
"Boleh saya menagih janjimu, An?" tanya Mas Faiz.
"Janji?" tanyaku.
Aku memutar otak. Memikirkan janji apa yang dimaksud oleh suamiku. Tak lama kemudian aku teringat. Pasti janji yang di maksud Mas Faiz adalah janjiku untuk menceritakan apa yang terjadi.
Aku menunduk. Bingung memikirkan cara agar bisa menjelaskan masalah ini pada Mas Faiz.
"Tidak perlu sekarang kalau kamu belum siap." kata Mas Faiz.
Dia menggeser bangkunya agar bisa dekat denganku. Kami memang masih di ruang makan. Selesai makan mi dadak (mi instan) kami masih di sini belum beranjak ke kamar.
"Kak Ulfa suka sama Mas." kataku sedih.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Mas Faiz.
"A-aku tidak sengaja mendengarnya saat Kak Ulfa menelepon temannya tadi di dapur." kataku.
Mataku kembali panas. Aku tidak tahu apakah kecengenganku masih ada sangkut pautnya dengan masa datang bulanku atau tidak. Namun, yang jelas aku sangat sedih saat ini.
"Jangan menangis, saya mohon." kata Mas Faiz.
"Aku tidak mau kehilangan Mas. Apakah.. apakah ini berarti aku egois?" tanyaku.
Aku tidak mau bohong apapun pada suamiku. Jadi, aku memutuskan untuk menceritakan apa yang kudengar dan rasakan.
"Tidak, Sayang." kata Mas Faiz.
Aku menatapnya lekat. Dadaku berdesir mendengar Mas Faiz memanggilku dengan panggilan itu. Hatiku menghangat, rasa bahagia menyelimutiku.
"Mas, apakah aku jahat telah merebutmu dari Kak Ulfa?" tanyaku.
"Kamu tidak merebut saya dari siapapun, An. Jadi kamu tidak jahat." kata Mas Faiz.
Mas Faiz mengusap air mata di pipiku. "Jangan menangis lagi, jika yang kamu katakan benar kita doakan saja agar Kak Ulfa cepat melupakan saya." kata Mas Faiz.
"Apakah kamu pernah mencintai Kak Ulfa?" tanyaku.
Mas Faiz menatapku.
"Maksudku, kalian sering berhubungan via chat. Apakah itu artinya.. e.. kamu pernah mencintainya?" tanyaku.
Mas Faiz tersenyum menenangkanku, "An, aku hanya membalas pesan Kak Ulfa karena dia kakakmu, tidak lebih. Saya tidak pernah mencintainya sedikitpun." jawab Mas Faiz.
Aku menatapnya, matanya menyatakan kalau apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
"Dimana ponselmu?" tanya Mas Faiz.
"Di kamar, Mas." kataku.
"Yasudah, mari kita ke kamar. Saya tunjukkan riwayat pesan obrolan kami." kata Mas Faiz.
Aku mengangguk. Tiba-tiba Mas Faiz mengangkatku. Menggendong ala bridal style. "Eh, Mas, kenapa.." kataku.
"Perutmu masih sakit kan?" tanya Mas Faiz.
Aku hanya mengangguk, lalu mengalungkan tanganku pada lehernya. Mas Faiz membawaku ke kamar. Di kamar Mas Faiz menurunkanku di tempat tidur dengan hati-hati. Lalu, Mas Faiz mengambil ponselku yang ada di meja.
"Ini." katanya. Sambil memberikan ponselku.
Aku mengambilnya. Dia mengangguk. Akupun membuka pesan WA dari Kak Ulfa. Aku menahan nafas. Aku menggulirkan pesan itu hingga tiba paling atas.
Ada pesan panjang Kak Ulfa yang selalu dibalas singkat oleh Mas Faiz.
Kak Ulfa
Assalamualaikum, Gus Faiz. Aku ucapkan selamat ya atas beasiswanya. Semoga di Kairo kamu bisa mendapatkan banyak ilmu, dan pulang dengan kesuksesan yang besar. Aku sangat bangga padamu.
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Waalaikumsalam. Terima kasih.^^^
Kak Ulfa
__ADS_1
Jangan lupa makan dengan teratur ya, di sana. Jauh dari orang tua jangan sampai buat kamu tidak teratur atau jarang makan yaaa.
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Baik.^^^
Kak Ulfa
Nanti kalau ada apa-apa di sana atau kamu butuh teman curhat bisa chat aku ya. Aku akan balas chat mu kapanpun.
^^^Me (Mas Faiz) hanya di baca saja. Tidak membalas.^^^
Kak Ulfa
Kok, tidak dibalas sih? Kamu lagi sibuk ya? Sibuk apa? Pasti sibuk buat mengerjakan tugas kuliah ya?
^^^Me (Gue Faiz)^^^
^^^Iya.^^^
Kak Ulfa
Gus, besok Nindy kembali ke pondok.
