Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 1 – Pengantin Baru


__ADS_3

Di kamar ini, hanya ada kami berdua. Maksudku. Ah, bagaimana aku menjelaskannya. Ini adalah malam pertama kami setelah pernikahan yang baru selesai dilaksanakan tadi sore. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku lihat, Gus Faizpun seperti sedang memikirkan sesuatu.


Aku ingin sekali bertanya pada Gus Faiz, bagaimana aku harus memanggilnya. Apakah aku masih tetap harus memanggilnya Gus atau apa. Yang aku tahu panggilan semua orang yang sudah menikah pasti berubah, tidak lagi seperti ketika sebelum menikah.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku.


“Tanyalah sebanyak yang kamu mau.” kata Gus Faiz.


“Aku..” bagaimana cara menanyakan hal ini pada Gus Faiz? Akupun memutar otak. Tapi aku mulai ragu. Aku tidak tahu apakah pertanyaan yang akan aku ajukan itu etis atau tidak. Bagaimana ini?


“An? Tanyalah, tak usah ragu.” kata Gus Faiz.


“B-bagaimana aku memanggilmu?” tanyaku.


Gus Faiz terkekeh. Hatiku meleleh melihatnya tertawa. Jujur, sejauh ini aku masih belum percaya kalau Gus Faiz, manusia yang menurutku mendekati sempurna ini benar-benar telah menjadi suamiku.


Kini, jantungku kembali berdegup dengan kencang. Kurasakan pipiku panas, perutku pun, Ah, bagiamana aku menjelaskannya? Seperti ada kupu-kupu berterbangan di sana.


“Terserah kamu saja.” kata Gus Faiz.


“Gus?” tanyaku.


“Tidak-tidak, kita sudah menikah, Saya tak ingin panggilan itu.” kata Gus Faiz.


“Bukankah tadi kamu bilang terserah?” tanyaku.


Gus Faiz tersenyum, menggeleng. “Selain itu.” katanya.


Aku memutar otak. Dalam hati aku ingin bertanya apakah boleh aku memanggilnya 'sayang'? Tapi aku malu mengatakannya. Mengingat kata sayang saja membuat pipiku terasa semakin panas, bagaimana bila aku benar-benar mengatakannya? Aku menggigit bibir membayangkan aku yang akan memanggilnya dengan kata sayang. Aku ingin tersenyum. Namun, aku malu.


“Boleh saya tebak panggilan apa yang kini ada di pikiranmu untuk saya?” tanya Gus Faiz sambil tersenyum menggoda.


Melihat bagaimana caranya memandangku, sepertinya Gus Faiz bisa membaca pikiranku. Aku tidak mau dia salah paham. Maksudku, aku malu dan aku takut dia tak menginginkan panggilan itu. Aku harus cepat-cepat meluruskan ini.


“Aku sungguh tak berniat mengatakan sayang. Sungguh.” kataku. “Aku.. Aku hanya..” aku tak mampu berbohong, tak mampu juga untuk melanjutkan kalimatku.


Gus Faiz mendekatiku. Aku mundur sedikit. Namun, Gus Faiz menempelkan kedua tangannya pada kedua pipiku. Aku merasakan dejavu. Aku seperti pernah melakukan hal seperti ini, sungguh. Namun, aku tidak ingat kapan.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Jantungku benar-benar berdegup dengan kencang. Aku takut kedekatan kami bisa membuat Gus Faiz bisa mendengar suara degup jantungku.


“Lihat saya, An.” kata Gus Faiz.


Aku menurut. Wajah kami benar-benar dekat. Aku mengeratkan peganganku pada seprai. Aku ingin sekali memejamkan mata. Namun, Gus Faiz memintaku untuk menatapnya. Dia adalah suamiku, aku harus menuruti permintaannya.

__ADS_1


“Aku tidak keberatan kamu memanggilku dengan sayang. Aku justru senang.” kata Gus Faiz.


Gus Faiz melepaskan tangannya dari kedua pipiku. Aku refleks memegangi kedua pipiku dengan kedua tanganku. Jauh di dalam sana aku merasa ada sesuatu yang pupus. Apa sebetulnya yang aku harapkan dari kedekatan kami tadi. Gus Faiz mengedarkan pandangannya ke arah lain.


“S-sayang?” mulutku refeks mengucapkan kata itu. Aku buru-buru membekap mulutku dengan telapak tangan.


Gus Faiz menoleh. Dia tersenyum, sorot matanya lain. Diapun mendekat dengan cepat. Kali ini aku tidak tahan. Aku pun menutup mataku.


Tiba-tiba pintu berderit. Aku refleks membuka mata dan mengedarkan pandanganku pada pintu. Gus Faiz pun melakukan hal serupa, menoleh ke arah pintu, lalu dia buru-buru menjauhkan diri dariku ketika melihat Mama di sana yang sedang memegang gagang pintu bagian luar, seperti hendak menutup pintu dari luar.


“Aduh, Nak, bukannya ditutup. Sudah, lanjutkan saja. Mama bantu tutup ya.” kata Mamaku, sambil tersenyum tidak enak.


Klik!


