Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 33 - Kejahatan yang Tertanam


__ADS_3

Linda membawaku ke kamarnya. Di dalam kamarnya aku duduk di tepi tempat tidur Linda. Dia seperti ingin berbicara banyak padaku. Dan kami tentu tidak mungkin membicarakan banyak hal di ruang tamu. Aku terdiam. Pikiranku kini tertuju pada Farha.


Aku benar-benar tidak tenang melihat Farha ikut Kak Ulfa. Aku tidak mau Kak Ulfa memberikan pengaruh buruk pada Farha.


“Sejak berapa lama, Mbak?” tanya Linda.


Dia duduk di sampingku. Matanya menyelidik ke arahku.


“Apa?” tanyaku, pura-pura tak mengerti.


“Mbak Ulfa yang terang-terangan membenci, Mbak?” tanya Linda.


Aku terkejut. Aku tidak pernah menceritakan apa yang Kak Ulfa lakukan padaku, namun, Linda bisa melihat kebencian itu dengan jelas. Aku muali berpikir, sepertinya kebencian itu benar-benar terlihat. Apa Kak Ulfa benar-benar sampai hati untuk membenciku?


“A-apa terlihat begitu jelas?” tanya Linda.


Dia mengangguk.


“Setelah menikah." kataku sedih. "Aku benar-benar bingung, Lin. Di satu sisi aku sangat ingin berbagi cerita ini denganmu namun di sisi lain bila kuceritakan apa yang telah terjadi, aku takut tindakanku akan termasuk ke bagian menjelekkan kakakku sendiri, akupun takut aktivitas ini masuk ke ranah gibah.” kataku.


“Mbak kan tidak berniat buruk. Hanya sebagai upaya untuk menghilangkan beban di hati saja. Ceritalah, Mbak. Siapa tahu aku bisa memberikan solusi, toh niat mbak bukan untuk membuat reputasi Mbak Ulfa buruk. Mbak hanya butuh seseorang untuk berbagi.” kata Linda. Matanya menatapku lekat.


Aku mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Linda. Untuk saat ini aku belum bisa menceritakan apa yang Kak Ulfa lakukan pada Mama, karena aku yakin, Mama tidak akan percaya padaku. Dan akupun tidak mau menambah beban di kepala Mama. Satu-satunya jalan adalah menceritakan pada Linda. Linda adalah sahabatku, aku tidak lagi bisa meragukan kebaikan dan kesetiakawanannya padaku. Lagi pula aku yakin dia tidak akan menceritakan ceritaku ini kepada orang lain.


Aku masih ragu untuk memilah mana yang bisa ku ceritakan. Mana yang tidak bisa.


“Kutebak, Mbak Ulfa juga mencintai Gus Faiz.” celetuk Linda.


Akupun terkejut. Aku menatap Linda. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Linda bisa langsung membaca situasi.


“Bagaimana kau tahu?” tanyaku keceplosan.


Linda menghela nafas. “Sesuatu yang aku takutkan ternyata benar-benar terjadi, Mbak. Apa Mbak ingat ketika kejadian 4tahun lalu saat Mbak kutuduh maling?” tanya Linda.

__ADS_1


Aku mengangguk. Linda menatapku, “Mbak Ulfa yang pertama kali melaporkan hilangnya uang Supri.”


Lagi-lagi terkejut. “Apa?” tanyaku tidak percaya. Aku sedikit meragukan pendengaranku.


Linda mengangguk. “Iya. Dialah yang melaporkan hilangnya uang Supri untuk pertama kali. Jadi, sebetulnya yang memfitnah Mbak, bukanlah aku, melainkan Mbak Ulfa secara tidak langsung, karena dia dengan halus memancingku untuk menyeret Mbak ke persidangan.” kata Linda.


“Tidak mungkin, kalau Kak Ulfa memang merencanakan ini, mengapa dia ikut mencari kartu ATM-ku untuk membebaskanku waktu di siding?” tanyaku.


“Apa Mbak melihat dengan mata kepala Mbak sendiri kalau Mbak Ulfa mencari ATM itu? Aku yakin tidak, karena aku tahu bagaimana Mbak, Farha, dan Arum terus mencari ATM itu. Jika Mbak Ulfa ikut mencari pasti sesekali kalian pasti akan berpapasan.” kata Linda.


Aku mulai mengingat-ngingat apa yang terjadi di masa lalu. Namun, yang dijelaskan Linda memang benar-benar betul. Aku memang tidak melihat Kak Ulfa mencari ATM itu dahulu. Aku hanya tahu itu dari Kak Ulfa melalui Farha.


"Jadi, ATM itu.." kataku.


"Iya, dia yang menyembunyikannya. Aku pengurus, Mbak. Saat itu aku mengawasi Mbak Ulfa, namun dia memang tidak kemana-mana." jawab Linda.


“Tapi, untuk apa Kak Ulfa sampai memfitnahku?” tanyaku tidak mengerti.


