Penjara Suci

Penjara Suci
PS 7 - Antre Telepon


__ADS_3

Kegiatan inti mengaji ini di mulai dengan Sang Ustaz yang bertanya dengan bahasa Jawa kepada semua santriwati. Mendengar ucapan Sang Ustaz mereka tertawa. Gelak tawa mereka hanya membuatku semakin bingung harus berbuat apa, dan merasa menjadi orang paling bodoh karena tidak tahu harus menertawakan apa. Aku tak mengerti bahasa Jawa, sedikitpun. Jika kupikir lagi, ini sangat menggangu.


Tapi tak apalah, selama tak ada yang menyebutkan namaku, berarti aku lepas dari pembicaraan mereka, atau dengan kata lain mereka tidak sedang menertawakanku. Anggaplah sesederhana itu aku berdamai dengan hari ini, demi Revan. Pacarku yang bisa kupastikan mau membawaku pergi.


“Alhamdu utawi sekabehane puji, ...” Sang Ustaz mulai membaca sebuah buku yang mereka sebut kitab. Sepertinya kitab itu memiliki nama, hanya saja aku tak tau nama atau jenis kitab apa yang sedang dibaca.


Aku baru pertama kali mendengar ini. Jika kuperhatikan sepertinya sang Ustaz sedang menggabungkan antara bahasa Arab dengan bahasa Jawa. Terbukti dari kata Alhamdu, yang kalau tidak salah sering aku dengar ketika seseorang membaca surat Alfatihah, dan kalimat selanjutnya adalah bahasa Jawa yang benar-benar aku tak tahu artinya.


Sedikit rasa penasaranku muncul, ingin rasanya aku mengetahui arti dari ucapan Sang Ustaz. Akupun membuka kitabku yang telah dipersiapkan Farha. Mataku membelalak melihat halaman pertama. Semuanya menggunakan huruf Arab.


Lalu kubalik lagi lembar kitabku hingga selesai, namun yang kudapati hanyalah hal yang sama. Jika aku perhatikan, meski menggunakan huruf Arab, rasanya lain dengan bahasa Arab yang ada di Al-Quran. Aku mencermati lagi, mencari perbedaan di antara keduanya. Lalu kutemukan, tak ada garis miring yang ada di atas atau di bawah dari huruf-huruf Arab ini. Oh, ya, garis miring itu bernama harakat. Aku pasti tidak salah, pasti itulah namanya. Perbedaan antara huruf Arab yang ada dalam kitab ini dengan yang ada di Al-Quranku di sekolah adalah penggunaan harakat. Kalau Al-Quranku ada harakatnya kalau dalam kitab ini tak ada.


“Eh, ini emang gak ada itunya ya, apa tuh, harakat.” Kataku, pura-pura mengingat kata harakat. Padahal aku sudah tahu.


“Iya, Mbak, ini namanya tulisan Arab Gundul.” Kata Farha menjelaskan.


“Oh.” Aku hanya ber-oh ria.


Aku melirik Farha, dia sedang menulis tulisan Arab miring yang aku tidak mengerti bagaimana cara membacanya, untuk apa dia menulisnya dan apa yang ditulisnya. Farha yang mulai sadar aku perhatikan langsung menoleh dan tersenyum, menyungingkan gigi-giginya yang putih bersih.


“Ini namanya ngafsahin, Mbak.” kata Farha.


“Maksudnya?” tanyaku bingung.


“Apa yah? Hmm... sebentar Mbak, itu, anu, kita tulis semua yang Ustaz-nya katakan.” kata Farha. Dia menjawab dengan susah payah. Hal ini terlihat dari raut wajahnya yang seperti sedang memutar otak dengan keras. Aku memakluminya karena aku tahu dia belum begitu lancar menggunakan bahasa Indonesia.


Setelah mendengar penjelasannya, aku masih saja bingung. Aku tak mengerti apa maksud dari kata-kata yang diucapkan Farha. Aku hanya memandanginya dengan raut bingung, setelah menangkap kebingunganku, iapun langsung memutar otak lagi. Mencari kata-kata yang dirasa mudah untuk aku pahami.


“Seperti mengartikan lho, Mbak, tapi mengartikannya anu itu pakai bahasa Jawa.” kata Farha susah payah.


“Oh, jadi Ustaz-nya lagi artikan pakai bahasa Jawa terus kalian catat gitu?” tanyaku.

__ADS_1


“Iya, Mbak.” kata Farha.


Aku hanya mengangguk.


Mendengarkan aktivitas mereka, lama-lama membuatku mengantuk. Lalu, kuputuskan untuk tidur. Aku membiarkan santri yang lain fokus dengan aktivitasnya.


“Mbak, bangun yuk ke pondok lagi!” suara Farha membangunkanku.


Aku mengedarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri dan benar saja sudah tak ada orang sama sekali, hanya kami berdua yang masih ada dalam kelas. Aku berani bertaruh Farha pasti membangunkanku sedari tadi namun aku tak kunjung bangun. Kebiasaan kebo-ku sepertinya menyusahkannya. Biarlah.


