Penjara Suci

Penjara Suci
PS 13 - Mencari Gus Faiz


__ADS_3

“Mbak Nindy, ayo bangun, Mbak, salat dulu.” suara Farha.


Sejak tiba di sini, Farha persis seperti baby sitter-ku yang selalu merawatku dengan baik. Membangunkanku, menemaniku, mengambilkan makan, melipat bajuku dan lain sebagainya. Tugas baby sitter pada umumnya memang seperti itu kan? Seperti itulah dia. Tunggu kalau dia baby sitter, aku baby-nya dong? Tidak-tidak-tidak.


“Ah ngapain si lo, ganggu gue aja gue masih ngantuk!” kataku, kesal.


“Mbak harus salat di ndalem kan disuruh Umi?” katanya lagi.


Lagi-lagi kalimat itu lagi. Aku benci berjanji, aku benci disuruh-suruh, aku benci disuruh ke tempat Umi. Meski berkali-kali kubilang benci, tetap saja rutinitas ini harus dijalani karena aku telah berjanji dan apapun bentuk janji haruslah ditepati. Tapi kali ini aku benar-benar tak mau ke sana. Aku harus memutar otak mencari alasan paling logis.


“Aduh, kepala gue pusing Far, perut gue juga masih sakit. Lo maukan izinin gue ke Umi?” kataku, sambil meringis mendalami aktingku. Tak lupa juga tangan kananku pura-pura memijit kepalaku dan tangan satunya lagi memegangi perutku.


“Ya Allah, Mbak, ya sudah. Mbak, salat di sini saja, nanti aku yang bilang ke Umi. Mmm.. ayo Mbak aku bantu ambil air wudunya.” kata Farha lagi.


Gue juga lagi gak mau salat, Farha! –Batinku.


“Aduh, kayaknya gue gak bisa kena air deh, dingin banget gue bisa pingsan. Uhuk-uhuk! Gue biasanya kalo kena air malah jadi masuk rumah sakit, kritis.” kataku. Asal-asalan. Aku meringkuk. Aku tahu pasti bahwa dia tidak akan berani lagi menyuruh-nyuruhku untuk salat. Aku masih mengantuk. Ingin tidur lagi. Menyiapkan tenaga untuk rencana kabur nanti.


“Ya Allah, Mbak, ya sudah tayamum saja ya, Mbak.” kata Farha.


Tayamum? Tayamum? Sepertinya aku pernah dengar istilah itu. Walaupun aku anak begajulan tapi aku tetap anak sekolah dan dulu saat SD sepertinya aku pernah diajarkan tayamum. Tayamun itu ngambil air wudu pake debu kan ya? Semoga bukan. Karena aku tak mau punya wajah cemong.


“Tayamum? Wudu pakai debu?” tanyaku memastikan.


Farha mengangguk. Aku menghela nafas frustasi. Sekarang bagaimana? Akupun memutar otak lagi untuk menghindari salat ini. Kalau kali ini juga Farha masih punya jawaban aku akan nyerah.


“Tapi gue gak bisa berdiri. Kaki gue...” aku memutar otak.

__ADS_1


“Ndak papa, Mbak, bisa duduk. Kalau Mbak ndak bisa duduk juga ya sambil tiduran juga ndak papa Mbak, islam itu memudahkan kita.” kata Farha.


“Kalau gak bisa tidur juga?” tanyaku.


Kali ini ku yakin Farha takkan punya jawaban yang memuaskan.


“Ya, disalatin, Mbak.” jawab Farha lirih.


“Astaga! Mati dong? Lo nyumpahin gue mati?” tanyaku.


“Eh, ndak, Mbak, ndak. Tadi kan Mbak tanya jadinya aku jawab. Nah, kan Mbak hanya ndak bisa berdiri, jadi bisa duduk.” kata Farha, terlihat tidak enak memandangku.


“Ngeles mulu lo! Udah ah. Udah sembuh gue! Gue mau ke rumah Umi aja dari pada dengerin lo ngomong yang gak jelas.” kataku lalu meninggalkan Farha.


“Maaf, Mbak.” kata Farha mengejarku.


“Aku ndak bermaksud seperti itu, Mbak, maaf.” kata Farha.


Aku langsung pergi ke kamar mandi dan langsung mengambil wudu asal-asalan. Tapi setelah selesai aku merutuki diriku sendiri karena lupa bawa mukena. Aku tak mau ke atas lagi. Gengsi sama Farha. Lagi pula malas betul naik ke atas dan jadi bahan tertawaan Farha. Umi pasti punya mukena, aku pinjam saja nanti.


