
Ketika sampai bawah, ternyata bukan hanya aku dan Farha saja yang sudah bangun. Tapi untungnya 'kamar mandi' di sini cukup banyak jadi kami tidak perlu mengantri lama kalau semua bilik kamar mandi penuh. Aku memasuki satu bilik kamar mandi dekat keran air yang sudah siap memenuhi kolam panjang kami. Sudah aku katakan dari awal bukan bentuk kamar mandi di sini yang hanya memiliki 1 kolam memanjang dengan skat-skat kamar mandi berada di sekelilingnya.
Dari awal aku datang ke sini. Aku selalu mengincar kamar mandi nomor satu karena selain airnya belum terkontaminasi dengan santri-santri yang lain, yang mayoritas sepertinya memiliki penyakit kulit ala-ala seperti kudis, panu, dan lain sebagainya. Tapi kemarin temanku mengatakan penyakit kulit itu dengan sebutan... tunggu... gurik? Ehh bukan gudik? Iyaa gudikan kalau tidak salah.
Bbrrrrrrrr...
Airnya benar-benar dingin seperti es. Rasanya aku ingin berhenti mandi saja, tapi tanggung, jadi aku harus meneruskannya. Meski tubuhku gemetar dan aku rasa bibirku sudah membiru, aku selesaikan cepat-cepat aktivitas mandiku.
"Ayo, Mbak ambil makanan untuk sahur." kata Farha. Dia membawa 2 piring kosong yang sudah siap untuk diisi.
Aku mengangguk, setuju. Hari ini puasa pertama tahun ini. Jujur pada bulan Ramadan sebelum-sebelumnya, aku tak pernah berpuasa sampai magrib. Di Jakarta dulu, aku memang ikut sahur dan berbuka bersama keluargaku, namun saat bersama teman-temanku aku tetap makan.
"Udah susah-susah bangun pagi, eh lauknya sayur gak jelas sama tempe segini." gerutuku. Farha hanya tertawa di sampingku.
"Ada jatah ayam kok, Mbak, setiap hari Kamis." kata Farha. Itu adalah hal termiris yang pernah diucapkan Farha. Meski begitu dia terlihat sangat senang.
Jam 4 kurang Farha dan anak kamar lainnya pergi menuju Pondok yang searah denganku untuk ke Ndalem Abah. Aku lupa nama pondoknya. Nanti kapan-kapan aku tanya Farha. Itu adalah pondok yang pernah Farha masuki saat mengambil sandal, pondok yang terletak persis sebelum rumah Umi.
"Aku duluan ya, Mbak. As-salamu 'alaikum." kata Farha saat dia sudah berada di depan pondok yang aku maksud tadi.
"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." kataku. Lalu melanjutkan perjalanan.
Saat hampir tiba di rumah Umi, aku melihat sesuatu yang janggal di sana. Aku melihat mobil alpard milik Papa. Aku benar-benar lupa. Lupa memikirkan kemungkinan kalau keluargaku masih ada di sini. Aku takkan ke sana.
__ADS_1
Aku bersembunyi di balik tembok yang tidak bisa dilihat dari daerah rumah Umi. Aku memeluk erat sajadah dan bawahan mukena yang aku bawa, mendesah, lalu berjongkok. Lalu kuusap wajahku dengan asal. Tak lama kemudian adzan berkumandang. Aku masih menunggu di sini, berharap mobil keluargaku lekas pergi.
Setelah penantian panjangku yang berhadiahkan gigitan-gigitan nyamuk, akhirnya keluargaku keluar. Aku mengamati mereka satu persatu. Tidak ada air mata ataupun mata bengkak seperti yang diceritakan oleh Farha semalam. Benar saja, yang kemarin dilihat Farha mungkin hanyalah akting. Meski tidak mengharapkannya, tapi hatiku tetap merasa kesal. Ditambah melihat wajah mereka yang begitu bahagia, rasanya iri menguasai hati. Dan yang paling membuatku dongkol adalah Gus Faiz yang terlihat sedang tertawa di sana bersama Kak Ulfa. Sepertinya mereka benar-benar dijodohkan. Ntah dijodohkan atau salah satu bahkan dua-duanya sudah saling suka. Jadi, suka rela?