Ponsel! Iyaaa! Ponsel! Akukan mau menelpon Revan! –batinku berteriak mengingatkan.


Aku langsung mengeluarkan ponselku dari dalam kantong celana bagian depan. Farha terus memperhatikanku, eh tidak, matanya terus memperhatikan ponsel yang ada di tanganku, pandangannya seolah-olah dia baru pertama kali melihat ponsel seperti milikku. Ah, masa bodoh dengan Farha.


Aku pun langsung menekan ikon berwarna hijau untuk mulai menelepon Revan lalu menempelkannya di telinga. Tak ada suara yang terdengar.


“Lho? Kok gak ada suaranya?” kataku bingung, aku langsung mengambil ponselku yang aku tempelkan di kuping sebelah kanan.


“Mbak, telepon siapa?” tanya Farha.


Aku tak boleh mengatakan kalau aku sedang mencoba menelepon Revan yang notabene pacarku di Jakarta. Bila kukatakan padanya, aku yakin dia akan mengadukanku pada Umi sama seperti Si Renda Merah. Siapa yang tau kalau sebenarnya mereka atau bahkan semua santri di sini adalah pengadu.


“Bukan siapa-siapa.” kataku berbohong.


“O iya, Mbak, kita hari ini libur kegiatan. Soalnya besok masuk bulan Ramadan.” kata Farha. Binar matanya menandakan ia bahagia.


“Terus?” tanyaku. Tak mengerti arah pembicaraannya.


“Anu, Mbak, ayo kita ke pondok, aku mau telepon mama sama bapak di rumah.” katanya lagi. Dia sudah berdiri.


“Lo bawa hape?” tanyaku, antusias.

__ADS_1


“Pinjam hape pengurus, Mbak. Kami ndak boleh bawa hape.” kata Farha lagi.


Aku sedikit kecewa namun tak apalah. Ponsel siapapun tak masalah asalkan ada ponsel yang bisa ku gunakan untuk menelepon Revan.


Tanpa mengulur waktu lagi. Aku langsung menarik Farha keluar kelas dan pergi ke pondok kami. Sekarang aku sudah hafal jalan ke pondok. Aku terus menyeret Farha hingga sampai ke ruangan pengurus yang ditunjukkan oleh Farha.


Apa kalian tau apa yang terjadi saat aku berada di depan pintu ruangan pengurus? Biar aku jelaskan. Di depanku ada antrean panjang yang berujung pada seorang santri yang sedang menelepon. Jadi, dapat kusimpulkan bahwa mereka mengantre untuk meminjam ponsel pengurus untuk menelepon keluarganya. Aku tak mau ikut mengantre, lalu aku mencoba mengerahkan kemampuanku untuk sampai di depan Si Penelepon untuk memastikan ponsel apa yang digunakannya. Aku kembali syok, itu ponsel terjadul yang pernah aku temui. Meski kecewa aku harus tetap menelepon Revan.


Aku berdiri di samping Si Penelepon. Semua mata kini terfokus padaku. Pandangan mata mereka menyatakan proses aku yang menyerobot antrean telepon. Aku tak peduli. Masa bodoh dengan antrean yang penting aku bisa menelepon Revan secepatnya.


"Mbak, ayo antre di belakang." kata Farha. Sepertinya dia menyadari tatapan semua orang yang menyatakan protes melalui mata dan dumelannya.


"Gak mau. Gue mau di sini." kataku, keras kepala.


Melihat pertengkaran kecil antara aku dan Farha, salah satu pengurus menghampiri kami dan menyuruhku antre ke belakang. Awalnya aku tak mau menurut namun santri antre kini mulai lebih berani menyuruhku ke belakang. Dari yang awalnya hanya berbisik kini mereka berteriak mengajukan protes. Mau tak mau akupun menurut.


Akupun ke belakang, antre. Antrean sangat panjang. Aku mendesah lelah.


Satu jam setelah antre, tiba-tiba ada suara pengumuman dari pengurus. Aku tak mengerti artinya karena menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Arab.


Setelah ada pengumuman itu semua orang berteriak tanda kesal. Aku bertanya-tanya apa isi dari pengumuman itu. "Ada apa?" tanyaku memandang Farha.


"Yah, Mbak, katanya pulsa pengurus habis. Jadi, sesi telepon dilanjut besok." kaya Farha menjelaskan.


Demi apapun aku kecewa! Aku pergi meninggalkan kerumunan. Enak betul si pengurus-pengurus itu. Mereka kira mereka siapa? sampai membuat kami antre lama tanpa kepastian.


“Mbak, ada apa?” tanya Farha, mengejarku.


"Pake tanya lagi lo." kataku tambah kesal dengan pertanyaan Farha.


Dia memandangku bingung.

__ADS_1


"Gue capek. Gue mau tidur. Jangan ikutin gue!" kataku.


__ADS_2