Penjara Suci

Penjara Suci
PS 53 - Identitas Aaron


__ADS_3

Sebuah mobil bak berisi rumput lewat. Aaron buru-buru melambaikan tangannya dengan semangat agar mobil bak tersebut berhenti. Saat mobil itu berhenti, dia langsung meminta izin kepada Sang Supir untuk menumpang sampai stasiun kereta. Aaron mengunakan bahasa Jawa, aku diam saja karena tak mengerti harus berbuat atau berkata apa.


“Ayo, Nin!” seru Aaron. Dia mulai naik ke atas mobil bak tersebut lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku menghembuskan nafas. Apa harus dengan duduk di atas rumput seperti ini? Sayangnya aku tak punya waktu walau hanya untuk sekadar protes.


Aku mulai bersusah payah meraih tangannya. Sial tangan dan bahu kananku sakit sekali. Aku menahan rasa sakitnya mati-matian. Hingga darah di telapak tanganku kembali mengalir.


“Ayo, cepat, Nin! Lo pasti bisa!" seru Aaron.


Akupun terus berusaha sekuat tenaga hingga di sinilah aku. Bersama Aaron menaiki mobil bak terbuka dengan udara dingin yang kian menusuk tulang.


Aku hanya bisa memeluk tubuhku sendiri. Dingin dan rasa perih bercampur menjadi satu.


“Lo bawa jaket?” tanya Aaron. Sepertinya dia memperhatikanku dari tadi.


Aku menggeleng, “Enggak.” kataku.


“Mukena?” tanya Aaron. Aku menggeleng.


“Baju?” tanyanya.


“Bawa.” kataku. Tanpa meminta persetujuan dariku Aaron membuka tas ranselku. Lalu mengeluarkan satu-satunya baju yang kumasukkan.


“Pake aja, biar lo nggak masuk angin.” katanya.


Akupun mengangguk. Aku mendobel baju yang kupakai dengan baju pemberian Aaron. Aaron membantuku memakainya.


Aku menatap Aaron. Kini mata Aaron terfokus pada jalanan. Sepertinya di kepalanya sedang banyak pikiran.


Tiba-tiba aku mengingat drama-drama korea yang pernah aku tonton. Dalam drama-drama itu laki-laki akan memberikan Jaket pada perempuan ketika si perempuan kedinginan. Aaron tak pakai jaket, jadi dia tak bisa memberikan Jaket padaku. Diapun memakai celana bukan sarung. Jadi, tak bisa memberikan sarungnya padaku.


"Kenapa?" tanyanya. Matanya masih dia arahkan ke jalanan.


"Nggakpapa." kataku.


Aku tahu diapun kedinginan sama sepertiku. Meski dia sering kali menyebalkan namun ada satu tempat di hatiku yang mengatakan kalau aku tak boleh membencinya.


Aku memandang wajahnya lagi. Aku tak merasakan getaran apapun seperti yang kurasakan pada Gus Faiz. Namun wajah itu. Aku selalu ingin memandangnya. Selalu ingin kucari dalam memoriku.


“Jujur, gue nggak tau Nin, apa yang gue lakuin ini bener apa enggak buat bawa lo kabur dari pesantren itu." kata Aaron.


Aku menunggunya melanjutkan kata-katanya.


"Hati kecil gue bilang apa yang gue lakuin ini salah. Tapi gue bener-bener gak tega liat lo terus-terusan tersiksa. Ini semua bener-bener gak adil buat gue." kataku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Ntahlah, gue juga bingung gimana jelasinnya. Yang jelas gue gak rela lo menderita lebih lama lagi." katanya.


"Coba liat gue." kataku.


Dia menoleh. Menatapku.

__ADS_1


"Ada yang pengen lo ceritain kan ke gue?" tanyaku.


Dia terkekeh.


"Kayaknya gue emang harus ceritain semuanya ke elo sekarang. Setelah gue ceritain semuanya, terserah deh elo mau tetep kabur apa balik lagi ke pesantren. Gue ikut semua kemauan lo aja.” kata Aaron.


Aku benar-benar tidak mengerti arah pembicaraannya.


“Tunggu. Lanjutin dulu yang tadi. Apa gue kenal sama adik lo yang suka sama Gus Faiz?” tanyaku. Aaron mengangguk.


“Lo kenal banget malah sama dia.” kata Aaron. Tersenyum miring.


“Siapa?” tanyaku.


“Linda.” katanya, penuh dengan nada pasrah.


"L-Linda?" tanyaku, semoga aku salah mendengar nama yang disebutkan Aaron.


Dia mengangguk.


Aku meneguk air liurku sendiri. Linda begitu membenciku. Aku mulai berpikir kalau Aaron masuk ke dalam bagian usaha Linda agar aku pergi meninggalkan Gus Faiz. Secara Linda adalah adiknya. Bukankan setiap Kakak pasti akan menuruti permintaan adiknya? Meski aku tak merasakannya pada Kak Ulfa.


“Bukan,” kata Aaron lagi. Dia seakan bisa membaca pikiranku.


Aku menoleh padanya. Mencoba mencari kejujuran di sana.


“Dia emang udah jahat banget sama lo, tapi rencana ini nggak ada sangkut pautnya sama dia.” kata Aaron.


“Elo.” kata Aron.


Aku terdiam. Mencoba merangkai peristiwa-peristiwa konyol ini. Bagaimana bisa takdir mempermainkanku seperti ini?


