Penjara Suci

Penjara Suci
PS 46 - Sidang Kedua


__ADS_3

Tidur singkatku kembali membawaku ke alam mimpi. Kali ini aku memimpikan Ilham bukan Gus Faiz. Dalam mimpi, lagi-lagi Ilham mengenakan pakaian putih-putih dan pergi lagi. Aku hanya bisa menangisi kepergiannya.


“Mbak, bangun, ayo mandi lalu salat asar.” suara Farha, membangunkanku. “Lho? Mbak, nangis?” tanya Farha mulai khawatir melihatku.


Aku memegang pipiku. Dan benar saja, air mataku sudah beranak pinak.


“Gakpapa, ayok mandi!” kataku mengalihkan perhatian.


Setelah mandi, ternyata masih ada waktu untuk salat asar berjamaah beberapa menit lagi. Aku pun memilih pergi ke lantai atas tempat jemuran. Menengok ke bawah siapa tahu ada Aaron lewat. Dan dunia kini berpihak padaku, seseorang yang aku tunggu-tunggu lewat bersama temannya.


“Aaron!” pekikku pelan, takut ada yang mendengar. Aku buru-buru mencari batu kecil untuk melemparnya. Batu kecil itu meluncur tepat di belakang Aaron.


Aku hanya memakai kerudung paris yang kupakai asal-asalan tak peduli rambutku yang keluar sana sini.


Aaron mengengok ke atas, dia tersenyum padaku. Lalu mengangkat kepalanya mengisyaratkan ‘ada apa?’ kepadaku.


Sudah kukatakan dia tak sendiri. Dia temani temannya. Dia memberikan isyarat padaku agar aku tak macam-macam karena ada temannya ini.


"Ada dia. Pengurus." katanya menggunakan isyarat mulut. Sambil menunjuk temannya.


Aaron sengaja membiarkan temannya berjalan duluan.


"Tunggu sebentar!" kataku memberiku isyarat.


Aku menyuruhnya diam di tempat. Aku tidak mungkin berteriak karena takut ada yang mendengar suaraku dan rencanaku gagal begitu saja. Aku buru-buru mengambil kertas yang sudah kutulisi tempat aku mengajak dia berjanjian beserta jamnya. Lalu membungkus kertas itu dengan batu kecil di dalamnya lalu melemparkannya. Hingga surat itu sampai dengan selamat di tangan Aaron.


Dia sangat piawai membuat temannya tak mengerti apa yang sedang dilakukannya.


Teman Aaron menengok ke atas. Aku buru-buru bersembunyi. Lalu berjalan lagi.


Besok lo harus temui gue di Gang Sempit kemarin jam 8 malam. Gue mohon. - Nindy.


Kulihat Aaron membuka surat itu lalu mendongak ke atas. “Oke.” katanya. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu pergi untuk menjalankan salat asar berjemaah, tempat sudah penuh, beruntung Farha sudah menyediakan tempat untukku di sampingnya.


Setelah rangkaian salat, zikir hingga doa selesai. Aku masih tetap di tempat menengadahkan tanganku.


"Ya Allah, aku tidak mau bunuh diri di tempat ini karena aku tidak mau membuat citra pondok Abah dan Umi ini buruk. Kali ini aku hanya ingin pergi saja. Untuk kali ini mudahkanlah langkahku ya Allah. Aaamiin.” doaku penuh pengharapan dalam hati.


“Mbak gawat, Mbak gawat!” tiba-tiba Arum datang.


“Gawat apanya?” tanyaku dengan santai.


“Tadi Mbak Linda bilang kalau sampai besok isya kita ndak temukan kartu ATM, Mbak, Mbak akan dapat hukuman.” katanya dengan nafas memburu.


“Linda bilang gitu?” tanyaku. Arum mengangguk. “Dasar medusa.” kataku.


“Medusa itu apa, Mbak?” tanya Farha.


“Cewek cantik deh pokoknya.” kataku, berbohong. Bisa repot urusannya kalau dia tau arti medusa yang sebenarnya. “Kalo lo mau muji cewek cantik pakainya kata medusa.” lanjutku lagi. Aku mati-matian menahan tawa melihat Farha yang mengangguk begitu saja.


