Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 35 - Mual yang Aneh


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Sebulah telah lewat, menurut Linda, Farha belum juga mau kembali ke rumahnya. Aaron sudah beberapa kali datang ke rumah Mama namun Farha tidak mau pulang. Inilah yang aku takutkan.


Meski ajakan Kak Ulfa untuk menyembuhkan luka Farha bertujuan baik, namun aku berpikir kalau Farha mendapatkan kebahagiaan di rumah Mama, dia pasti tidak akan mau kembali pada Aaron, apalagi bila tidak ada yang mengingatkan untuk kembali pada Aaron.


“Mas, bolehkah aku minta kita ke rumah Mama?” tanyaku.


“Ke rumah Mama? Kamu merindukan Mama?” tanya Mas Faiz.


Aku mengangguk. “Sekalian aku mau melihat keadaan Farha.” Kataku.


“Baiklah, mau ke sana jam berapa?” tanya Mas Faiz.


“Abis Zuhur bagaimana, Mas?” tanyaku.


“Boleh.” jawab Mas Faiz.


Setelah aku salat dan Mas Faiz salat ke Masjid. Kamipun bersiap ke Rumah Mama. Sebelum sampai, kami berdua pergi ke salah satu toko kue dengan label halal dan enak. Mama sangat suka bolu lapis talas. Jadi, kami membelikan tiga kotak untuk dibawa ke rumah.


Sesampainya di depan rumah Mama, Mas Faiz membunyikan klakson mobil, lalu seseorang datang membukakan gerbang. Lalu Mas Faiz memarkirkan mobilnya. Lalu kami turun. Yang membukakan gerbang adalah Kak Ulfa.


Kami mendekati Kak Ulfa.


“Assalamualaikum, Kak.” salamku ramah.


“Waalaikumsalam. Ayo masuk, Dik, Gus.” kata Kak Ulfa.


Dia tersenyum ke arah kami. Sepertinya Kak Ulfa sudah lupa tentang pertengkaran yang terjadi. Aku bersyukur dalam hati. Memang tidak baik bertengkar lama-lama. Apa lagi kami saudara kandung.


Tiba-tiba perutku terasa mual. Aku terdiam di tempat sambil memegangi tembok. Aku membiarkan Kak Ulfa yang sudah pergi. Tiba-tiba perutku kembali membaik.


“Kamu kenapa, An?” tanya Mas Faiz.


“Eh, tidak apa-apa, Mas. Hanya sedikit mual. Sepertinya aku masuk angin.” kataku.


“Ya Allah, nanti kita ke dokter ya.” kata Mas Faiz.


“Paling hanya penyakit mag biasa, Mas. Mas tak perlu khawatir.” kataku.


“Baiklah, ayo masuk.” kata Mas Faiz. Kini Mas Faiz sudah berada di kiriku dengan tangan Mas Faiz berada di pinggang kananku.


Saat masuk ke dalam rumah, aku melihat Farha sedang memegang sapu. Aku sangat senang melihat Farha.


“Farha!” panggilku.


Farha yang sedang sedang memegang sapu menoleh. Diapun tersenyum ke arahku. Akupun berjalan menghampirinya. Dia terlihat sangat bahagia, tidak seperti saat di rumah Aaron dulu. Aku jadi merasa tidak enak pada Kak Ulfa. Sepertinya aku salah sangka.


“Mbak Nindy!” serunya.


Dia meletakkan sapunya lalu menghampiriku. Dan memelukku.


“Apa kabar?” tanya Farha.


“Baik, Far. Kamu bagaimana? Betah di sini?” tanyaku.

__ADS_1


“Betah, Mbak. Mbak Ulfa sangat baik padaku.” kata Farha.


“Alhamdulillah kalau begitu. Aku jadi ikut senang.” kataku.


“Sini Nak duduk.” Suara Mama.


Aku dan Mas Faizpun mendekat pada Mama dan mencium tangan Mama. Farha pergi ntah kemana sepertinya dia ke dapur.


“Apa kabar, Sayang?” tanya Mama.


“Aku baik, Ma.” kataku.


“Bagaimana dengan kamu, Nak?” tanya Mama pada Mas Faiz


“Saya juga Alhamdulillah baik, Ma.” kata Mas Faiz. “Papa di mana, Ma?” tanya Mas Faiz.


“Dia pergi mincing sama temannya.” kata Mama sambil terkekeh.


Mas Faiz tersenyum dan mengangguk. Akupun demikian. Tak lama kemudian, Farha datang dengan gelas berisi minuman di nampan yang di bawanya. Dia meletakkan minuman di atas meja.


“Terima kasih, Farha.” kataku pada Farha.


“Sama-sama, Mbak.” kata Farha.


Farha terlihat ingin beranjak namun aku buru-buru menahannya. “Duduklah di sini bersamaku, Farha.” kataku.


