
Selepas menemani Mia pergi. Kak Ulfa memberikanku jilbab langsung pakai. Aku tahu mungkin alasan Kak Ulfa memberiku jilbab karena masih ada Gus Faiz dan keluarganya di sini. Dengan ragu-ragu aku menerima jilbab itu lalu mengenakannya. Untung saja baju tidur yang kukenakan berlengan panjang dan bercelana panjang.
Tak lama kemudian Umi masuk ke kamarku. Umi masuk bersama Mama. Aku tersenyum pada Umi. Selama ada Umi di dekatku aku benar-benar seperti memiliki dua Mama.
"Umi, menginap kan di sini?" tanyaku pada Umi.
Umi mengangguk. Aku sangat senang mendapati fakta kalau Umi dan keluarga mau menginap di rumahku. Tiba-tiba aku teringat Gus Faiz. Ruang tamu kami hanya ada 1, pasti itu untuk Abah dan Umi. Jadi, di mana Gus Faiz nanti akan tidur?
"Sayang, kalau Kak Ulfa tidur di sini sama kamu nggakpapa ya? Biar Gus Faiz tidur di kamar Kak Ulfa." kata Mama.
"Eh, Gus Faiz tidur di kamar Nindy aja, Ma." kataku. Ntah mengapa aku tidak rela kalau Gus Faiz harus tidur di kamar Kak Ulfa.
"Gak boleh lah, Sayang. Kalian kan sudah dewasa." kata Mama.
Aku cepat-cepat memutar otak. Sepertinya Mama mengira aku menyuruh Gus Faiz untuk tidur bersama denganku di kamar ini. Aku menggeleng.
"Bukan, Ma. Maksud Nindy, biar Nindy aja yang pindah ke kamar Kak Ulfa. Gus Faiz aja yang di kamar Nindy." kataku.
Umi dan Mama tertawa. Pipiku terasa panas. Mamapun menyetujui permintaanku. Dengan di bantu Papa akupun pindah ke kamar Kak Ulfa. Umi mengikuti kami. Sepertinya ada yang ingin Umi sampaikan kepadaku.
"Ada apa, Umi?" tanyaku.
"Faiz besok berangkat, Nak." kata Umi.
"Berangkat ke mana, Umi?" tanyaku.
"Dia dapat beasiswa ke Kairo. Dia mau kuliah di sana." kata Umi.
Rasanya mataku memanas. Dalam hati aku tak rela dia pergi jauh namun ini adalah demi masa depannya. Aku dan Gus Faiz berbeda 3 tahun. Dia seumuran Ilham dan Aron. Jadi, kalau sekarang aku baru kelas 1 SMA, dia baru saja lulus.
"K-kairo, Mesir, Umi?" tanyaku.
Beliau mengangguk. "Sepertinya dia akan di sana 4-5tahun." kata Umi. Wajahnya sangat sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Aku memeluk Umi, aku benar-benar mengerti perasaan Umi. Mataku pun memanas. Beliau pasti masih rindu pada Gus Faiz. Berdasarkan cerita Aaron, Gus Faiz memang sekolah di Jakarta. Satu sekolah dengan Ilham. Tak ada yang bisa kulakukan selain memberi kekuatan pada Umi dan menyabarkan Umi agar beliau bisa menerima keputusan Gus Faiz demi masa depan Gus Faiz.
"Kapan berangkatnya, Umi?" tanyaku pada Umi.
"Besok jam 6 pagi kita berangkat antarkan Gus Faiz ke bandara, Nak." kali ini Mama yang menjawab.
Setelah ada Mama yang tadi sempat menghilang, Umi kembali berbincang dengan Mama. Mama dan Umi memang terlihat seperti benar-benar sahabat. Ketika Umi menangis Mama selalu menghibur Umi. Aku berani bertaruh kalau Mama sedang sedih, Umipun akan melakukan hal serupa.
Aku merasakan mataku panas kembali memikirkan Gus Faiz yang akan pergi. Tapi untuk apa aku menangis? Gus Faiz dapat beasiswa di universitas terbaik di sana itu bagus. Dia bisa lebih mendalami ilmu agama dan berkembang di sana. Bakat yang dimilikinya akan tersalurkan. Dan cita-cita yang selalu diimpikannya akan mudah terwujud.
Tak lama kemudian di kamar Kak Ulfa hanya tersisa aku dan Kak Ulfa.
"Ini pertama kalinya ya, Kak?" tanyaku pada Kak Ulfa.
"Iya. Kakak seneng bisa tidur sama kamu." kata Kak Ulfa.
Aku memeluk Kak Ulfa dari samping.
Ntah mengapa aku teringat Aaron. Bagaimana nasib Aaron sekarang? Sejak kecelakaan itu aku tak berani mengucapkan namanya. Aku ingin tanya pada Gus Faiz. Namun kami tidak mungkin berbicara berdua.
"Sebentar ya. Kakak tinggal dulu." kata Kak Ulfa.
Aku mengangguk. Aku memilih menatap jendela. Melihat rembulan di atas sana aku kembali teringat Gus Faiz.
"Nih." Kak Ulfa memberikanku dua surat. Aku memandanginya.
Hanya ada satu orang di rumahku yang masih memungkinkan mengirimkanku surat. Gus Faiz. Aku buru-buru mengambilnya.
