Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 42 - Pulang dan Kembali


__ADS_3

Pertengkaran antara Aaron dan Farha semakin memanas, dengan Aaron yang masih kekeh meminta Farha untuk pulang sekarang juga. Kali ini mereka masih sama-sama mempertahankan egonya masing-masing.


“Aaron, biarkan istrimu di sini saja untuk sementara waktu.” kata Mas Faiz, mencoba menengahi.


“Iya, Aaron. Betul apa yang dikatakan Mas Faiz.” kataku.


“Tidak, Faiz, Nindy. Istriku sudah lebih dari sebulan. Mau berapa lama lagi dia di luar rumah?” tanya Aaron.


Kali ini aku dan Mas Faiz diam, karena membetulkan kata-kata Aaron. Sudah sebulan lebih, aku merasa tidak bisa menahan Farha yang notabene telah bersuami di sini lagi, karena Farha sudah menghabiskan waktunya di rumah Mama.


“Bagaimana dengan sehari lagi, Ron?” tanyaku.


“Tidak bisa.” kata Aaron yang mulai mencekal lengan Farha.


“Mbak..” rengek Farha.


“Mas..” kataku pada Mas Faiz.


“Suaminya lebih berhak atas dia, An.” kata Mas Faiz.


Akupun menurut. “Maafkan aku, Farha.” kataku.


“Kami permisi. Terima kasih untuk segalanya.” kata Aaron pada aku dan Mas Faiz.


Mau tidak mau Farha mengikuti Aaron yang terus mencekal tangannya sambil membawanya ke sebuah mobil milik Aaron. Mas Faiz membukakan gerbang. Mobil Aaronpun melesat pergi keluar gerbang. Aku mengikuti keluar gerbang. Berdiri di samping jalan dan menatap laju mobil Aaron yang kian menjauh.


Aku menghembuskan nafas sedih. Padahal aku merasa sedikit lagi akan bisa menyatukan mereka berdua, namun karena sikap tidak sabar Aaron membuat semuanya berantakan, Farha yang sudah mulai luluh, aku tidak yakin kalau akan luluh kembali.


“Mas, apakah tindakan kita benar membiarkan Farha pergi?” tanyaku.


“Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri, An. Lagi pula bila kita terus menahan Farha, sepertinya tidak etis karena dia memiliki suami yang lebih berhak atas dirinya.” kata Mas Faiz.


Aku diam sedih.


“Masuk yuk, An. Nanti kamu masuk angin.” kata Mas Faiz.


Akupun mengangguk. Kami kembali masuk gerbang, menutupnya dan menguncinya. Lalu kamipun masuk ke dalam rumah. Mas Faiz mandi lalu berganti pakaian sesuai yang aku sediakan di atas ranjang. Setelah selesai, aku mengajaknya turun untuk makan malam.


Di meja makan. Aku menyiapkan makanan di atas meja. Tadi sore aku dan Farha memasak sop iga. Akupun mengambil dua porsi sop iga dan menghidangkannya di atas meja, lalu mengambilkan dua piring nasi untuk kami berdua. Lalu tak lupa aku mengambilkan dua gelas air putih untuk kami.


“Ini masakanku yang pertama selain telur dadar, sosis, dan nugget. Walaupun aku masih di bantu Farha.” kataku menjelaskan dengan mata berbinar.


“Wah, istriku hebat sekali.” kata Mas Faiz.


“Coba dulu, Mas.” kataku antusias.

__ADS_1


“Baik, Mas coba ya.” katanya. Diapun berdoa. Lalu mencicipi kuah sop iga itu dengan menggunakan sendok.


Aku memejamkan mata. Walaupun aku sudah di bantu Farha, namun tetap saja aku takut Mas Faiz mengatakan kalau masakanku tidak enak. Aku mengintip-ngintip sedikit. Untuk mengurangi rasa penasaran.


“Bukalah matamu.” kata Mas Faiz.


Aku menggeleng. “Apa rasanya begitu buruk?” tanyaku.


“Ini, enak sekali.” katanya.


Sontak mataku kubuka selebar-lebarnya.


“Iya, ini enak. Ini adalah masakan paling enak yang pernah Mas makan.” kata Mas Faiz sambil tersenyum. Membuatku tersipu malu.


“Benarkah? Apa mas tidak bohong padaku?” tanyaku.


“Tentu saja.” Mas Faizpun mulai makan dengan sangat lahap. Aku menatapnya dengan penuh dengan kasih sayang.


