Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 15 - Sarapan untuk Suami


__ADS_3

Keesokkan harinya, seperti biasa sebelum subuh aku terbangun. Lagi-lagi ada sebuah tangan di perutku. Kali ini aku tidak terkejut, karena aku tahu dan aku sadar betul kalau tangan itu milik Mas Faiz, suamiku.


Aku mengamati wajah damai suamiku. Aku mengusap wajahnya dengan penuh kasih sayang. Aku ingin membangunkan suamiku. Namun, alih-alih bangun, dia justru merapatkan tubuhnya padaku.


“Mas, bangun, sebentar lagi subuh.” kataku, sambil mengusap pipinya lagi.


Mas Faiz membuka mata, melihatku dia tersenyum, aku balas tersenyum padanya. Mas Faiz masuk ke dalam kamar mandi, akupun menyiapkan baju untuknya. Lalu memilih mandi di kamar mandi lain. Setelah Mas Faiz selesai berpakaian dia pamit untuk pergi ke Masjid.


Aku mengantar suamiku keluar rumah. Setelah Mas Faiz pergi, akupun pergi ke dapur. Mencoba mencari bahan makanan. Aku memang tidak bisa memasak namun aku mau belajar. Aku mencuci beras lalu memasukkannya ke dalam penanak nasi. Lalu aku membuka kulkas. Di dalam kulkas aku hanya menemukan chicken nugget dan sosis ayam, tidak ada lagi. Akupun mengambil chicken nugget dan sosis itu dan membawanya ke dekat kompor.


Akupun mengambil penggorengan lalu mengisinya dengan minyak secukupnya. Kemudian aku menyalakan kompor. Aku menunggu beberapa menit lalu mulai memasukkan chicken nugget itu ke dalam penggorengan.


“Aduh!” seruku panik.


Aku benar-benar tidak menyangka kalau minyak dalam penggorengan akan meletik-letik. Sepertinya ini karena chicken nugget yang karena beku dan mengandung air bertemu dengan minyak. Akupun mengedarkan pandanganku mencoba mencari sesuatu yang bisa menutup penggorengan.


Aku melihat panci, lalu aku mengambil tutupnya dan kembali ke penggorengan. Namun, betapa terkejutnya aku melihat tepian chicken nuggetku menghitam. Aku buru-buru mematikan kompor. Aku pun mengangkat chicken nugget yang belum sempat aku balik karena panik. Aku menusuk salah satu nugget itu lalu ku amati. Dan benar saya bagian bawahnya sudah gosong, sedangkan bagian atasnya masih kuning seperti semula sebelum di goreng.


Akupun memutuskan untuk menyalakan kompor lagi, lalu menggoreng bagian atasnya. Kali ini chicken nugget itu tidak terlalu meletik-letik, aku masih bisa mengatasinya. Setelahnya aku buru-buru mematikan kompor lalu mengambilnya lagi. Kini, warnanya berubah kecoklatan dengan bagian bawah yang coklat gelap.


Ini biar untukku saja. Biar aku masak lagi untuk Mas Faiz. – batinku.


Akupun menyalakan kompor lagi. Lalu mengatur api jadi kecil. Sepertinya kejadian tadi disebabkan oleh api yang terlalu besar dan aku yang terlalu lama mengangkat karena sibuk mengambil tutup panci.


Akupun memasukkan chicken nugget baru yang belum di goreng. Kali ini aku bisa mengondisikan diriku. Aku menutup penggorengan dengan tutup panci sebentar lalu kubuka dan kubalik semua chicken nugget ketika kurasa sudah cukup matang. Ternyata usahaku sia-sia. Percobaan kali ini berhasil. Lalu aku pun menggoreng sosis, untuk sosis aku tidak terlalu khawatir karena tidak meletik seperti yang sudah-sudah.


Akupun menata di piring, dan kubawa ke meja makan. Aku membiarkan chicken nugget yang gosong di dapur, nanti akan aku makan setelah menemani suamiku makan. Mas Faiz datang tepat ketika nasi matang. Mas Faiz naik ke atas berganti pakaian. Aku buru-buru membuatkan teh manis hangat untuk kami berdua. Aku menunggu di meja makan hingga Mas Faiz turun.


“Makan dulu, Mas.” kataku.


Aku mengambilkan nasi untuknya.


“Kamu?” tanyanya.


Aku tidak mungkin berbohong kalau aku sudah makan. Aku bukan tipikal orang yang bisa dan mau berbohong.

__ADS_1


“Aku nanti saja, hehe.” kataku.


