Penjara Suci

Penjara Suci
PS 39 - Diam Tetap Lebih Baik


__ADS_3

Selama perjalanan aku lebih memilih diam. Bagiku saat ini diam tetap lebih baik.


“Mbak Nindy, ndak papa? Kok diam aja?” tanya Arum. Dia sengaja menungguku dan Farha lewat seperti biasanya. Aku hanya menggeleng.


Kami berjalan melewati Ndalem Abah. Aku sengaja jalan di sebelah paling kanan (menghindari Ndalem Abah yang ada di sebelah kiri) untuk memperkecil kemungkinan bertemu dengan Gus Faiz si wajah malaikat berhati iblis. Aku benar-benar tak sudi melihat orang yang sudah membohongi dan mempermalukanku.


Membayangkan dia sedang menertawakanku yang tertipu wajah malaikatnya, membuat hatiku sangat sakit.


Pandanganku terus lurus ke depan. Arum, Farha, dan aku adalah langganan tetap makanan pengurus. Meski Arum juga pengurus namun dia masih sering melakukan hal kesalahan, telat adalah bagian dari kesalahan yang sulit dia perbaiki. Dan jadilah kami bertiga berjalan di belakang sambil di teriaki pengurus agar jalan lebih cepat.


Dalam hati aku ingin bertanya pada Arum kenapa meski pengurus seperti dia masih saja suka tidak menaati peraturan.


"Rum, kamukan pengurus. Kenapa Ndak taat peraturan, toh?" tanya Farha. Kali ini aku yakin, dia berbahasa Indonesia agar aku mengerti apa yang sedang dia bicarakan.


Pertanyaan Farha seperti pertanyaanku.


"Biarin toh, Mbak. Aku kan manusia juga. Hahahaha." katanya. Sambil tertawa.


Farha tertawa. Aku diam saja.


“Ann..” panggil seseorang. Aku mendongak mencari pemilik suara itu.


Kami bertiga berhenti. Arum dan Farha menunduk. Setelah mengetahui yang memanggil namaku adalah Gus Faiz, aku mulai mempercepat langkahku. Tak mau memperdulikan Gus Faiz yang terus mengejarku.


“An, dengarkan aku!” katanya.


Aku mempercepat laju jalanku. Namun tiba-tiba Gus Faiz malah sengaja berdiri di depanku. Mengunci pergerakanku.


Aku sungguh membencinya. Lagi pula apa pula yang sedang dilakukannya kini? Apa dia tidak kapok jika nanti Abah melihat kami berduaan lagi meski Farha dan Arum masih ada dibelakang?


Aku hendak jalan lagi namun dia terus menghalangiku di depanku. Sesaat dia jauh berbeda dengan Gus Faiz yang kukenal. Dia sedikit terlihat frustasi. Dulu, dia sangat antipati padaku. Lalu lihatlah kini dia melakukan hal sebaliknya.

__ADS_1


Sikapnya kali ini benar-benar tak mencerminkan seorang Gus. Jika orang melihat, dia akan terlihat seperti seorang laki-laki yang sedang memohon-mohon pada seorang gadis.


“Cukup. Berlakulah seperti layaknya seorang Gus!” kataku. Aku berlari meninggalkannya. Aku mendengar dia beristighfar di belakang. Mungkin dia mulai menyadari sikapnya yang tak terkendali kali ini. Benar-benar bukan Gus Faiz yang biasanya.


“Mbak, sebenarnya ada apa?” tanya Farha padaku.


Bukankah Farha telah mengetahui semuanya? Mengapa dia masih bertanya padaku? Aku memikirkan beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama Farha berbohong dan kemungkinan kedua Farha hanya tahu masalah Kak Ulfa yang ada di sini. Meski aku yakin Farha ada di kategori kedua, namun aku tak mau begitu yakin lagi padanya. Semakin kita meninggikan harap, maka akan semakin sakit pula ketika jatuh.


“Cerita aja, Mbak, siapa tau kami bisa kasih masukan.” kata Arum menimpali.


Aku hanya menggeleng lalu tersenyum tipis dan mengalihkan perhatianku ke arah lain. Tiba-tiba Linda menghampiriku.


“Mbak Nindy. Dipanggil Umi.” katanya dengan suara ketus.


Ingin rasanya aku meneriakinya, menyuruhnya memberi salam dan mengucapkan kata-kata tanpa suara ketus. Namun aku begitu malas menanggapi. Jadi, aku diam saja.


