
Akupun bergegas pergi menemui Aaron. Pergi ke Gang Sempit. Beruntung tempat ini sangat sepi. Walau begitu, aku harus sangat ekstra hati-hati dengan pengurus yang berkeliaran di mana-mana. Kalau aku lengah sedikit saja, aku pasti ketahuan.
“Aaron.” kataku lirih. Aku mencoba memanggil Aaron. "Aaron.." panggilku lagi.
Tak ada jawaban apapun.
"Aaron.." kataku.
Aku memilih jalan mencari Aaron. Kini keadaanku mengenaskan. Bahuku sakit sekali. Begitu juga telapak, dan jari-jariku, sangat perih.
Tempat ini benar-benar sepi. Tak ada Aaron maupun siapapun. Rasa sakit yang semakin menjadi-jadi membuatku jatuh terduduk di atas batu di samping rumah kosong. Tak ada lampu di sini. Hanya ada cahaya rembulan. Aku mencoba menahan perih di telapak dan juga bahuku.
"Gue telat tiga jam. Gak heran kalo lo pergi, Ron." kataku. Lemas.
Pupus sudah harapanku. Kalau bisa kuibaratkan. Kini, aku ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Aku tidak mengiakan diobati teman-temanku, tidak juga bertemu dengan Aaron. Nindy yang malang.
“Aw.. Sakit!” ringisku.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapapun jadi aku bebas melakukan apapun. Namun, karena takut tertangkap, akupun memilih menggigit mukenaku agar mulutku tak mengeluarkan suara apapun.
Aku ingin kembali ke kamar namun bahuku tidak memungkinkan. Rasa sakitnya sangat terasa sekarang, lagi pula kedua telapak tanganku masih mengalirkan darah, jadi untuk jalan merambat sangat menyakitkan. Aku sudah mencobanya saat mencari Aaron sebentar tadi.
“Lebih baik kamu kembali ke kamar.” suara Gus Faiz.
Aku menoleh. Dan benar saja. Dia sudah ada di sampingku.
Kalau sekarang situasinya berbeda pasti aku akan mengatainya ambigu. Tapi aku hanya diam. Kali ini aku bersyukur Aaron tak ada, karena jika dia masih ada di sini Gus Faiz akan curiga, dan aku yakin Gus Faiz tidak akan tinggal diam.
“Pergi sana, urusin aja tuh yayang lo, Si Linda.” kataku. Kesal juga rasanya. Kalau saja tadi dia datang lebih awal pasti bahuku tidak akan menjadi korban.
Lagi pula asal muasal perkara kejadian ini semua itu karena Gus Faiz. Kalau saja Gus Faiz tidak membuat Linda jatuh cinta begitu dalam, ini semua tidak akan pernah terjadi.
“Saya anggap kamu sedang cemburu.” kata Gus Faiz.
__ADS_1
“Apa?!” teriakkanku menjadi cicitanku karena bahuku tak kuasa untuk marah.
“Ini, pakai sendiri.” kata Gus Faiz. menyodorkan obat merah kepadaku.
Dasar bodoh! Gus Faiz oon! Nggak liat apa ini tangan udah berdarah-darah masih disuruh ngobatin sendiri, gimana caranya coba? – batinku merutukinya.
Aku hendak mengambil obat merah tersebut karena gengsi takut dibilang lemah. Namun, tiba-tiba Gus Faiz menariknya kembali.
“Becanda.” katanya dengan wajah datarnya. Benar-benar datar. Aku memalingkan wajahku karena menahan senyum.
Rasanya aku mulai gila karena cowok dingin ini. Hanya dengan mendengar candaan garingnya itu, bibirku rasanya benar-benar ingin tersenyum. Bahkan di saat aku marah besar, aku tetap ingin tersenyum. Aku menahan senyuman ini mati-matian.
Aku mencoba menetralkan diriku sendiri. Baru kali ini aku melihat ada orang bercanda sedatar itu. Apa semua orang datar tampan kalau becanda garing begitu selalu memikat hati? Tidak. Maksudku, ah entahlah.
“Jangan ditahan kalau memang mau senyum.” kata Gus Faiz lagi.
“Kepedean.” kataku mencibir singkat.
“Saya pergi dulu.” katanya, lalu meranjak pergi meninggalkanku. Dia pergi membawa obat merah di tangannya.