^^^Me (Gus Faiz)^^^
^^^Bagaimana keadaan Nindy? Apakah dia sudah sembuh? Bagaimana dengan kakinya?^^^
Aku tersenyum melihat Mas Faiz yang terlihat mencemaskanku. Aku melirik Mas Faiz.
"Ada apa?" tanya Mas Faiz.
Aku menggeleng. Mas Faiz yang penasaran pun mendekatiku, ikut membaca pesan-pesan itu
Kak Ulfa
Sudah sembuh. Apakah dia tidak cerita kalau dia akan kembali ke pesantren besok?
^^^Me (Mas Faiz)^^^
Kak Ulfa
Jangan. Nindy tidak tertarik pada ponselmu. Dia bahkan punya ponsel baru.
"Ponsel baru?" kataku tak sadar.
Aku memandang Mas Faiz. "Tapi seingatku aku tidak pernah beli ponsel baru, Mas." kataku.
Akupun kembali membaca percakapan itu.
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Bolehkah saya meminta nomor barunya?^^^
Kak Ulfa
Dia akan segera ke pondok. Kuberikan nomor barunya pun percuma.
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Tidak apa-apa. Saya akan menghubunginya sebelum dia berangkat ke pondok.^^^
Kak Ulfa
0813844***** ini nomor barunya ya. Kamu bisa telepon sekarang.
Aku mengingat-ingat nomor ini. Aku menatap Mas Faiz dengan raut sedih. Aku tidak pernah punya nomor ini.
"Bukan nomormu?" tanya Mas Faiz.
Aku mengangguk sedih. "Aku tidak pernah punya nomor itu, Mas." kataku.
Aku kembali membaca percakapan antara Mas Faiz dan Kak Ulfa lagi.
__ADS_1
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Tidak aktif.^^^
Kak Ulfa
Mungkin dia matikan ponselnya.
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Baik, tidak apa-apa. Lagi pula saya tidak ingin mengganggunya.^^^
Kak Ulfa
Kamu mau menitip salam untuk Nindy?
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Boleh.^^^
Kak Ulfa
Sudah aku sampaikan ya, Gus hehe
^^^Me (Mas Faiz)^^^
^^^Terima kasih.^^^
Aku mendesah. Kak Ulfapun tidak pernah menyampaikan salam itu. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa Kak Ulfa bisa berbohong seperti ini. Ah, mungkin karena Kak Ulfa begitu mencintai Mas Faiz. Tapi bukankah, Kak Ulfa bilang kalau orang yang di sukainya adalah sepupu Aaron?
"Kamu juga tidak menerima salamku saat itu?" tanya Mas Faiz.
Aku menggeleng. Namun, aku buru-buru sadar. Ini akan memperburuk reputasi Kak Ulfa di hadapan Mas Faiz. Aku buru-buru meralat kata-kataku.
"Eh, mungkin saja aku yang tidak ingat, Mas." kataku.
"Jangan berbohong padaku, An." kata Mas Faiz.
"Maafkan aku, Mas." kataku.
Akupun terus menggulirkan pesanku sampai bawah tanpa membacanya, meski tidak membacanya secara cermat namun aku tahu Mas Faiz hanya menanggapi semua pesan panjang Kak Ulfa dengan satu dua kata saja, tidak lebih.
Akupun mengeluarkan percakapan itu. Sepertinya banyak kebohongan lain yg diciptakan Kak Ulfa. Aku tidak mau Mas Faiz memandang Kak Ulfa sebagai orang yang tidak baik. Mas Faiz memandangku dengan raut bingung.
"Tidak dibaca?" tanya Mas Faiz.
"Tidak perlu, Mas. Aku percaya padamu." kataku.
Mas Faiz mengangguk. Kami terdiam, masuk ke dalam lamunan kami masing-masing.
"Inikah alasan sebenarnya kamu tidak menghubungiku, Mas?" tanyaku.
Mas Faiz mengangguk. "Beberapa kali saya menghubungimu di nomor itu. Namun, karena tidak aktif terus, aku tidak berani meneleponmu lagi."
"Mas?" kataku.
"Iya?" jawabnya.
"Boleh aku minta kita merahasiakan ini dari siapapun?" kataku.
"Tentu saja." kata Mas Faiz.
"Mas, Kak Ulfa itu orang yang sangat baik." kataku.
Aku benar-benar takut kalau Mas Faiz mengecap Kak Ulfa adalah seseorang yang jahat setelah mengetahui fakta kalau dia telah di bohongi Kak Ulfa.
"Iya." kata Mas Faiz.
"Terima kasih." kataku.
Mas Faiz mengusap rambutku. Aku tersenyum padanya, dia balas tersenyum padaku.
"Saya ke kamar mandi dulu." katanya.
__ADS_1
Aku mengangguk.