Penjara Suci

Penjara Suci
PS 62 - Mia


__ADS_3

Tak lama kemudian, aku melihat Mia, dia mendekatiku. Aku memandangnya. Jujur hatiku masih kesal padanya. Tapi mengingat dia adalah satu-satunya sahabatku selepas Ilham meninggal, hatiku berkata kalau aku harus memaafkannya.


Aku masih ragu apakah bisa memaafkannya, jadi aku mengedarkan pandanganku ke arah lain. Tak sengaja mataku bertemu dengan Gus Faiz. Seakan mengerti kebimbanganku, dia mengangguk. Menandakan kalau aku harus memaafkan Mia.


Aku beralih pada Mia, “Indy, g-gue..” Mia tak seperti tak mampu mengatakan apapun.


Tiba-tiba dia memeluk kakiku dan dia menangis di sana.


Aku buru-buru meraih Mia. Kakiku masih patah, jadi aku tidak mau Mia melukai kakiku lebih lama. Lalu aku memilih memeluknya.


Dia balas menatapku, "Gue minta maaf." kata Mia.


Akupun menepuk-nepuk pundaknya. Gus Faiz benar. Aku harus memaafkan Mia. Sama sepertiku yang juga manusia biasa, Mia pun begitu. Kesalahan Mia memang menyebalkan namun aku harus memaafkannya karena kata Gus Faiz ketika kita memaafkan seseorang, hati kita akan lega. Tidak merasakan dendam dan akan selalu merasa damai. Lagi pula manusia itu tempatnya salah. Mungkin kemarin Mia khilaf. Siapa aku yang berhak menghukumnya sedangkan aku pun telah melakukan kesalahan yang hampir fatal pula?


“Gue maafin, Mi, asal lo janji nggak akan ngelakuin itu lagi.” kataku. Mia mengangguk di pelukanku.


"Gue janji gak akan khianatin lo lagi, Ndy." kata Mia.


Aku tersenyum pada Mia. Aku mengangguk.


Semua orang sudah kumintai maaf dan kumaafkan satu persatu. Aku melirik Gus Faiz, aku mulai berpikir apakah aku harus meminta maaf padanya lagi? Seingatku sepertinya saat di kamar tadi aku sudah meminta maaf padanya.


"Nak Faiz?" panggil Mama.


"Iya, Tante?" Gus Faiz yang merasa dipanggilpun mendekat.


Kali ini Gus Faiz ada di samping kiriku. Menunggu Mama mengatakan sesuatu. Mama berada di samping kananku. Kini, aku seperti tembok pembatas di antara mereka.


"Ayo, minta maaf sama Nak Faiz, Sayang!" kata Mama.


Akupun kebingungan. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku sudah meminta maaf pada Gus Faiz bahkan sudah memeluknya tadi di kamar. Bahkan faktanya, Gus Faiz adalah orang pertama yang kumintai maaf saat di kamar tadi.


Aku harus menuruti Mama. Papa memberiku isyarat untuk mengikuti instruksi Mama untuk meminta maaf pada Gus Faiz.


Melihat tatapan Papa, aku refleks langsung mengambil tangan Gus Faiz cepat, menciumnya. "Maaf ya, Gus." kataku, meminta maaf untuk memenuhi permintaan Mama.


"Ehhhhh!" seru semua orang.


Seketika aku tersadar kalau aku baru saja mencium tangan Gus Faiz. Bodoh benar-benar bodoh.


"Eh, maaf Umi, Abah. Nindy refleks. Maaf Abah. Maaf Umi. Maaf." seruku sambil mengatupkan tangan di depan dada dengan muka memelas. Aku benar-benar menyesal.


Semua orang tertawa. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Gus Faiz. Sungguh. Aku malu sekali.


Bodoh sekali kamu, Nindy! - batinku.


***


Setelah acara maaf-maafan selesai. Aku tersenyum lega. Bodoh sekali aku yang menyia-nyiakan mereka. Bodoh sekali aku yang selalu dibutakan oleh setan terkutuk. Andai saja Gus Faiz tidak masuk ke kamar rumah sakitku ini tadi. Aku yakin mataku pasti masih buta hingga sekarang.


