Penjara Suci

Penjara Suci
PS 57 - Jalan Terbaik


__ADS_3

"Jujur, Nin. Gue cuma gak rela Gus Faiz dapetin lo dengan mudah. Bagi gue lo terlalu berharga buat dia. Bodoh banget Bang Ilham milih dia." kata Aaron.


"Cukup, Ron. Gue mau pulang." kataku. Kepalaku berdenyut.


Aku benar-benar tak mau membahas soal keluarga dan Gus Faiz. Aku melirik gelang perak yang ada di tanganku. Gelang ini masih begitu berharga bagiku. Karena diberikan oleh Ilham.


"Kenapa? Lo sakit?" tanya Aaron.


Gue menggeleng.


"Lo gak mau keliling dulu?" tanya Aaron.


"Kita udah keliling. Tempat ini bener-bener bagus. Gue suka." kataku.


Aaron terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seperti mencari sesuatu. Setelah dia tak menemukan apapun. Diapun menuruti permintaanku untuk pulang.


Kamipun mulai keluar dari tempat wisata ini. Setelah itu kami menuju halte Trans Jogja untuk kembali ke rumah kami. Rumah sewaan Ilham yang cukup minimalis dengan dua kamar, satu dapur, satu kamar mandi, dan satu ruang tamu.


Saat aku berjalan, aku menoleh ke belakang.


"Anin!" teriak seseorang.


Aku berhenti. Tubuhku menegang. Suara ini milik Gus Faiz. Namun kali ini aku mengalihkan suara Gus Faiz. Aku tahu kalau ini hanya halusinasiku saja.


"Nih, kartu lo. Gue mau top up dulu ya. Gue tunggu di dalem." kata Aaron.


"Oke." kataku.


Aaron terlihat sangat gesit. Baru beberapa detik berpamitan. Dia sudah pergi meninggalkan aku bahkan hilang dari pandanganku.


"Anin!" suara Gus Faiz lagi.


Aaron tak mendengar suara itu tadi. Artinya aku hanya kembali berhalusinasi.


Akupun melanjutkan berjalan. Tak ada apa-apa setelah aku berjalan. Aku semakin yakin kalau aku hanya berhalusinasi saja


Tiba-tiba seseorang mencekal tanganku. Tepat ketika aku menempelkan kartu. Orang itu menarikku hingga aku tertarik ke belakang. Menjauh dari tempat menempel kartu masuk.


Tubuhku menegang. Aku menggeleng. Aku yakin kinipun aku berhalusinasi.


"Ayo, pulang, An.." katanya.


Ini bukan halusinasi.


Mengetahui kalau keberadaannya bukanlah halusinasi, aku pun mulai meronta-ronta. Meminta dilepaskan.


"Lepasin!" kataku.


"Tidak." kata Gus Faiz.

__ADS_1


Aku memandangi wajah lelahnya. "Gue mohon..” kataku.


Aku mengedarkan pandanganku ke belakang Gus Faiz. Gus Faiz pasti tidak datang sendiri. Dan benar saja di belakang sana aku melihat ada Mama, Papa, Kak Ulfa, Umi, dan Abah yang sedang berlari ke arah kami.


“Kenapa lo nggak ngerti juga, Gus? Lepasin gueee!” teriakku. "Gue mohon Gus, gue mohon!" kataku.


"Tidak, An, saya tidak akan melepaskan kamu lagi." kata Gus Faiz. "Lihat, di sana ada keluarga kamu. Kita pulang ya." kata Gus Faiz.


Aku kembali mengarahkan pandanganku pada kedua orang tuaku. Dalam hati aku sangat merindukan mereka. Aku mulai menerka-nerka apakah kedatangan mereka adalah karena benar-benar mencariku atau hanya karena tidak mau merusak citra mereka di hadapan Umi dan Abah.


Mama, Papa.. Nindy Rindu. -batinku.


Saat kuamati wajah Papa. Aku melihat kebencian di mata Papa. Sorot mata itu sangatlah nyata.


Aku takut, ya Allah. -batinku.


Seketika aku teringat Aaron yang sudah ada di dalam halte. Saat mendengar suara bus Trans Jogja datang aku semakin sadar kalau aku harus pergi.


Aku buru-buru melepaskan diri lalu berlari menuju pintu masuk busway. Hampir sampai. Namun saat aku menempel kartu. Gus Faiz memelukku dari belakang. Hingga kami jatuh ke belakang dengan posisi dia yang melindungi kepalaku dengan tangannya. Dia segera berdiri. Lalu membantuku berdiri.


"An, lihat saya. Lihat orang tua kamu. Kami sayang sama kamu.." kata Gus Faiz, belum sempat menyelesaikan kalimat.


“Dasar anak kurang ajar!” Papa tiba-tiba datang. Dan satu tamparan mendarat di pipiku. Rasa tamparan ini tak banyak berubah, bahkan semakin menyakitkan.


