Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 45 - Haidar, Ghifari, dan Zahra


__ADS_3

Kamipun akhirnya sampai ntah di mana karena mataku ditutup saat berjalan. Dan kali inipun, Mas Faiz belum juga mau membuka tangannya.


“Kamu tutup mata dulu ya.” kata Mas Faiz.


Mas Faizpun melepaskan tangannya. Lalu aku mengikuti instruksinya untuk terus menutup mata.


“Nah, sekarang buka matamu.” kata Mas Faiz.


Akupun membuka mata. Setelah aku membuka mata, ku hanya melihat Mas Faiz yang sedang tersenyum di depanku. Aku balik tersenyum. Tangannya berada di balik badannya.


Lalu tiba-tiba Mas Faiz memberikanku bunga mawar merah pepadaku. Bukan satu mawar, melainkan banyak mawar dalam saku buket bunga yang sangat indah. Aku menutup mulutku tak percaya dengan apa yang aku lihat.


“Untukmu.” kata Mas Faiz.


Akupun mengambilnya. Lalu mulai memeluk Mas Faiz. Aku mencium pipinya singkat.


“Masih ada lagi, An.” kata Mas Faiz.


Aku melepaskan pelukannya.


“Ini.” kata Mas Faiz lalu memberikanku sebuah kotak beludru berwarna biru.


Akupun membukanya. Ternyata isinya adalah kalung cantik.


“Mas..” kataku bingung harus melakukan apa.


“Biar Mas pakaikan.” kata Mas Faiz.


Dia mengarahkanku untuk berbalik. Lalu dia mulai menyibak rambutku lalu memakai kalung itu.


“Cantik sekali.” kataku sambil memegangi liontin berbentuk love yang elegan.


“Lebih cantik yang memakainya.” kata Mas Faiz sambil terkekeh.


“Mas, meski kamu melarangku untuk mengatakan terima kasih, tapi biarkanlah hari ini aku mengucapkan kata itu. Terima kasih.” kataku memeluknya lagi.


Mas Faiz meraih tanganku, lalu melepaskan pelukanku padanya. Aku mulai bersiap mendengarkan apa yang dikatakannya.


“Iya, An. Aku tahu aku bukanlah pria yang romantis karena aku tidak mengerti caranya. Tapi percayalah, An. Bagaimanapun Mas sangat menyayangimu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat Mas merasa sangat bahagia. Terima kasih karena kamu bersedia menikah denganku dan menjadi ibu bagi anak-anakku.” kata Mas Faiz, matanya begitu lembut menatapku.


Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Akupun hanya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakannya.


“Teruslah berada di sampingku.” kata Mas Faiz.


“Aku akan terus berada di sampingmu, Mas.” kataku.


“Oiya ada satu lagi.” kata Mas Faiz.


“Apa itu, Mas?” tanyaku.


Mas Faiz menyingkir dari hadapanku.


Kini di hadapanku aku melihat meja kerja plus laptop berwarna biru kesukaanku. Di sana dihiasi bunga-bunga dan di atas laptop ada sebuah tulisan: UNTUK ISTRIKU TERSAYANG.


"Kamu bisa menulis ceritamu di sana dan aku akan mengerjakan tugas kantorku di sebelahnya. Jadi, kita bisa terus bersama." kata Mas Faiz.


“Masss, mengapa kau benar-benar bisa membuatku lemas?” kataku merengek pada Mas Faiz.


Mas Faiz hanya tertawa.

__ADS_1


Akupun membuka laptop itu. Dan betapa terkejutnya aku melihat wallpaper laptop tersebut adalah sebuah fotoku yang sedang tersenyum sambil menunduk malu-malu. Aku buru-buru menoleh ke arah Mas Faiz.


“Foto ini, dari mana Mas mendapatkannya?” tanyaku.


Mas Faiz terkekeh.


“Mas yang memotretku?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk.


“Mas ternyata paparazi.” kataku sambil tertawa.


“Bukan paparazi.” kata Mas Faiz.


“Lho, lalu?” tanyaku.


“Papa untuk anak-anak kita.” kata Mas Faiz sambil nyengir lebar.


“Mas..” rengekku.


Pipiku kini benar-benar merah mendengar gombalan Mas Faiz. Jantungku berdegup dengan kencangnya.


“Kamu lucu sekali, An.” katanya.


***


“Mas, apa kamu merasakan ada yang berbeda denganku?” tanyaku.


Mas Faiz mangangguk. “Iya, kamu jadi tidak pernah dandan,..”


“Apa aku terlihat kucal?” tanyaku.


“Ih, Mas jahat sekali. Jadi, aku tidak cantik lagi seperti itu?” kataku kesal. Ntah mengapa suasana hatiku berubah-ubah.


“Tidak, An. Kamu selalu cantik dengan ataupun tanpa make up. Mas serius.” kata Mas Faiz.


“Ntahlah, Mas. Aku pun sebetulnya ntah mengapa terus merasakan malas mandi dan malas bersolek.” kataku.