"Dari Gus Faiz. Cieee, dapet surat cinta." kata Kak Ulfa.
"Ihhh, Kak Ulfa. Enggak ini bukan surat cinta." kataku. Pipiku terasa panas karena malu digoda Kak Ulfa. “Sana tidur, Kak!” kataku, sambil melemparkan selimut tebal ke arah Kak Ulfa. Dia hanya berkikik geli melihat tingkahku.
“Cieee, pipinya sampai merah begitu.” seru Kak Ulfa.
__ADS_1
“Kakak, Gus Faiz ada di kamar samping jadi jangan berisik.” kataku.
“Biarin aja, biar dia denger.” kata Kak Ulfa.
“Kakak tidur duluan ya, kamu jangan malem-malem tidurnya.” kata Kak Ulfa.
“Iya-iya, bawel.” kataku.
Kak Ulfa sepertinya sengaja tidur cepat karena dia ingin membiarkanku membaca surat yang di berikan Gus Faiz. Akupun membuka surat pertama.
Untuk Nindy,
Assalamu’alaikum wr. wb.
Nin, ini gue Aaron. Sebelumnya gue mau minta maaf karena surat gue pasti belepotan dan rada bikin lo sakit mata karena jujur ini kali pertamanya gue bikin surat panjang-panjang kayak gini. Gimana kabar lo? Jujur gue kepikiran banget sama lo sejak kecelakaan kemaren-kemaren. Semoga cepet pulih ya.
Nin, ada banyak hal yang pengen gue sampaikan ke elo secara langsung, tapi itu nggak mungkin karena gue masih di pesantren dan jarak pesantren ke Jakarta itu jauh, ditambah lagi gue dapet takzir-an pondok jadi gue memutuskan nulis surat ini dan gue titipin ke Gus Faiz.
Pertama, gue mau minta maaf lagi ke elo tapi kali ini bukan masalah surat. Tapi ini masalah acara kabur kita yang berantakan. Hehe. Alasan gue ngajak lo kabur udah gue ceritain dari awalkan tentang gue yang cemburu liat abang gue yang kasih kepercayaan dia ke Gus Faiz buat jagain lo sampai kapanpun? Selain itu, gue juga udah ceritain kalo gue udah suka sama lo sejak pertama kali lo maen ke rumah gue bareng Bang Ilham, jadi gue cuma mau bebasin lo dari masalah-masalah lo lewat jalan kabur. Jangan marah sama gue ya. Demi apapun karena apapun, gue tulus sayang sama lo walaupun lo sayangnya sama Gus Faiz.
Nah, kedua, gue mau minta maaf soal kejadian di halte. Sebenernya yang manggil Gus Faiz itu gue, gue bilang kalo gue bakal bawa lo malem itu ke tempat yang paling pengen lo kunjungi, tapi gue gak nyebutin nama tempatnya, asli, gue gak bohong.
Tiap liat lo yang bengong-bengong sampai nangis mukul-mukul kepala lo, gue sadar lo akan hancur kalau misalnya jauh dari dia. Lo bakal kembali ke kehidupan baru lo yang gue bisa pastiin akan lebih rusak dari sebelumnya. Tapi gue nggak nyangka kalau bokap lo juga dateng dan nampar lo begitu aja. Maafin gue yang nggak bisa belain elo waktu itu karena kalau gue ikut campur masalah lo bakal lebih panjang. Gue pengen lo ngeutarain apa yang lo rasain kayak kemaren. Maafin gue karena nggak bisa nemenin lo ke rumah sakit apa lagi Jakarta karena gue keburu di seret sama Abdi Dalem Abah buat balik ke pondok dan jalanin hukuman gue.
Yang ketiga, gue mau sampein sesuatu ke elo. Masalah gelang yang lo pake. Kalau gue nungguin Gus Faiz yang kayak balok es itu nggak akan sampai cerita ini ke elo. Gue yakin itu. Gue liat lo sayang banget sama gelang lo yang satu itu. Itu bagus. Gelang itu sebenernya gelang dari Gus Faiz. Dulu Gus Faiz selalu nolak saat Bang Ilham mau nunjukkin foto lo ke dia. Waktu Bang Ilham paksa dia lagi buat ngasih liat foto lo, dia cuman ngasih gelang itu sambil bilang “Kalau Allah SWT memang mengizinkan saya buat jaga dia seumur hidup saya, dia pasti akan kembali ke saya. Lewat perantara gelang ini juga saya akan tahu siapa cewek yang kamu maksud. Dan saya janji akan penuhin semua permintaan kamu itu.”. Kalimat dia ini yang bikin gue benci sama dia, Nin. Dia gak keliatan interest ketika Bang Ilham nyuruh dia buat jagain lo.
Dan yang terakhir tolong bilang sama kakak lo Ulfa, makasih karena sukses bikin sepupu gue senyum-senyum sendiri setiap malem.
Kayaknya cuman itu yang mau gue sampaikan. Gue mohon balik ke pondok, tolong maafin kesalahan Linda, Adik gue. Gue nggak tega liat dia nangis karena perasaan bersalahnya karena belom bisa minta maaf langsung ke elo meski gue udah bilang kalo gue udah wakilin dia buat minta maaf ke elo.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Dari,
__ADS_1
Yang tak berhasil membawa lo kabur
Aaron.