
Setelah Kak Ulfa pergi. Marsya terus memperhatikan perutku. Dia lalu mendekat dan mengusap perutku dengan tangan mungilnya. Tingkahnya sangatlah menggemaskan di mataku. Tiap lihat tingkah Marsya aku merasa ingin cepat-cepat memiliki anak.
"Mama Ndy, Dedenya belum mau kelual ya?" tanyanya polos.
"Iya, Sayang. Nanti kalau Dedenya sudah lahir, Marsya main ya sama Dede?" kataku.
"Iya, Alca mau." kata Marsya.
Aku mengusap pucuk kepala Marsya dengan lembut. Dia tidak nakal, dia sangat baik, jadi aku suka berada di dekat Marsya. Aku berdoa semoga bila sudah lahir nanti Marsya bisa bermain dengan anakku.
"Mama, Ndy. Papa Is.." kata Marsya.
"Oiya, Mama Ndy lupa. Sebentar ya?" kataku sambil terkekeh.
Akupun hendak menelepon Mas Faiz sesuai janjiku dengan Marsya. Namun, seketika aku teringat sesuatu, aku tidak tahu apakah dia sedang sibuk atau tidak, aku juga takut mengganggu suamiku, aku pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat pada Mas Faiz.
^^^Me:^^^
^^^Assalamualaikum, Mas. Apakah Mas sibuk?^^^
Ponselku langsung berdering dan menampilkan nama suamiku di sana.
"Apa ada yang terjadi, An?" tanya Mas Faiz di seberang sana terdengar panik.
Aku tersenyum. "Assalamualaikum." kataku.
"Eh, iya, waalaikumsalam." jawab Mas Faiz.
Dia pasti panik tadi hingga lupa mengucap salam dan lupa membalas salamku via chat.
"Ada Marsya, Mas. Apa kamu sedang sibuk, Mas? Kalau kamu sedang tidak dibuka aku ingin videocall." kataku.
"Mas tidak sibuk. Sebentar Mas alihkan ke mode videocall." kata Mas Faiz.
Lalu akupun memajukan ponselku untuk bersiap-siap dan tak lama kemudian aku menerima panggilan video itu dan muncullah wajah suamiku yang selalu aku cintai.
"Papa Is!" seru Marsya sangat senang.
"Halo, Sayang!" seru Mas Faiz.
"Alca kangen." kata Marsya.
"Iya, Papa Is juga kangen sama Marsya." kata Mas Faiz.
"Dede bayi belum mau kelual Papa Is." kata Marsya sambil berbisik-bisik agar aku tidak mendengar.
Aku tertawa, begitu juga Mas Faiz yang tertawa di seberang sana.
"Iya, Sayang. Marsya panggil ya? Biar mau keluar." kata Mas Faiz bercanda.
Marsya mengangguk semangat. Dia berbalik ke arahku, bukan maksudku ke perutku. Aku memutar ponselku agar Mas Faiz tetap bisa melihat apa yang akan dilakukan Marsya.
"Dede bayi, dipanggil Papa Is." kata Marsya.
Tiba-tiba aku merasakan pergerakan dalam perutku saat tangan mungil Marsya berada di atas perutku.
__ADS_1
Marsya melongo.
"Ada apa, An?" tanya Mas Faiz yang melihat Marsya diam saja.
Marsya terus memandangi tangannya dengan penuh rasa penasaran. Dia mencoba berpikir apa yang tengah terjadi.
"Dia merasakan anak kita menendang tangannya, Mas." kataku tertawa.
"Apa kamu terkejut, Sayang?" tanya Mas Faiz ikut terkekeh.
Marsya mengangguk kini dia mulai sibuk dengan perutku. Dia tidak memperdulikan Mas Faiz.
"Cayanggg.." seru Marsya sambil mengelus perutku lalu menciumnya.
Aku tersenyum, begitu pula dengan Mas Faiz. Marsya terlihat sangat menyayangi janin yang masih berada di dalam perutku.
Tiba-tiba Kak Ulfa meneleponku.
"Mas, sudah dulu ya. Kak Ulfa menelepon." kataku.
"Kak Ulfa?" tanya Mas Faiz.
"Iya, Mas. Tadi Kak Ulfa keluar aku takut ada yang terjadi padanya." kataku.
"Baiklah." jawab Mas Faiz.
"Assalamualaikum." salamku.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Mas Faiz.
"Bye Marsya." kata Mas Faiz.
Aku pun mengakhiri panggilan telepon itu. Lalu aku pun mengangkat telepon Kak Ulfa. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Semoga saja tidak terjadi sesuatu padanya.
