
Pukul 20.00 WIB. Mas Faiz datang membawa dua porsi makanan. Nasi dengan lauk ayam goreng yang biasanya jadi kesukaanku. Kami berdua makan di kamar. Kali ini dengan berani aku menyuapi suamiku. Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku jadi bisa seberani ini. Mungkin karena aku sudah mulai terbiasa.
“Aaa..” kataku. Menyuruh Mas Faiz membuka mulut.
Mas Faiz terkekeh lalu membuka mulutnya, memakan makanan di sendok yang kusodorkan. “Kamu juga makan yaaa..” kata Mas Faiz. Mas Faiz menyodorkan satu suap makanan padaku.
Aku menggeleng. “Aku hanya mau menyuapimu saja.” kataku.
“Mas tidak mau makan sendirian.” kata Mas Faiz. “Ayolah, kasihan anak kita.” kata Mas Faiz merajuk.
Aku terperangkah. Lalu terkekeh, ternyata Mas Faiz bisa merajuk juga. “Tidak mau.” kataku.
Mas Faiz mengulurkan tangannya lalu mengusap perutku. “Lihat, Sayang. Mamamu tidak mau makan. Papa harus apa?” tanyanya.
Aku tersenyum mendengar kata Papa dan Mama.
“Mama tidak mau makan ayam goreng, Sayang, mama mau makan rendang.” kataku sambil ikut mengusap perut rataku.
Mas Faiz menatapku dengan penuh cinta. Aku buru-buru mencium pipinya gemas. Mas Faiz terlihat sangat terkejut, namun dia buru-buru terkekeh.
“Baiklah, Sayang. Jaga Mama dulu ya, Papa mau beli rendang untuk kalian.” kata Mas Faiz sambil mencium perutku.
“Hati-hati, Papa.” kataku.
Mas Faiz mengusap rambutku. “Sebentar ya.” katanya.
Akupun mengangguk. Lalu Mas Faiz langsung pergi. Aku sedikit kasihan padanya karena Mas Faiz baru makan satu sendok. Aku mengusap perutku. Aku benar-benar berterima kasih kepada Allah SWT karena beliau benar-benar baik kepada kami. Pernikahan kita masih tergolong baru beberapa bulan namun kami sudah di karuniai buah hati dalam perutku. Ini benar-benar anugerah.
Tak lama kemudian, Mas Faiz datang membawakan rendang untukku.
“Nah, sekarang kamu makan ya.” kata Mas Faiz sambil menyuapiku nasi dan rendang dengan sendoknya.
Akupun mengangguk dan membuka mulut. Tak mau kalah, akupun menyuapkan nasi ayam kepada Mas Faiz, Mas Faiz tidak menolak. Dan kamipun terus-terusan saling suap-suapan.
Mas Faiz memberikanku minum. Akupun meminumnya. Aku memberikan minumku kepadanya. Dia tersenyum lalu meminumnya. Aku benar-benar bahagia malam ini.
“Mas, kita tidur di sini ya. Aku tidak mau tau.” kataku.
Mas Faiz sedikit terkejut mendengarku. Aku diam saja tidak menanggapi keterkejutannya. Mas Faiz terseyum, “Baiklah, Tuan Putri. Kita tidur di sini ya malam ini.” kata Mas Faiz.
Akupun tersenyum.
“Mas bawa ini dulu ya.” kata Mas Faiz.
“Jangan lama-lama.” kataku.
“Iya, Sayang.” kata Mas Faiz sambil mengedipkan sebelah matanya.
Seketika jantungku kembali berdegup dengan kencang. Pipiku langsung panas. Mas Faiz terkekeh. Lalu pergi membawa peralatan makan ke dapur.
Sambil menunggu Mas Faiz aku membuka platform menulis yang dulu sering aku gunakan untuk menulis. Aku membaca komentar-komentar yang masuk di bagian terakhir aku menulis. Ada puluhan ribu komentar di sana yang rata-rata menyemangatiku untuk kembali melanjutkan menulis. Aku tersenyum.
“Kamu sedang melihat apa?” tanya Mas Faiz.
“Membaca komentar di ceritaku dulu hehehe.” kataku.
“Kamu jadi melanjutkan?” tanya Mas Faiz.
__ADS_1
“Aku bingung, Mas.” Kataku.
“Bingung kenapa?” tanya Mas Faiz.
“Aku sudah lama tidak menulis. Apakah bila aku kembali menulis akan ada yang mau mengontrak ceritaku?” tanyaku.
