Penjara Suci

Penjara Suci
PS 40 - Hilangnya Uang Supri


__ADS_3

“Inilah, kakak gue yang paling dan selalu sempurna. Dia nggak pernah punya kecacatan sedikitpun. Dia begitu perhatian ke gue, selalu belain gue di hadapan orang tua gue, selalu mengagung-agungkan gue di hadapan semua orang, dan cuma dia yang rela mohon-mohon biar gue gak dimasukin kepenjara suci ini! O, iya, dia bahkan rela menggantikan gue ketika gue ditampar sama orang tua gue sendiri atas kesalahan yang gue gak ngerti. Iyakan, Kak? Sebuah contoh kakak yang baik. Lo semua harus tau!” kataku, sarkas.


Suaraku memancing santri lain untuk mendekat, biar saja. Biar Arum dan semua orang tahu kesempurnaan yang dimiliki Kak Ulfa. Kesempurnaan yang tak pernah aku tahu bagaimana wujudnya.


Kini di hadapanku sudah banyak santriwati yang penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


“Nin..” Kak Ulfa kini menangis. Begitu juga dengan Arum dan Farha.


"Lho, kenapa nangis, Kak? Oh iya, gue tau, biar lo tambah terlihat sempurna kan?" kataku.


"Nindy.. Kakak mohon." kata Kak Ulfa.


“Fans lo banyak tuh. Rasanya gue yang hina ini udah gak pantes lagi jadi adik seorang kakak sempurna kayak elo.” kataku. Lalu berjalan menjauhi mereka semua.


Langkahku terhenti sesampainya aku di tempat aku menyuruh anak kecil membeli roti, tempat yang menyebabkan aku dan Gus.. Sudahlah lupakan. Anggap bagian itu tidak pernah ada di kisah hidupku.


Air mataku jatuh. Aku menyekanya cepat.


“Mbak jangan sedih begitu, aku jadi ikut sedih, sebenernya ada apa, Mbak? Cerita aja, Mbak, biar lega.” kata Arum. Dia benar-benar menyayangiku tulus sepertinya. Karena lihatlah dari sekian banyak santri yang dekat denganku di sana bahkan ada kakakku di sana hanya dia dan Farha yang ada di sampingku saat ini.


“Pergi!” kataku.


“Mbak..” kata Farha.


“Pergi!” kataku, nadaku naik beberapa oktaf.


“Tapi, Mbak..” kini suara Arum, ada suara serak di sana.


“Pergi.” kataku.


Farha dan Arum masih tak bergeming. Kini kudengar suara isakan kecil dari mulut mereka. Aku tak menyuruh mereka pergi lagi karena percuma saja walau dengan kelembutan hatinya, keanggunannya, mereka tetaplah anak yang berwatak keras kepala yang setia kawan.


Kini kami sama-sama diam. Farha menghela nafas, mencoba menstabilkan keadaannya sendiri. Arum pun melakukan hal serupa.


***

__ADS_1


“Mbak Nindy, mau ikut atau tidak?” tanya Supri. Nada suaranya begitu aneh. Dan terlihat sekali dia menghafal kata-kata itu sebelum bertemu denganku.


Aku menggeleng.


Dia gelagapan. Bingung. Pasalnya dia tidak bisa balik menjawab kata-kataku. Diapun memanggil Farha untuk menerjemahkan bahasanya kepadaku.


“Katanya Supri, yaudah Mbak dia mau pergi dulu sama aku.” kata Farha. Senyumnya masih terukir jelas dibibirnya. Namun rasanya senyum itu tak seceria sebelumnya.


Setelah pamit. Merekapun keluar. Dan di sinilah aku. Sendirian. Tak ada satu anak kamarpun di sini. Akupun memutuskan untuk tidur. Dan terbanglah aku ke alam mimpi.


“Mbak, Mbak Nindy, bangun..” aku merasakan tubuhku diguncang pelan.


“Kenapa?” tanyaku.


“Anu, Mbak. Maaf, sudah membangunkan Mbak. Begini, uang Supri hilang di lemari, dan orang yang terakhir yang ada di kamar ini hanya Mbak.” kata Farha.


Aku masih sulit untuk mencerna kata-katanya. Di satu sisi nyawaku belum sepenuhnya terkumpul dan di sisi lainnya aku belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Farha yang menangkap sinyal kebingunganku mengulangi kata-katanya lagi.


"Uang Supri hilang di lemari, Mbak." kata Farha.


“Lo nuduh gue maling?” tanyaku penuh selidik. Yang benar saja. Bagaimana rasanya jika kamu sedang asyik-asyiknya tidur terus dibangunin dan setelah bangun, kamu justru dituduh maling. Padahal, tak ada yang aku lakukan saat tidur.


