
Aku berlari dari Ndalem Abah. Persetan dengan semuanya. Hatiku sakit sekali. Kali ini nama yang muncul kembali Gus Faiz. Aku benar-benar kecewa. Semua yang dikatakannya dari awal adalah kebohongan.
Tuhan, siapa yang harus aku percaya? -batinku.
Aku benar-benar sedih sekali saat ini. Umi yang sudah kuanggap ibu sendiri pun ikut terlibat dalam kebohongan ini. Apakah kasih sayang Umi palsu?Aku yakin kasih sayang itu hanyalah perintah Mama. Tak benar-banar tulus dari Umi.
Dan Farha. Orang paling terdekatku saat ini, di samping Arum. Tega-teganya dia membohongiku habis-habisan. Dia bisa menyembunyikan kebenaran tentang ka Ulfa. Aku yakin dia pun sana-sama tak memiliki perasaan sayang yang tulus padaku.
Bagaimana dengan Arum. Sepertinya sama saja. Pasti semua orang yang terlibat denganku hanya settingan. Semuanya hanya kebohongan. Kepalsuan yang benar-benar menyakitkan.
Tiba-tiba aku teringat Aaron.
Kali ini dunia sedang berpihak padaku. Aku bertemu dengan teman Aaron yang saat insiden kerudung menemui Aaron. Karena aku bingung harus berbuat apalagi. Aku mendekatinya.
Dia panik, pasalnya saat ini sedang ramai, dan jika ketahuan berduaan dengan lawan jenis pasti akan kena hukuman. Dia dengan cepat membawaku ke tempat sepi. Gang Sempit, tanpa lampu. Benar-benar hanya bercahaya kan rembulan yang membuatnya remang-remang.
"Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Gue mohon sama lo. Tolong cari Aaron. Gue tunggu. Gue mohon." kataku
"Okay, tunggu di sini." katanya.
Air mataku sudah berlinangan. Memikirkan hidup selalu tak adil membuatku sangat kesakitan. Aku terisak saat mencoba menghubungkan potongan-potongan kejadian yang mulai meluluhkan hatiku. Ternyata semuanya hanya settingan. Aku di bohongi habis-habisan.
Tak lama kemudian Aaron datang. Dia datang sendirian. Aku buru-buru memeluknya. Dia bergeming di tempatnya.
"Are you okay?" tanyanya.
Menyentuh kedua pipiku dengan tangannya. Lupakan aku yang pemalu, lupakan aku yang tak mau disentuh siapapun, lupakan apapun yang berbau kebaikan dariku.
"Kenapa semua orang jahat sama gue?" kataku. Air mataku menderas.
Aaron menyeka air mataku.
"Nggak semua. Ada gue. Gue gak akan pernah jahat sama lo. Lo tenang ya." katanya.
"Gue benar-benar gak kenal sana lo, Ron. Gue pun sebenernya malu buat datang ke elo. Cuma, gue.. gue.." aku benar-benar tak sanggup melanjutkan.
"Lo duduk dulu." katanya.
Dia membawaku duduk. Aku menurut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya.
"Lo bener, Ron. Pesantren ini bukan rumah gue. Gak akan pernah jadi rumah Gue." kataku. Aku terisak lagi.
Dia diam. Mendengarkan.
"Semua kenyamanan yang gue dapat di sini, semuanya settingan, semuanya kebohongan. G-gue.. dibohongi habis-habisan." kataku tak kuat lagi melanjutkan.
"Si Faiz yang bikin lo begini?" tanyanya.
Aku hanya bisa menangis lagi. Benar-benar tak kuasa menjawab pertanyaan. Dia mengerti. Aku terus menangis benar-benar menyesakkan. Aaron terdiam di sampingku. Sepertinya orang yang bisa ku percaya saat ini hanyalah dia.
Setelah lebih baik, Aaron berdiri. "Gue bakal siapin semuanya. Lo tenang aja. Sebentar lagi." katanya.
Aku hanya bisa mengangguk.
"Gue bisa aja bawa lo kabur sekarang. Tapi kita pasti akan tertangkap kalau sekarang. Kita di sini dulu untuk meyakinkan kalau kita memang ada di sini. Tunggu gue beberapa hari, okay?" kayanya.
"Apa kata-kata lo bisa gue percaya?" tanyaku.
