
Aku terus berjalan menuju gerbang. Aku benar-benar penasaran dengan seseorang yang kini terus menggedor-gedor gerbang rumahku. Saat aku membuka pintu. Seseorang yang sangat aku kenal kini berada tepat di hadapanku.
“Farha?” aku mengamati Farha.
Keadaan Farha sangat mengenaskan. Kerudungnya berantakan, wajahnya dipenuhi linangan air mata, tangannya terkepal keras sambil bergetar, dan sorot matanya begitu menatapku dengan penuh kebencian.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipiku. Aku benar-benar bingung mengapa aku sering kali mendapat tamparan. Ini bukanlah tamparan pertamaku, namun, ini adalah tamparan pertama yang aku dapatkan dari Farha, seseorang yang lembut, baik, dan polos.
“Ada apa, Farha? Mengapa kau menamparku?” seruku sambil mengusap pipiku yang terasa panas bekas tamparannya.
“Mbak, mengapa Mbak jahat sekali padaku?” serunya sambil menangis.
“Kejahatan apa? Aku bahkan tidak melakukan kejahatan apapun padamu!” kataku.
“Sudah, Mbak. Jangan pura-pura tidak mengerti. Mbak yang menelepon Mas Aaron untuk datang. Hingga.. hingga..” air mata Farha turun menderas. Dia tidak bisa menjelaskan lebih lanjut apa yang akan dijelaskannya.
Meski aku penasaran setengah mati, namun aku tahu Farha butuh tempat untuk beristirahat, akupun menawarankan dia untuk masuk ke dalam rumahku. “Lebih baik kamu masuk dulu. Kita bicarakan baik-baik di dalam.” kataku.
“Tidak perlu. Aku tidak akan menginjakkan kakiku untuk masuk ke rumah Mbak lagi. Kenapa Mbak jahat sekali padaku kenapa?” serunya kini sambil kembali menangis.
“Iya, tapi aku jahat apa Farha?” seruku frustasi.
“Mbak meminta Mas Aaron datang.” kata Farha.
“Tapi aku tidak memintanya datang menjemputmu. Aku hanya membertahunya kalau kau aman berada di rumahku.” aku mencoba menjelaskan pada Farha yang kini sedang naik darah.
“Bohong. Buktinya Mbak tidak benar-beanr menahanku kemarin. Kau tau Mbak apa yang dilakukan Mas Aaron padaku?” tanya Farha.
Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya maupun pada Aaron. Dan apa pula yang diperbuat Aaron pada Farha hingga dia menangis seperti ini?
“Dia memperkosaku, Mbak.” katanya. Air matanya mengalir. Dia menangis sejadi-jadinya.
Aku berniat untuk memeluknya. Mendengar Aaron memperkosa Farha, aku tahu berarti Aaron merenggut paksa dan melakukan itu semua tanpa persetujuan dari Farha. Kini aku kembali paham mengapa Farha menangis seperti ini.
Belum sempat aku memeluknya, Farha langsung menepis kedua tanganku dan mendorongku agar menjauhinya. Aku benar-benar kembali tidak mengenali Farha.
“Ternyata benar apa yang dikatakan Mbak Ulfa, kamu itu jahat, Mbak. Aku tidak mau lagi berteman dengan orang jahat seperti kamu. Kamu dan Mas Aaron sama-sama kejam. Kalian jahat!” teriak Farha.
Beberapa orang yang lewat mulai mencuri-curi pandang ke arah kami. Aku perlu menenangkan Farha dengan segera. Aku tentu tidak mau membuat semua orang makin salah paham.
__ADS_1
“Jangan dengarlah Kak Ulfa, Farha. Kakakku tidak sebaik yang kamu kira.” kataku.
“Lihat, benar kata Mbak Ulfa. Kau akan menjelek-jelekkan kakakmu sendiri.” kata Farha sinis.
Aku terdiam di tempat.
“Aku tidak bermaksud.” kataku.
“Sudahlah, Mbak. Terima kasih atas semuanya. Aku kira Mbak adalah teman paling tulus yang pernah aku punya, tapi ternyata Mbak hanya teman yang hanya manis di depan saja.” seru Farha berapi-api.
Farha berjalan pergi. Menjauhiku. Dia benar-benar marah padaku. Dia jalan dengan cara jalan yang aneh, bukan aneh, akupun pernah merasakannya. Dia pasti merasakan kesakitan di area sensitifnya.
“Farha! Tunggu!” seruku mengejarnya.
Aku merasakan kakiku perih karena tidak memakai alas kaki. Aku tidak terbiasa berjalan tanpa alas kaki karena kakiku mudah lecet. Namun, aku harus mengejar Farha. Aku harus meluruskan apa yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan dia pergi.
“Farha, tunggu!” seruku, masih mengejarnya.
