Penjara Suci

Penjara Suci
PS 64 - Kepergian Gus Faiz


__ADS_3

Setelah membaca surat dari Aaron, aku merasakan banyak hal. Senang salah satunya. Aku senang karena hampir semua pertanyaanku terjawab oleh Aaron. Tapi aku sedih mendengar dia harus menjalani hukuman di pondok karena aku. Lagi-lagi aku menyebabkan santri putra dihukum.


Soal gelang ini, aku tidak pernah menyangka kalau gelang ini adalah pemberian dari Gus Faiz. Membayangkan aku memakai gelang pemberian Gus Faiz dan pernah dipakaikan gelang ini oleh si pemilik. Hatiku kembali berbunga-bunga. Rasanya bahagia betul. Mungkin inilah yang dinamakan jatuh cinta. Jika benar begitu bolehkah aku berharap?


Aku mengambil surat yang kedua. Surat ini pasti dari Gus Faiz. Melihat surat yang kelihatannya dari Gus Faiz ini aku teringat salah satu cerpen yang paling aku suka. Judulnya Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Aji Dharma. Aku merasa menjadi Alina yang mendapat surat cinta dan sepotong senja yang didapatkan susah payah dari Sukab. Aku merasa begitu bahagia menjadi seseorang yang diperjuangkan.


Namun, meski aku senang memosisikan diriku sebagai Alina, namun aku tak mau menjadi Alina yang tidak menghargai usaha Sukab hingga membalas surat Sukab dengan kata-kata yang kejam. Aku ingin menjadi Alina baru yang akan menerima Sukab dengan sepenuh hati, menghargai perjuangannya, dan bersedia menjadi kekasihnya. Memikirkan ini aku tersenyum sendiri.


Tanpa bisa aku cegah memoriku langsung memutarkan sepenggal isi cerpen berbentuk surat Sepotong Senja untuk Pacarku.


Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina,.. -versi asli.


Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Anindya,.. -versi halu.


Aku tersenyum lagi membayangkan isi surat Gus Faiz seromantis ini.


Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis,.. -versi asli.


Anindya yang manis, paling manis, dan akan selalu manis,.. -versi halu.


"Aaaaaa.." aku tak bisa menahan kehaluanku hingga aku berteriak.


Sepertinya aku benar-benar halu tingkat akut. Aku membayangkan Gus Faiz membacakanku cerpen itu dengan suara yang lebih lembut dan penuh penghayatan dari Abimana Aryasatya.


"Ada apa sih, Dik?" seru Kak Ulfa.


Tiba-tiba pintuku terbuka. Dan ada Gus Faiz di sana. "Ada apa?" tanyanya cemas.


Aku menggigit bibirku untuk menahan senyum melihat Gus Faiz bergitu mengkhawatirkanku. Tapi aku juga malu, pasalnya saat berteriak aku melupakan satu fakta kalau Gus Faiz berada di kamarku, kamar yang berada tepat di samping kamar Kak Ulfa. Kamar kami tidak kedap suara jadi wajar saja kalau Gus Faiz mendengar teriakanku dan langsung pergi ke sini.


"Eh, enggak, enggak papa." kata salah tingkah.


"Ih, kakak kira ada apa." kata Kak Ulfa, sebal.


Gus Faiz mengedarkan pandangannya ke arah surat yang sedang aku pegang. Di tanganku ada surat darinya. Lalu dia tersenyum miring, menggeleng, dan pergi. Ah, tidak. Dia pasti salah paham. Aku bahkan belum membuka suratnya. Lagi-lagi aku melakukan kebodohan.


Setelah Kak Ulfa tidur kembali akupun membuka surat tersebut. Aku membuka surat itu dengan hati-hati. Surat ini tak memiliki amplop. Terlihat seperti tidak ada persiapan dalam menulisnya.


Aku menahan napas. Dan mulai membacanya.


Saya tidak tahu harus memulai dari mana. Karena tak pernah menulis surat, saya pun tak pernah tahu bagaimana caranya membuat surat seindah surat Sukab kepada Alina.


Aku menutup mulut. Seketika jantungku berdegup kencang.


Saya mendapatkan tawaran beasiswa di salah satu universitas di Kairo dua bulan lalu. Dan saya harus berangkat besok pagi. Saya hanya ingin mengatakan kalau kamu tak perlu ikut mengantarkan saya karena kesehatanmu jauh lebih penting dari kepergian saya. Saya berdoa agar bisa secepatnya kembali sebelum kamu lulus dari pondok.


Sudah.


Selesai.


Aku membolak-balik kertas itu namun suratnya hanya benar-benar sampai kata pondok. Rasanya dongkol sekali. Memikirkan ketidakromantisan Si Gus Faiz itu.


Aku benar-benar kecewa. Ini benar-benar bukan surat cinta. Aaron benar, Gus Faiz benar-benar seperti balok es. Kaku. Dingin. Lagi-lagi aku terlalu berekspektasi tinggi.

__ADS_1


Aku menggigit bantal, melampiaskan kekesalan.