“Mana ada maling ngaku. Kalo maling ngaku penjara pasti penuhlah, Mbak.” kata Linda.


Beruntung jarakku dengan Linda cukup jauh, jadi aku tidak bisa menamparnya. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan tajam. Supri ada di sampingnya menangis dengan suara isakannya yang begitu memilukan hati. Lagi-lagi santri yang lain ikut-ikutan menonton kami. Sepertinya di mata mereka kejadian seperti ini begitu seru dan sayang jika dilewatkan.


“Atas dasar apa lo nuduh gue maling?” kataku.


“Kita semua juga tau kalo Mbak yang ada di kamar ini sendirian dari tadi.” kata Linda.


"Gue udah bilang kalo gue lagi tidur." kataku.


"Ah, bisa aja, Mbak, bohong. Lagian kalau bohong kan Mbak sendirian jadi ndak ada yang tahu." kata Linda.


“Terus karena gue yang sendirian di sini, trus lo bisa seenak jidat gitu tuduh-tuduh gue?” kataku geram.

__ADS_1


“Lantas siapa lagi, Mbak?” tanya Linda.


“Bisa aja elo. Lo masuk pas gue lagi tidur terus lo ambil uangnya Si Supri.” kataku.


“Lho lho lho, kok jadi aku, Mbak? Enggak, itu fitnah kok Mbak tega sih fitnah begitu?” kata Linda.


“Itu juga yang lagi lo lakuin ke gue! Lo fitnah gue seenak jidat lo, giliran lo gue fitnah balik lo malah gak terima, ya gue juga gitu.” kataku, menaikkan nada bicaraku.


Aku kehilangan seorang Anindya Athaya Zahran yang sudah berubah beberapa waktu lalu. Kini aku benar-benar menjadi Nindy pertama datang ke pon-pes, Nindy yang tak tersentuh.


“Lihat Mbak-Mbak, dia malah nuduh aku, jelas-jelas dia yang ada di kamar ini dan uang Supri hilang saat Supri pergi mengaji bersama kita, apa itu belum cukup dijadikan bukti?” kata Linda.


Semua orang mulai berbisik-bisik. Aku tahu pengaruh Linda sangat kuat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya pasti berdampak banyak. Aku tak tahu mengapa aku terus-terusan menjadi sorotan. Bahkan hanya karena sering berulah aku difitnah melakukan hal paling memalukan, mencuri.


"Mbak Linda tunggu, Mbak ndak boleh langsung menuduh Mbak Nindy begitu. Aku yakin Mbak Nindy bukan pencuri." kata Arum, dia membelaku.


"Wong buktinya udah jelas. Jelas-jelas dia yang sendirian di kamar. Ndak ada siapa-siapa lagi." kata Linda.


"Kita bisa tanya dulu kan ke Mbak Nindy, apa ada orang yang datang ke kamar ini atau ndak. Jangan langsung asal tuduh. Mbak, apa ada orang yang masuk?" tanya Arum, padaku.


"Gue nggak tahu. Orang gue tidur dari tadi. Gue mana tau ada yang masuk atau nggak." kataku.


"Tuh kan, Mbak-Mbak bisa lihat sendiri. Mbak Nindy pasti bohong sama kita. Kalau memang ada yang masuk harusnya walaupun dia tidur pasti dia dengar. Jam segini biasanya tidur kita itu tidur ayam. Mata merem tapi tetap dengar." kata Linda.


"Heh, Supri! Uang lo jatuh di jalan kali." kataku melihat Supri.


Dia mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jawa. Aku memutar bola mata.


"Dia bilang dia tidak bawa uang, Mbak. Bisa ditanyakan ke Farha. Soalnya Farha yang bareng sama dia tadi." kata Arum.


"Benar, Far? Dia gak bawa uang saat pergi?" tanyaku pada Farha.


"Seingat aku, memang ndak bawa uang sama sekali, Mbak. Soalnya tadi dia cuma bawa kitab." kata Farha. "Tapi aku yakin, bukan Mbak yang ambil karena Mbak tidur." lanjutnya.


"Tuh, kan Mbak-Mbak, aku bilang juga apa. Pasti Mbak Nindy nih yang ngambil." kata Linda.

__ADS_1


Sejak kejadian aku mempermalukannya karena mengaku sebagai calon istri Gus Faiz, rupanya dia makin gencar mencari-cari kesalahanku.


"Ndak mungkin!" seru Arum dan Farha bersamaan.


__ADS_2