Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 53 - Mendadak Reuni


__ADS_3

Aku sangat senang kalau anak Bi Darsih adalah Arum. Aku buru-buru menelepon Mas Faiz. Aku ingin memberitahunya kalau anak Bi Darsih ternyata Arum.


Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif..


Aku buru-buru memutuskan sambungan. Sepertinya Mas Faiz sedang sibuk. Akupun berniat memberitahunya nanti sepulang Mas Faiz bekerja.


Aku keluar kamar, bosan rasanya di dalam kamar. Aku ke belakang rumah. Ntahlah yang jelas aku tidak mau ke kamar. Pekerjaan rumah sudha dibereskan semua oleh Bi Darsih jadi aku benar-benar tidak memiliki kesibukan.


“Mbak!” seru Arum.


“Eh, Arum? Kamu tidak istirahat?” tanyaku pada Arum.


“Aku tidak lelah, Mbak.” kata Arum sambil terkekeh.


“Aku senang sekali kamu datang, Rum.” kataku.


“Iya, aku juga senang sekali bertemu Mbak. Ternyata majikan cantik dan baik hati yang sering diceritakan Biyungku adalah kamu, Mbak. Dunia kok bisa sesempit ini ya?” tanya Arum.


Aku terkekeh. “Iya, sempit sekali ya. Aku sudah mencarimu lewat sosial media. Tapi kayaknya kamu tidak main sosial media ya?” tanyaku.


“Iya, Mbak. Ponselku masih jadul, jadi aku tidak bermain sosial media.” kata Arum.


“Kenapa tidak meneleponku?” tanyaku.


“Aku berniat menelepon Mbak bila aku sudah mendapatkan pekerjaan, Mbak. Agar kalau Mbak mengajak bertemu aku ada persiapan uang.” jawab Arum.


“Kamu percaya diri sendiri kalau aku akan mengajakmu bertemu, Rum.” kataku sambil terkekeh.


“Iya, dong. Arum.” katanya menyombongkan diri.


“Linda dan Farha juga ada di Jakarta, Rum.” kataku.


“Oh ya, Mbak? Bagaimana keadaan mereka?” tanya Arum semangat.


“Alhamdulillah, mereka baik. Farha juga sudah menikah.” kataku.


Dalam hati aku merutuki diriku karena kelepasan berbicara. Aku seharusnya tidak mengatakannya, karena aku tidak tahu apakah Arum masih mencintai Aaron atau tidak.


“Wah, nikah dengan siapa, Mbak?” tanya Arum penasaran.


Telak. Aku jadi bingung harus mengatakan apa pada Arum. aku tentu tidak mau membuat Arum bersedih. Namun kebenaran Farha dan Arum akan menikahpun tidak bisa aku tutupi selamanya. Cepat atau lambat Arum pasti akan tahu. Ini hanyalah masalah waktu.


“Maafkan aku, Rum. Farha menikah dengan Aaron.” Kataku.


Arum menoleh sempurna ke arahku. Dia memandangku dengan tatapan ingin mencari kebenaran di mataku. Aku mengangguk. Ah, sudah aku duga. Arum masih memiliki perasaan pada Aaron.


“Wah, Alhamdulillah.” jawab Arum. Kali ini suaranya terdengar serak.


“Rum, maafkan aku, aku..” kataku.


“Tidak apa-apa, Mbak. Lagi pula mungki mereka sudah berjodoh. Aku ikhlas. Apa lagi mendengar istri Mas Aaron adalah Farha. Aku yakin mereka akan menjadi pasangan yang serasi.” kata Arum.


Aku mengusap bahunya. “Kamu anak baik, Rum. Aku yakin kamu akan mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari Aaron.” kataku.

__ADS_1


“Amin, Mbak. Mbak..” panggilnya.


“Iya?” tanyaku.


“Boleh aku menangis sebentar?” tanya Arum.


Aku mengangguk. Diapun memelukku dan menangis dalam pelukanku. Aku jadi merasa iba. Arum pasti patah hati. Namun, sepertinya lebih cepat lebih baik kalau dia mengetahui apa yang telah terjadi. Bila dia sudah tahu, aku yakin dia pasti lebih cepat move on.


“Sudah, Mbak. Tolong jangan bilang-bilang Mbak Farha dan Mbak Linda ya.” kata Arum.


Aku mengangguk. Usia Arum sama seperti Farha, satu tahun dibawah aku dan Linda jadi saat di pondok mereka memanggil aku dan Linda dengan sebutan, Mbak.


“Iya, yang penting kamu jangan sedih lagi ya?” kataku.


“Iya, Mbak siap. Aku tidak mungkin sedih melihat sahabatku bahagia.” kata Arum tulus.