"Mbak, mau aku temani?" tanya Farha.


"Maaf ya, Mbak." kali ini Arum bersuara.


Aku mengangguk.


Aku melangkahkan kakiku ke Rumah Umi. Di sana beliau menyambutku. Aku bersikap biasa saja, tak mau ambil pusing. Aku merasa tak perlu begitu hormat karena toh kasih sayangnya hanya sebuah kepalsuan. Siapa yang bisa menjamin kalau beliau tak akan membohongiku lagi?


Singkat cerita, Beliau mulai menceritakan segalanya padaku tentang semuanya. Aku hanya mendengarkan, tanpa rasa antusias sama sekali. Rasanya sekali dibohongi membuat aku tak mengerti cara mempercayai seseorang.


“Saat itu Faiz datang kepada Umi dan Abah untuk meminta kami menyembunyikan kamu dan bilang kepada orangtua kamu kalau kamu sudah pergi dari pondok pesantren ini. Dengan berat hati karena kedua orang tuamu dan kakakmu sedang menangis mengkhawatirkan kamu, kami menyetujui ini karena kami berharap suatu saat nanti seiring berjalannya waktu hatimu akan menuntunmu kembali. Tapi tanpa sengaja Mamamu mendengar percakapan kami dan mulailah kami merahasiakan ini semua padamu. Mamamu begitu lega mendapati kamu masih berada di pondok pesantren ini. Pikiran mereka kacau dan kakakmu Ulfa meminta izin untuk mondok di sini karena dia ingin dekat dengan kamu.” kata Umi menjelaskan dengan runtut. Aku masih diam.


Siapa yang bisa menjamin kalau ini adalah sebuah kejujuran?


***

__ADS_1


“Mbak, Mbak enak ya punya kakak sebaik Kak Ulfa. Mbak, beruntung banget ya?” kata Arum. Kali ini aku, Farha dan Arum berada di lantai tempat jemuran.


Aku masih diam. Sepertinya Arum benar-benar tak mengerti apapun. Farha yang mendengar perkataan Arum memberikan kode kepada Arum agar berhenti membicarakan Kak Ulfa. Namun, sepertinya Arum tetap tak mengerti.


"Mbak Farha, kenapa toh matanya?" tanya Arum polos.


"Ndak papa, ini kelilipan. Hehe" kata Farha. Aku tahu dia berbohong kali ini.


Farha melirikku, lalu mengusap wajahnya gusar.


Suara kini didominasi dengan suara Arum. Farha yang berada disampingku kini menjadi sosok pendiam. Semenjak aku sakit. Wajahnya murung. Tercetak jelas di wajahnya kalau dia ingin sekali bertanya padaku namun keberaniannya ciut ntah karena apa. Mungkin takut aku menjadi seperti yang dulu bahkan lebih buas lagi.


“Iya. Gue beruntung banget.” kataku. Tubuh Farha menegang begitu juga dengan Arum.


Ini kali pertama aku angkat bicara. Dan ku gunakan kata Gue untuk mengganti kata Aku, untuk menegaskan kalau aku kembali menjadi seorang Nindy.


Aku menatap Arum. "Gue beruntung banget." Aku tepat menatapnya dengan pandangan penuh kekesalan.


“Mbak..” cicit Arum. Aku langsung turun ke lantai dasar lalu duduk di taman depan Kompleks Pondok kami, Darul.


Arum dan Farha masih mengikutiku.


“Mbak..” kali ini Farha yang angkat bicara. Arum diam.


Dari jauh aku melihat Kak Ulfa yang mendekat. Semakin melihatnya mendekat, darahku semakin mendidih. Aku benar-benar tak suka dengan Kakakku itu. Terlebih saat mendengar Arum mengatakan aku memiliki kakak sempurna seperti Kak Ulfa.


Jika definisi Kakak yang sempurna adalah seperti Kak Ulfa, rasanya aku akan lebih berterima kasih kalau aku tak memiliki kakak.


“Lihat! Orang yang kalian bangga-banggakan datang.” kataku seraya menunjuk Kak Ulfa yang kini mendekat. Farha dan Arum semakin tegang.


Arum mencoba meminta penjelasan pada Farha. Namun, Farha diam saja. Sepertinya Farha pun tidak bisa menjelaskan pada Arum apa yang terjadi karena dia tak sepenuhnya tahu.

__ADS_1


__ADS_2