Penjara Suci

Penjara Suci
PS 6 - Pertama Kali Mengaji


__ADS_3

Satu kata, gila. Aku rasa dia benar-benar gila. Untuk apa malu bertemu dengan santri laki-laki yang seumuran dengan kita? Baiklah, jika memang malu itu wajar, mungkin karena Farha memiliki perasaan pada laki-laki tersebut, namun kalau sampai rela menepi walau laki-laki itu masih jauh sambil menunduk, itu tidak wajar. Rasanya aku ingin mengutuk Farha. Apa malu harus seaneh ini? Apa kini aku kembali hidup di abad kurang dari 10?


“Bener-bener ajaib lo, demi apapun karena apapun, Argh! Dari pada gue ketularan gila kayak lo mending kita langsung ngaji. Mumpung gue mau.” kataku, mencoba menarik Farha yang masih tak bergeming di tempatnya.


“Ndak mau, Mbak, nanti tunggu putranya jauh dulu.” kata Farha, keras kepala.


Aku melipat tanganku di depan dada lagi, lalu menatap cowok yang sudah berada di depanku dengan geram. Apapun alasan aneh dari Farha, namun penyebab aku harus menepi adalah karena dia. Hanya karena dia, aku harus berdiri, menepi, dan menunggu dia lewat. Seperti anak presiden saja, hih.


Aku buru-buru menghadang jalannya. Seketika pandangan kami bertemu. Ternyata cowok itu sangatlah tampan. Lebih tampan dari Mario Maurer. Namun, hanya dengan melihat wajahnya saja, aku tahu dia sangat menyebalkan. Bagaimana tidak, ketika ia melihatku, ia langsung membuang pandangannya ke arah lain.


Mendapati hal seperti itu, seketika darahku mendidih, lalu aku melototinya. Dasar tidak punya etika. Dasar menyebalkan. Aku merasa terhina, sungguh. Aku adalah seorang model. Di Jakarta semua orang mengagumiku, tak ada satupun orang yang memperlakukanku seperti santri laki-laki ini. Aku berani bertaruh, laki-laki ini pasti tidak normal. Laki-laki gila!


Belum selesai aku mengutukinya dalam hati, laki-laki itu berjalan melewatiku begitu saja tanpa beban. Betul-betul tidak sopan. Apa dia diam-diam takut padaku? Hei, aku bukanlah hantu. Tidak ada sejarahnya hantu bisa secantik aku. Lihat saja, jika suatu saat nanti aku betul-betul menjadi hantu, orang pertama yang aku datangi adalah dia.


“Cowok nyebelin, berhenti!” teriakku. Namun, laki-laki itu terus melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Aku hendak mengejarnya namun Farha buru-buru menahan tanganku. Lihat saja nanti, dia akan menangung akibatnya. Aku tak main-main, jangan panggil aku Nindy jika tidak bisa membuat santri angkuh itu menyukaiku.


“Sudah, Mbak, sudah.” kata Farha, sekarang dia sudah tidak menunduk lagi.


“Gak bisa, Far! Lo lihat sendirikan tadi. Dia itu gak sopan! Lepasin!” kataku. Namun, kali ini Farha tidak melepaskan cekalannya.


Kali ini aku menurut. Aku hanya bisa memandangi santri itu dari belakang. Saat aku sedang memandangi punggungnya, aku teringat sesuatu. Tunggu. Aku mulai memutar otak. Aku sepertinya pernah melihat dia. Tunggu, aku ingat sekarang. Dia adalah santri laki-laki yang hendak kulempar pakai high heels namun tidak kena. Aku pasti tidak salah. Dia adalah laki-laki yang membuat aku masuk ke rumah Umi! Oh, aku paham. Pantas saja dia menghindar dariku, aku yakin dia pasti mengenalku.


“Cowok aneh! Berhentiii!” teriakku. Kali ini aku meronta. Namun, Farha tetap memegang erat tanganku.


“Jangan, Mbak, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram itu ndak boleh berdekatan. Dosa, Mbak.” kata Farha.


“Eh, anu, Mbak, maaf, ayo Mbak, kita ngaji.” kata Farha mengalihkan pembicaraan.