“Kamu tidak mau makan bersama denganku, An?” tanya Mas Faiz.


“Eh, bukan begitu, Mas. E..” kataku. Aku memutar otak mencari alasan namun buntu. Mataku reflek melirik ke arah dapur. Namun aku langsung kembali bersikap normal. “Tidak apa-apa, Mas. Mas makan duluan saja.” kataku.


Mata Mas Faiz tertuju pada dapur yang ada di belakangku. Aku mulai gelagapan, aku lupa mengamankan chicken nugget gosong itu. Aku mencoba menghalangi pandangan Mas Faiz pada dapur dengan menggunakan tubuhku sambil tersenyum.


“Apa yang kamu sembunyikan, An?” tanya Mas Faiz curiga.


“Eh, itu..” aku bingung harus menjawab apa.


Mas Faiz pun bangkit lalu mulai berjalan menuju dapur. Aku buru-buru mengekorinya dari belakang. Mata Mas Faiz tertuju pada chicken nugget yang gosong di dekat kompor. Aku mengusap tengkukku yang tidak gatal.


Mas Faiz mengambil chicken nugget itu dan membawanya ke meja makan.


“Mari kita makan bersama.” kata Mas Faiz.


Mas Faiz berniat mengambil nasi, namun aku buru-buru mencegahnya, “Biar aku saja, Mas.” kataku.


“Eh, jangan, Mas. Lebih baik aku yang itu saja.” kataku.


“Makanlah, kalau kamu masih menghormatiku.” katanya.


Aku tak berani berkata-kata lagi. Aku melirik Mas Faiz yang terus melahap makanan dengan tenang. Dia tak rela melihat aku memakan chicken nugget gosong itu. Akupun mulai makan.


Aku menusuk sosis yang sudah kupotong lalu menyodorkannya pada Mas Faiz, berniat untuk menyuapi Mas Faiz. Mas Faiz menatapku, aku tersenyum. Diapun tersenyum dan membuka mulutnya.


“Yang itu, pahit ya, Mas?” tanyaku.


Mas Faiz menggeleng. “Ini enak.” katanya berbohong.


“Maafkan aku ya, Mas.” kataku.


“Tidak perlu meminta maaf, saya tahu kamu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk saya, kan?” tanyanya.

__ADS_1


Aku mengangguk.


Mas Faiz meraih tangan kananku, “Lain kali jujur saja padaku, ya?” katanya.


Aku ingin sekali menggigit bibirku karena rasanya aku ingin berteriak. Mas Faiz benar-benar tahu cara membuat hatiku menghangat dan berdesir. Namun, aku kembali teringat pesan mama.


“Terakhir kali kamu menggigit bibir..” belum sempat Mas Faiz melanjutkan aku buru-buru memotongnya.


“Mas, Mas, Mas, aku mohon jangan ungkit yang itu, aku malu.” kataku.


Aku tahu persis bahwa arah ucapan Mas Faiz adalah kejadian di mobil, saat aku salah sangka dan … Ah, rasanya aku tak mampu mengucapkan kata itu.


Mas Faiz tertawa melihat tingkahku. “Kamu lucu sekali, An.” katanya.


“Maas..” rengekku.


Seusai sarapan tiba-tiba ponsel Mas Faiz berdering. Mas Faiz mengambil ponselnya dan membaca nama yang tertera. Lalu ntah mengapa dia langsung memandangku.


“Siapa?” tanyaku.


“Kak Ulfa.” jawab Mas Faiz.


Aku membeku di tempat. Mas Faiz tidak berniat mengangkat, “Angkatlah, Mas. Aku tidak apa-apa.” kataku.


“Halo, Assalamualaikum.” salam Kak Ulfa di seberang sana.


“Waalaikumsalam.” jawab Mas Faiz, akupun menjawab lirih.


“Gus Faiz, adikku tidak bisa masak. Aku bawakan sarapan spesial ya. Kamu mau makan apa? Biar aku buatkan.” tanya Kak Ulfa.


“Tidak perlu, kami sudah sarapan. Iya kan, An?” tanya Mas Faiz.


Sepertinya Mas Faiz sengaja memberikan isyarat pada Kak Ulfa kalau aku juga sedang mendengarkan dia.


“Oh, ada Nindy juga. Kakak kira kalian belum sarapan, Dek. Yaudah kalau memang sudah sarapan, aku tutup ya. Wassalamualaikum.” kata Kak Ulfa.

__ADS_1


“Waalaikumsalam.” kami menjawabnya.


__ADS_2