“Itu bahasa Jakarta ya, Mbak?” tanyanya lagi.


Aku hanya bisa terkekeh. Tanpa mengangguk. Membiarkan mereka berpikir kalau aku mengiakan.


"Bagus ya bahasanya, Rum? Medusa." kata Farha.


"Iya, Medusa kamu, Mbak Farha." kata Arum, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya, kamu juga Medusa." kata Farha, balas tersenyum.


Lalu mereka tertawa. Benar-benar bodoh. Lagi-lagi aku tak bisa menahan senyumanku. Polos sekali.


"Jadi gue mau disidang lagi besok?" tanyaku.


"Iya, Mbak. Jam 8malam." kata Arum.


Celaka. Benar-benar celaka. Aku mengajak Aaron bertemu jam 8malam juga. Sangat bertepatan dengan waktu sidang.


Aku memacu otakku. Ini benar-benar gawat. Aku harus meralat waktu pertemuanku dengan Aaron.


Aku kembali ke tempat jemuran. Aaron sudah tak ada lagi di sana. Baiklah. Satu-satunya cara adalah aku harus bisa menyelesaikan sidang dalam waktu singkat.


"Mbak, ada apa lari-lari?" tanya Arum. Menyusulku.


"Ah? Ini gue lupa angkat jemuran." kataku langsung pura-pura mengambil jemuran.


***


Hari ini hari aku, Farha, dan Arum makin gencar mencari kartu ATM-ku. Kemarin aku sudah ke ATM di samping rumah Umi tapi aku tidak menemukannya di sana. Hari ini pun Farha dan Arum meminta kita ke sana lagi. Tapi lagi-lagi pencarian kita tak membuahkan hasil.


Rasanya kali ini aku benar-benar ingin menyerah. Biarlah kalau memang kartu ATM ini tidak ditemukan. Aku akan merepotkan Aaron. Dia berani mengajakku pergi dari sini, tampilannya pun seperti orang berada, jadi aku yakin dia pasti punya banyak uang.


Jujur dua hari ini aku merasa ada yang ganjil tentang pencarian ATM ini. Kalau dipikir-pikir, sebetulnya ada jalan lebih cepat dari mencari kartu ATM berhari-hari.


"Tunggu deh. Kok gue ngerasa ada yang salah ya?" kataku pada Farha dan Arum.


"Apa, Mbak?" tanya Farha.


"Kenapa kita dodol banget ya? Kenapa nggak langsung ke Banknya aja? Biar bisa sekalian gue print rekening koran untuk cocokin uang yang gue ambil sama uang yang gue pake selama di sini?" kataku.


"Bank?" tanya Arum.


Aku mengangguk.


"Setau aku Bank itu jauh, Mbak. Harus ke kota. Sepertinya butuh waktu 3-4jam kalau mau ke sana." kata Farha.


Mendengar kata kota. Aku jadi antusias. Sepertinya aku punya kesempatan untuk pergi dari pondok. Jangan-jangan ini adalah wujud dari doaku. Lewat pencarian ATM ini aku bisa kabur dengan dalih mau pergi ke Bank.


"Lo tau jalannya?" tanyaku.


Sepertinya ini benar-benar bisa aku jadikan alternatif untuk melarikan diri. Jika benar, aku harus bisa memanfaatkan momen ini.


Arum dan Farha saling berpandangan lagi.


"Lo tahu, Rum?" tanyaku.


"Gimana bentuknya pun aku ndak tahu, Mbak." kata Arum. "Selama ini bapakku titip uang selalu lewat Mbak Atin." lanjutnya.


Miris sekali.


"Lo, Far?" kataku.


Farha pun menggeleng.


"Tapi keluar dari sini tahu kan? Bantu keluarin gue dari sini aja. Nanti gue cari sendiri." kataku.

__ADS_1


Semoga Farha dan Arum mau menuruti kemauanku. Dengan begitu, jika aku bisa keluar dari sini, pasti aku bisa bebas tanpa bantuan Aaron.


