
Setelah kejadian air minum mineral beberapa menit lalu, Kak Ulfa diam saja. Aku jadi tambah merasa bersalah. Sepertinya dia sangat tersinggung kepadaku.
“Kak, maafkan aku ya?” kataku.
“Iya, tidak apa-apa.” kata Kak Ulfa.
“Apa ada lagi yang ingin di beli, Kak?” tanyaku.
“Tidak ada, kita pulang saja ya. Lagi pula kamu terlihat sangat lelah.” kata Kak Ulfa.
Aku mengangguk. “Baik, Kak.” kataku. “Kita pulang ya, Marsya?” tanyaku.
“Iya.” kata Marsya sambil mengangguk.
“Aku pesan taxi online ya.” kata Kak Ulfa.
“Kita tidak pakai taxi yang ada di depan saja, Kak?” tanyaku.
“Tidak usah. Pakai taxi online saja.” kata Kak Ulfa.
Karena aku tidak mau Kak Ulfa marah lagi seperti tadi, jadi aku langsung mengangguk dan menyetujui keinginannya, aku tentu tidak mau melukai hatinya karena kembali menaruh curiga.
Kami pun berjalan keluar dari mall menuju jalan Melawai untuk menunggu taxi online datang. ntahlah, walaupun Taxi tetap bisa masuk ke lobby namun Kak Ulfa meminta kami menunggu di depan jalan raya saja.
Di perjalanan keluar, Kak Ulfa terlihat mengecek kantong celana dan dompetnya. Dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu.
“Kenapa, Kak?” tanyaku pada Kak Ulfa.
“ATM kakak sepertinya jatuh.” kata Kak Ulfa.
“Jatuh?” tanyaku.
Refleks aku langsung mengarahkan pandanganku ke bawah mencari ATM
“Sepertinya jatuh di depan kasir supermarket tadi, Dik.” kata Kak Ulfa.
“Yasudah kita kembali saja ke sana, Kak.” kataku.
“Tidak usah, kamu kan lelah. Kamu tunggu di depan saja ya, aku akan masuk mencari ATM sebentar.” kata Kak Ulfa.
“Tapi, Kak..” kataku.
“Sudah tidak apa-apa.” kata Kak Ulfa.
Kak Ulfapun berbalik dan pergi masuk ke dalam Mall. Aku Adan Marsyapun menuju pinggir jalan raya. Kali ini jalanan lengang. Aku merasa sedikit menakutkan. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Benar-benar sepi.
“Mama Is!” panggil Marsya kepadaku.
“Iya, Sayang?” tanyaku.
“Papa Is..” kata Marsya tiba-tiba menggoyangkan tanganku meminta menelepon Mas Faiz.
“Nanti ya, tunggu di rumah.” kataku.
__ADS_1
“Sekalang.” kata Marsya.
Marsya sudah bersiaps-ap untuk menangis. Mau tidak mau aku mengeluarkan ponsel dan menelepon suamiku.
TUT.. TUT.. TUT..!
Panggilan tersambung.
“Halo, assalamualaikum..” salam Mas Faiz.
“Waalaikumsalam..” kataku.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di hadapanku. Aku memicing. Mobil ini begitu bagus, sepertinya tidak mungkin ini taxi online yang dopesan Kak Ulfa.
Aku mengantongi ponselku tanpa mematikan ponsel. Aku mendekatkan Marsya padaku.
Perasaanku tidak enak. Lalu dari dalam mobil muncullah Dimas. Dimas adalah keponakan Aaron yang pernah kuceritakan.
“Hai, Nindy!” panggilnya, sambil terkekeh.
Aku langsung menggendong Marsya dan berbalik, ingin meninggalkan Dimas di belakangku.
Dimas buru-buru menghalangiku. Aku menatapnya nyalang.
“Apa apa?” tanyaku.
“Aku hanya ingin menyapamu.” kata Dimas.
“Ck, galak sekali.” kata Dimas.
“Permisi.” kataku.
“Begitukah sikapmu dengan calon Kakak Iparmu?” tanya Dimas.
“Calon Kakak Ipar?” tanyaku.
“Tanyalah pada Kakakmu itu.” kata Dimas.
Di belakangku, Kak Ulfa datang. Dia tersenyum melihat Dimas. Dimaspun tersenyum pada Kak Ulfa. Kak Ulfa datang lalu memeluk Dimas dan mencium pipinya. Aku mematung. Mereka berdua belum menikah. Aku buru-buru menutup mata Marsya.
“Tulun.” kata Marsya.
Dia meminta turun. Akupun menurunkannya. Namun, aku tidak membiarkan Marsya jauh-jauh dariku.