“Pelan-pelan.” kataku sambil menyeka sebutir nasi yang menempel di sudut bibirnya.


...***...


Mas Faiz kini masuk dan bergabung denganku yang sedang tidur-tiduran di atas kasur.


“Besok kita ke dokter kandungan ya, An?” tanya Mas Faiz.


Setelah itu kami pun kembali tidur. Aku memeluk suamiku dari samping. Nyaman sekali.


Setelah tidur, aku terbangun. Aku melirik jam dinding yang bertengger di dinding dengan manisnya. Aku memandangnya waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Lewat tengah malam. Tiba-tiba aku ingin memakan keju.


Akupun menepuk pipi suamiku, membangunkannya. Tak terlalu sulit, Mas Faiz membuka matanya.


“Mas, aku mau makan keju.” kataku.


Mas Faiz mengerjap beberapa kali.


“Lho, bukannya kamu tidak suka keju? Kamu hanya suka coklat kan?” tanya Mas Faiz bingung.


“Aku mau keju, Mas..” kataku sambil merengek.


“Baik, sebentar ya, Mas carikan dulu.” kata Mas Faiz.


Mas Faiz berdiri dan berjalan, dia hampir jatuh. Aku yakin itu karena nyawa Mas Faiz belum terkumpul penuh. Mas Faiz pergi begitu saja mencari keju untukku.


Beberapa saat kemudian, Mas Faizpun datang, kali ini wajahnya cerah. Dia menghampiriku dan memberikan bingkisan yang berisi keju kepadaku. Akupun mengambilnya sambil tersenyum. Selain keju, Mas Faiz juga membawakanku minum.

__ADS_1


Aku membuka satu bungkus keju lapis. Lalu memotek ujung keju sedikit lalu memakannya.


“Sudah.” kataku.


Aku memberikan keju dan bungkus keju yang lain pada Mas Faiz. Mas Faiz melongo tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Aku menyodorkan lagi. Mas Faiz buru-buru mengambilnya.


“Sudah?” tanya Mas Faiz.


Aku mengangguk, “Iya, sudah.” kataku mantap.


“Kamu hanya memakan seujung jari?” tanyanya.


Aku mengangguk lagi. “Apa kamu marah padaku?” tanyaku sedih.


“Eh, tidak-tidak, Mas tidak marah.” kata Mas Faiz.


“Mengapa wajahmu seperti itu?” kataku.


“Aku hanya sedikit terkejut.” kata Mas Faiz. “Sebentar aku bawa ini turun dulu ya.” katanya.


Mas Faiz membawa keju dan air itu keluar kamar. Setelahnya aku duduk lagi. Aku mendongak, memandangi langit-langit yang tidak pernah berubah dari pertama kali aku datang ke rumah ini. Selama ini Mas Faiz sendirian di rumah ini. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut kamar. Aku mulai membayangkan bagaimana Mas Faiz yang tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Dia pasti sangat kesepian dulu.


Klek!


Suara pintu di buka. Menampilkan suamiku di sana. Dia mendekatiku lagi.


“Tidur ya, nanti kamu sakit kalau tidak tidur.” kata Mas Faiz.


Aku mengangguk.


“Mas, aku mau salat tahajud seperti biasa.” kataku.


Mata Mas Faiz kembali berbinar. Diapun mengangguk. Hampir tiap malam kami salat tahajud berjamaah. Tentunya dengan Mas Faiz sebagai Imamku. Rasanya begitu menyenangkan bisa menjadi makmum seseorang yang sangat kucintai sekaligus seseorang yang telah membawamu ke jalur halal. Kamipun mengambil air wudu dan bersiap untuk salat tahajud berjamaah.


...***...


Keesokkan harinya. Pukul 09.30 WIB Aku sedang menyiram rumput di taman depan. Mas Faiz tidak mengizinkanku melakukan aktivitas melelahkan karena kini kondisiku sedang mengandung. Mas Faiz benar-benar tidak mau aku kelelahan.


Mas Faiz sudah berangkat ke kantor tadi pagi.


DUG DUG DUG!


Seseorang menggedor gerbang dengan keras. Kini aku mengalihkan pandanganku dari tanaman menuju gerbang yang kian menjadi-jadi suara gedorannya. Aku mematikan keran air. Lalu mendekati gerbang dengan perasaan was-was.


Ada apa ini? – tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa penasaranku pada seseorang yang kini terus menggedor-gedor gerbang rumahku.


__ADS_2