Penjara Suci

Penjara Suci
PS 23 - Salah Paham


__ADS_3

Perutku terasa sangat lapar, padahal hari masih menunjukkan pukul 11.00 WIB. Belum terlalu siang. Karena lapar, aku melarikan diri dari Farha, gengsi rasanya mengatakan kepada Farha kalau aku lapar. Lagipula sekarang sedang bulan puasa, yang ada alih-alih memberikanku makanan, ia akan memberikanku nasihat tak berkesudahan. Meski lapar, aku tak mungkin membeli makan sendiri. Aku butuh perantara. Yang jelas bukan Farha.


Aku melihat ada dua anak kecil yang sedang bermain tanah. Otak cemerlangku langsung kugunakan. Aku mulai menimbang apakah dua anak kecil itu sudah bisa kusuruh membeli makanan. Aku memperhatikan dua bocah itu beberapa menit. Mengamati tingkah laku mereka. Setelah kuputuskan kedua anak tersebut bisa kumintai tolong. Akupun berniat menghampiri mereka.


Usia mereka antara 5-6 tahun. Setelah memastikan ada uang di kantongku dan memastikan keadaan sekitar yang sepi tidak ada siapapun selain kami bertiga, akupun melancarkan aksiku.


“Halo adik-adik!" kataku menyapa kedua anak tersebut.


Anak tersebutpun menoleh ke arahku. Namun bukannya merespon sapaanku, mereka malah berdiri dan berniat pergi. Sepertinya mereka takut padaku. Sebetulnya ini wajar si, keponakanku di Jakarta juga tidak bisa langsung menerima orang baru. Mereka butuh PDKT dulu.


"Kalian main apa? Jangan takut, kakak baik kok. Kakak cuma main sama kalian." kataku. Aku memikirkan kata-kataku. Kalau dicermati mengapa kata-kataku mirip penculik ya? Ah, masa bodoh.


Mereka saling tatap, ketika yakin kalau aku orang baik, mereka pun menghampiriku. Aku ajak main sebentar sekitar 5menitan, lalu segera melancarkan aksiku.


“Anak baik, kaka mau minta tolong belikan 5 roti, mau ya? Kakak tunggu di sini ya anak baik.” kataku sambil menyodorkan uang Rp20.000.


Mereka mengangguk lalu dengan cepat mengambil uang itu lalu melesat pergi. Ragu sebetulnya mengandalkan mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya mereka satu-satunya harapanku.


Lima menit berlalu hingga 20 menit terlewati mereka tidak tiba juga. Akupun berdiri dengan kesal. Aku sangat tidak suka menunggu sesuatu yang tidak pasti. Tapi baru saja aku ingin menyumpah, aku melihat mereka datang. Aku melihat mereka menjinjing kantong plastik tranparan berisi roti. Hatiku bersorak senang.


Tenyata mereka berdua benar-benar penurut.


Mereka menyodorkan kantong itu beserta uang kembalian sebesar 15ribu rupiah. Murah sekali harga rotinya. Aku mengambil roti dan kembalian dengan senang hati. Aku mengambil 2 potong roti dalam plastik lalu kuberikan pada mereka, lengkap bersama uang kembalian yang mereka kembalikan kepadaku. Salah satu dari mereka mengambilnya dengan malu-malu.


“Sini duduk sini, makan ama kakak!” kataku, menarik kedua bocah perempuan itu untuk duduk. Merekapun menurut lalu tanpa menunggu aba-aba mereka mulai membuka bungkus roti dan begitu pula aku. Cacing-cacing di perutku sudah konser di dalam sana.

__ADS_1


Baru saja aku mengangkat roti, bersiap untuk memakannya, seseorang mengambil roti itu. Dengan gerakan refleks aku berdiri, menatap tajam siapapun yang mengambil rotiku. Dan ternyata Gus Faiz. Aku langsung memasang wajah masam. Tidak perlu berpura-pura dengannya. Toh dia sendiri yang memperbolehkanku menjadi diriku sendiri. Aku menarik lengannya yang dilapisi baju koko warna coklat, meski aku tau kalau dia tidak mau aku sentuh aku tetap menariknya. Padahal bersentuhan kulit sangat pantang untuknya.


“Kenapa si elo gangguin gue mulu, hah? Lo nguntitin gue ya? Dasar penguntit!” kataku. Kesal setengah mati. Aku mengecilkan volume suaraku takut kedua anak itu mendengar umpatan-umpatan kasarku. Bagaimanapun usianya masih sangat belum pantas mendengar kata-kata kasar.