“Sebentar, Mbak. Aku bawa ini dulu ke dapur.” kata Farha sambil tersenyum. Akupun mengangguk.


“Mengapa kalian baru ke mari, Nak?” tanya Mama.


“Bagaimana acara bulan madu kalian?” tanya Mama dengan nada menggoda.


Mau tak mau, baik aku maupun Mas Faiz tersipu. Sepertinya Kak Ulfa tidak menceritakan apa yang terjadi di sana.


“Alhamdulillah, lancar, Ma.” kata Mas Faiz.


Tak lama kemudian Farha dan Kak Ulfa datang. tiba-tiba perutku mual. Aku mencoba menahan. Kak Ulfa duduk di samping kananku dan Farha duduk di samping kanan Kak Ulfa. Ntah mengapa aku begitu merasa sangat mual. Aku mencoba menahan, namun aku tidak bisa. Aku ingin ke kamar mandi. Aku buru-buru berdiri.


“Oekkk!!” tiba-tiba aku memuntahkan isi perutku di baju Kak Ulfa.


“Nindy!!!” seru Kak Ulfa langsung Bangkit.


“M-Maaf, Kak. Oeek!” aku kembali muntah di baju Kak Ulfa. Kak Ulfapun berlari ke kamar mandi yang ada di samping dapur.


“An…” Mas Faiz buru-buru menghampiriku setelah membuka tasku dan mengambil tisu di sana. Aku membersihkan mulutku dangan tisu itu.


“Kamu terlambat makan lagi, Nak?” tanya Mama menghampiri.


Farha buru-buru memberikan minum. Akupun meneguknya. Perutku kembali normal. Ini aneh sekali. Biasanya kalau mag aku hanya sebatas mual tidak sampai keluar.


“Nak Faiz, tolong bawa Nindy ke kamarnya ya.” kata Mama.


“Aku tidak apa-apa, Ma. Aku akan membersihkan ini.” kataku.


“Eh, tidak usah, Mbak. Mbak pucat sekali. Lebih baik Mbak ke kamar saja. Biar aku yang bereskan. Tidak apa-apa.” kata Farha.

__ADS_1


“Iya, An. Ayo ke kamar.” Kata Mas Faiz.


“T-tapi..” kataku.


Belum sempat aku menjelaskan. Mas Faiz buru-buru mengangkatku, dan menggendongku di depan. Mau tak mau aku mengalungkan tanganku di lehernya. Dia tersenyum.


Di dalam kamarku, Mas Faiz mengambilkanku pakaian.


“Mas?” tanyaku.


“Iya?” tanyanya.


“Aku akan ganti di kamar mandi.” kataku.


Mas Faiz menahan tanganku. “Ganti di sini saja.” kata Mas Faiz. “Mas, akan kunci pintu.” Katanya. Berjalan menuju pintu.


Akupun buru-buru berganti baju dan celana.


“Sudah?” tanya Mas Faiz lagi.


“Sudah, Mas.” kataku.


Mas Faiz mengambilkanku minyak kayu putih yang ada di atas meja riasku dan menyodorkanku kepadaku. Akupun menerimanya, lalu mulai membalur perutku dengan minyak itu. Mas Faiz terus mengikuti pergerakan tanganku.


“Mas?” tanyaku.


“Eh? Kenapa, An?” tanyanya salah tingkah.


Belum sempat aku menjawab pintu di ketuk. Aku hendak berdiri namun Mas Faiz menahan tanganku, diapun berjalan menuju pintu dan membuka kunci pintu.


“Masuk, Ma.” kata Mas Faiz, mempersilakan Mama masuk ke dalam kamar. Mamapun berjalan dan duduk di sampingku.


“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanya Mama.


“Sudah membaik, Ma.” kataku.


“Aku akan menelpon dokter.” kata Mas Faiz.


“Tapi Mas..” kataku.


Mas Faiz menggeleng, kali ini dia tidak mau menerima penolakan.


“Ma, An, aku izin keluar sebentar.” kata Mas Faiz.


Aku dan Mama mengangguk.


Mama mengusap wajahku.


“Ma..” kataku. “Apa Kak Ulfa marah padaku? Aku benar-benar tidak sengaja.” kataku sedih.


“Tidak, Sayang. Dia tidak akan marah padamu. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap kakakmu, kan? Dia sangat menyayangimu.” kata Mama.


Ntahlah, Ma. Nindy bahkan tidak bisa mengenali Kak Ulfa sekarang. Kak Ulfa benar-benar sulit di tebak.– batinku.


“Iya, Ma. Semoga saja, Kak Ulfa tidak marah padaku.” kataku.

__ADS_1


Tak lama kemudian Kak Ulfa datang bersama Farha. Kak Ulfa mendekatiku dan duduk di sampingku. Lagi-lagi aku merasakan mual.


__ADS_2