Penjara Suci

Penjara Suci
PS 27 - Pipi Merah Arum


__ADS_3

Setelah meninggalkan dua laki-laki aneh itu, diam-diam aku memperhatikan Arum, aku melihat seperti ada yang berbeda dari dirinya. Dia diam saja dan akupun sedang tak ingin mengucapkan apapun. Jadi, kami memutuskan berjalan dalam diam.


"Mbak kenal sama putra tadi?" tanya Arum.


"Kayaknya gak kenal, kenapa?" Tanyaku pada Arum.


Aku meliriknya, di luar dugaan ternyata pipi Arum merah, persis seperti tomat. Seketika aku menyadari apa yang sedang terjadi. Arum suka pada salah satu santri putra tadi. Refleks aku tertawa.


"Hahahahaha ternyata santri juga manusia ya." kataku, menggodanya.


Wajah Arum makin memerah.


"Aku ndak suka sama putra tadi Mbak, betul aku ndak bohong." katanya salah tingkah.


"Padahal aku gak bilang kalo kamu suka sama dia lho, Rum. Hahahaha." kataku tertawa.


"Eh.." Arum kehabisan kata-kata.


"Kalo suka bilang aja lagi." kataku.


"Betul Mbak, aku ndak suka." kata Arum berbohong.


"Bohong." kataku lagi.


"Benar Mbak, aku ndak bohong." katanya lagi.


"Aku laporin ah ke pengurus lain." kataku menggodanya.


"Mbak jangan. Aku mohon jangan. Aku ndak suka. Ndak suka." katanya panik.


"Cie, mukanya merah tuh." kataku lagi.


"Ihhh, Mbak sudah, aku malu." Kata Arum menutup wajahnya yang merah.


"Hahahahaha." akupun tertawa melihat tingkahnya.


"Eh, Mbak, anu, iku, perempuan Ndak baik tertawa kencang-kencang." katanya. Sepertinya ini hanya pengalihan agar aku berhenti menggodanya.


"Oke, okeee." kataku menghentikan tawaku.


Sejak masuk pesantren ini aku jadi mengerti banyak hal. Santri juga merupakan ABG sepertiku. Tidak bisa di kategorikan baik semua atau buruk semua. Ternyata benar baik buruk seseorang tergantung pada dirinya sendiri bukan berdasarkan label santri atau preman. Buktinya, di pesantren ini tidak semua santriwatinya seperti Farha dan Arum, masih banyak santriwati yang kelakuannya mirip Linda dan laki-laki aneh tadi, menyebalkan.


Sebagaimana ABG sewajarnya, mereka juga mengalami masa puber, contohnya adalah sudah mulai memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Lihat saja Linda dan Farha yang suka pada Gus Faiz, Arum yang suka pada laki-laki tadi, dan masih banyak contoh lain. Hal ini bisa di artikan bahwa mereka sama seperti ABG lainnya.

__ADS_1


Mungkin yang membedakan hanya di pondok pesantren, mayoritas anak-anaknya alim dan baik-baik. Sepertinya, senakal-nakalnya anak pesantren tidak senakal teman-temanku di Jakarta. Jadi, meski mayoritas aku yakin di pesantren ini pun masih menyimpan orang jahat dalam jumlah minim. Tapi untunglah sepertinya aku tidak bertemu dengan penjahat di sini. Aku jadi penasaran. Apakah di pesantren juga ada maling? Ah, sepertinya tidak ada. Karena aku belum dengar ada kasus kemalingan sejak datang ke sini.


"Mbak boleh nanya sesuatu gak?" tanya Arum.


"Nanya apa?" kataku.


"Tapi jangan marah ya, Mbak. Aku ndak ada maksud apa-apa." kata Arum takut-takut.


Firasatku tidak enak, "Apa?" Dalam hati aku sepertinya tau kalau pertanyaannya akan menjurus ke Gua Faiz.


"Mbak dan Gus Faiz itu benar pacaran?" tanya Arum.


Aku terdiam. Ternyata seorang Arumpun penasaran dengan apa yang terjadi antara aku dan Gus Faiz. Jika Arum menanyakan hal semacam ini, aku berani bertaruh Farha pasti memiliki pemikiran yang sama, hanya saja Farha mungkin tak punya keberanian untuk menanyakan langsung. Tentang pacaran aku masih tak mengerti mengapa semua orang mendefinisikan hubungan antara aku dan Gus Faiz demikian. Padahal kami hanya beberapa kali bertemu dan tak ada momen saling menyatakan cinta. Namun, aku tak bisa menyalahkan mereka, sebab mungkin hipotesis mereka berasal dari hukuman kemarin. Dari hukuman itu satu pondok tau apa yang kami lakukan.