Aku melirik kedua anak kecil tadi. Ternyata mereka pergi ntah kemana. Baguslah, jadi aku bisa puas berdebat dengan Gus Faiz tanpa berbisik-bisik.


“Kenapa gak puasa?” tanyanya.


“Hidup-hidup gue kenapa lo yang ribet?” tanyaku. Ada rasa malu sejujurnya saat Gus Faiz bertanya mengapa aku tidak puasa. Tapi gengsiku yang teramat tinggi tidak mau diganggu-gugat. “Tau nggak si, sebenarnya di dekat lo itu gue tambah ribet tau gak? Bahkan ni ya, lo gak ada aja gue tetep diimbasin, coba aja bayangin gara-gara lo tadi pagi gue disinisin sama pengurus yang ngaku-ngaku calon isteri lo." kataku. Mulutku benar-benar tidak bisa kukendalikan lagi. Kata-kata itu meluncur dengan mulusnya, persis seperti orang yang sedang terbakar cemburu.


Baiklah, terlepas perasaan yang kurasakan adalah kecemburuan atau bukan yang jelas aku tak suka dengan Linda, apalagi ketika dia mengaku sebagai calon istri Gus Faiz.


“Calon istri?” tanya Gus Faiz, tak yakin dengan pendengarannya.


“Siapa? Linda?” tanyanya lagi.


Duarrrr!


Ini benar-benar suara petir. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi mendung. Aku berani bertaruh kalau ini bukan sinetron. Benar-benar petir dan kilatannya di angkasa seakan mewakili hatiku. Terlebih, sama-sama bergemuruh setelahnya.


Aku mencoba menerka-nerka kata-kata Gus Faiz. Hingga aku dapat simpulan bahwa Linda memang benar-benar calon istri Gus Faiz. Ntah mengapa tiba-tiba hatiku terasa sakit. Ternyata meski aku sudah sering melukainya dengan semua kata-kata kasarku, tapi tetap tak mengubah kenyataan kalau ada sedikit tempat di hatiku yang makin terisi olehnya.


Diam-diam aku berdoa agar hujan lekas turun.


“Oh, jadi bener. Bilangin sama cewek lo itu ya, gue gak ada niatan sedikitpun deketin lo. Lagian, kalau gue masih bisa peluk hujan kenapa gue harus ngejar angin?” kataku.

__ADS_1


Kali ini semesta mengamini doaku. Hujanpun tiba-tiba turun dengan deras. Tidak seperti biasanya yang selalu diawali dengan rintik-rintik kecil.


Gus Faiz tidak menjawab apa-apa. Membantah pun tidak. Itu artinya semua kata-kataku benar adanya. Ternyata dia benar-benar sudah mempunyai calon istri, dan itu Linda.


Karena suasana semakin mendukung untuk melow dan menangis, aku mulai menjadi cengeng. Cengeng adalah salah satu hal yang sangat ku hindari, dan tak kusukai.


Aku memutuskan untuk membalik badan berniat pergi. Dan benar saya air mata sialan ini benar-benar menyatu dengan hujan. Aku mencoba menggigit bibirku agar tidak terisak. Aku tak mau Gus Faiz mendengar isakan itu. Atas perasaan ini aku semakin takut. Karena jelas aku tahu ke arah mana rasa sakitku akan berlabuh.


“Kamu salah paham An. Saya tahu kalau yang kamu maksud dia, karena dia sering mengatakan kebohongan serupa kepada banyak orang." kata Gus Faiz.


Aku berhenti melangkah.


Dia berjalan ke arahku. Akupun melakukan hal yang sama. Hingga kami saling berhadapan. Aku mencoba mencari kebenaran lewat matanya. Dia menyatakan hal yang sesungguhnya. Aku bersyukur dalam hati. Aku menunduk.


Rintik hujan masih membasahi tubuh kami. Aku kembali mendongak lalu memandang matanya lagi. Memastikan keberadaan kebenaran itu di matanya.


Tanpa bisa ku tahan. Aku memeluknya begitu saja. Ini pelukan kami yang kedua kali. Kali ini, meski kami berpelukan dia tidak membalas pelukanku.


Namun, aku merasakan tangan Gus Faiz memagang pundakku mengisyaratkan kalau yang kami lakukan adalah perbuatan salah.


"FAIZ, NINDY!" teriak seseorang.


Sontak kami saling menjauh.


"Apa yang kalian lakukan? Abah kecewa sama kalian, terutama kamu Faiz!” seru Abah. Suaranya menggelegar melebihi petir yang menyambar hatiku. Begitu lantang, tegas, dan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2