Penjara Suci

Penjara Suci
PS 67 - Perpisahan


__ADS_3

Mengingat aku kan meninggalkan teman-temanku, mataku langsung sukses berkaca-kaca. Tapi, aku tidak boleh menangis. Masih banyak orang di sini.


Akupun memilih memandang ke atas, mencoba menahan air mataku.


"Langsung aja yuk, Ma, ke pondoknya Nindy, biar kita bisa cepat pulang. Nindy pasti udah kangen sama kamarnya. Iya kan, Nak?" tanya Papa.


Tidak, Papa. Aku masih ingin di sini. -batinku.


Aku tersenyum. Mengangguk. Aku tak mau membuat hati Papa sedih bila aku menyangkalnya.


Aku, Kak Ulfa, Mama, dan Umipun pergi ke pondokku. Di kamar semua sudah kurapikan kemarin bersama Arum dan Linda. Jadi, kami hanya perlu membawanya saja.


"Ma, boleh sebelum pergi Nindy pamit sama teman-teman Nindy dulu?" tanyaku.


"Boleh, Sayang. Kami tunggu di mobil ya." kata Mama.


"Terima kasih, Ma." kataku.


Akupun berpamitan dengan teman sekamar. Setelah itu, aku menatap lemari Farha lama. Air mataku turun. "Farha, semoga suatu saat nanti aku bisa ucapkan selamat atas semua pencapaianmu secara langsung." kataku sambil mengusap lemari Farha.


Mataku kembali berkaca-kaca. Aku menahan air mataku.


Allah..- batinku. Air mataku kembali menderas.


Aku buru-buru mengusap air mata dan pergi mencari Arum. "Arum.." panggilku.


"Mbak!" serunya. Dia langsung memelukku. Aku pun membalas pelukannya.


"Aku pamit, Rum." kataku pada Arum.


Air mata kamipun kini berlinangan. Arum mengangguk. Kami tahu, cepat atau lambat ini semua akan terjadi. Bukankah setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan?


"Maafkan aku, Rum. Maafkan aku kalau selama aku ada di sini selalu ngerepotin kamu." kataku.


"Jangan bilang begitu, Mbak. Kita saudara semuslim, aku sudah anggap Mbak sebagai kakakku sendiri, jadi aku ndak pernah merasa Mbak merepotkan. Justru aku yang berterima kasih sama Mbak karena membantuku belajar banyak hal." kata Arum.


Aku mengangguk. "Aku juga makasih ya sama kamu. Dan maaf soal insiden kamar mandi saat pertama kali aku datang. Kayaknya aku belum minta maaf soal itu." kataku.


Arum tertawa. Mengingat kejadian itu, akupun ikut tertawa.


"Kalo aja ada Farha ya, Rum. Kita pasti lengkap." kataku.


Arum terdiam. Aku pun tak bisa melanjutkan kalimatku. Membicarakan soal kepergian Farha sebelum kelulusan begitu membuat kami sedih. Seperti halnya aku, Arum sepertinya juga merasakan hal yang sama.


"Semoga kita bisa ketemu sama dia ya, Mbak." kata Arum.


Aku mengangguk. "Amin."


"Ke Linda, yuk?" kataku mengajak Arum.


Arum mengangguk. "Ayok, Mbak." katanya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Linda. Kami langsung menemui Linda. Kali ini dia sedang duduk termenung sendiri. Melihat kami dia langsung berdiri dan memeluk kami berdua.


"Akhirnya kita sampai di titik ini." katanya. Dia pun menangis dan sesengukkan.


Aku memeluknya erat. Kuusap bahunya. Aku harus berterima kasih kepada Ilham dan Aaron karena telah memberikan teman sebaik Linda.


Semenjak kejadian balok 4tahun lalu dan semenjak aku kembali ke pesantren ini, kami berteman baik. Bagiku, Linda adalah adikku juga. Aku benar-benar menganggapnya adik meski usia kita tak jauh berbeda.


"Maafin aku ya, Lin. Aku punya banyak banget salah sama kamu." kataku pada Linda.


Linda menggeleng. Aku mengusap air matanya sambil tersenyum.


"Enggak, Mbak. Justru aku yang punya banyak salah sama Mbak." kata Linda. "Bahkan a-aku udah jahat.."


Aku buru-buru memotong kalimatnya. Aku tidak mau Linda kembali mengingat kejadian menyedihkan di masa lalu. Biarlah masa lalu tetap menjadi masa lalu. Yang penting perbaikan setelahnya. Linda sudah mau berubah dan meminta maaf. Itu cukup untukku memaafkan dia. Lagipula dia adik sahabat-sahabatku dan permintaan maafnya tulus. Jadi, aku tidak punya alasan untuk tidak memaafkannya.


"Sttt.. sudah ya. Jangan diungkit lagi." kataku.


Setelah kami saling meminta maaf dan berterima kasih. Kini tiba waktuku untuk pamit kepada mereka.


"Aku harus pergi." kataku.


"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan ya." kata Arum.


Linda mengangguk mengisyaratkan setuju pada ucapan Arum.


"O iya, ini kartu nama aku. Ada nomor dan alamatnya juga." kataku. "Ini udah lebih dari 4tahuh, tapi Insyaallah masih valid isinya." kataku.


Mereka mengambil kartu nama itu lalu mengangguk.


"Iya, Mbak. Pasti." kata Linda.


"Iya, Mbak." kata Arum


Kamipun berpelukan lagi untuk terakhir kalinya. Meski terasa kurang karena ketiadaan Farha namun kami tetap bahagia bisa saling memiliki.


