Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 68 - Kebenaran yang Menyesakkan


__ADS_3

Aku menoleh. Benar-benar tidak mengerti mengapa Kak Dimas menyuruhku menikah dengannya di saat kami berdua sudah memiliki keluarga. Benar-benar pria yang tidak masuk akal.


“Demi Allah, kita sudah memiliki keluarga masing-masing!” seruku.


“Lupakan saja mereka. Dan hidup bahagia dengan aku.” kata Kak Dimas.


“Aku tidak mau!” kataku.


“Kau harus mau. Aku seorang Dimas Anggara tidak akan pernah mau mendenagr penolakkan.” kata Kak Dimas.


“Iblis!” seruku.


“Tak guna menjadi malaikat untuk saat ini.” kata Kak Dimas.


“Untuk apa kamu meminta menikah denganmu?” kataku.


“Tentu saja aku menyukaimu sejak pertama kali di restoran itu, saat aku membantu kakakmu untuk mengacaukan bulan madumu.” kata Kak Dimas.


“Apa yang kakakku janjikan padamu hingga kau bisa begitu jahat?” tanyaku.


“Kau.” kata Kak Dimas sambil tersenyum. “Aku dulu menyukai Ning Aisha. Namun, suamimu membuat dia tergila-gila padanya. Lalu, aku bertemu Ulfa dia terus bercerita tentang adik yang tidak dia sukai, dia menyodorkan fotomu 4 tahun lalu, dan aku pun jatuh cinta padamu. Lebih dari rasa suka yang kurasakan pada Ning Aisha. Aku menunggumu lulus, namun sayangnya Faiz sialan itu kembali merebut seseorang yang aku cintai.” kata Kak Dimas.


“Lalu untuk apa kamu menikahi kakakku?” tanyaku.


“Dia bersedia membantuku. Dia berjanji akan membuatmu menjadi milikku. Bukankah lebih mudah seorang Kakak Ipar membawa adik iparnya pergi?” tanya Kak Dimas.


“Kau benar-benar gila! Lalu mengapa saat malam, aku mendengar kalau kau tidak mau menyentuh Kak Ulfa?” tanyaku.


Aku sebetulnya merutuki pertanyanku. Karena aku justru menanyakan hal yang tidak penting. Namun bagaimanapun aku merasa sangat penasaran. Aku tidak pernah bisa membendung rasa penasaranku.


“Itu hanya trik saja agar kau bersimpati padanya.” kata Kak Dimas.


“Licik.” kataku. Tak tahan lagi.


“Menikahlah denganku, lalu akhiri dendam kakakmu.” kata Kak Dimas.


“Kenapa Kakakku bergitu membenciku?” tanyaku.


“Kau bisa tanyakan nanti.” jawab Kak Dimas.


Kami tiba di sebuah rumah di tengah hutan. Sungguh aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Yang jelas aku hanya melihat satu rumah. Aku benar-benar takut, namun aku harus tenang. Saat pintu sudah terbuka, aku akan berlari kencang.


Melihat mobil kami datang, tiga orang kekar menghampiri mobil kami. Mobil masih di kunci. Aku mulai memutar otak mencari cara untuk kabur.


Sabar ya, Nak. Mama tidak akan membuatmu terluka. –batinku pada Haidar.

__ADS_1


Haidar menatapku, aku mencium dahinya. Anakku yang malang. Bila saja aku tidak gegabah mempercayai kata-kata Kak Ulfa, anakku tidak akan merasakan hal semengerikan ini. Benar-benar tidak akan.


“Kita sudah sampai, Sayang.” kata Kak Dimas.


Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, aku otomatis memepet ke pintu mobil menghindarinya. Aku menepis tangan Kak Dimas yang hendak menyentuhku.


“Tidak! Jangan sentuh aku!” seruku.


Haidar kembali menangis. Kali ini aku tidak bisa menenangkannya. Aku benar-benar merasa bersalah pada Haidar yang harus melihatku seperti ini.


Kak Dimas menggeram. Lalu dia menjauhiku lagi. Dia membuka pintu. Aku pun langsung keluar dan bersiap untuk berlari.


Baru saja dua langkah aku berlari tubuhku di tangkap sosok pria menyeramkan, salah satu dari 3 orang yang menghampiri mobil Kak Dimas. Aku terus meronta dan meronta.


Haidar masih menangis. Lalu tiba-tiba seorang menghampiriku lalu membekapku dengan saputangan. Hingga tubuhku lemas. Aku yang semula memeluk erat Haidar kini tidak bertenaga. Tidak boleh! Aku tidak boleh pingsan!


Haidar! Anakku! Maafkan Mama, Sayang.- batinku.


Gelap. Aku tidak mengingat apa yang terjadi lagi kepadaku.


***


Aku membuka mataku. Aku merasakan tubuhku pegal luar biasa. Kini aku duduk di sebuah kursi dengan kondisi tangan dan kakiku terikat. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menormalkan mataku. Dan aku melihat seseorang di depanku.