"Aku ndak seberani itu, Mbak." kata Arum. "Lagi pula aku dapat amanah langsung dari Umi agar Mbak atau santri di sini tidak pergi ke luar pondok. Selama Umi dan Abah pergi." katanya jujur.


"Umi sama Abah pergi?" tanyaku.


Benar-benar kesempatan. -batinku.


Mereka mengangguk.


Aku menatap Farha meminta pertolongan untuk mengeluarkanku dari pondok. "Aku ndak berani membantah Umi, Mbak." katanya.


"Kalo nggak kalian kasih tahu aja jalan keluar dari sini." kataku, mendesak.


Arum dan Farha saling berpandangan. Mereka menggeleng. Mereka tidak mau memberitahuku. Aku tak bisa terus memaksa. Mereka keras kepala.


Aku mendesah kecewa. Sepertinya, satu-satunya jalan memang Aaron.


Singkat cerita saat waktu menunjukkan hampir jam 8 malam, aku harus pergi ke ruang sidang yang direncanakan oleh pengurus untukku. Kartu ATM itu benar-benar tidak kutemukan.


Aku duduk dengan gelisah, namun bukan karena kartu ATM melainkan aku sudah berjanji bertemu dengan Aaron. Tepat jam 8 malam.


Kalau aku tidak cepat-cepat menghampirinya usahaku untuk keluar dari penjara suci ini akan tetunda lagi bahkan lebih parahnya bagaimana kalau Aaron malah kecewa dan tidak mau membantuku untuk keluar dari sini?


“Ayo, Mbak..” ajak Farha.


"Tunggu, Far." kataku pada Farha.


Kali ini tak ada Arum karena Arum masuk dalam jajaran pengurus yang ikut menyidangku. Jadi dia tak bisa menemaniku.


"Kenapa, Mbak?" tanyanya.


“Ee.. gini. Sidangnya nggak bisa ditunda ya?” tanyaku pada Farha. Aku takut menimbulkan kecurigaan padanya.


“Nggak bisa, Mbak, emangnya Mbak mau ke mana sekarang?” tanya Farha.


“Ya, enggak kemana-mana sih.” kataku. bingung harus menjawab dengan apa.


"Mbak, takut ya?" kata Farha. Dia mendekatiku.


Aku tak punya jawaban selain mengangguk. Biar saja kali ini aku terlihat lemah.


“Tenang ya, Mbak. Aku tau kok Mbak takut soal ATM tapi Mbak, kita percayakan aja semuanya sama Allah ya, Mbak.” kata Farha. Dia menepuk-nepuk punggungku mencoba menenangkan.


Kini, Farha benar-benar berpikir kalau aku takut menghadapi sidang ini. Tapi tidak apalah. Itu malah menguntungkan karena dia tidak mencurigai hal yang lain. Aku mengangguk. Tidak ada pilihan lain lagi. Aku pun berjalan di samping Farha menuju tempat sidang.


Rangkaian pembukaan sidang begitu membosankan. Farha kini ikut menyaksikan kemalanganku. Namun saat sedang di tengah-tengah acara pembukaan dia keluar. Sepertinya dia ingin ke kamar mandi.


Arum masih di sana, di barisan pengurus, dia terus memperhatikanku. Wajahnya murung. Dia tahu persis aku tak menemukan ATM itu, karena dia turut mencari bersamaku dan Farha.


Aku melirik jam yang menunjukkan jam 9 kurang. Aku sendiri gelisah di tempat, memikirkan kapan sidang ini selesai. Aku harus bertemu dengan Aron.


“Mbak Nindy, kenapa gelisah seperti itu?” tanya Linda.


Aku hanya memandangnya sekilas tanpa mau melayani ucapan busuknya.


“Jadi, apa kartu ATM-nya ketemu, Mbak?” tanya Linda.

__ADS_1


“Enggak. Puas lo?” kataku.


Kali ini tidak ada Umi. Sepertinya Umi dan Abah belum kembali. Aku jadi bisa bernafas lega. Aku bisa bebas memaki kapanpun aku mau.


__ADS_2