Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 32 - Pertemuan Pertama dengan Farha


__ADS_3

Keesokkan harinya aku dan Mas Faiz pergi ke rumah Ilham. Ah, aku sebut Linda saja, aku benar-benar sedih menyebut nama sahabatku itu. Aku benar-benar merindukan Ilham. Rumah itu masih sama seperti 4tahun lalu.


Setelah gerbang dibukakan, mobil kamipun masuk ke halaman rumah Linda. Mas Faizpun memarkirkan mobil. Setelah selesai, alih-alih keluar, Mas Faiz terdiam, matanya menoleh ke arah rumah Linda.


Seketika aku mengerti, dia pun merindukan Ilham sama sepertiku.


“Kamu merindukan Ilham, Mas?” tanyaku.


Mas Faiz menoleh padaku, lalu tersenyum sedih. Aku mengusap bahunya. “Ayo, keluar, Mas.” kataku.


Mas Faiz mengangguk. Kamipun keluar dari mobil. Di sana Tante Yeni dan Om Adi (Orang tua Linda) menyambut kami dengan sangat ramah. Kamipun dibawa masuk ke dalam rumah. Linda yang tahu kedatanganku langsung berlari menghampiriku dan langsung mengajakku masuk juga dengan riang.


Kini, Mas Faiz mengobrol dengan Ayah Linda. Aku duduk di samping Tante Yeni. Linda pergi membuatkan minum.


“Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, Nak.” kata Om Adi pada Mas Faiz.


“Iya, Om. Sudah lama sekali. Aaron di mana ya, Om?” tanya Mas Faiz.


“Ada, sebentar lagi juga dia turun.” kata Om Adi.


PRANG!!!


Aku, Mas Faiz dan kedua orangtua Linda langsung terjut mendengar suara gaduh itu.


“Pergi!” suara seseorang.


Suara Farha. Aku sangat mengenal pemilik suara itu.


Tante Yeni dan Om Adi buru naik ke lantai dua menghampiri suara yang berasal dari kamar Aaron. Aku dan Mas Faiz mengekori dari belakang.


“Tolonglah, Far. Jangan seperti ini!” seru Aaron pada Farha. Sambil mencekal pergelangan tangan Farha.


Kali ini Farha tidak memakai kerudung. Mas Faiz tidak aku bolehkan masuk.


“Ya Allah, Nak. Ada apa lagi sebetulnya. Mengapa setiap hari kerjaan kalian rebut terus?” seru Om Adi.


“Lepaskan aku!” seru Farha. “Aku tidak sudi disentuh pembunuh sepertimu!” seru Farha.


Kini mata Om Adi dan Tante Yeni terlihat sangat sedih mendengar kata-kata yang keluar begitu saja dari bibir Farha.


“Farha..” kataku, mencoba mendekat.


“Mbak Nindy?” tanya Farha.


Aku mengangguk, “Iya, Farha ini aku.” kataku.


Semua orang terdiam. Melihat Farha tenang melihatku, Aaron buru-buru melepaskan tangannya di pergelangan Farha. Akupun mengambil sebuah kerudung pashmina yang kebetulan ada di atas tempat tidur lalu kupakaikan pada Farha. Akupun membawanya ke taman belakang rumah Linda. Mencari tempat sepi agar aku bisa lebih leluasa mengobrol dengan Farha.


Lagi-lagi semua orang hanya diam. Hanya suara helaan nafas lega yang bisa kudengar dari punggungku. Sesampainya di belakang rumah kami duduk di bangku yang ada di sana.

__ADS_1


“Apa kabar?” tanyaku pada Farha.


“Buruk.” jawab Farha.


“Aku sangat merindukanmu.” kataku.


Aku memeluk Farha. Dia menangis di pelukanku. “Bawa aku pergi dari sini, Mbak. Aku mohon, bawa aku pergi dari rumah ini.” katanya.


Aku mengusap bahunya, mencoba menenangkan Farha. “Kamu kenapa? Kenapa kamu bisa seperti ini, Far?” tanyaku.


“Aku tidak tahan, Mbak. Setiap melihat wajah Mas Aaron, bayangan Bapakku muncul. Bagaimana mungkin aku putrinya, setelah apa yang dilakukan Mas Aaron justru menikahinya.” kata Farha. Dia menangis sesengukkan.


Aku kembali menusap punggung Farha. “Far, hidup atau meninggalnya seseorang itu kuasa Allah..” kataku.


“Kalau Mas Aaron tidak menabrak Bapak, Bapakku masih hidup, Mbak!” seru Farha.


“Mungkin ini sudah takdir yang digariskan Allah, Far.” kataku.


Farha terlihat sedikit bisa menerima kata-kataku. Aku hampir menghembuskan nafas bila seseorang tidak hadir diantara kami mengganggu acara kami.


“Kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu tidak tahu rasanya, Nin!” seru seseorang, suaranya Kak Ulfa.


Aku menoleh. Dan benar saja, di sana aku mendapati Kak Ulfa sedang berjalan ke arahku. Aku menoleh ke arah Farha. Raut wajah Farha yang tadinya sudah cair kini tegang kembali. Aku menatap kakakku tajam. Dia benar-benar jahat.