Perdebatan aku dan Farha berujung pada kita yang pergi mengaji. Farha mengajakku masuk ke sebuah kelas kecil yang sangat berbeda jauh dengan kelasku di Jakarta. Di ruangan ini hanya ada satu meja kecil khas meja untuk mengaji berbentuk X. Meja itu sepertinya diperuntukkan untuk ustaz yang akan mengajar. Sementara santri duduk bersila dengan teratur tanpa menggunakan meja ataupun kursi. Kami duduk teratur agar santri yang duduk paling belakang tetap terlihat oleh ustaz. Aku mengamati ruangan, tak ada AC maupun kipas angin, namun udara di ruangan ini terasa sejuk. Ini aneh, namun membuat nyaman.

__ADS_1


“Ustaz Sidiq rawuh!” teriak salah satu santri.


O, iya, sebelumnya aku dan Farha duduk di pojok seperti kebiasaanku di sekolah yang lama. Sebetulnya ini bukan kemauan Farha, namun karena aku yang meminta jadi Farha menuruti permintaanku. Lagi pula rasanya tak ada gunanya duduk di depan. Toh, baik di kelasku dulu maupun di sini aku bukan si rangking satu jadi tak ada kewajiban untukku mencari muka kepada guru dengan duduk di depan.


Mendengar teriakan salah satu santriwati aku langsung menoleh ke arah Farha, “Apa katanya? Lauk? Lho, ustaznya jualan lauk?” tanyaku bingung pada Farha.


“Hahahaha, bukan Mbak, anu itu lho apa ya, rawuh itu bahasa Jawa artinya datang. Jadi, anu, maksudnya ustaznya sudah datang.” kata Farha.


Mendengar jawaban Farha otomatis aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, apa lagi kutuan. Sesaat rasanya aneh, saat menggaruk kepala karena aku baru tersadar kalau aku menggunakan mukena berwarna krem. Ini aneh, dan sedikit membuatku takut. Tolong jelaskan, ini bukan nyaman kan?


Ketika sedang asyik memikirkan hal yang tidak-tidak, tak sengaja mataku menangkap salah satu santri yang sedang berbisik-bisik, lalu untuk memastikan sesuatu aku mengedarkan pandanganku ke semua arah. Dan benar saja rata-rata mereka berbisik sambil curi-curi pandang ke arahku. Aku mulai sadar bahwa akulah yang kini menjadi buah bibir mereka. Aku tak bisa menyimpulkan kalau mereka semua sedang menggunjingkan keburukanku. Karena semua respon mereka saat beradu pandang denganku berbeda-beda, ada yang tersenyum ramah, ada yang matanya berbinar seperti baru pertama kali melihat orang cantik, ada yang sinis memandangku, dan ada pula yang menatapku dengan raut tak percaya. Semua beraneka rupa. Namun, dari sekian banyak santriwati, lebih banyak yang berbinar melihat kecantikanku.


Dalam hati aku sedikit tersanjung dengan penilaianku sendiri. Aku tebak, mereka pastilah tidak pernah melihat perempuan secantik aku. Lihat saja, kulitku saja lebih putih dari siapapun di kelas ini, jangan tanya wajahku, jelas jauh berbeda. Sebetulnya, ada sedikit yang aku bingungkan di sini, dulu di Jakarta aku bukanlah perempuan paling putih diantara teman-temanku, mengapa di pesantren ini aku sangatlah kontras? Padahal aku berani bertaruh mereka tak pernah bepergian seperti yang aku lakukan di Jakarta.


Tak lama berselang, Sang Ustaz datang.

__ADS_1


“As-salamu ‘alaikum.” salam Sang Ustaz.


Semua santriwati (selain aku) menjawab salam beliau dengan yang lebih panjang, seperti yang sering Umi lakukan ketika aku mengucapkan salam di rumahnya. Mungkin inilah tradisi mereka, selalu mengucapkan salam yang singkat dan membalas salam selengkap mungkin. Ini hanya perkiraanku, murni dari hasil pengamatanku selama ada di sini.


__ADS_2