Pintupun tertutup. Gus Faiz terkekeh. Aku hanya bisa menggigit bibirku menahan senyumanku. Rasanya malu sekali. Benar-benar malu. Rasanya pipiku kini benar-benar merah.


“Maafkan saya, An. Saya belum terbiasa menutup pintu saat bersamamu.” kata Gus Faiz.


Aku mengangguk.


Aku kini sudah mengerti, mengapa dulu, empat tahun lalu, dia selalu membiarkan pintu terbuka saat berada dalam satu ruangan denganku. Itupun karena mendesak. Dia tak pernah benar-benar mau berdua denganku dalam satu ruangan. Baginya, dia tidak mau mengundang Fitnah.


“Pipimu merah sekali. Tersenyumlah kalau memang tersenyum, jangan di tahan. Jangan gigit bibirmu.” kata Gus Faiz.


Terima kasih, Ya Allah. –batinku.


Melihat tatapan Gus Faiz, benar-benar membuatku merasa sangat beruntung. Aku sangat bersyukur. Lewat jalan yang di takdirkan kepadaku, Allah mempertemukanku dangannya.


Jika dulu, aku tak masuk pesantren milik Abah, aku tidak tahu bagaimana keadaanku sekarang, bila saja dulu Aaron tetap keras kepala membawaku pergi, aku tidak tahu bagaimana keadaanku sekarang, bila saja dulu Gus Faiz tidak menemuiku di rumah sakit, aku tak tahu bagaimana keadaanku sekarang.


Akankah aku juga akan berbahagia? Aku benar-benar tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah Allah sangat adil padaku. Skenario Allah sangatlah indah. Terima kasih, ya Allah. Sungguh, aku hanya bisa berterima kasih atas seluruh kebahagiaan ini.


“Kamu kenapa?” tanya Gus Faiz.


“Aku tidak apa-apa.” kataku. “Aku hanya bahagia.” kataku jujur.


“Sepertinya saya jauh lebih bahagia, An.” kata Gus Faiz.


Seketika aku sesak nafas. Sepertinya aku butuh oksigen lebih banyak. Udara terasa panas. Aku kembali mengigit bibirku. Rasanya ingin berteriak menyalurkan rasa bahagia. Namun, itu tidak sopan dan memalukan.


“Sudah, jangan gigiti bibirmu lagi, An.” kata Gus Faiz.


Gus Faiz kembali memegang pipiku lembut. Aku mengangguk.

__ADS_1


“Apa kamu merasa familiar dengan ini?” tanya Gus Faiz.


“Dengan ini?” tanyaku.


Gus Faiz mengangguk.


“B-bukankah ini kali pertama kita berada dalam satu kamar?” tanyaku. "Eh?" aku sepertinya salah berbicara. Tapi seingatku kami memang pernah berada dalam satu kamar, di kamar Gus Faiz saat aku pingsan dulu.


“Hahaha, maaf An, bukan itu maksudku.” kata Gus Faiz.


Aku mencoba memutar otak. Mencari ke mana konteks kalimat Gus Faiz. Aku tidak mau terlihat bodoh, sungguh. Aku merasa malu.


Dia memengangi pipiku lagi. “Maksudku ini.” katanya.


Ingatankupun kembali kepada masa lalu. Aku buru-buru menatapnya. Aku sangat ingat apa yang terjadi. Aku pernah melakukan hal serupa pada seorang laki-laki yang kutabrak dulu di depan Masjid dekat rumah Ilham. Namun, bagaimana Gus Faiz bisa mengetahui ini semua?


"Tabrakan?" tanyaku.


Gus Faiz mengangguk.


“Bagaimana kamu tahu?” tanyaku.


"Saya benar-benar tahu semuanya, terlebih ini..” kata Gus Faiz sambil membuat simbol hati dengan meyatukan jempol dan jari telunjuknya. Bentuk hati khas orang-orang korea. "Kamu tahu, An? Saya bahkan ditertawakan habis-habisan saat bertanya makna ini pada Ilham dan Akbar." kata Gus Faiz lagi. Dia tertawa.


Aku terkekeh, hingga air mataku keluar begitu saja di pinggiran mataku. Sepertinya aku tahu maksud Gus Faiz. Sepertinya dia adalah laki-laki itu.


“Itu kamu?” tanyaku.


Gus Faiz terkekeh sambil mengangguk. Dia mengusap air mataku.


“Aku mencarimu ke mana-mana.” kataku.


“Saya tahu, maafkan saya yang hanya bisa menunggu kamu sampai sore hari itu, karena harus kembali ke pondok.” kata Gus Faiz.


“Pondok?” tanyaku.


Gus Faiz mengangguk. “Pondokku ada di dekat sekolah Ilham, kamu tahu kan?” tanya Gus Faiz.


“Pondok modern yang besar itu?” tanyaku pada Gus Faiz memastikan.


Gus Faiz mengangguk.


“Kamu pasti sangat jenius.” kataku.

__ADS_1


Dari kabar yang beredar, pondok yang di sebutkan Faiz adalah pondok modern yang sangat bagus dan berfasilitas lengkap. Dan yang jelas hanya orang-orang pilihanlah yang bisa masuk ke pondok itu. Karena banyak tes-tes yang harus dilalui. Benar-benar hebat suamiku ini.


__ADS_2