Terima kasih ya Allah. Hari Raya Idulfitri kali ini benar-benar istimewa. Di hari penuh ampunan ini, Aku memohon ampunan-Mu, ya Allah. Terima kasih karena telah mengirim Gus Faiz untuk meluruskan segalanya. - batinku.


Melihat semua orang berada di rumah sakit. Aku memutuskan untuk meminta pulang pada Mama. Aku yakin sejak aku masuk rumah sakit, tidur dan makan semua orang yang menjagaku tidak teratur. Aku tidak mau semua orang sakit.


"Mama, boleh ya, Nindy pulang?" kataku memohon pada Mama.


"Lho kenapa? Kamukan belum sembuh." kata Mama.

__ADS_1


"Nindy mohon, Ma. Nindy mau pulang. Nindy kangen kamar Nindy." kataku.


Mamapun menyetujui permintaanku. Beliau langsung memberi tahu Papa untuk mengurus administrasi. Tak lama kemudian seorang dokter datang dan menanyakan hal-hal yang kurasa konyol mengenai perasaan. Namun, mungkin itu salah satu pertanyaan medis. Setelah lulus pemeriksaan. Akhirnya aku di perbolehkan pulang dengan catatan setiap tiga hari harus cek up ke rumah sakit.


Setelah semua setuju, singkat cerita aku, keluagaku, Gus Faiz, dan keluarganya pulang ke rumahku.


Kami sampai rumahku jam 7 malam hari. Ketika semua orang memutuskan untuk mengobrol di ruang tamu aku masih di dalam kamar bersama Mia, aku ingin menuntut penjelasan darinya.


“Ndy, gue pulang dulu ya.” kata Mia.


“Nggak gue izinin sebelum lo jawab pertanyaan gue.” kataku.


Mia terus memasang tampang bohongnya. Aku menuntutnya penjelasan akan perutnya yang lebih besar untuk gadis seramping dia.


“Ini kesalahan gue, Ndy, anggap aja teguran dari Allah buat gue.” kata Mia.


"Bukannya belum ada sebulan?" tanyaku. Seingatku ketika aku mendapati dia dan Revan melakukan hal yang melanggar norma itu lewat telepon belum genap sebulan.


Matanya berkaca-kaca walaupun bibirnya terus memaksakan senyum. "Maafin gue, Ndy." katanya. Wajahnya terlihat sangat merasa bersalah.


Hatiku mencelos. Ternyata Mia dan Revan sudah berhubungan sejak aku masih pacaran dengan Revan.


"Bodoh." kataku.


"Iya, Nin. Gue bodoh banget. Gue gak mikir panjang. Gue nyesel banget, Nin. Gara-gara kelakuan gue ini gue dijauhin sama semua orang." kata Mia. Dia menangis lagi.


Aku mengerti bagaimana perasaannya, meski aku merasa sakit karena dikhianatinya, namun sepertinya sanksi sosial yang dia terima jauh lebih menyakitkan dari apa yang kurasakan. Aku memeluknya, dan tumpahlah air matanya di pundakku himingga dia berhenti menangis. Setelah selesai menangis, diapun melepaskan pelukanku sambil tersenyum.


“Guekan bukan Faiz, Ndy.” goda Mia.


"Lo, liat?" tanyaku.


Mia mengangguk dalam bekapanku. Saat aku mulai berpikir dia melepaskan diri. Aku hendak protes dan menyuruhnya tutup mulut.


“Diem-diem lo!” kataku. Disusul kekehannya.


“O iya, gue setuju kalau lo sama Faiz.” kata Mia.


“Berisik!” kataku sok-sok marah.


“Pokoknya gue tunggu beberapa tahun lagi, kalo misalnya di kartu undangan pernikahan lo namanya buka Faiz gue gak mau dateng.” kata Mia.


Aku menjitak kepalanya. “Ngawur lo, sono pulang!” kataku.


“Tadi gue nggak boleh pulang, sekarang gue disuruh pulang, plin-plan dah lo lama-lama hahaha.” kata Mia lagi.


Setelah asyik bercanda lalu kamipun diam. Aku ingin mendiskusikan satu hal pada Mia. Meski dia orang yang menyebalkan, dia adalah pendengar dan pemberi nasihat yang baik.


