Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 46 - Singa Betina


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Hari ini aku datang menemui Farha yang ada di rumah Aaron. Kemarin Aaron meneleponku memintaku membantu menyelesaikan masalah mereka, akupun menyetujuinya. Aku sangat ingin meluruskan semua ini. Aku tidak mau diantara kami ada salah paham. Aku tidak suka konflik berkepanjangan. Mas Faiz sebenarnya melarangku untuk menemui Farha namun, aku berhasil menyakinkannya agar suamiku mengizinkan aku ke sana.


Dan di sinilah aku. Di depan rumah Aaron di sambut oleh Linda sahabatku. Linda seperti biasa selalu menyabutku dengan hangat, cerita, dan ramah.


“Mbak Nindy!” seru Linda.


“Untuk apa kamu memanggilnya 'Mbak'? Diakan seumuran kamu.” kata Aaron yang kini berada di samping Linda. Aaron merasa protes dengan panggilan adiknya untukku.


“Suka-suka aku dong, Bang.” seru Linda.


Aku dan Mas Faiz hanya tertawa.


“Ayo, masuk, Nin, Gus!” kata Linda.


Aku dan Mas Faizpun masuk ke dalam. Mataku mulai meluncurkan pencarian. Aku mulai mencari dimana Tante Yeni dan Om Adi.


“Dimana Om dan Tante?” tanyaku.


“Mama sama Papa lagi ke rumah nenek, jadi Cuma ada kita bertiga di rumah.” jelas Linda. “Sebentar ya.” katanya.


Lindapun pergi meninggalkan aku, Mas Faiz, dan Aaron di ruang tengah.


“Bagaimana keadaan Farha, Ron?” tanyaku.


“Ntahlah, Nin. Tubuhnya sehat namun sekarang dia lebih senang diam. Tiap hari diam saja.” kata Aaron.


“Kutebak kau masih kasar padanya.” jawab Gus Faiz.


Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tindakannya membetulkan apa yang dikatakan oleh suamiku. Aku benar-benar kesal melihat tingkah Aaron.


“Cobalah perbaiki sikapmu. Wanita itu tidak suka laki-laki kasar.” kata Mas Faiz.


Seketika aku dan Aaron terkekeh, Mas Faiz terlihat seperti sudah sangat hafal bagaimana cara menaklukkan perempuan. Mas Faiz yang dingin kepada wanita bisa mengatakan hal demikian tentunya membuat perut kami tergelitik.


“Ah, kau, Is. Suamimu kamu ajarkan apa, Nindy? Sampai bisa berbicara soal wanita?” tanya Aaron.


Aku hanya tersenyum menanggapi. Akupun tidak tahu jawaban dari pertanyaan Aaron.


“Tapi kata-kata suamiku, betul. Kamu harus jaga sikap, Ron. Farha itu polos dan lembut, jangan kamu kasari. Aku tidak setuju dengan tindakanmu kemarin.” kataku.


Tak lama kemudian Linda datang membawa minuman, dia langsung meletakkan minuman itu di atas meja. Kemudian duduk bergabung bersama kami.


“Aku bilang juga apa, Bang! Jangan kasar, jangan kasar.” kata Linda.


“Hey, kamu hanya seorang adik, tidak boleh menggurui kakaknya.” kata Aaron.


“Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan.” kata Linda cuek.

__ADS_1


“Bagaimana kamu bisa menemukan Farha kemarin?” tanyaku.


“Aku mengikuti saranmu, aku ke rumahmu dan..” kata Aaron.


“Tentu saja memaksanya untuk pulang kembali.” kataku sinis sambil melipat tanganku di depan dada.


Mas Faiz memandangiku, dia tersenyum. Aku balas tersenyum padanya. Aku pun buru-buru mencium pipinya karena gemas melihat senyumannya.


“Apa kalian tidak bisa merasakan sedikit rasa kasihan kepadaku dan adikku yang jomlo ini?” tanya Aaron melankolia.


“Bang! Kenapa kejomloanku di bawa-bawa?” seru Linda tidak terima.


“Sudah-sudah. Jadi, bagaimana? Aku harus apa?” tanya Aaron.


“Kamu mencintai Farha?” tanyaku.


“Akan kucoba. Bukankah itu kewajiban karena dia sudah menjadi istriku?” jawab Aaron. Bersungguh-sungguh.


Aku menghela nafas lega. Karena meski belum mencintai Farha, namun dia tahu harus mencintai Farha yang tak lain kini menjadi istrinya.


“Kau ingin aku membantumu?” tanyaku.


“Tentu saja.” kata Aaron.


“Tapi ada syaratnya.” Kataku.