“Mungkin itu bawaan bayi kita. Tidak apa-apa, An.” kata Mas Faiz.


“Aku juga merasakan suasana hatiku mudah berubah-ubah, dan belakangan aku jadi merasa lebih berani.” kataku.


Mas Faiz tersenyum. “Mas kira hanya Mas yang merasakannya.” lalu terkekeh.


“Apa kamu marah padaku, Mas.” tanyaku.


“Tidak. Mas sama sekali tidak marah.” kata Mas Faiz.


“Katamu aku kucal.” kataku merajuk.


“Tidak, Sayang, kamu cantik. Cantik sekali seperti bidadari.” kata Mas Faiz.


“Apa kamu sudah pernah lihat bidadari?” tanyaku.


Mas Faiz terdengar mikir sejenak, “Sudah.” katanya.


“Di mana?” tanyaku.


“Di kamar ini.” katanya.

__ADS_1


“Dia seperti apa?” tanyaku.


“Seperti kamu, sudah, kita tidur ya.” katanya sambil mencium pucuk kepalaku.


***


Keesokkan harinya kamipun pergi ke dokter. Di sana aku di USG untuk pertama kali. Tes ini dilakukan untuk mengetahui usia kehamilan dengan akurat. Selain itu tes ini juga membantu aku dan Mas Faiz bisa melihat tanda-tanda kehidupan janin melalui detak jantung dan pergerakan bayi.


Dokter mengatakan bahwa umur kandunganku 6 minggu. Aku dan Mas Faiz begitu bahagia mendengar semua penjelasan yang dikatakan dokter. Bahkan aku lihat Mas Faiz terus menatap layar monitor tak berkedip.


Di sana aku juga menceritakan semuanya pada dokter, kata dokter ternyata itu gejala lumrah yang di alami ibu-ibu yang sedang hamil. Sejak di rumah aku tidak pernah merasakan mual. Aku baru tahu ternyata tidak semua ibu-ibu akan merasakan mual-mual. Dari konsultasiku hari ini, dokter memperkirakan kalau bayi dalam kandunganku laki-laki, namun beliau mengatakan untuk pastinya bisa di lihat pada USG nanti pada minggu ke 32.


Dokter menyarankan aku untuk USG setidaknya dua kali lagi, pada usia kehamilan menginjak 18-24 minggu dan pada usia kehamilan yang menginjak 32-34 minggu.


Setelah kami selesai, kamipun pulang.


“Mas, aku senang sekali kalau anakku laki-laki.” kataku sambil senyum-senyum sendiri.


Bayangan memiliki seorang putra sangat membuatku bahagia.


“Bukankah dulu kamu menginginkan anak perempuan?” tanya Mas Faiz.


“Mau anak perempuan juga tapi untuk anak kedua, tapi aku lebih suka untuk anak pertama laki-laki karena akan bisa menjaga adiknya.” kataku.


“Tapi ingat, laki-laki atau perempuan nantinya tidak boleh kecewa ya.” kata Mas Faiz.


“Iya, Mas. Baik perempuan atau laki-laki aku tidak akan kecewa, aku akan menyayanginya. Kalau anak laki-laki aku ingin punya anak sepertimu, Mas.” kataku.


“Kalau anak perempuan, aku juga sangat ingin dia menjadi sepertimu, An.” kata Mas Faiz.


“Tidak, Mas. Nanti dia galak dan ceroboh.” kataku.


“Jadi, kamu mengakui kalau kamu galak, An?” kata Mas Faiz terkekeh.


“Eh, apa aku galak? Tidak, aku tidak galak.” kataku. Lalu memalingkan wajahku.


Mas Faiz langsung tertawa.


“Kalau anak kita laki-laki aku ingin memberinya nama Haidar.” kataku. “Kalau perempuan siapa ya, Mas?” tanyaku.


“Zahra.” Mas Faiz cepat.


“Kenapa Zahra?” tanyaku.


“Mas ingin mengambil namamu. Mas ingin dia seperti bunga yang cantik, tumbuh merekah hebat seperti ibunya.” kata Mas Faiz.


Akupun tersenyum. “Kalau begitu akupun ingin memasukkan nama Ghifari dalam nama anak kita. Eh, apa aku beri nama Ghifari saja? Ghifari juga bagus, nanti tampan seperti ayahnya.” kataku.


“Jadi, Haidar atau Gifari?” tanya Mas Faiz.


“Bagaimana kalau kita punya anak tiga? Haidar, Ghifari, dan Zahra?” tanyaku.


Mas Faiz terkekeh. “Bagaimana bila kita punya anak 10 saja?” tanyanya.


“Bagaimana kalau 14?” tanyaku.


“Bagaimana kalau 20?” tanya Mas Faiz.


Kamipun menertawakan diri kami sendiri. Aku selalu berdoa agar anakku selalu sehat.

__ADS_1


__ADS_2