"Dasar Gus Faiz. Giliran ama gue aja dah sok cool gak pernah mau ngobrol panjang-panjang, jutek, dan gak pernah mau liat muka gue. Giliran sekarang? Ah, munafik. Untung ganteng lu, Is. Ah, sial. Kenapa juga gue bilang ganteng." kataku.
"Siapa yang ganteng, Mbak?" tanya seseorang.
"Gus Faiz." kataku jutek.
"Iihhh.. gak boleh, Mbak. Gus Faiz itu punya aku." teriak seseorang di belakangku. Aku langsung berdiri dan membalikkan tubuhku. Lalu berkacak pinggang. Ternyata Linda.
"Heh! Ngapain lo teriak-teriak di kuping gue?!" teriakku. Persetan dengan janji itu.
Mendengar kata-kata absurd yang keluar dari mulut Linda aku sudah bisa menebak kalau dia juga salah satu santri yang sudah tergila-gila dengan makhluk Tuhan yang masih ada di dalam Ndalem Abah dengan gelar ‘gus’ itu.
Kalau dilihat dari sisi wajah memang Gus Faiz hampir setara dengan bidadara. Karena menurutku wajahnya memang sekelas aktor Lee Min Ho, Ji Chang Wook, dan Mario Maurer, bahkan bisa dikatakan lebih unggul. Sepertinya sudah dua kali kupuji wajahnya bagai artis tampan semacam Mario Marer. Pantas saja santri-santri banyak yang istighfar saat lewat di depan Ndalem Abah. Lihat saja, meski hanya memakai sarung, baju koko, dan peci, dia tetap seperti model.
Lalu untuk ilmu, meski tak tau persisnya tapi kalau dilihat dari sikapnya sepertinya ia seseorang yang cerdas, apalagi dalam beragama. Apalagi dia anak seorang Kyai. Meski begitu banyak kelebihan dia tetap memiliki kekurangan. Sesekali dia tak bisa menjaga prinsipnya. Lihat saja, di sana dia tertawa bersama Kak Ulfa.
Semua orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Aku juga memiliki kelebihan, seperti cantik, cerdas, memiliki selera yang tinggi, dan menjadi idaman para laki-laki. Ilmu agamaku juga lumayan, lumayan buruk. Haha.
Aku tersadar setelah sadar kalau aku sedang membangga-banggakan Gus Faiz. Akupun melirik sinis kearah Linda. Lalu mencibir, "Kenapa emangnya kalo gue mau deketin Gus Faiz? Masalah gitu buat lo?" kataku.
__ADS_1
"Dia itu calon suami aku nanti, Mbak." kata Linda. Dengan penuh percaya diri. Aku terkejut. Tapi setelahnya, aku mulai tertawa tidak keras karena takut keluargaku mendengar suaraku, karena kemungkinan mereka masih berada di halaman rumah Gus Faiz.
"Bangun woy bangun! Udah siang kali." kataku, sarkas. Tiba-tiba hidungku terasa gatal. Sepertinya efek mandi jam 3. Aku arahkan wajahku ke hadapan Linda lalu bersin tepat di wajahnya, "Hatchiii!" lalu lari meninggalkannya.
"Bodo ah, gue pergi aja. Daripada ketauan.” kataku semakin menjauh. "Emang enak gue bersinin!"
"Mau ke mana?" Satu suara mengejutkanku.
Lantas aku menoleh ke asal suara. Dan ternyata dia lagi. Aku hanya bisa menyilangkan tangan di dada sambil memukulnya dengan tatapan tajamku yang tak dia tatap sama sekali.
"Mau bunuh diri. Puas lo?" kataku.
"Kamu ditunggu Umi di rumah." katanya.
"Lo gila ya. Emang lo kira gue gak tau kalo orangtua gue masih di rumah lo? Apa lo sengaja bikin gue ketemu sama orangtua gue? Jangan-jangan lo ingkar janji ya?" kataku sewot.
"Lihat dulu mobilnya." kata Gus Faiz.
Aku menoleh ke belakang. Tak ada mobil Papa. Lalu menatapnya lagi.
"Tap-tapi.." kataku mencoba membantahnya.
“Ayo.” kata Gus Faiz. Aku pun mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Gue udah jadi anak baik.” kataku.