"Kalau salah satu dari kita tahu kabar Farha saling kasih kabar ya." kataku.


Mereka mengangguk.


Arum dan Linda berniat mengantarkanku. Namun, aku tak mau mereka mengantarkanku semakin jauh. Karena itu akan membuat aku merasa semakin sulit untuk pergi.


"Sampai sini saja. Kalau kalian ikut aku sampai parkiran aku nggak tahu bakal bisa pergi atau nggak." kataku, sesampainya di depan tangga.


Mereka memelukku lagi. Ternyata pelukan tadi bukanlah yang terakhir. Pelukan singkat yang begitu menyakitkan.


"Hati-hati di jalan, Mbak." seru Arum dan Linda.


Aku tersenyum ke arah mereka. Lalu berbalik, turun, dan menjauh. Dadaku sakit sekali. Rasanya aku tak mau berpisah. Aku begitu menyayangi mereka.


Kini kepalaku dipenuhi dengan memori-memoriku tentang pondok ini. Memori tentang bagaimana aku datang, percobaan bunuh diri dan kabur, mengenal Gus Faiz, mengenal teman-temanku, Mengenal Abah dan Umi, dihukum, terpuruk, hingga tersadar.

__ADS_1


Saat turun ke lantai bawah aku menatap kamar mandi yang juga memiliki banyak sejarah tentang seorang Nindy. Aku teringat saat-saat aku menyeret Arum, menangis mengingat Ilham, dan mencuci sambil bercanda bersama Arum, Farha, dan Linda.


Selamat tinggal. -batinku.


Saat aku berjalan aku melewati jalan menuju gang sempit. Tempat pertemuan aku dan Aaron. Juga tempat pertemuanku dengan Gus Faiz.


Mengingat Gus Faiz. Aku jadi kembali sedih. Namun, aku buru-buru tersadar.


Jangan biarkan aku lebih mencintai makhluk-Mu hingga aku melupakan-Mu, ya Allah. - batinku.


Aku menepuk dadaku. Lalu berjalan lagi menuju parkiran. Namun, saat sampai di depan rumah Abah. Aku kembali mengingat Gus Faiz.


Aku menggelengkan kepala. Mencoba menghapus pikiran-pikiranku tentang Gus Faiz.


Aku berjalan lagi, menoleh ke sebuah gang yang mengantarkanku pada taman teman aku bertemu Zahra dan dua anak kecil yang pernah kumintai beli roti. Taman itu pula tempat Abah mendapatiku memeluk Gus Faiz. Mengingat aku pernah memeluk Gus Faiz, aku merasakan pipiku panas, sepertinya merah.


Tidak, Nindy. Jangan terus memikirkan Gus Faiz. -batinku.


Aku berjalan lagi. Lalu kulihat pelataran Masjid tempat aku dan Gus Faiz di hukum. Aku kembali mengingat bagaimana Gus Faiz rela menerima hukuman hanya karena seorang, Nindy. Aku belum sempat berterima kasih kepadanya soal ini.


Aku memandang pelataran Masjid sambil tersenyum. Ntah mengapa kini memoriku kembali ke saat-saat aku berada di stasiun bersama Aaron, dan aku kembali teringat kata-kata Gus Faiz.


Demi Allah saya tidak bohong. Saya benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hati saya. Saya tidak ingin kamu pergi jauh dari saya. Saya mohon, An. Kembalilah pada saya. Hanya kamu gadis yang saya cintai selain Umi. Saya mohon! Kembalilah pada saya! Saya mohon! -suara Gus Faiz.


Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu. Meski diam-diam aku masih mengharapkan keseriusannya. Namun aku sadar. Empat tahun adalah waktu yang lama. Rasanya hampir mustahil kalau dia masih merasakan hal yang sama.


Lagi pula, Gus Faiz itu anak Abah. Seorang santri biasa sepertiku rasanya tidak pantas bersanding dengan seseorang yang istimewa seperti dirinya.


"Karena kamu, saya jadi tahu bagaimana rasanya jadi tuyul pesantren." suara Gus Faiz. Aku menoleh. Dia terkekeh.


Aku tertegun, lalu menoleh sebentar. Memastikan kalau suara ini milik Gus Faiz. Seseorang yang sedari tadi aku pikirkan.


Mendengar frasa 'tuyul pesantren' membuatku mau tak mau terseyum. Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain. Istilah tuyul pesantren ini cukup populer di pesantrenku. Istilah yang digunakan untuk memanggil orang yang dibotaki karena telah melakukan kesalahan yang cukup meresahkan.


"M-maafkan aku untuk itu." kataku. Aku tak berani menatap wajah Gus Faiz. Aku menunduk.


"Hanya karena itu?" tanya Gus Faiz.


"Maaf untuk semuanya." kataku. "Dan.."


Aku mulai bingung bagaimana mengatakan kalau aku sangat berterima kasih kepadanya karena sudah berhasil membawaku melewati masa-masa mengerikan itu.


Bukan hanya itu, aku ingin sekali menanyakan kabarnya. Namun, aku tidak berani.


"Dan?" katanya.


Bagaimana ini? - tanyaku dalam hati.


"A-aku harus pergi. Permisi." kataku. Lalu berbalik dan berjalan menjauh.


Aku menempelkan tangan di dada untuk menetralisir debaran hatiku. Ternyata meski sudah bertahun-tahun berlalu, rasa itu masih terus ada.

__ADS_1


"Tunggu, An!" kataku. Aku merasakan dejavu.


Aku menghentikan langkahku.


__ADS_2