Aku memeluknya singkat. Benar-benar Arum yang aku kenal.


“Bagaimana kalau kita videocall dengan mereka?” tanyaku.


“Sebentar ya, Mbak. Aku cuci muka dulu.” kata Arum.


Aku tertawa dan mengangguk. Awalnya aku mengira Arum akan ke kamar mandi, namun dia mendekati keran air dan membasuh mukanya di sana.


“Kamu ada-ada saja, Arum.” kataku pada Arum.


“Seger, Mbak.” kata Arum.


“Sudah?” tanyaku.


“Kita selfie ya, kita kirim ke Linda.” kataku.


“Oke, Mbak.” kata Arum.


Aku dan Arum langsung mengambil pose tersenyum dan KLIK! Aku menekan ikon memotrat bebrapa kali. Aku dan Arum saling pandang dan tersenyum.


“Ponsel Mbak bagus.” kata Arum.


“Percaya tidak, Rum? Aku membelinya 4 tahun lalu.” kataku.


“Lho aku kira masih baru, Mbak. Karena terlihat baru.” kata Arum.


“Iya karena dijaga dengan sepenuh hati.” kataku.


Arum terkekeh. Aku pun melakukan hal yang sama. “Kalau ini bagaimana, Rum?” tanyaku.


“Muka aku sepertinya tidak ada bedanya, Mbak. Yang mana saja oke.” kata Arum.


“Oke deh.” kataku langsung mengirim foto kami berdua kepada Linda. “Ayo tebak, dalam waktu berapa detik Linda akan telpon.


“Satu.” kata Arum.


Ponselku langsung berdering menampilkan panggilan videocall dari Linda. Aku dan Arum tertawa. Tebakan Arum sangat jitu kali ini.

__ADS_1


Aku mengangkat panggilan video itu lalu mengangkap ponselku di depan di antara aku dan Arum. Aku bersiap untuk mengucapkan salam namun tidak jadi mendengar suara teriakan mereka.


“Arummm!” seru Linda dan Farha di seberang sana.


Arum menoleh ke arahku sambil tertawa.


“Iya, Farha dan Mbak Linda? Kalian apa kabar?” tanya Arum.


“Kami baik. Kamu kenapa bisa bersama Mbak Nindy? Kamu di mana?” tanya Linda.


“Arum di rumah aku. Kalian mainlah ke rumah aku.” kataku.


“Oke, kita otw, Mbak!” seru Linda.


“Iya, kita ke sana.” kata Farha.


KLIK!


Sambungan dimatikan. Aku dan Arum terkekeh. “Mereka akan datang ke sini, Mbak?” tanya Arum.


Aku mengangguk. “Iya, mereka akan ke sini.” kataku.


“Apa tidak apa-apa sama Gus Faiz? Eh, maksudku Pak Faiz?” tanya Arum.


“Tidak apa-apa kalau kamu ingin memanggilnya Gus.” kataku.


Arum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tenang saja, Rum. Mas Faiz tidak keberatan. Mas Faiz hanya tidak membolehkanku memasukkan pria ke dalam rumah.” kataku.


Arum mengangguk mengerti.


“Kita mau buatkan sesuatu untuk mereka?” tanyaku.


“Kita buatkan kue kering saja, Mbak.” kata Arum.


“Kamu bisa? Aku tidak bisa soalnya.” tanyaku.


“Bisa, Mbak. Ayo, sekalian aku ajarkan.” kata Arum.


Akupun mengangguk. Aku dan arumpun langsung pergi ke dapur. Peralatan dapurku lumayan lengkap dan bahan-bahan sudah Bi Darsih belikan dengan langkap juga, jadi kami tidak kesulitan. Kami menyiapkan tepung-tepungan untuk membuat adonan.


Arum dengan cekatan membuat adonan dan mengajariku. Aku sangat senang melihat jari-jari lincah Arum mencampur bahan-bahan. Setelah membuat kue dan memasukkan adonan itu ke dalam oven, kami menunggu beberapa menit. Lalu kue keringpun jadi.


“Nah, sudah jadi, Mbak.” kata Arum.


“Aku cicipi ya, Rum.” kataku. Kue ini sangatlah wangi dan menggoda jadi aku sangat penasaran ingin merasakan kue buatan Arum ini.


Akupun menggigit kue itu. Sangat enak. Aku benar-benar merasakan kue yang renyah dan enak.


“Bagaimana, Mbak?” tanya Arum.


“Enak sekali, Rum. MasyaAllah.” kataku jujur.

__ADS_1


***


Maaf ya teman-teman Readers. Bab ini belum sempat aku sunting :( semoga gak terlalu banyak kesalahan :(. Makasih semuanya ❤️.


__ADS_2