“Apakah itu alasanmu menulis?” tanya Mas Faiz.
Aku menggeleng. “Bukan. Aku menulis hanya karena ingin menyalurkan hobiku, ingin menghibur pembaca-pembacaku, dan ingin memberikan sedikit ilmu yang aku punya secara implisit.” kataku.
Mas Faiz tersenyum. “Menulislah.”
“Apa tidak apa-apa bila aku setiap hari menulis namun tidak menghasilkan, Mas?” tanyaku.
“Sayang, Mas memiliki pekerjaan yang cukup untuk mencukupi kehidupan kita. Menulis saja, tanpa memikirkan ini dan itu. Mas justru sedih kalau kamu berhenti hanya karena memikirkan itu.” kata Mas Faiz.
Aku mengangguk. Lalu memeluknya. “T-..” baru saja aku ingin mengucapkan terima kasih namun aku ingat kalau Mas Faiz melarangku untuk mengucapkannya. “Aku beruntung memiliki suami sepertimu, Mas.” kataku.
“Aku lebih beruntung memilikimu, An.” kata Mas Faiz.
Kami berdua bersender pada senderan ranjang.
“Mas, apa selama kamu di luar negeri kamu tidak memfoto apapun?” tanyaku pada Mas Faiz.
“Tidak.” jawab Mas Faiz.
“Mengapa?” tanyaku.
“Aku ingin menceritakan semuanya langsung.” kata Mas Faiz.
“Mengapa sampai sekarang Mas tidak menceritakannya?” tanyaku.
“Apa?” tanyaku penasaran tingkat tinggi.
“Rindu.” katanya.
“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
“Setelah bertemu denganmu, aku hanya ingin menceritakan bagaimana aku merindukanmu. Kamu tahu Puisi Kangen karya WS Rendra?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Ya, seperti itulah aku merindukanmu, akulah tungku tanpa api,” kata Mas Faiz.
Pipiku seketika memerah. “Masss..” rengekku.
Gombalan Mas Faiz maut sekali. Hingga rasanya aku benar-benar malu dan salah tingkah melihatnya. Mas Faiz terkekeh. “Aku mengatakan hal yang sebenarnya.” katanya.
“Aku bisa-bisa diabetes kamu gombalin terus, Mas.” kataku.
Mas Faiz terkekeh. Aku mendekatkan diri padanya lalu memeluknya. “Aku sayang Mas.” kataku.
“Mas lebih sayang sama kamu.” kata Mas Faiz sambil mencium dahiku.
“Aku lebih sayang Mas.” kataku, ngotot.
“Mas lebih sayang kamu.” kata Mas Faiz.
__ADS_1
“Ih, aku lebih sayang Mas..” kataku, tak mau kalah.
“Iya, iyaa.. kamu lebih sayang Mas.” kata Mas Faiz.
“Tapi tadi Mas bilang lebih sayang Mas.” kataku sedih.
“Iya, Mas memang lebih sayang kamu.” kata Mas Faiz polos.
“Tuh kan.. Yasudah aku mau tidur saja.” kataku sambil menarik selimut membelakangi Mas Faiz.
“Kamu marah ya, sama Mas?” tanya Mas Faiz dari balik punggungku.
“Tidak.” kataku.
“Mas minta maaf ya?” tanya Mas Faiz.
“Iya.” kataku masih membelakanginya.
“Maafin Mas ya. Iya kamu lebih sayang sama Mas.” katanya.
Aku tersenyum, lalu kembali menyembunyikan senyumku, aku pun pura-pura mejamkan mata.
“An.. ayolah Mas minta maaf.” kata Mas Faiz. Yang mengusap lengan kananku karena aku balik badan ke arah kiri.
Aku diam saja, tiba-tiba aku merasakan tiupan-tiupan kecil di leherku yang membuatku geli. Sontak akupun membuka mata dan tertawa. “Masss, ampuuun!” kataku.
Mas Faiz tidak menghentikan aktivitasnya meniup leherku.
“Hahahahaha Mas geli. Ampun, ampun hahahaha.” kataku kegelian.
“Siapa suruh marah sama Mas.” kata Mas Faiz.
Aku membalik badan. “Aku hanya bercanda.” kataku. “Aku tidak marah pada Mas.” kataku.
“Jangan marah lagi ya. Mas minta maaf.” kata Mas Faiz menatapku dalam.
Aku mengangguk. Aku memeluknya sayang.
...***...
...Puisi Kangen WS Rendra...
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
__ADS_1
Itulah berarti
aku tungku tanpa api.