Farha masih berlari. Dia terlihat makin kesakitan. Aku paham betul apa yang dia rasakan, dia baru melakukannya beberapa jam yang lalu jadi jelas dia belum bisa berjalan normal. Itu sangat menyakitkan. Aku melihatnya tidak tega.
Farha buru-buru menghentikan taksi yang lewat dan masuk ke dalamnya.
Aku berhenti. Aku tidak bisa lagi mengejar Farha. Aku bergeming di tempat. Aku mulai menyalahkan diriku karena telah memberitahukan keberadaan Farha pada Aaron melalui Linda. Namun, bagaimana juga Aaron adalah suaminya.
Saat sedang menatap jalanan yang kini kembali lengang. Aku merasakan ada sebuah mobil berhenti di belakangku. Akupun menoleh. Dari dalam mobil keluarlah seorang Aaron. Aku benar-benar kesal melihatnya.
“Ada apa sebetulnya?” seruku bertanya pada Aaron dengan kesal.
“Saya khilaf, Nin.” katanya dengan wajah frustasi.
“Ya Allah, Ron. Kenapa kamu sempat-sempatnya khilaf di waktu yang tidak tepat?” kataku geram. Aku benar-benar merutuki tindakannya yang tidak bisa menahan nafsunya.
“Aku benar-benar merasa bersalah. Namun, Nin, aku memiliki alasan.” kata Aaron memelas.
“Apa?” tanyaku galak.
“Aku kira dengan melakukannya, Farha akan luluh padaku. Aku kira selepas aku dan dia melakukannya, dia tidak akan pergi meninggalkanku, dan kami akan mulai memulai kehidupan pernikahan normal. Aku benar-benar berpikir itu adalah jalan satu-satunya. Namun, saat aku melakukannya, aku benar-benar kelepasan dan terkesan seperti..” Aaron menggantungkan kalimatnya.
“Seperti kau memperkosanya.” kataku sinis.
Kini kepalaku pusing. Aku memijit kepalaku memikirkan tindakan Aaron.
__ADS_1
“Maafkan aku, Nin. Aku benar-benar tidak berpikir panjang.” katanya.
“Yang harus kamu mintakan maaf itu, Farha. Bukan aku.” kataku.
“Tapi dia sangat dekat denganmu. Tolonglah, Nin. Bantu aku, meski bagaimanapun sikapnya padaku. Sungguh aku tetap menganggapnya sebagai istriku.” katanya.
“Ntahlah, aku bahkan tidak tahu apakah dia masih menganggapku teman setelah kejadian ini. Dia mengira aku yang menyuruhmu datang dan melakukan hal itu. Dia tidak percaya lagi padaku.” kataku.
“Tolonglah, Nin. Aku benar-benar bingung harus meminta tolong pada siapa lagi.” kata Aaron.
“Lebih baik, kau kejar saja dulu dia. Pastikan dia berada di mana. Dia tidak memiliki kerabat satupun di Jakarta. Sepertinya dia pergi ke rumah mamaku untuk bertemu Kak Ulfa.” kataku.
Aaron mengacak rambutnya frustasi saat kukatakan kemungkinan kalau Farha menemui Kak Ulfa. “Argh! Kenapa harus Ulfa sih!” serunya mengomel sendiri.
Aku memberikan tatapan menyelidik padanya.
“Mengapa kakakmu tidak sepertimu saja, Nin?” kata Aaron, wajahnya terlihat sedih.
“Maksudnya? Sepertiku?” tanyaku penuh dengan tanda tangan.
“Ah, sudahlah, kujelaskanpun kamu tidak akan mengerti.” kata Aaron.
Aaron hendak pergi. Aku buru-buru merentangkan tangan di depannya. Menahannya pergi sebelum menjawab pertanyaan Aaron. Aku benar-benar penasaran denga arti dibalik kata-katanya.
“Cepat katakan padaku!” seruku.
“Kamu tahu siapa yang memberitahu soal kecelakaan itu pada Farha?” tanya Aaron.
Aku menggeleng lemah. Otakku mulai memikirkan kemungkinan yang membuatku lemas. Aku tidak mau memikirkan kalau Kak Ulfalah yang mengatakannya. Namun perasaanku kuat sekali. Aku seperti tidak siap mendengarnya.
“Kakakmu, Ulfa.” kata Aaron.
Aku menurunkan tanganku yang kurentangkan menghalangi jalan Aaron. Aku benar-benar sedih mendengar pengakuan Aaron ini. Aku terdiam, lalu buru-buru tersadar. Aku menjauh memberikan jalan untuk Aaron pergi dari hadapanku.
“Nin?” panggil Aaron. Matanya terlihat sedih dan tidak enak melihatku.
“Pergilah.” kataku.
“Maafkan aku, Nin.” kata Aaron.
“Tidak, akulah yang seharusnya meminta maaf. Maafkan kakakku, Ron.” kataku.
__ADS_1
Aaron mengangguk.
“Pergilah. Jangan sampai Farha terpengaruh lebih dalam.” kataku.