Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 9 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Kami berjalan beriringan. Rasanya bahagia sekali bisa berjalan-jalan bersama seseorang yang sudah halal. Ternyata seperti ini rasanya. Walau kami hanya berjalan kaki beriringan ntah mengapa hatiku terus merasakan kesenangan. Aku benar-benar bersyukur.


"An, saya ingin berbicara serius." kata Gus Faiz. Memecahkan kesunyian.


"Ada apa, Mas?" tanyaku.


Gus Faiz menggenggam tanganku dan membawaku ke salah satu bangku taman di bawah pohon rindang yang teduh. Cuaca yang sedikit mendung membuat kami semakin tidak kepanasan.


"Apa kamu ingin kembali ke pesantren?" tanya Gus Faiz.


"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.


Aku menimbang-nimbang dalam hati. Jujur aku tidak tahu apa pekerjaan Gus Faiz. Dia tentu baru saja lulus kuliah. Aku tidak bisa menjamin setiap orang yang telah lulus kuliah sudah pasti telah mendapatkan pekerjaan. Meski ia lulusan universitas terbaik Kairo namun tetap saja, tidak ada jaminan kalau dia mendapatkan pekerjaan tetap setelah lulus dari sana. Aku belum sempat menanyakannya, karena takut menyinggung perasaan Gus Faiz.


"Maksud saya, kebanyakan perempuan yang menikah dengan seorang Gus, mendambakan kembali ke pesantren sebagai Ning. Apa kamu menginginkan hal yang sama?" tanya Gus Faiz.


"Aku setuju menikah denganmu bukan karena aku ingin menjadi seorang Ning, Mas. Aku menikah denganmu karena kamu adalah orang yang aku cintai bukan karena status Ning atau apapun." kataku.


Gus Faiz tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum padanya. Senyuman itu benar-benar mempesona, sampai rasanya aku tidak rela melihat senyuman itu diberikan pada orang lain.


"Bila harus memilih di antara tiga pilihan, satu: tinggal di rumah orang tua saya atau pesantren Abah, dua: tinggal di rumah orang tuamu, dan tiga: tinggal di rumah lain bersamaku, mana yang akan kamu pilih, An?" tanya Gus Faiz.


"Aku ingin ikut kemanapun kamu pergi, Mas. Aku tidak keberatan tinggal di manapun, asal bersamamu aku akan selalu baik-baik saja." kataku.


"Bagaimana kalau saya ingin kita keluar dari rumah orang tua kita dan mulai hidup mandiri?" tanya Gus Faiz.


"Aku akan ikut bersamamu, Mas. Kemanapun." kataku mantap.


"Meski hidup dalam kekurangan?" tanya Gus Faiz.


Sepertinya tebakanku benar. Gus Faiz belum memiliki penghasilan tetap. Aku tidak mempermasalahkan ini. Karena seperti yang kukatakan, asal bersamanya aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku bisa membantunya.


"Tentu saja, Mas. Aku akan terus berada di sisimu bagaimanapun kondisinya. Kamu tidak perlu cemas aku akan mulai mencari kerja untuk membantu perekonomian kita bila kenyataannya demikian. Aku akan terus berjuang bersamamu." kataku.


Gus Faiz tersenyum. Dia mengambil tanganku lalu menggenggamnya. Erat sekali.


"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu, An." kata Gus Faiz.


"Aku lebih beruntung mendapatkan suami sebaik kamu, Mas." kataku.

__ADS_1


Gus Faiz tersenyum.


"Bagaimana kalau kita pindah besok?" tanya Gus Faiz.


Pindah besok, jujur ingin rasanya aku katakan kalau itu terlalu cepat. Aku masih sangat ingin berada di dekat orang tuaku. Namun, aku tidak mau membuat suamiku sedih, dia meminta pindah besok pasti punya alasan tersendiri. Aku sebagai istri harus mendukungnya.


Aku mengangguk. "Aku mau, Mas." kataku.


Gus Faiz mengusap punggung tanganku. Dadaku berdesir. Aku mengambil ATM dengan tangan kiriku. Lalu kusodorkan ATM ini kepada Gus Faiz. Gus Faiz menerimanya.


"Pakai saja uangku, Mas. InsyaAllah uang ini aku dapatkan dengan cara halal. Mari kita cari rumah kontrakan saja kalau memang kita akan pindah besok." katakan.


