
Keesokkan harinya, akupun pulang. Kali ini Mama kembali menyuruhku untuk tinggal di rumah beliau. Padahal aku sudah mengatakan kalau di rumahku ada Bi Darsih dan Arum, namun Mama tetep kekeh meminta kami pulang ke rumah beliau. Aku dan Mas Faizpun menurut. Lagi pula aku belum bisa mengurus bayi karena ini kali pertama aku memiliki anak.
Sesampainya di rumah, aku melihat ada Umi dan Abah ada di rumah, ternyata Umi dan Abah baru saja sampai. Aku dan Mas Faiz mencium tangan Umi dan Abah secara bergantian.
"Apa kabar, Umi, Abah?" tanyaku
"Alhamdulillah, kami baik, Nak." jawab Umi sambil tersenyum padaku.
"Iya Alhamdulillah kami baik." jawab Abah juga sambil tersenyum.
“Umi dan Abah sampai jam berapa?” tanyaku.
“Kami baru sampai tiga puluh menit lalu, Nak.” kata Umi.
“Iya, Nak. Kami baru datang.” kata Abah.
“Boleh saya gendong, Rin?” tanya Umi pada Mama yang sedang menggendong Haidar.
“Boleh, Mbak.” kata Mama sambil tersenyum.
Mama memberikan Haidar pada Umi.
Umi dan Abah sangat bahagia melihat Haidar, cucu pertama mereka. Aku tersenyum, melihat bagaimana Umi menggendong dengan sayang Haidar dipelukan.
“MasyaAllah, cucu kita. Lucu sekali ya, Bah?” tanya Umi pada Abah.
“Iya, Mi. cucu kita lucu sekali.” kata Abah. Kata Abah menyentuh pipi Haidar.
“Kamu istirahat saja, Nak.” kata Mama.
“Iya, Nak. Kamu istirahat ya.” kata Umi.
Aku mengangguk. Akupun pergi ke kamar untuk beristirahat. Mas Faiz mengantarkanku.
***
Semenjak kehadiran Haidar di rumah, rumah Mama diliputi kebahagiaan. Ada keceriaan tersendiri semenjak anakku datang. aku benar-benar bersyukur akan hal itu.
Namun, dalam kebahagiaan itu, aku sedikiy sedih pada Kak Ulfa yang masih tidak mau bicara padaku. Padahal dia menjengukku ke rumah sakit, namun kami tidak pernah mengobrol. Kak Ulfa sepertinya masih marah padaku masalah Dimas.
Kak Ulfa sangatlah ceria jika berbicara dengan Mama ataupun Umi, namun sikapnya jauh berbeda jika denganku.
“Kak Ulfa..” panggilku.
“Kenapa?” tanya Kak Ulfa.
“Maafkan aku ya, Kak. Untuk masalah Dimas.” kataku.
“Iya. Tidak apa-apa.” kata Kak Ulfa.
“Jujur, awalnya aku ingin mendekatkan kamu dengan Rizki.” kataku.
“Apa? Kamu mau mendekatkan aku dengan karyawan Gus Faiz? Kamu benar-benar ingin membuat aku hidup menderita?” tanya Kak Ulfa.
“Dia anak yang baik, Kak.” kataku.
“Kalau dia baik, tentu dia bisa mencari pasangannya sendiri. Kalau minta dicarikan itu namanya tidak laku. Lagi pula gaji seorang karyawan biasa tidak akan bisa membuat kita bahagia. Kita hanya akan dituntut untuk hidup susah.” kata Kak Ulfa.
__ADS_1
“Barometer kebahagiaan sejati bukanlah harta, Kak. Lagi pula Rizki tidak meminta dicarikan, hanya aku yang tadinya ingin mendekatakannya dengan Kakak. Namun, sekarang dia sudah punya pilihan hidupnya sendiri.” kataku.
“Siapa?” tanya Kak Ulfa.
“Arum.” kataku.
“Anak pembantumu itu?” tanya Kak Ulfa. Sambil terkekeh.
“Kak! Mengapa kamu menyebutnya seperti itu?” seruku tidak terima.
“Kenyataannya memang seperti itu. Nah, kalau mereka cocok.” kata Kak Ulfa.
“Mereka memang serasi, Kak. Aku yakin mereka akan bisa bahagia bersama.” kataku.
“Kau terlalu percaya diri sekali. Akulah yang akan lebih bahagia. Aku memiliki calon suami pengusaha kaya raya.” kata Kak Ulfa.
“Semoga kamu lekas sadar, Kak. Kalau uang bukanlah segalanya.” kataku.
“Aku akan membuatmu sadar kalau uang selalu bisa memberikan kebahagiaan.” kata Kak Ulfa.
“Aku ke kamar dulu, Kak.” kataku.
Kak Ulfa diam saja. Akupun berjalan menuju kamarku. Aku benar-benar tidak mengerti pada Kak Ulfa. Mungkin definisi kebahagiaan setiap manusia pasti berbeda namun aku benr-benar tidak menyangka Kak Ulfa memiliki definisi kebahagiaan hanya dengan tolok ukur uang.
Tok tok tok!
Suara kamarku diketuk tiga kali. Lalu menyembullah wajah umi dari balik pintu kamarku. Melihat Umi aku jadi lebih senang.
“Boleh Umi masuk, Nak?” tanya Umi kepadaku.
“Tentu saja boleh, Umi.” kataku sambil tersenyum.
“Boleh Umi mengatakan sesuatu kepadamu, Nak?” tanya Umi.
“Boleh, Umi. Ada apa?” tanyaku pada Umi.