“Kamu harus berjanji tidak boleh kasar, kamu harus mencintainya dengan sepenuh hati, kamu harus jadi suami yang pengertian dan lembut, kamu harus meminta maaf padanya dengan tulus, dan..” kataku.


“Dan kamu hapus kontak istriku dari ponselmu. Saya tidak suka kau menelponnya.” Mas Faiz melanjutkan.


Aku tersenyum. Apakah ini bentuk kecemburuannya padaku? Aku sangat senang melihatnya cemburu seperti ini. Dia terlihat sangat mencintaiku.


“Kalau aku ada penting dengan istrimu bagaimana? Tidak. Aku tidak setuju dengan syarat darimu, Is.” kata Aaron.


“Yasudah, saya tidak akan mengizinkan istri saya untuk membantumu. Kita bisa pulang sekarang.” kata Mas Faiz dingin.


Sikapnya benar-benar terlihat beda kepada orang lain. Dia begitu hangat padaku namun begitu dingin pada orang lain. Benar-benar Mas Faiz yang aku kenal.


“Eh, iya-iya. Kau bisa menghapusnya sendiri.” kata Aaron.


Aaron menyerahkan ponselnya kepada Mas Faiz. Mas Faizpun mengambil ponselnya. Lalu Mas Faiz mulai mencari namaku di sana.


“Kenapa tidak ada nama Nindy?” tanya Mas Faiz.


Aaron menepuk jidat. “Kunamai singa betina.” kata Aaron.


“Apa? Kamu menamaiku singa betina?” seruku sambil berdiri tidak terima.


Singa. Siapa yang tidak tahu bagaimana perangai singa? Siang adalah hewan buas. Mengapa Aaron memberikan nama singa betina kepadaku? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Aaron.

__ADS_1


Alih-alih marah, Mas Faiz justru terkekeh.


“Mas, jangan bilang kamu juga menyamakanku dengan singa betina.” seruku.


Aku mengerucutkan bibirku, tidak terima dengan Mas Faiz dan Aaron yang menganggapku singa betina.


“Hahahaha, Abang, kau jujur sekali.” kali ini kutatap Linda dengan tajam.


Linda langsung berhenti tertawa.


“Sayang, aku bukan tertawa karena kamu. Kamu itu tidak mirip singa. Kamu itu lembut dan menggemaskan. Duduk yaaa.” kata Mas Faiz, berdiri dan menyuruhku duduk.


“Aku tidak mau membantu kamu, Aaron.” Kataku sebal.


“Nindy, yang cantik, yang imut, dan yang seperti bidadari..” kata Aaron belum selesai.


“Dia istri saya, Aaron!” seru Mas Faiz.


“Argh!” Aaron menjambak rambutnya sendiri frustasi. Mau tak mau aku tertawa melihat wajah frustasinya. “Bantu aku, Nin. Tolonglah.” lanjutnya.


Aku berpura-pura memikirkan permintaan Aaron. Agar membuat Aaron frustasi, siapa suruh dia membuat Farha marah karena sifat kasarnya.


“Lin, bagaimana kalau kita pergi menemui Farha sekarang?” tanyaku pada Linda.


“Eh? Kita, Mbak?” tanya Linda.


“Iya, kita.” kataku menegaskan.


“Tapi aku takut, Mbak.” kata Linda.


“Apa yang perlu ditakutkan? Bukankah kita sahabat?” tanyaku.


Linda mengangguk. Lindapun akhirnya setuju. Kami berdua pun pergi ke kamar Aaron. Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, kamipun masuk ke dalam, karena pintu tidak dikunci.


Farha yang kini sedang duduk di atas tempat tidur menoleh. Saat melihat kami, tatapannya kembali menggelap. Namun, alih-alih memaki, dia kini diam saja. Tidak mengatakan satu patah katapun pada kami. Ternyata ini yang dimaksud Aaron.


“Farha, apa kabar?” tanyaku.


Farha diam saja. Aku dan Lindapun duduk di samping Farha tanpa meminta persetujuan dari Farha.


“Farha, maafkan aku, ya?” kataku.


“Iya, Farha. Maksudku Mbak Farha..” kata Linda.


Karena status Farha kini menjadi kakak ipar Linda, jadi Lindapun memanggil Farha tidak lagi nama seperti biasanya, melainkan dia memilih memanggil ‘Mbak’.


“Farha, kamu ingat tidak, dulu saat di pondok kita berempat, aku, kamu, Linda, dan Arum selalu kemana-mana bersama. Kamu ingat? Kita berjanji untuk terus berteman sampai kapanpun.” Kataku.


Farha terdiam namun aku tahu, pandangannya kini tidak setajam dan sedingin tadi. Farha sangat merindukan masa-masa di pondok, sama seperti aku dan Linda.

__ADS_1


__ADS_2