Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 47 - Keajaiban Sebuah Ketulusan


__ADS_3

Mata Farha menerawang. Tidak menatapku tidak juga menatap Linda. Aku jadi gelisah dan takut. Namun, aku bukanlah orang yang gampang berputus asa, jadi aku memilih mencari jalan lain tiap kali menemui jalan buntu. Intinya aku tidak akan berhenti membantu Farha meraih kebahagiaannya.


“Apa kamu tidak lelah, Far?” tanyaku pada Farha.


“Kemarin-kemarin saat kamu berada di rumahku, bukankah kamu menginginkan orang tuamu bahagia di sana?” tanyaku.


Farha menunduk dalam diam.


“Ketika kamu taat pada suamimu, bukankah itu juga bisa membuat orangtuamu bahagia?” tanyaku.


Aku terdiam sebentar.


“Apa kamu tidak lelah, Farha. Terus melampiaskan ketidaksiapanmu menghadapi cobaan ini kepada semua orang? Kamu tidak kasihan pada Linda? Yang terus tersiksa ingin melihatmu bahagia. Apa kamu juga tidak kasihan pada orang tua Linda? Beliau-beliau ini tidak salah, Farha. Mereka hanya ingin anaknya bisa menebus kesalahannya padamu.” kataku.


Aku kembali diam. Farha hanya diam. Sepertinya aku harus sedikit memancingnya. Aku lebih baik mendengar makiannya ketimbang melihatnya terdiam seperti ini.


“Kau egois sekali, kau bahkan tidak memikirkan perasaan Aaron. Suamimu!” seruku.


“Aku tidak egois.” kata Farha. “Dialah yang egois.” lanjutnya.


Aku bersyukur dalam hati, setidaknya Farha mau berbicara meski isi kata-katanya membantah argumenku.


“Dia hanyalah suami yang kebingungan menghadapi istrinya yang egois.” kataku.


“Egoisan mana dengan dia yang merenggut paksa..” Farha kini menangis. Air matanya menderas. “Sekarang aku bahkan jijik kepada diriku sendiri.” lanjutnya.


Farha kini terisak, dia menutup wajahnya dengan menggunakan tangan.


Aku dan Linda memeluk Farha.


“Maafkan kakakku, Farha. Tolong maafkan kakakku.” kata Linda.


Di luar dugaan Farha merespon pelukan kami. Aku sangat senang.


“Maafkan Bang Aaron, Farha. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi agar kamu bisa memaafkan Bang Aaron.” kata Linda.


Kami berpelukan sambil menangis. Tak lama kemudian aku melepaskan pelukan, lalu Lindapun melakukan hal yang sama.


“Aaron memang kasar, Far. Tapi terlepas dari sikap kasar dan tindakan tidak pikir panjangnya, dia adalah orang yang baik.” kataku.


Farha hanya menangis.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Aaron masuk ke dalam ruangan. Farha masih tidak mau menatap Aaron. Kini Aaron berlutut di hadapan Farha. Baru kali ini aku melihat Aaron terlihat sangat menyesal dan sedih.


“Maafkan aku, Farha. Tolong maafkan aku untuk segalanya. Sungguh demi Allah, kecelakaan itu aku benar-benar tidak sengaja karena mobilku disabotase hingga rem tidak berfungsi saat tak sengaja ayahmu melintas di depan mobilku.” kata Aaron.


Air mata Aaron mulai menetes. Aaron yang memang pada dasarnya tidak suka terlihat lemah, langsung menghapus air mata itu dengan kasar.


“Dan untuk malam itu. Aku juga minta maaf. Tolong maafkan aku juga untuk itu. Malam itu aku benar-benar menyangka jika kita telah berhubungan badan, kamu akan mulai mencintaiku dan kita bisa memulai awal yang baru. Awalnya aku tidak benar-benar ingin melakukannya namun aku khilaf. Maafkan aku sungguh maafkan aku.” kata Aaron.


Mas Faiz berdiri di belakang Aaron. Dia diam saja. Membiarkan Aaron terus meminta maaf pada Istrinya. Karena Mas Faiz tahu, kunci permasalahan mereka sebetulnya ada pada mereka sendiri.


“Aku janji Farha, aku tidak akan kasar padamu, aku tidak akan membentak-bentakmu. Aku akan mencoba mencintaimu dengan sepenuh hati aku. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak akan mengingkari janjiku. Tolonglah, Farha, kembalilah padaku, kita mulai dari awal. Kita memang belum saling cinta namun aku yakin cinta akan datang karena biasa.” kata Aaron.


Aku mulai menatap Aaron dengan iba karena Farha belum beranjak atau mengatakan satu katapun.


“Beri aku kesempatan untuk menebus semuanya, Farha. Apapun yang terjadi aku akan selalu mencoba membahagiakanmu. Jika aku melakukan kesalahan lagi aku bersedia bila kau ingin pergi dariku. Jadi, aku mohon berikan aku satu kesempatan lagi.” kata Aaron.