"Apa ada orang lain yang bisa lo percayain selain gue?" katanya. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi.
Aku menggeleng.
Aku mengangguk.
Aku berdiri, Aaron berniat menemaniku pulang namun aku menolaknya. Aku tak mau ada yang curiga kepada kami. Sepertinya hanya Gus Faiz yang tahu tentang Aaron. Syukurlah.
"Kita pisah di sini. Gue gak mau ada yang curiga sama kita." kataku.
"Okay, lo duluan." katanya.
Akupun berjalan keluar Gang Sempit itu terlebih dahulu. Aku tak menoleh lagi. Aku terus ke depan meski sesekali masih sesengukkan.
Saat aku sudah dekat dengan pondok. Aku melihat Gus Faiz. Seketika hatiku kembali sakit. Setega itu Gus Faiz mempermainkanku. Dia pembohong! Seketika air mataku sudah kembali membanjir. Aku mengusapnya kasar.
Aku menghindarinya. Sepertinya dia belum menyadari apa yang tengah terjadi. Dia tidak tau kalau aku sudah mengetahui semua kebusukannya.
"Tunggu." katanya.
Aku mempercepat langkahku. Namun dia menghalangiku. Aku tak sudi bersentuhan dengannya. Jadi, aku menghentikan langkahku.
__ADS_1
“Ada apa, An?” tanya Gus Faiz. Satu pertanyaan yang mampu menguras air mataku.
“Pembohong!” kataku. Aku tidak sudi lagi melihat wajahnya.
“Ann.." katanya
“Jangan panggil nama gue! Lo pembohong! Lo jahat! Lo emang gak punya perasaan! Lo pembohong! Elo jahat!” kataku, tepat dihadapannya. Aku ingin sekali berlari meninggalkannya. Aku tidak percaya dengan semua ucapannya lagi. Tapi dia kembali menghalangi jalanku.
“Tunggu An,” kata Gus Faiz."Bohong apa?" lanjutnya.
"Lo tau, Gus? Lo adalah orang paling jahat yang pernah gue temui seumur hidup gue. Dasar bedebah. Gue kira lo manusia paling berhati baik yang pernah gue kenal. Nyatanya apa? Lo kebalikannya. Lo kejam Gus. Lo kejam." katanya.
Kali ini aku ingin benar-benar pergi.
"Ada apa sebetulnya?" tanyanya lagi. Kali ini dia menahan tanganku.
"Lepas! Gue gak sudi kalo tangan gue dipegang cowok jahat kayak lo!" kataku.
"Maaf.” katanya.
Aku tidak tahu, maaf yang diucapkannya tertuju untuk kesalahannya yang mana, karena kebohongan itu atau karena dia berani menyentuh tanganku.
“Cuma lo yang tau apa kebohongan lo sama gue!” kataku.
"Dasar, bedebah gak punya hati!" teriakku sambil menginjak kakinya.
Lalu langsung berlari ke arah pondok. Aku tak perduli lagi dengan Gus Faiz. Kini, dia benar-benar akan ku masukkan daftar hitam di dalam hidupku.
Saat berada di depan pondok, rasanya aku sangat tak kuat jika bertemu dengan teman-temanku, terutama Farha. Membayangkan semua kebersamaan dan kebaikan itu settingan membuat dadaku berdenyut nyeri.
Aku memutuskan untuk masuk ke salah satu bilik kamar mandi. Mencoba menjernihkan diri dengan mengguyur tubuhku dengan air dingin secara terus menerus. Air mataku terus berderai.
Aku tak perduli kalau sekeluarnya aku dari bilik ini akan menjadi sakit. Karena rasanya aku hanya ingin mendinginkan kepalaku.
Kenapa, Tuhan? - tanyaku.
Aku benar-benar tak mengerti. Dan tak mau mencoba mengerti. Yang jelas, rasanya sakit sekali.
Semakin kurasakan sakit semakin ku guyur tubuhku dengan air dingin itu. Ku ulangi lagi, lagi, dan lagi.
“Mbak Nindy, apa Mbak di dalam?” tanya seseorang.
__ADS_1
Suara Farha. Untuk apalagi sebetulnya dia datang ke sini. Apa belum cukup dia mengolok-olokku? Apa semua yang dia lakukan masih kurang menyakitkan? Sejauh mana sebetulnya dia terlibat?
Aku mengguyur tubuhku lagi.