Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 51 - Permohonan Maaf Kak Ulfa


__ADS_3

Aku menonton TV di ruang tengah. Aku mengajak Bi Darsih untuk menemaniku menonton. Mas Faiz ke kantor jadi dia tidak bisa menemaniku menonton.


“Lho, itukan Fatih.” kataku.


Bi Darsih menoleh kepadaku. “Iya, Bu. Memang dia nama aslinya Fatih. Bibi sangat suka padanya, suara ngajinya bagus, Bu. Dia tampan sekali ya, Bu?” kata Bi Darsih sangat semangat.


“Ternyata dia benaran artis ya, Bi. Tapi lebih tampan suami saya, Bi.” kataku sambil terkekeh.


Bi Darsih tertawa sambil mengangguk.


“Jujur, bibi senang sekali melihat Bu Nindy dan Pak Faiz, kalian sangat romantis, tiap melihat bapak dan ibu, Bibi seperti sedang menonton film romantis.” kata Bi Darsih.


Aku hanya tertawa menanggapi Bi Darsih.


Tiba-tiba ponselku berdering. “Sebentar ya, Bi.” kataku.


“Iya, Bu. Silakan.” kata Bi Darsih. Bi Darsih mengecilkan volume TV.


Aku mengamati layar ponselku. Di sana tertulis nama ‘Kak Ulfa’. Aku tersenyum lalu mengangkat telepon dari kakakku itu.


“Halo, assalamualaikum.” Aku menyapa lebih dahulu.


“Waalaikumsalam, Dik. Kamu sedang apa?” tanya Kak Ulfa di seberang sana.


“Hanya sedang menonton TV, Kak. Kakak?” jawabku bersemangat.


“Tidak jauh beda seperti kamu. Dik, Kakak mau minta maaf sama kamu.” kata Kak Ulfa.


“Maaf untuk apa ya, Kak?” tanyaku.


“Untuk semuanya, Dik. Maafkan Kakak yang sudah jahat sama kamu. Kamu mau kan memaafkan kakak? Kakak sangat menyesal. Kakak sadar kalau apa yang dilakukan kakak kepadamu itu salah, yang dikatakan Mama dan Gus Faiz semuanya benar. Kakak mohon, maafkan kakak ya?” kata Kak Ulfa.


Aku tersenyum. Ternyata Mama benar-benar menemui Kak Ulfa dan berbicara padanya. Aku benar-benar bahagia mendengar Kak Ulfa yang kini meminta maaf. Itu tandanya Kak Ulfa sudah berubah. Aku sangat merindukan kakakku yang dulu. Kak Ulfa menyebut nama Mas Faiz sepertinya kalimat ini merujuk pada saat Mas Faiz memarahi Kak Ulfa di depan kamarnya.


“Iya, Kak. Aku sudah memaafkan kakak.” kataku.


“Benarkah? Terima kasih, kamu memang adikku yang paling baik.” kata Kak Ulfa.


“Dengan senang hati, Kak. Aku sangat senang kakak sudah tidak marah lagi padaku.” kataku.


“Tentu saja, kakak tidak akan marah lagi padamu. Oiya, maafkan kakak ya karena hanya bisa mengucapkan maaf via telepon, karena kakak takut kamu akan mual lagi bila melihat kakak.” kata Kak Ulfa.


“Iya, Kak. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf ya, Kak. Karena sudah memuntahi kakak beberapa kali. Aku juga tidak tahu mengapa bisa demikian. Tapi kuharap Kakak mau memaafkan aku.” kataku.


“Iya, tidak apa-apa. Kemarin aku jahat, mungkin karena itu kamu mual setiap melihatku. Semoga setelah kita berbaikan, kamu tidak akan mual lagi ya bila bertemu denganku.” kata Kak Ulfa.


“Amin.” jawabku sambil tersenyum.


“O iya, Dik. Sudah dulu ya?” kata Kak Ulfa.


“Oh, baik, Kak.” kataku.


“Assalamualaikum.” salam Kak Ulfa.


“Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.” jawabku.


Aku mengamati ponselku dengan wajah bahagia. Aku seperti tidak percaya kalau aku sudah berbaikan dengan Kak Ulfa.


“Ibu terlihat senang sekali.” kata Bi Darsih.


“Iya, Bi. Aku sangat senang karena baru berbaikan dengan kakakku. Aku benar-benar senang, Bi.” kataku, lalu memeluk Bi Darsih singkat.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Bibi jadi ikut senang, Bu.” kata Bi Darsih.


“Terima kasih, Bi.” kataku.


Aku langsung teringat Mas Faiz. Mas Faiz harus mengetahui hal ini. Aku benar-benar harus memberitahunya. Aku ingin meneleponnya namun aku takut akan mengganggu suamiku. Lalu kuputuskan untu mengirimkan pesan via whatsapp.


^^^Me:^^^


^^^Assalamualaikum, Mas.^^^


Mas Faiz:


Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya?


^^^Me:^^^


^^^Mas, aku senang sekali.^^^


Mas Faiz:


Senang karena?


^^^Me:^^^


^^^Kak Ulfa baru saja meneleponku, dia minta maaf kepadaku, Mas, dia menyesal karena telah jahat.^^^


Mas Faiz:


Kok bisa?


^^^Me:^^^


Mas Faiz:


Alhamdulillah kalau begitu, Mas jadi ikut senang.