“Lo lagi nggak becanda kan?” hanya kata itu yang terlintas dibenakku.


“Bukan cuman itu, ada fakta lain yang pasti nggak kalah bikin lo shock.” kata Aaron lagi.


"Apa?" kataku.


"Liat wajah gue baik-baik. Siapa yang terlintas di benak lo ketika liat muka gue?" tanyanya.


Aku memandangnya. "Ilham." kata ini meluncur begitu saja dari bibirku secara tak sadar. Aku menutup mulutku


Dia tersenyum lagi. "Betul. Ilham, Abang gue. Abang beda sehari. Kalo lo inget gue, rasanya lo pasti udah tau. Jadi gak perlu gue jelasin lagi." katanya. Suaranya tercekat. Ada kesedihan saat dia mengucapkan nama itu.


Aku terkejut. Benar-benar terkejut. Kata-kata yang keluar dari bibir Aaron benar-benar membuatku tercengang. Pantas saja dia mengenalku, pantas saja dia tampak tak asing di mataku.


Ternyata dia adalah Aaron. Adik Ilham. Bodoh sekali aku tidak mengenalinya. Dulu aku pernah sekali bertemu dengannya di rumah Ilham. Akupun tahu Ilham punya adik perempuan meski aku tak tahu nama dan wajahnya. Ilham bahkan pernah mengatakan kalau adik perempuannya di masukkan ke pesantren oleh keluarganya. Tapi seingatku dia tak pernah bercerita kalau Aaron atau adik laki-lakinya ini juga ada di pesantren.


"Aaron?" tanyaku.


Dia mengangguk. Aku memeluknya. Air mataku lolos begitu saja. Bodoh sekali aku tidak mengenalinya. Aaron menyambut pelukanku.

__ADS_1


"Maafin gue, Ron. Gue gak bisa kenalin elo dari pertama kali ketemu sama lo." katanya.


Aku mulai terisak. Bagaimana mungkin takdir bisa sebercanda itu? Aku melepaskan pelukanku. Ada satu pertanyaan yang perlu kutanyakan padanya. Aku harus mencari tahu keadaan Ilham.


“Ilham, dia masih hidupkan?” tanyaku. Sambil mengguncangkan tubuh Aaron.


Aaron menggeleng. Dan itu cukup membuat ku semakin menangis. Air mataku benar-benar beranak pinak.


"Kalau dia masih hidup, nggak mungkin dia ninggalin lo sendirian, Nin." kataku.


"Apa yang sebenernya terjadi, Ron? Gue mohon tolong jelasin semuanya ke gue." tanyaku.


"Lo inget kapan terakhir kali lo ketemu sama Bang Ilham?" tanyanya.


"Inget. Sebelum dia pergi kita pernah ketemu di cafe. Dia dapet telepon ntah dari siapa dan langsung pergi ninggalin gue." kataku.


"Dia cerita punya temen deket yang mau dikenalin ke elo?" tanya Aaron.


"Iya, gue inget." kataku.


"Berapa orang?" tanyanya.


"Seinget gue dia bilang punya dua orang temen yang mau dikenalin ke gue. Katanya mereka baik banget, meski tampilannya bertolak belakang." kataku, sambil mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan Ilham.


"Lo tau siapa nama temen-temennya itu?" tanya Aaron.


Aku menggeleng.


"Namanya Akbar dan Faiz." katanya.


"Fa-Faiz?" tanyaku.


Dia mengangguk. "Iya, Faiz. Si Gus Faiz." kata Aaron.


"T-terus telepon itu? Dari Gus Faiz?" tanyaku.


Aku mulai berpikir kalau kematian Ilham ada sangkut pautnya dengan Gus Faiz. Kalau kematian Ilham disebabkan Gus Faiz aku akan memberinya pelajaran.


"Bukan, bukan dari Gus Faiz. Dia nggak ada sangkut pautnya sama kematian Bang Ilham." kata Aaron.


"Terus?" kataku tak sabaran.


"Mereka bertiga sahabatan. Deket banget. Di hari kecelakaan Abang gue mau nemuin Akbar karena Akbar lagi dikejar-kejar musuhnya. Akbar itu badboy, musuhnya ada di mana-mana. Jadi, karena dengar sahabatnya dikejar-kejar musuh, Abang gue langsung pergi, nyamperin Akbar, mau nolongin. Tapi pas ketemu Akbar dan coba bawa Akbar kabur mereka berdua kecelakaan. Terus, ya seperti yang kita tau. Mereka berdua kecelakaan, tabrakan sama truk. Sampai masuk rumah sakit dan meninggal." kata Aaron.


Aku hanya bisa menangis.


"Lo tau gak, Nin? Di rumah sakit dia nyariin lo. Dia juga nyariin Gus Faiz. Untungnya meski lo gak dateng. Gus Faiz dateng. Gue gak tau apa yang Bang Ilham omongin ke Gus Faiz. Tapi setelah ketemu Gus Faiz, akhirnya Bang Ilham tidur selama-lamanya." jelasnya.


Aku bisa merasakan kesedihan dari matanya.


Mobil bak ini tiba-tiba berhenti. Menandakan kita sudah sampai di stasiun.

__ADS_1


"Udah sampai. Ayo, gue bantu lo turun." kata Aaron.


__ADS_2