“Mi, kalau misalnya gue kembali ke pesantren gimana?” tanyaku.


“Gimana apanya? Bagus dong." kata Mia.


"Tapi, Mi. Gue udah bikin onar terus di sana." kataku.


"Lha emang kenapa? Justru bagus dong dengan lo ke sana, lo bisa perbaiki apa-apa yang lo rusak di sana, sekalian memperbaiki diri gitulah." kata Mia.


Aku terdiam. Mia benar. Di pesantren itu masih banyak yang ingin aku benahi.

__ADS_1


"Tapi gue udah malu banget sama Umi sama Abah." kataku.


"Orang tuanya, Faiz?" tanya Mia.


Aku mengangguk.


"Gue liat mereka baik kok, Ndy. Kayaknya lo gak perlu malu. Lagian lo udah minta maaf. Lo juga deket banget sama Uminya Faiz. Gue yakin si kalo lo bilang mau ke pesantren lagi mereka gak akan keberatan. Justru malah seneng." kata Mia.


"Apa iya, Mi?" tanyaku.


Mia mengangguk mantap


"Gue yakin lo juga udah mulai nyaman kan di sana? Gue selalu dukung lo dari sini.” kata Mia.


“Tapi Mi, terus elo?” tanyaku lagi. Aku tahu sahabatnya hanya aku. Dan kejadian ini pasti mengguncang jiwanya. Walau dia keliahatan tegar namun aku tahu dia tak setegar itu. Dia pasti butuh sahabat di sisinya.


“Ada orangtua gue, Ndy, lo nggak usah khawatir. Dan ada Revan, kemarin dia dateng ke rumah dan dia bilang akan tanggung jawab.” kata Mia.


Aku menimbang-nimbang kata-kata Mia. Syukurlah kalau memang Revan mau bertanggung jawab atas perbuatannya.


“Lagian gue nggak bakalan bisa maafin diri gue sendiri kalau misalnya elo di sini cuma karena gue, karena gue tau kebahagiaan sejati lo bukan di sini.” kata Mia. "Tapi di si babang tamvan." lanjut Mia.


Aku memukulnya menggunakan bantal, menyebalkan sekali. Dia tertawa.


"Lo sembuh dulu aja yang penting. Baru deh kalo udah sembuh lo langsung ke sana." katanya lagi.


Aku kembali diam. Kini pikiranku beralih ke Kak Ulfa. Dari pandanganku. Kak Ulfa juga sepertinya menyukai Gus Faiz.


“Tapi, Mi,” kataku.


“Apa lagi?” tanya Mia.


“Kak Ulfa gimana, Mi? Kayaknya dia suka sama Gus Faiz.” kataku lirih. “Dia kakak gue, gue sayang sama dia dan gue nggak mau ngerusak kebahagiaan dia.” sambungku lagi.


“Kata siapa kakak suka sama Gus Faiz?” tanya Kak Ulfa yang tiba-tiba datang menghampiriku. Aku menggigit bibir dan melotot pada Mia yang tidak memberitahuku kalau ada Kak Ulfa di belakangku, dia hanya nyengir kuda.


“Denger baik-baik ya Nindy, bagi kakak ada yang lebih menarik di banding Gus Faiz.” kata Kak Ulfa lagi.


“Maksudnya?” tanyaku mulai memutar otak.


Jadi, Kak Ulfa menyukai orang lain? “Siapa?” tanyaku.


Kak Ulfa hanya mengedipkan matanya. Tak mau memberi tahuku.


"Ih, Kakak." kataku merajuk.


“Hei, adik-kakak yang baru akur, Princess mau pulang ini.” kata Mia.


“Nggak ada princess gendut kayak lo, yang ada nenek sihir.” kataku pada Mia. Dari dulu dia sangat sensitif dengan kata gendut. Dan benar saja dugaanku, dia sudah mulai mengerucutkan bibir.


“Jahat lo.” katanya.


“Canda, canda, yaudah ayok gue anterin keluar.” kataku.


"Emang bisa jalan?" tanya Mia.


"Oiya lupa belum bisa." kataku.

__ADS_1


__ADS_2