Kalau kulihat dari bagaimana cara mereka bersentuhan. Sepertinya mereka cukup dekat. Aku benar-benar tidak setuju dengan keputusan Kak Ulfa bila benar kalau Dimas adalah calon Kakak Iparku.
Dimas bukanlah orang yang baik. Aku mengetahuinya langsung dari Linda yang merupakan sepupu Dimas. Melihat apa yang di sebabkan oleh Dimas, aku menjadi cemas. Aku benar-benar tidak mau Kak Ulfa mendapatkan suami seperti Dimas.
“Aku antar ya, Sayang?” tanya Dimas.
“Kami sudah memesan taxi online.” kata Kak Ulfa.
“Belum tiba kan? Batalkan saja.” kata Dimas.
__ADS_1
“Baiklah.” kata Kak Ulfa.
Kak Ulfa mengeluarkan ponselnya dan membatalkan pesanan taxi online kami. Aku benar-benar kecewa namun aku tidak mungkin mengatakannya secara langsung.
“Ayo, Nindy?” kata Kak Ulfa.
Akupun mengangguk. Kamipun masuk ke dalam mobil. Dimaspun mengantarkan kami bertiga sampai rumah. Sesampainya di depan rumah, Kak Ulfa menawarkan Dimas untuk masuk ke dalam rumah namun Dimas menolak karena katanya ada sedikit pekerjaan.
Kamipun masuk ke dalam rumah dengan barang belanjaan kami. Setelah ku letakkan di dapur, akupun duduk beristirahat karena aku merasa lelah.
“Mama Ndy..” panggil Marsya.
“Iya, Sayang?” tanyaku sambil tersenyum pada Marsya.
“Mama Ndy atit?” tanya Marsya seperti orang dewasa.
Aku tersenyum kepada Marsya. “Tidak, Sayang..” kataku sambil mengusap kepala Marsya lembut.
“Alca mau bobo.” kata Marsya.
“Yaudah, bobo yuk, Sayang.” kataku.
“Kamu lelah ya, Dik? Kamu sitirahat saja dulu biar aku yang rapi-rapi.” kata Kak Ulfa.
“Baik, Kak.” Kataku.
Aku dan Marsyapun naik ke kamarku. Akupun menidurkan Marsya di sana. Mungkin karena efek kelelahan, Marsya bisa tidur dengan cepat. Sambil mengusap kepala Marsya, pikiranku pun berkelana.
Aku teringat pada kecurigaan-cuerigaanku hari ini. semua kecurigaanku tidak terbukti, sepertinya ini hanyalah sebuah bentuk kesalahanku yang pertama karena tidak mempercayai kakakku sendiri. Padahal Kak Ulfa sudah meminta maaf namun terkedang aku masih curiga seperti tadi. Aku harus memperbaiki diri dengan menghilangkan prasanggka buruk terhadap Kak Ulfa.
Selama perjalanan ini, Kak Ulfa selalu baik padaku, dia tidak menjahatiku. Sepertinya Kak Ulfa memang benar-benar sudah berubah. Aku harus mengatakan hal ini pada Mas Faiz agar Mas Faiz tidak lagi curiga pada Kak Ulfa.
Dan terakhir pikiranku tertuju pada Dimas. Dimas yang kutemui di raja ampat bersama suamiku ternyata ada di Jakarta. Dia datang dan mengaku sebagai calon kakak iparku. Sesuatu yang sangat aku sayangkan dan membuatku sangat terkejut. Bagaimana mungkin Dimas bisa berpacaran dengan Kak Ulfa.
Aku tidak mau Kak Ulfa terpengaruh Dimas. Kami baru saja berbaikan dan aku tidak mau Kak Ulfa kembali gelap mata. Setiap orang memang punya masanya untuk berubah namun untuk Dimas, aku benar-benar merasa cemas.
Aku menghentikan aktivitasku mengusap kepala Marsya, lalu mengambil ponselku. Betapa terkejutnya aku ternyata sambungan telepon masih tersambung pada Mas Faiz. Aku pasti lupa mematikannya tadi karena panik.
Aku mendekatkan ponselku ke telingaku.
“Mas?” panggilku.
“Mas sedang di jalan menuju rumah.” kata Mas Faiz.
“Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah di rumah dan aku di rumah dengan aman.” Kataku.
“Kamu istirahat ya. Tidurlah, tanpa memutus sambungan telepon hingga aku sampai di rumah.” kata Mas Faiz.
“Baik, Mas. Kamu hati-hati.” kataku pada Mas Faiz.
“Iya.” Jawab Mas Faiz singkat.
Akupun meletakkan ponselku tanpa mematikan sambungan seperti yang diperintahkan suamiku. Sepertinya Mas Faiz sangat mengkhawatirkanku. Aku sangat lelah. Akupun mulai memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi.
__ADS_1