“Om..” Gus Faiz berdiri di hadapanku. Dia seakan menjadi tamengku. Dia terlihat marah pada Papa. Ntahlah.


"Kalau ditampar seperti ini adalah bentuk kasih sayang, Gus. Demi Allah gue gak mau ngerasain itu." kataku di telinganya sambil sesengukkan. Gus Faiz menatapku.


"Papamu hanya emosi." kata Gus Faiz.


"Lo bahkan masih belain, Papa." kataku. Frustasi. Sepertinya Gus Faiz tak benar-benar mengerti perasaanku.


Aku mencoba mengambil nafas menenangkan diri karena hatiku semaki sakit namun aku usahaku tidak membuahkan hasil, justru aku semakin menangis. Pipiku memang sakit tapi hatiku lebih sakit. Sakit sekali, sampai rasanya aku ingin mati.


"Om, bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah." kata Gus Faiz.


Dia terus memegangi tanganku menyuruhku untuk terus berdiri di belakangku.


"Kemarikan dia, Nak Faiz. Dia anak tak tahu diuntung. Kerjaannya hanya membuat keluarga saya malu!" kata Papa.


"Tidak, Om. Om salah besar kalau menganggapnya anak tak tahu diuntung dan membuat keluarga Om malu." kata Gus Faiz.


"Kamu tidak tahu apa-apa. Selama hidupnya, dia hanya anak kurang ajar yang selalu mempermalukan keluarga saya! Kemarikan dia! Saya akan berikan dia pelajaran!" teriak Papa.


Telak. Sakit sekali ya Allah. -batinku. Air mataku menderas lagi.


Akupun melepaskan tangan Gus Faiz. Aku mendekati orang yang selama ini ku sebut Papa. Sakit sekali rasanya mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Papa.


"Saya tidak tahu apa salah saya. Namun, sekarang saya tahu dilahirkan sebagai anak Anda merupakan kesalahan besar dalam hidup saya." kataku.

__ADS_1


Sesak sekali.


Aku menghampiri Papa. Menatap mata Papa yang penuh kebencian memandangku.


Papa mengangkat tangan lagi hendak penamparku. Namun, Gus Faiz buru-buru menahan tangan Papa. Gus Faiz melepaskan cekalannya padaku.


"Untuk inikah saya dicari?" kataku, sambil menatap tangan Papa.


Aku menatap ke atas menahan air mataku tidak banjir, namun tetap saja bahkan semakin deras.


Aku melirik Mama dan Kak Ulfa, mereka hanya menangis. Tak mampu menahan Papa.


"Dasar anak kurang ajar!" Papa kembali mengayunkan tangannya.


"Papa, sudah!" teriak Mama.


Kali ini tangan Papa di tahan. Bukan oleh Gus Faiz. Melainkan oleh Abah.


"Cukup, Lukman!" seru Abah.


Aku menatap Abah. Aku sangat malu pada Abah dan Umi. Rasanya aku benar-benar ingin pergi. Pergi selama-lamanya. Agar tak merepotkan atau dicap sebagai anak kurang diuntung lagi.


"Kalau menginginkan kasih sayang dan kebahagiaan adalah suatu kesalahan yang membuat keluarga Anda malu. Tolong izinkanlah saya menghadiahkan kebahagiaan keluarga Anda dengan ketiadaan saya." kataku.


Akupun berlari ke arah mobil yang sedang melaju kencang. Hanya ini satu-satunya cara untuk menghentikan semuanya. Menghentikan rasa sakit yang semakin menusukku. Aku sudah tidak tahan. Aku malu pada Gus Faiz, Aku malu pada Umi, terlebih aku malu pada Abah. Aku sakit melihat Papa, aku sedih melihat Mama, dan aku benci melihat kediaman Kak Ulfa.


Aku terus berlari


"Ann!" teriak Gus Faiz. Dia mengejarku. Aku semakin mengencangkan lariku.


Sedikit lagi.


"Selamat tinggal, Gus." kataku.


TINNNNN!


BRUG!


"ANIN!!!" teriak Gus Faiz histeris.


Satu mobil menabrakku. Aku merasa tubuhku diputar-putar. Dan seseorang memelukku. Aku senyum. Mungkin inilah yang terbaik untuk semuanya.


"An. Anin!" Gus Faiz memelukku. "Bertahanlah saya mohon." kata Gus Faiz.


"M-maafkan aku." kataku dengan susah payah.


Pandanganku semakin buram. Aku tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas lagi. Dan hal yang terakhir yang kuingat adalah Gus Faiz menangis memelukku, menahan tubuhku agar tidak tegeletak di jalan. Dan semuanya kini benar-benar gelap.


Mungkinkah ini jalan terbaik?

__ADS_1


__ADS_2