Tadinya aku kira dia mengambil obat merah itu karena dia ingin mengobati lukaku. Ternyata dia hanya mempermainkan aku. Benar-benar jahat dan menyebalkan.
Aku menumpukan kepalaku ke tanganku sebelah kiri. Namun aku lupa kalau telapak tanganku sebelah kiri juga terluka. Luka ini berasal dari aksi memukulkan balok yang kedua, yang gagal karena ada Gus Faiz. Aku yang tak tega dengan tangan Gus Faiz langsung mengambil balok itu dengan kedua tanganku lalu membuangnya sekuat tenaga. Aku benar-benar merasa sial hari ini.
Aku tak merasakan begitu sakit tadi. Namun, kini terasa sangat perih.
TUK!
"Ah! Sakit!" ringisku.
Sesuatu mendarat tepat di keningku. Kali ini aku benar-benar merasakan kesialan yang mendalam. Aku mencari apa yang mengenai dahiku. Ternyata gumpalan kertas.
Tunggu! Jangan-jangan... Aaron. -batinku.
__ADS_1
Aku buru-buru membuka gumpalan tersebut dan benar saja isinya surat.
Gue nggak bisa samperin lo. Karena dari tadi Gus Faiz ngikutin lo dari belakang. Gue tunggu di ujung kompleks putri sebelum jam 2 malam ini. Bawa barang-barang lo sekalian. Gue tunggu di sana. -Aaron.
Surat ini benar-benar dari Aaron. Akupun mulai mencari keberadaannya. Aku menengok ke kanan dan ke kiri namun tak menemukannya siapapun.
Aku buru-buru menyobek kertas ini. Aku tak mau ada satupun orang yang membacanya. Sebelum jam 2 malam ini, aku akan benar-benar pergi.
Perasaanku kali ini benar-benar campur aduk. Tinggal selangkah lagi aku bisa meninggalkan pondok pesantren ini namun perasaan ragu kini mulai menghampiri. Melarikan diri dari pesantren ini adalah tujuan utamaku, namun mengapa ketika datang saatnya pergi, aku justru aku merasa sangat bimbang?
Aku tak boleh seperti ini. Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. "Aw!" ringisku.
"Ah, sial, muka gue pasti cemong sama darah." kataku, frustasi. "Sial banget sih hidup gue, ahelaaa!" teriakku lagi.
Aku mulai berpikir, mengapa Aaron tidak langsung mengajakku pergi. Meski aku hanya perlu menunggu beberapa jam lagi tetap saja menunggu adalah menunggu. Pekerjaan yang menyebalkan.
Tiba-tiba, aku merasa seseorang berdiri di depanku. Jantungku hampir copot.
“EH?” akupun terkejut.
Aku pun mendongak, mencari tahu siapa yang ada di hadapanku. Ternyata Gus Faiz.
“Ish, katanya santri tapi setiap ketemu gue nggak pernah mau ngucap salam,” kataku. "Gue kaget tau!" lanjutku.
Dia hanya tersenyum. Seketika jantungku berdegup kencang melihat senyumannya. Aku tidak boleh luluh.
Aku mengamati apa yang di bawanya. Dia membawa satu ember air bersih. Ntah untuk apa dan dari mana dia mendapatkannya. Aku tidak mau menenerka-nerka lagi, apa lagi menerka apa yang akan dilakukannya, aku takut sakit hati seperti sebelumnya.
“Ini air.” katanya. Seakan menjelaskan apa yang aku pikirkan.
“Ya gue tau itu air, tapi buat apa?” tanyaku.
“Membersihkan luka kamu.” katanya.
__ADS_1
Dia mengulurkan tangannya. Aku diam saja. Karena aku hanya diam dia berinisiatif mengambil tanganku. “Maaf.” lanjutnya. Dan sentuhan tangannya berefek dahsyat. Aku merasakan pipiku merah.
Perutku kini seakan disinggahi kupu-kupu, jantungku berdegup kencang, dan senyumku tak bisa kutahan. Untung Gus Faiz tidak pernah memandang wajahku. Jadi, aku tidak perlu menanggung malu melihat dia yang mendapati pipiku merah bagai tomat, bahkan cabai. Yang jelas merah sekali.