Tak disangka. Farha bangun dan menghampiri Aaron. Aaron memejamkan mata. Sepertinya dia mengira kalau Farha akan menolaknya lagi.


“Aku sudah lelah.” kata Farha.


Aaron mendongak. Kini mereka berlutut berdua. Aku berjalan ke arah suamiku. Suamiku langsung merangkul bahuku. Aku sedih sekali mendengar kata-kata Farha. Aku seperti kehilangan harapan. Aku muali merasa iba pada Aaron.


“Bila kamu lelah, baiklah, aku akan melepaskanmu.” kata Aaron.


Aaron menunduk.


“Aku sudah lelah untuk membenci dan menyalahkanmu, Mas.” kata Farha.


Satu panggilan Mas membuat Aaron buru-buru mendongak dan kembali menatap Farha. Seakan bertanya maksud dari kata-kata Farha.


Farha tersenyum.


“Maksudmu?” tanya Aaron.


“Aku akan memberimu kesempatan, asal kamu mau berubah seperti yang kamu katakan tadi, Mas.” kata Farha.


Aaron buru-buru memeluk Farha. Satu butir air mataku turun, begitu pula dengan Linda. Aku menatap suamiku, lalu memeluknya. Ternyata meski berkali-kali dipengaruhi Kak Ulfa, Farha tetaplah Farha. Seberapa besarpun masalah diantara kami, kami bisa kembali lagi. Sepertinya inilah yang dikatakan sahabat sejati.


“Terima kasih, Farha. Aku janji. Aku janji akan berubah menjadi lebih baik. Terima kasih, terima kasih.” kata Aaron.


Kulihat Aaron mengeratkan pelukan. Farha mengangguk, senyumnya merekah di bibirnya. Aku menatap Linda. Mata Linda berkaca-kaca sambil tersenyum dan mengangguk ke arahku.

__ADS_1


“Alhamdulillah..” kami semua mengucap syukur.


Aaron dan Farha berdiri. Aaron membetulkan jilbab Farha yang berantakan.


“Istriku cantik sekali.” kata Aaron.


Pipi Farha tersenyum malu.


“Matamu, bagus sekali. Bening seperti bidadari.” kata Aaron.


Aku refleks memutar bola mata dan menoleh kepada Mas Faiz. Gombalan mereka berdua sama. Apa tidak ada kata lain selain bidadari?


“Ck, semua laki-laki sepertinya suka menggombal. Ayo, Farha, Linda, tinggalkan mereka.” kataku.


Farha, Linda dan akupun mulai beranjak meninggalkan Mas Faiz dan Mas Aaron.


“Eh, ada apa?” tanya Aaron bingung.


“Kamu sih! Kenapa gombalanmu harus sama seperti saya? Ah, istriku jadi marah.” seru Mas Faiz.


“Ya, mana aku tahu kalau kamu juga bisa menggombal seperti itu?” tanya Aaron.


“Kamu bisa menggunakan kata-kata yang lain..” seru Mas Faiz.


Aku, Farha, dan Lindapun tertawa mendengar pertengkaran antara Aaron dan Mas Faiz. Kini aku lega, melihat Farha yang kembali seperti Farha yang aku kenal. Kami menuju taman taman belakang. Tempat pertemuan dengan Kak Ulfa terakhir kali di rumah Aaron.


“Aku mohon jangan terpengaruh kakakku ya, Farha.” kataku. “Kakakku sedang dilanda kebencian padaku. Aku harap kamu tidak terpengaruh terhadap semua kata-katanya.” lanjutku.


“Kini aku sadar, Mbak. Maafkan aku ya, karena telah menampar pipi, Mbak, dan menuduh Mbak yang tidak-tidak.” kata Farha.


“Iya, Far, aku mengerti. Aku telah memaafkanmu dari jauh-jauh hari. Aku sebetulnya tidak enak mengatakan hal buruk mengenai Kakakku. Namun, kamu bisa tahu sendiri kan bagaimana perangai kakakku saat aku berkunjung ke rumah Mama?” tanyaku.


“Iya, Mbak. Terima kasih atas segalanya ya, Mbak.” kata Farha kepadaku.


“Sama-sama, Farha.” kataku.


“Maafkan aku juga ya, Mb- maksudku Linda. Aku sangat merasa bersalah padamu.” kata Farha.


“Aku mengerti kok, Mbak, lagi pula yang paling penting sekarang kita bisa bersama lagi.” kata Linda.


“Sayang ya, kita kurang Arum.” kataku.

__ADS_1


“Iya, Mbak.” kata Linda dan Farha menyetujui.


Kini aku benar-benar senang. Kesalahpahaman diantara Farha telah diluruskan. Masalah Farha selesai. Semoga Farha dan Aaron akan menjadi keluarga yang harmonis.


__ADS_2