“Alasannya hanya satu, dia ingin menarik perhatian Gus Faiz. Dulu saat aku masih menyukai Gus Faiz, eh aku tidak bermaksud apa-apa ya, Mbak. Sungguh. Aku sudah tidak memiliki perasaan itu lagi sekarang, aku harap Mbak tidak menyalah-artikan.” kata Linda, dia terlihat sangat takut kalau aku sampai salah paham.


Linda menarik nafas lega. “Dulu aku sering sekali melihat Mbak Ulfa mendekati Gus Faiz, namun Mbak tentu tahu bagaimana dinginnya Gus Faiz. Gus Faiz tidak pernah merespons, hanya saat kita berdua bertemu dan mendapati Gus Faiz yang tertawa dengan Mbak Ulfa, sebetulnya Mbak Ulfa sedang membicarakan kelucuan Mbak saat kecil, jadi Gus Faiz tertawa, Gus Faiz tentu sangat tertarik dengan kisah hidup Mbak ketimbang mendengar kata-kata cari perhatian dari Mbak Ulfa yang lain.” kata Linda.


Aku menahan nafas. Sakit sekali rasanya hatiku mendengar cerita Linda. Bila memang Kak Ulfa sebagaimana yang diceritakan Linda, aku sungguh-sungguh merasa kalau itu sudah kelewat batas.


“Apa yang kamu ceritakan itu benar, Lin?” tanyaku. Mataku seketika memanas. Aku tidak kuasa membendung air mataku.


Siapa yang tidak sakit mendapati fakta kalau Kak Ulfa yang saat itu kukira sangat menyayangiku, dan sangat membuatku merasa bersalah karena dulu aku begitu menyalahkan dia, ternyata.. Aku bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan.


“Aku tidak mungkin berbohong pada, Mbak. Jujur, karena aku mengetahui fakta itu dan aku pun sudah mengatakan kalau Mbak Ulfa munafik saat kejadian balok itu. Aku tidak betah berdekatan dengannya. Aku tidak mungkin menceritakan ini semua karena aku tidak memiliki bukti. Aku tentu tidak mau menceritakan ini semua pada Mbak karena bagaimanapun hubungan Mbak baru baik dengan Mbak Ulfa dan karena Mbak Ulfa kakaknya Mbak, aku yakin bila kuceritakan saat itu, Mbak tidak akan mempercayainya.” kata Linda.


Aku sudah tidak tahan lagi menahan air mata, dan air matakupun berlinangan. Mau tak mau isakan demi isakan meluncur begitu saja dari bibirku.


Allah.. sakit sekali. – batinku.

__ADS_1


“Aku benar-benar tidak ingin mempercayainya, Lin. Tapi.. aku, aku..” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.


Linda mendekatiku lalu memelukku. “Maafkan aku, Mbak. Aku tidak berniat untuk menyakiti hati, Mbak.” Katanya.


Aku hanya bisa mengangguk. “Aku bingung, Lin. Mengapa bisa Kak Ulfa begitu jahat padaku hingga hari ini?” tanyaku.


“Istighfar, Mbak, tenangin diri, Mbak. Aku yakin suatu saat nanti Mbak Ulfa akan berubah.” kata Linda.


Tiba-tiba terlintas di benakku mengenai Dimas. Aku ingin mengetahui apakah, Dimas benar-benar sepupu Linda atau bukan.


“Kau kenal Dimas?” tanyaku.


Linda melepaskan pelukanku lalu mengangguk. Dia terlihat terkejut mendengar pertanyaanku.


“Apa kamu mengenal Mas Dimas?” tanya Linda.


“Apa dia sepupumu?” tanya Linda.


Linda mengangguk lemah, “Namun, aku berharap dia bukanlah sepupu atau saudaraku, Mbak.” lanjut Linda.


“Lho, memang kenapa?” tanyaku.


“Dia jahat, Mbak. Tunggu, bagaimana Mbak tahu tentang Mas Dimas? Mbak tentu belum pernah bertemu langsung dengannya, kan?” tanya Linda.


“Saat kemarin aku berbulan madu bersama Mas Faiz, kami bertemu.” kataku.


“E.. Apakah terjadi sesuatu?” tanya Linda.


Aku mengangguk. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku.


“Begitulah dia, Mbak. Itulah mengapa aku tidak ingin memiliki saudara seperti dia. Padahal diapun sama seperti kita, lulusan pesantren, bahkan pesantren bagus. Tapi ya, seperti itulah manusia, kadang sukar mengamalkan amalan yang telah didapatnya.” kata Linda.


“Apa dia benar-benar berbahaya?” tanyaku.

__ADS_1


Aku berpikir mengenai kerja sama yang ditandatangani oleh suamiku di restaurant malam itu. Aku tentu melihat bagaimana suamiku menandatangani surat kerjasama itu. Seketika hatiku gelisah. Aku harus menanyakan kelanjutan poyek itu pada Mas Faiz.


“Kalau menurutku dia jauh dari bahaya, Mbak. Obsesinya sering membutakan matanya, jadi aku sekeluarga selalu mengindarinya, tak pernah mau mencari perkara dengannya.” kata Linda.


__ADS_2