“Tidak, Farha. Dengarkan aku, aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan..” belum sempat kuselesaikan kata-kataku, Kak Ulfa kembali memeotong.


“Bukankah kalau kau berdamai dengan suamimu Bapakmu di surga akan menangis, Far?” tanya Kak Ulfa.


“Kamu benar Mbak.” kata Farha pada Kak Ulfa.


“Tunggu, Farha! Jangan dengarkan kata-kata kakakku! Kak, tolong jangan seperti ini!” seruku.


“Kau, pulanglah ke rumahku, Farha. Jangan sampai kau hanya di sini dan terus membatin.” kata Kak Ulfa.


“Bolehkah aku pergi bersamamu, Mbak?” tanya Farha.


Kak Ulfa mengangguk. Aku menggelengkan kepala. “Tidak, Kak. Farha akan tetap di sini bersama suaminya!” seruku.


“Iya, kau tidak boleh kemana-mana Farha!” seru Linda.


Aku menoleh, mendapati Linda di sampingku. Aku benar-benar malu dan tidak enak pada Linda. Karena kata-kata Kak Ulfa yang terdengar sedang memprovokasi.


“Tentu saja boleh. Sebagai sa-ha-batmu, aku tentu tidak mau melihatmu menderita di sini bersama pembunuh bapakmu.” kata Kak Ulfa.


“Benarkah begitu? Terima kasih banyak, Mbak Ulfa.” kata Farha sambil memeluk Kak Ulfa.


Aku dan Linda terdiam di tempat. Tak lama kemudian, Tante Yeni datang diantara kami. Dia menatap bingung, ketegangan di antara kami. Melihat Tante Yeni datang, Farhapun melepaskan pelukannya pada Kak Ulfa, lalu wajahnya kembali tegang.


“Kamu pergilah dulu bersiap-siap di kamar, aku kan berbicara pada Tante Yeni.” kata Kak Ulfa.

__ADS_1


Farhapun pergi ke kamarnya meninggalkan kami tanpa permisi.


Deg!


Seketika aku meragukan apa yang aku lihat. Farha terlihat seperti bukan Farha. Farha yang biasanya begitu sopan bisa bertingkah tidak peduli seperti itu. Sepertinya lukanya sangat dalam. Ini bukanlah Farha yang biasanya.


“Bersiap-siap?” tanya Tante Yeni bertanya.


“Tante, saya izin membawa Farha untuk tinggal di rumah saya beberapa waktu.” kata Kak Ulfa.


“Tidak bisa. Saya tidak memberikan izin kepada siapapun membawa istri saya pergi dari rumah ini!” seru Aaron.


“Ron, saya hanya bermaksud baik. Lihatlah istrimu, dia kacau seperti itu, dia hanya butuh beberapa waktu untuk menyembuhkan lukanya.” kata Kak Ulfa, mencoba meyakinkan Aaron.


“Jangan, Ron. Jangan biarkan Farha pergi.” kataku.


“Kau benar-benar sahabat yang baik. Hingga membiarkan sahabatmu terus-terusan terpuruk.” sindir Kak Ulfa kepadaku.


“Tapi, sebenarnya Mama setuju pada Nak Ulfa, Ron. Siapa tahu dengan beberapa hari di luar, Farha menjadi sedia kala.” kata Mama.


Aaron terlihat memikirkan kata-kata Tante Yeni, lalu dia mengangguk. Aku menggeleng.


“Baiklah, Ma..” kata Aaron.


“Farha, biarkan tinggal bersamaku saja jangan bersama Kak Ulfa.” kataku.


“Memangnya kenapa kalau dengan Nak Ulfa?” tanya Tante Yeni.


Aku tidak bisa mengatakan kalau Kak Ulfa berniat buruk karena aku tidak memiliki bukti dan aku tidak bisa menjelekkan kakakku sendiri di depan semua orang. Andai saja boleh memilih, aku lebih baik berseteru dengan orang lain dari pada berseteru dengan kakakku sendiri. Meski jauh lebih baik jika tidak berseteru dengan siapapun.


“E.. anu..” kataku mencoba memikirkan jawaban yang bisa menyakinkan.


Kak Ulfa tersenyum sinis melihatku tidak bisa menjawab.


“Karena saya sahabat Farha, Tante.” kataku.


“Sayapun sama, Tante. Bukankah bila ikut bersamaku Farha akan tinggal di rumahku dan Nindy juga bisa terus bertemu dengannya? Lagi pula kami kakak beradik.” kata Kak Ulfa.


Tante Yeni mengangguk. Dan semua orang pun setuju kalau Farha akan pergi bersama Kak Ulfa.


“Kita tanyakan pada Farha dulu saja. Dia ingin memilih ikut dengan Ulfa atau Nindy.” kata Aaron.


Tak lama kemudian, Farhapun datang.


“Ayo, Mbak Ulfa.” kata Farha, langsung berjalan melewati kami tanpa berpamit.


“Kemana sopan santunmu?” seru Aaron kesal.


“Sabar, Nak.” kata Tante Yeni menyabarkan Aaron.

__ADS_1


“Kami permisi dulu, Assalamualaikum.” kata Kak Ulfa.


“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” kami semua menjawab salam Kak Ulfa.


__ADS_2