^^^Me:^^^


^^^Iya, Mas. Yaudah Mas kerja lagi saja. Aku hanya ingin mengatakan itu. Semangat ya, Mas, untuk kerjanyaaa..❤️^^^


Mas Faiz:


Kamu juga semangat ya. Love you. ❤️


^^^Me:^^^


^^^Love you too.^^^


Aku tersenyum membaca percakapan kami. Meski Mas Faiz sedang sibuk namun dia selalu merespons pesan atau teleponku dengan cepat. Aku jadi senang merasa masuk ke daftar prioritas. Aku kembali menonton TV bersama Bi Darsih.


...***...


Aku kembali menuliskan cerita tentang kehidupan anak pesantren yang kemarin aku baru tulis 1000 kata. Biasanya, jika kepalaku sedang lancar, 1000 kata bisa kuselesaikan dalam waktu satu jam, dan kalau dengan sedikit santai bisa kuselesaikan satu setengah sampai dua jam.


Setelah menulis 1000 kata. Aku berhenti. Semakin aku menulis semakin aku merindukan Arum. Lalu kumatikan laptopku, lagi pula mataku butuh beristirahat. Aku mengambil ponselku lalu aku mulai membuka Instagram, tidak ada isi di dalamnya karena telah diarsipkan semua. Aku ingin mencari Arum. Aku pun berselancar mencari nama Arumi Santi di kolom pencarian.


KLIK!


Sederet akun bernama Arumi Santi bermunculan, ku buka satu persatu namun tidak ada yang milik Arum yang kukenal. Aku beralih dari Instagram ke twitter dan facebook. Namun, tidak ada saat aku cari. Sepertinya Arum tidak bermain sosial media.


Aku membawa ponselku dan duduk di ruang tengah untuk menonton TV. Aku meletakkan ponsel itu di atas meja. Kunyalakan TV.

__ADS_1


Jujur aku merasa bosan.


Di saat-saat seperti ini aku merindukan keluargaku terutama Mama. Padahal kami berada masih dalam satu provinsi, namun aku tidak bisa mengunjungi beliau setiap hari, selain Mas Faiz kerja, aku tidak tega mengganggu waktu istirahat di hari liburnya.


“Mamaaa.. Nindy kangen.” gumamku. Satu air mataku turun.


“Lho, ibu, ibu kenapa?” tanya Bi Darsih yang tiba-tiba datang.


“Tidak ada apa-apa, Bi.” kataku menyeka air mataku sendiri. “Sini aja, Bi. Duduk di atas.” kataku menyuruh Bi Darsi duduk di sofa agar tidak duduk di lantai.


“Enakan seperti ini, Bu. Adem.” kata Bi Darsih.


Aku mengangguk. “Bi, apa Bibi pernah menikah?” tanyaku.


“Pernah, Bu. Saya dulu menikah dengan anak kepala kampung.” kata Bi Darsih.


“Wah, lalu di mana suami Bibi?” tanya Bi Darsih.


“Sayangnya, suami Bibi telah meninggal.” kata Bi Darsih sedih.


“Mohon maaf ya, Bi. Aku tidak tahu.” kataku.


“Iya, tidak apa-apa, Bu. Tapi ibu punya anak perempuan seumuran, Ibu.” kata Bi Darsih.


“Oiya, Bi? Wah, dia sekarang di mana, Bi?” tanyaku antusias. Aku ingin menghibur Bi Darsih.


“Dia di kampung, lagi mencari kerja.” kata Bi Darsih.


“Lulusan apa, Bi?” tanyaku.


“Hanya lulusan pondok, Bu. Baru lulus.” kata Bi Darsih.


“Oh, sama seperti aku ya, Bi? Namanya siapa, Bi?” tanyaku.


“Namanya Santi.” kata Bi Darsih.


“Oh, coba nanti aku tanya suami aku ya, Bi. Siapa tahu di kantornya membutuhkan karyawan baru.” kataku.


“Tidak perlu, Bu. Tidak apa-apa, saya takut merepotkan Ibu.” kata Bi Darsih.


“Tidak apa-apa, Bi. Nanti coba aku bicarakan dengan Mas Faiz dulu ya.” Kataku.


“Terima kasih banyak, Bu.”


“Iya, Bi. Sama-sama. Bi, boleh ku tanya lagi?”


“Boleh sekali, Bu.”


“Apa dulu setelah menikah Bibi ikut keluarga atau pindah rumah?” tanyaku penasaran.


“Bibi pindah rumah, Bu. Ikut suami.” kata Bi Darsih.


“Apa bibi berasa kesepian dan begitu merindukan keluarga, Bi, saat awal-awal menikah?” tanyaku.


Bi Darsih tersenyum. “Sangat, Bu. Sangat kesepian dan rindu. Dulu tidak ada telepon, dan suami Bibi selalu berangkat pagi pulang malam, awalnya bibi selalu menangis karena merindukan keluarga Bibi. Namun, lama-lama Bibi sadar. Semua orang memiliki masanya, tidak selamanya bisa bersama. Yang penting kita mendoakan orang tua kita dimanapun dan kapanpun. Walaupun raga terasa jauh namun bila kita dekat dengan doa, Bibi percaya kita akan dekat selamanya.” kata Bi Darsih.


“Hebat sekali, Bibi. Aku kira hanya aku yang merasakan kesepian dan kerinduan seperti itu.” kataku. Aku kagum pada Bi Darsih.


“Tidak, Bu. Hampir semua orang yang telah menikah merasakan hal yang sama seperti apa yang kita rasakan.” kata Bi Darsih.


Bi Darsih baik sekali. Semenjak ada Bi Darsih, sedikit rinduku pada Mama sedikit memudar.

__ADS_1


__ADS_2