Umi menggenggam tanganku lembut. Beliau seperti menimbang-nimbang apakah beliau harus mengatakannya atau tidak.
“Apa hubunganmu dengan kakakmu kurang baik?” tanya Umi.
Aku melihat Umi dengan sedih. “Apa begitu terlihat, Umi?” tanyaku.
Umi mengangguk. “Boleh Umi tanya alasannya?” tanya Umi.
Akupun menimbang apakah aku boleh mengatakan ini kepada Umi atau tidak. Karena bagaimanapun Kak Ulfa adalah Kakakku. Rasanya seperti menjelekkan kakakku sendiri. Namun, aku tidak enak bila menolak permintaan Umi.
“Banyak hal, Umi.” kataku menunduk.
“Apa karena anak Umi?” tanya Umi.
Aku mendongak. Bagaimana Umi bisa menebak kalau Kak Ulfa berubah sikapnya karena Mas Faiz. Aku menatap Umi, mencoba mencari jawaban di sana.
“Mengapa Umi bisa berpikir demikian?” tanyaku pada Umi.
“Ntah mengapa, walaupun Umi hanya beberapa kali melihat kakakmu, Umi bisa melihat bagaimana perubahannya. Apa benar karena Faiz?” tanya Umi.
“Tidak, Umi.” kataku. Aku mengusap leherku gugup.
__ADS_1
“Ternyata benar.” Kata Umi.
“Untuk sekarang Kak Ulfa tidak lagi menyukai Mas Faiz, Umi. Dia sudah membuka hati dan sedang berencana menikah. Untuk pertengkaran kami kali ini akulah yang salah.” kataku.
“Kamu yang salah?” tanya Umi.
“Iya, Umi. Aku menyesal membuat Kak Ulfa marah.” kataku.
Umi mendekat dan mengusap tanganku. “Umi percaya kamu anak baik, Nak. Mintalah maaf baik-baik.” kata Umi.
“Baik, Umi. Terima kasih.” kataku. Walaupun aku sudah meminta maaf namun aku tetap harus berterima kasih pada Umi atas saran yang diberikan beliau.
“Ujian dalam pernikahan itu sangatlah banyak, Nak. Umi doakan semoga kamu selalu bisa melewati cobaan-cobaan yang datang ya, Nak. Ingat, jangan pernah lupakan Allah SWT.” kata Umi.
“Amin ya Allah, terima kasih, Umi.” kataku. Aku memeluk Umi.
“Sama-sama, Sayang. Umi titip Faiz ya?” kata Umi.
Aku mengangguk. “Umi, terima kasih.” kataku.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Umi.
“Karena telah melahirkan putra sebaik Mas Faiz.” kataku. Sepertinya aku pernah mengatakan hal ini namun ntah kapan, dan aku rasanya selalu ingin mengatakannya.
Umi terkekeh dan mengangguk, “Umi sepertinya juga harus berterima kasih kepada Rina karena telah melahirkan putri sebaik kamu.” kata Umi.
“Aku tidak sebaik itu, Umi.” kataku.
“Di mata Umi kamu lebih dari baik, Nak. Bahkan sejak saat pertama kali kita bertemu, saat kamu masih kecil.” kata Umi.
Tiba-tiba suamiku datang.
“Umi..” kata Mas Faiz.
Mas Faiz duduk di samping Umi. Kini kami bertiga duduk di sambaing tempat tidur.
“Anak Umi sudah besar, sudah menjadi seorang ayah.” ata Umi. Sebutir air mata Umi turun.
“Umi, jangan menangis.” kata Mas Faiz. Mas Faiz mengusap air mata Umi.
“Ini air mata kebahagiaan, Nak.” kata Umi sambil terkekeh meski air matanya terus menderas.
Aku menyeka air mataku yang tiba-tiba turun. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan Umi yang sangat merindukan Mas Faiz.
Sejak datang, Mas Faiz memang belum banyak mengobrol dengan Umi. Karena Mas Faiz masih harus mengurus ini dan itu. Masa Faiz tidak mau aku membantunya karena tidak mau membuat aku lelah. Dia benar-benar memperhatikan kondisiku.
“Kalian sudah memiliki anak, jadi Umi harap kalian lebih dewasa lagi. Memiliki seorang anak, berarti kalian sudah dipercaya untuk menjaganya. Kalian harus menjaganya dengan sepenuh hati.” kata Umi.
Aku dan Mas Faiz mengangguk setuju.
“Untuk kamu, Nak. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Ajarilah dia hal-hal baik, ajari dia mengenal Allah sejak kecil, dan ajari dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Berikan anakmu kasih sayang, perhatikan dia, bantu dia beradaptasi.” kata Umi kepadaku.
“Baik, Umi.” kataku.
“Untukmu, Nak, kamu sudah menjadi seorang ayah, tentu bebanmu kini bertambah dan kamu harus lebih giat bekerja, namun nantinya jangan sampai kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, berikan waktu untuk bersama dengan keluarga. Jangan sekali-kali kamu melupakan keluarga. Jangan limpahkan semua tugas kepada istrimu, bantulah istrimu di rumah, bantu juga rawat anakmu, jangan pernah lepas tangan.” kata Umi.
“Baik, Umi. InsyaAllah Faiz akan mengingat apa yang Umi sampaikan.” kata Mas Faiz.
__ADS_1
“Umi sangat menyayangi kalian. Maafkan Umi karena hanya bisa mengunjungi kalian sesekali.” kata Umi sambil menangis.
“Tidak apa-apa, Umi.” kataku sambil mengusap punggung Umi dengan sayang.