Gus Faiz menggeleng. "Hari ini saya ingin menemanimu jalan-jalan." katanya.


"Sungguh aku tidak apa-apa, Mas. Mari kita prioritaskan sesuatu yang lebih penting dulu." kataku menggebu-gebu.


"Prioritasku saat ini, hanya membahagiakanmu." kata Gus Faiz.


Aku menggigit bibir bawahku.


"Sayang, jangan digigit." kata Gus Faiz, dia menyentuh daguku. Aku tidak lagi menggigit bibir bawahku.


Seketika udara mobil begitu menyesakkan. Ini kali kedua dia memanggilku sayang, aku benar-benar bahagia.


Sepertinya dia sengaja ingin menggodaku.


"Cukup, Mas. Cukup. Aku merasa seperti sesak nafas." kataku, memelas.


Gus Faiz terkekeh. Lalu mengacak kepalaku gemas.


"Baiklah, saya tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu." kata Gus Faiz.


"Eh, jangan, Mas. Panggil aku seperti itu saja, itu jauh lebih baik dari panggilan An." kataku.


"Baiklah. Saya akan sering-sering memanggilmu sayang." kata Gus Faiz.


Pipiku benar-benar terasa panas.


"Ini pegang saja." kata Gus Faiz.

__ADS_1


Dia memberikan ATM milikku padaku. Aku menatapnya, memikirkan apa yang sedang terjadi. Mengapa ATM-ku dikembalikan? Sepertinya dia gengsi. Seorang laki-laki akan gengsi memakai uang kekasihnya, bukan?


"Apa kamu tidak mau mengetahui apa pekerjaanku?" tanya Gus Faiz.


"Apa aku tidak menyinggung perasaanmu bila ku katakan ingin tahu?" tanyaku.


"Tidak sama sekali." kata Gus Faiz.


Aku menunggunya. Aku sudah siap mendengar apapun yang keluar dari bibir Gus Faiz.


"Saya memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bilang fashion muslim. Selama 4 tahun ini saya membangun bisnis ini, dan Alhamdulillah semakin hari, terus berkembang dengan baik." kata Gus Faiz.


Aku menatap Gus Faiz. Aku benar-benar tidak tahu apapun soal ini. Ternyata selain memiliki otak cemerlang, Gus Faiz pun memiliki penghasilan yang lumayan besar. Aku membiarkan Gus Faiz menyelesaikan ceritanya.


"Sebelum kita menikah, saya sudah membeli sebuah rumah di kawasan Menteng. Saya tidak tahu apakah keputusan ini tepat atau tidak, namun yang jelas bila kita punya rumah dan usaha di Jakarta, kamu bisa sering pulang ke rumah Papa dan Mama." kata Gus Faiz.


Aku menatapnya, menggenggam tangannya. Gus Faiz benar-benar istimewa. Dia sangat memikirkan aku.


"Bagaimana dengan Abah dan Umi?" tanyaku.


"Kita akan mengunjungi pesantren. Jadi tak perlu khawatir." kata Gus Faiz.


"Aku tahu kamu juga sangat merindukan Umi dan Abah. Apa tidak apa-apa kamu kembali jauh dengan Umi dan Abah?" tanyaku.


"Tidak apa-apa. Jangan cemaskan saya." kata Gus Faiz.


Aku mengambil tangan suamiku lalu mencium tangannya. "Terima kasih." kataku.


"Dengan senang hati, An." kata Gus Faiz.


Saat hendak mengucapkan sekata lagi, aku melihat dua orang yang sangat familiar di belakang Gus Faiz.


"Mas?" aku memanggil Gus Faiz.


"Iya?" Gus Faiz menyahut.


"Bukankah itu Aaron dan Farha?" tanyaku sambil menunjuk dua orang yang sedang bertengkar.


Gus Faiz mengikuti arah yang kutunjuk. "Sepertinya kamu benar." kata Gus Faiz.

__ADS_1


"Kita harus menghentikan mereka, Mas." kataku.


Kini pikiranku berkecamuk banyak hal. Aku senang bisa melihat Farha dan Aaron, aku memikirkan apa yang serang terjadi, aku memikirkan hubungan mereka berdua, aku memikirkan apa yang harus aku lakukan atau katakan pada Farha. Dia sangatlah berubah. Kini pakaiannya terlihat modis. Benar-benar berbeda dengan Farha yang aku kenal sebelumnya.


__ADS_2