"Kita gak punya hubungan apa-apa. Kalau kamu mikir kami pacaran karena insiden kemarin, aku bisa katakan kalau itu cuma ke khilafan." kataku, menjawab rasa ingin tahunya.


"Oh, begitu. Maaf ya, Mbak, aku kira Mbak dan Gus Faiz pacaran." katanya lagi.


"Kenapa emang kalo kami pacaran, cemburu?" selidikku.


"Ndak, Mbak. Ndak. Aku ndak suka sama Gus Faiz, soalnya saingannya banyak. Hehehe." Katanya sambil terkekeh.


"Maunya sama yang tadi ya?" kataku.


"Maaf ya, Mbak." katanya lagi.


"It's okay." kataku.


"Maksudnya, Mbak?" tanyanya.


"Iya, nggakpapa." jawabku.


Akhirnya kami sampai di lantai 3. Arum pamit ke kamarnya dan aku melangkah menunju kamarku. Kali ini aku berencana tidur siang setelah salat, karena kata Farha tidurnya orang puasa itu ibadah. Bagiku ini adalah bonus, sebab di siang bolong seperti ini perutku sudah meronta-ronta. Jadi, jika aku tidur waktu laparku berkurang.


Sesampainya di kamar Farha menghampiriku.


"Mbak, dari mana?" tanya Farha.


"Ngambil kerudung. Tadi soalnya jatuh di samping kali." kataku.


"Trus, Mbak ambilnya sama siapa?" tanya Farha lagi.


"Sama Arum." kataku.

__ADS_1


"Oh, aku kira sendiri. Hehe." katanya.


Setelah bercakap-cakap ringan dengan Farha kami memutuskan untuk salat. Ini kali pertama aku salat tanpa pergi ke Ndalem Abah, salat bersama Umi. Selesai salat, aku dan hampir semua santri lain melanjutkan sisa waktu untuk tidur sebelum jam setengah 3 untuk bersiap-siap salat Asar berjamaah sesama santriwati di kamar ini.


Aku baru tahu, ternyata selain kamar tidur karena ruangannya cukup besar, kamar ini dijadikan Aula untuk melaksanakan salat berjamaah santriwati. Tak ada yang istimewa hari ini hanya mungkin sedikit berbeda karena berhasil menggoda Arum.


Untuk Gus Faiz, kami bertemu saat dia sedang bersama santri kesayangan Abah yang baru kutahu disebut 'Abdi Ndalem Abah'. Tugas mereka nyaris seperti asisten Abah dalam hal apapun dengan kemauan sendiri tanpa mengharapkan imbalan uang sedikitpun dari Abah.


Saat itu, mata kami bertemu, dia melirikku sekilas, sepertinya Gus Faiz tersenyum tipis padaku, sebuah senyuman 'hai' yang nyaris meruntuhkan segala pertahananku. Aku rasa, rasa itu benar-benar tumbuh. Meski tak benar-benar menginginkannya, aku membiarkannya. Ntah mengapa, melihatnya senyumku mengembang dan langkahku otomatis lebih cepat. Sepertinya ini yang di rasakan santriwati yang malu bertemu laki-laki. Apakah aku sudah alim?


...***...


...Flashback...


"Mbak, ada Gus Faiz." kata Farha di sampingku.


"Mbak, di depan saja. Mbak kan pemberani." celetuk Arum.


Sialan. -makiku dalam hati.


"Aku gak mau, kamu aja Far di depan." kataku menyuruh Farha.


"Apalagi aku tho, Mbak. Mana berani aku." kata Farha.


"Yo wes, ngumpet wae kita." kata Arum.


"Ngumpet? Wah, betul juga kamu, Rum." kata Farha.


"Duh, boro-boro ngumpet. Orang itu udah deket." kataku.


Seketika mereka terdiam.


"Ah, aku aja deh duluan." kataku. Mempercepat lariku. Arum dan Farha sekarang mengekor di belakangku.


Aku sempat melirik Gus Faiz. Keadaannya baik, masih tampan seperti biasa. Sepertinya dia juga melirik dan tersenyum tipis padaku, namun, ntahlah.


"Mbak, Mbak, tadi aku liat Gus Faiz senyum ke Mbak." celetuk Arum.


"Aduh, Arum pinter, orangnya masih dibelakang, kalo mau ngomongin nanti ya kalo udah seribu meter." kataku gemas.


Farha hanya tertawa.


***

__ADS_1


Baguslah kalau aku sudah terlihat alim berarti aku sudah mulai melunasi janjiku. Ternyata tidak terlalu sulit kalau aku jalani. O, iya aku memecahkan rekor hari ini, puasaku Full.


__ADS_2