“Ini mukenanya, Mbak.” kata Farha. Tiba-tiba muncul sambil menyodorkan mukenaku. Raut wajahnya tak menunjukkan bahwa ia akan menertawakanku. Sepertinya aku salah kali ini.


Akupun mengambil mukena itu lalu pergi ke Ndalem Abah bertemu Umi.


***


Aku masih ditahan di Ndalem Abah. Umi juga masih bercerita panjang kali lebar kali tinggi sesukanya seperti biasanya. Sayangnya itu bukan kesukaanku. Siapa yang tahan mendengarkan cerita lama-lama dari seseorang? Tentu akupun tidak. Meski begitu, Umi sepertinya tak bisa membaca situasiku saat ini, beliau tak memperhatikan bagaimana nahasnya mataku yang kian me-5-watt. Beliau juga sepertinya tidak juga mengetahui bagaimana otakku mulai berjalan lamban bagai komputer pentium 1.

__ADS_1


"Nindy, boleh Umi minta tolong sesuatu?" Tanya Umi. Aku mengangguk. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi.


"Minta tolong apa, Umi?" tanyaku.


"Tolong panggilkan Faiz ya, bilang padanya kalau Umi mencarinya." kata Umi.


Dalam hati aku terkikik geli. Mendengar bahasa Umi yang mirip dengan guru bahasa Indonesia. Sangat kaku. Seperti kanebo kering. Sungguh.


Aku langsung bergegas keluar. Dan bodohnya aku lupa menanyakan keberadaan Gus Faiz di mana. Aku membalikkan badan berniat menemui Umi dan menanyakan keberadaan putranya itu. Tapi otakku berteriak tidak mau, karena itu pasti sangat memalukan. Lagi pula dengan mencari Gus Faiz maka itu artinya peluangku untuk pergi berlama-lama dari Umi semakin besar.


Kadang aku suka berpikir, 'Umi gak punya kerjaan lain apa yak? Di rumah mulu'. Mungkin itu sudah kodratnya sebagai istri tapi Mamaku seorang istri juga dan beliau punya bayak kegiatan ntah apa di luar rumah, beliau jarang di rumah. Bahkan, tiap di rumah hobinya adalah memarahiku sama seperti Papa. Mengingat suasana rumah membuat darahku mendidih seketika.


Aku mengelilingi rumah Umi dari satu tempat ke tempat yang lain, bahkan tak jarang kucari di bawah sofa dan ranjang, siapa tahu dia berubah jadi tikus. Tinggal satu tempat yang belum aku datangi, yaitu dapur. Meski kemungkinannya sedikit karena aku tak pernah mendengar ada laki-laki suka di dapur, tapi rasanya tak ada salahnya mencoba. Firasatku kali ini mengatakan kalau dia ada di sana.


Sesampainya di dapur, benar saja aku melihat Gus Faiz sedang duduk di dapur sambil meminum air putih. Dia meminum dengan 3 kali teguk. Kurasa dia memang benar-benar aneh. Dia terlihat haus, kenapa ia tak langsung teguk saja minumnya sampai habis.


"Is, eh, maksudnya Gus dicariin Umi di kamarnya." kataku. Ntah sopan atau tidak, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah Si Empunya sudah menoleh, meletakkan gelas, lalu mulai berdiri.


Seperti biasanya dia masih memakai sarung. Dia benar-benar aneh. Dia memakai sarung di rumah seperti ingin ke Masjid. Jangan-jangan dia tak punya celana. Sepertinya aku harus memberikannya besok-besok.


"Makasih, Nin." katanya sambil berjalan tanpa sekalipun menoleh ke arahku.


Dua kata! Bukan 'Mbak'. -batinku


Percaya tak percaya pipi aku mulai panas. Tidak. Mengapa aku seperti anak SMP labil seperti ini? Rasanya aku ingin terus tersenyum. Jantungku. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Lidahku kelu. Kali ini aku tak bisa mencacimakinya. Sial.


Saat aku membalikkan badanku, mataku tak sengaja bertemu dengan mata pisau yang sangat mengkilat. Aku mengamati sekeliling, tidak ada orang. Aku buru-buru memgambil pisau itu. Ini pasti anugrah! Ini pasti petunjuk atas doaku. Pasti begitu.

__ADS_1


__ADS_2