Kak Ulfa yang kini sedang menggendong Haidar. Haidar masih meronta dan menangis di dalam pelukan Kak Ulfa. Haidar meminta Kak Ulfa membawanya ke padaku. Sungguh, aku tidak bisa menahan air mataku.


“Jangan sakiti anakku, Kak! Aku mohon!” kataku sambil berteriak.


Aku mengabaikan rasa pusing di kepalaku. Pikiranku hanya fokus pada Haidar. Melihat bekas cubitan yang kian mengungu itu membuat hatiku teriris. Sakit sekali.


Haidar mengencangkan tangisannya. Aku tahu dia kesakitan.


“Maafkan Nak, maafkan Mama!” kataku.


“Kau mau ini?” tanya Kak Ulfa.


Kak Ulfa kembali mencubit Haidar. Dan tangisan Haidar kembali terdengar kencang. Akupun memaksakan tubuhku untuk jalan ke arah Kak Ulfa.


BUG!


Aku terjatuh. Karena seluruh tubuhku benar-benar terikat bangku, bangku itu jatuh menimpaku. Aku terus berjalan mengesot tidak memperdulikan tubuhku yang sakit dan harus menahan beban bangku yang sangat berat.


“Jangan sakiti anakku!” kataku. “Aku mohon, Kak!” kataku.


Dua orang berbadan kekar mendudukkanku kembali. Aku meronta, namun mereka terus memagangiku dengan erat.

__ADS_1


“Mengapa kau lakukan ini semua kepadaku, Kak?” seruku sambil menangis.


“Tentu saja untuk menyingkirkanmu. Hahaha.” kata Kak Ulfa sambil tertawa.


Haidar masih tertawa. “Heh! Diam bocah!” Kak Ulfa membentak Haidar.


“Kak! Dia masih kecil!” seruku.


“Meski masih kecil, dia tetap tidak menyukaiku. Kau tahu? Dari dalam kandungan dia mual setiap melihatku, setelah lahir tidak pernah merespon panggilanku. Benar-benar anak Faiz.” kata Kak Ulfa.


“Mungkin inimah mengapa dia suka padamu, Kak. Dia tahu kalau kamu adalah orang jahat.” Kataku.


“Hahaha bisa jadi.” Kata Kak Ulfa.


“Mengapa kau lakukan ini kepadaku, Kak?” tanyaku. Aku kembali menanyakan hal yang sama. Aku belum puas dengan jawaban Kak Ulfa.


“Sudah ku katakana kalau aku ingin menyingkirkanmu. Apa kau tuli?” tanya Kak Ulfa.


“Iya, tapi mengapa kakak harus menyingkirkanku? Apa salahku?” tanyaku.


“Kau telah mengambil semua orang dariku, Faiz, Mama, Papa, dan semua orang.” kata Kak Ulfa.


“Aku tidak mengambil siapapun dari sisimu.” kataku.


“Kau ini munafik. Tahu namun pura-pura tidak tahu. Jika saja kamu tidak hadir di hidupku aku pasti sudah bagia. Menikahlah dengan Dimas, dan pergilah sejauh mungkin, berikan suamimu kepadaku. Aku akan berhenti mencecarmu. Aku akan pastikan kalau tidak aka nada lagi yang akan merasakan kesakitan.” kata Kak Ulfa.


“Aku tidak mau. Aku tidak mau menyerahkan suamiku kepada seseorang yang jahat sepertimu, Kak! Tidak akan, tidak akan pernah!” seruku.


Haidar kembali menangis. Aku menatap anakku. Sedih sekali.


“Kita lihat saja nanti.” kata Kak Ulfa licik.


“Kak, apa kamu tidak takut akan pembalasan dari Allah?” tanyaku.


“Allah sendiri yang tidak pernah adil kepadaku. Aku hanya menuntut sebuah kebahagiaan darinya melalui menyakitimu.” Kata Kak Ulfa.


“Astaghfirullah al adzim, istighfar, Kak!” seruku.


“Tak perlulah kau menceramahiku, itu tidak akan berdampak kepadaku.” kata Kak Ulfa.


“Kamu tidak akan bahagia kak, seumur hidupmu hingga kau benar-benar bertaubat.” kataku.


“Bukan kau yang menentukan kebahagiaanku, melainkan aku sendiri.” Kata Kak Ulfa.


Aku melihat Haidar masih menangis. Matanya memerah. Dia sudah menangis begitu lama. Aku benar-benar sedih.

__ADS_1


“Diamlah, Bocah!” seru Kak Ulfa sambil menabok pantat Haidar.


“Kak! Dia masih kecil! Tidak tahu apa-apa! Masalahmu adalah denganku bukan anakku. Anakku tidak salah apa-apa, tolong jangan sakiti anakku!” seruku.


__ADS_2