur aku tidak bergitu mengerti tentang ini. Kata-kataku spontan saja keluar dari mulutku. Mohon koreksi kalau salah.
__ADS_1
"Eh! Mbak, tungguuu!" teriak Arum.