"Halo, assalamualaikum, Kak?" salamku untuk membuka percakapan melalui telepon.
"Waalaikumsalam, Dik. Dik maaf dompet Kaka tertinggal di sofa. Boleh kamu antarkan? Karena Kakak tidak bawa uang untuk kembali." kata Kak Ulfa.
Aku pun refleks mencari dompet itu.
"Cali apa, Mama Ndy?" tanya Marsya.
"Dompet, Sayang. Kamu lihat dompet tidak?" tanyaku pada Marsya.
Marsyapun bangun, lalu memberikan dompet padaku. Aku tersenyum lalu ku cium pipinya singkat. "Terima kasih, Sayang." kataku.
Marsya hanya mengangguk.
"Kak, dompetnya ketemu. Kakak ada di mana?" tanyaku.
"Di Blok M Square, Dik. Kaka di supermarket lantai dua ya." kata Kak Ulfa.
"Baik, Kak. Tunggu aku ya. Aku dan Marsya ke sana sekarang juga." kataku.
"Oke. Terima kasih ya, Dik. Maaf sekali karena kakak sudah merepotkan kamu." kata Kak Ulfa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak. " kataku.
"Kututup ya. Assalamualaikum." salam Kak Ulfa.
"Iya, waalaikumsalam." aku membalas salamnya.
Akupun memutus sambungan telepon. Seketika aku diam. Di dekat rumah Mama ada minimarket. Mengapa Kak Ulfa jauh-jauh ke Blok M? Ah, sepertinya Kak Ulfa ingin sekalian membeli barang-barang rumah.
Aku merasakan penasaran. Seketika aku dilanda rasa tidak enak dalam hati. Semoga ini hanya firasat tidak jelas yang tidak terbuktikan. Namun, aku harus mengeceknya. Biasanya kami hanya pergi ke supermarket untuk membeli banyak bahan belanjaan. Aku akan mengecek barang-barang yang ada di kulkas.
"Sayang, Marsya di sini dulu ya, Mama Ndy ke dapur sebentar." kataku.
"Alca itut." kata Marsya.
"Oke, ayo?" kataku menggandeng tangan mungil Marsya.
Marsya sudah bisa diajak berkomunikasi. Bahasanya pun bagus meski dia tidak bisa mengucapkan huruf 'R' dan beberapa huruf dengan sempurna.
Sesampainya di dapur aku langsung membuka kulkas mengecek isi yang ada di dalamnya. Kosong.
Aku menghela nafas lega. Ternyata kegundahanku hanyalah sekadar kegundahan semata tanpa arti. Aku mulai merasa bersalah karena memikirkan yang tidak-tidak terhadap Kak Ulfa.
"Mama Ndy?" panggil Marsya.
"Iya, Sayang?" tanyaku.
"Alca mau ee." kata Marsya.
"Oh yasudah, ayo ke kamar mandi." kataku mengajak Marsya ke kamar mandi.
Aku memikirkan Kak Ulfa yang menungguku lama di depan supermarket. Namun, mau bagaimanapun Marsya yang ingin buang air besar labih genting ke timbang kita menghampiri Kak Ulfa untuk saat ini.
Aku pun mengantarkan Marsya ke kamar mandi, di depan kamar mandi aku melepaskan celananya. Lalu Marsya masuk ke dalam kamar mandi. Aku menunggunya. Setelah dia selesai akupun mencebokinya.
"Nah, sudah. Kita ke Tante Ulfa ya?" kataku pada Marsya.
"Oke, Mama Ndy." kata Marsya.
Aku mengambil tasku, memasukkan dompet milik Kak Ulfa ke dalamnya lalu memesan taxi online.
Marsya tidak merepotkanku sama sekali. Dia pun tidak meminta gendong padaku. Mungkin ini karena perutku yang kini sudah besar jadi dia tidak mau aku gendong.
Tak lama kemudian taxi online datang. Aku mengajak Marsya menuju gerbang yang kubuka dan kututup sendiri karena di rumah Mama tidak ada Mang Jarwo.
Aku dan Marsyapun masuk ke dalam taxi online dan kamipun melesat menuju salah satu mall di daerah Jakarta Selatan, yakni Blok M Square. Setelah sampai aku membayar taxi dan membawa Marsya keluar Taxi.
"Acikkk!" seru Marsya saat kami masuk ke pintu utama.
"Kamu senang, Sayang?" tanyaku.
"Iya, Alca senang sekali." kata Marsya.
"Marsya mau beli mainan?" tanyaku.
"Mauuu!" seru Marsya.
__ADS_1