***


Setelah menyelesaikan salat subuh. Mama dan Umi mulai sibuk di dapur, mereka terlihat benar-benar terlihat kompak. Aku dan Kak Ulfapun mendekat berniat membantu mereka. Namun, alih-alih diberikan tugas, aku dan Kak Ulfa justru disuruh tunggu di ruang makan saja temani Papa, Abah, dan Gus Faiz.


Aku mengamati wajah Gus Faiz. Kak Ulfa buru-buru menyikutku. Ntah karena apa. Padahal hari ini Gus Faiz terlihat sangat tampan. Namun, mengingat akan ditinggalnya selama bertahun-tahun, hatiku bukan berdebar melainkan sedih.


"Papa, Nindy, ikut yaaa." kataku pada Papa.


"Jangan, Om. Nindy masih sakit." suara Gus Faiz.


"Betul kata Faiz, Nak. Kamu di rumah saja ya." kata Papa.


"Nindy udah nggak sakit, Papa. Nindy mau ikut." kataku pada Papa.


"Nindy, di rumah saja ya, istirahat." kata Abah.


Karena semua menolak permintaanku, akhirnya aku pasrah. Aku tak bisa mengatakan Gus Faiz ke bandara. Umi dan Mama pun datang membawa makanan. Kami pun mulai makan setelah berdoa.


Setelah selesai kamipun keluar rumah. Aku masih di kursi roda, di dorong Kak Ulfa. Sesampainya di depan rumah Gus Faiz mulai berpamitan padaku.


"An, saya pamit." kata Gus Faiz.


Aku mulai berkaca-kaca. Sedih sekali mendengar kata-kata Gus Faiz. Setelah berpamitan denganku, dia mengangguk pada Kak Ulfa tanpa mengucapkan kata-kata.


Setelah berjalan dua langkah menjauhiku. Gus Faiz berbalik.


Akupun mengambilnya, "Terima kasih." kataku lemah.


Setelah semuanya berangkat, akupun masuk kembali bersama Kak Ulfa. Kini tinggal kami berdua.


"Jangan sedih gitu dong." kata Kak Ulfa.


"Ih, siapa juga yang sedih." kataku pada Kak Ulfa.


Kak Ulfa dan akupun kembali ke kamar. Dia terus menghiburku meski kukatakan kalau aku tidak sedih.


"Kak, aku telepon Mia aja ya suruh ke sini. Temenin kita." kataku.


"Boleh." kata Kak Ulfa.


Aku mulai mencari nomor Mia.


"Kok hape kamu bisa ada di Gus Faiz?" tanya Kak Ulfa.


"Pernah aku buang di kamarnya." kataku. Mataku terus mencari nomor Mia yang tak kunjung ketemu.


"Di kamarnya? Di kamar Gus Faiz?" tanya ka Ulfa, tak percaya.


Aku mengangguk. Aku merasakan ada yang aneh dalam ponsel ini. Aku tak mengenal semua kontak yang ada dalam ponsel ini.


"Duh, Kak." kataku mulai cemas.

__ADS_1


Aku langsung melihat-lihat aplikasi novel yang selalu ada di ponselku *******, noveltoon, ******, ******** dan lain sebagainya. Duh, ladang uangku tidak ada satupun.


Jangan-jangan!


"Kayaknya hape aku ketuker deh, Kak." kata Kak Ulfa.


"Nggak mungkinlah. Mungkin waktu kamu buang di riset kali sama Gua Faiz." kata Kak Ulfa.


"Masa iya, Kak. Tapi kontak-kontaknya asing." kataku.


"Buka galeri coba." kata Kak Ulfa.


Setelah aku membuka galeri aku melihat beberapa foto Gus Faiz bersama teman-teman sekolah dan orang tuanya. Sepertinya ponsel ini benar-benar tertukar. Ternyata bukan hanya aku saja yang bisa ceroboh. Ternyata Gus Faiz juga ceroboh.


"Kak! Kita harus ke bandara!" teriakku.


"Naik apa?" tanya Kak Ulfa.


Aku cepat memesan mobil online lewat ponsel Gus Faiz ini. Saldonya banyak, untunglah kita bisa langsung bergegas ke bandara.


Aku berani bertaruh banyak kontak-kontak penting yang ada di ponselnya ini.


Aku dan Kak Ulfapun pergi ke Bandara. Lalu kami berdua berlari. Tidak, maksudku Kak Ulfa berlari, aku hanya duduk didorongnya.


"Ma, Pa, di mana Gus Faiz?" tanyaku.


"Lho, Nindy kok kamu ke sini?" tanya Papa.


"Gus Faiz salah kasih hape ke Nindy, Pa. Ini ponsel Gus Faiz." kataku. Sambil menggoyang-goyangkan ponselnya.


"Coba ditelepon saja, Nak." kata Abah.


"Iya, Nak. Soalnya Faiz sudah masuk dari tadi." kata Umi.


Bodoh sekali. Mengapa aku tidak langsung meneleponnya saja. Akupun menelepon nomorku. Aktif.


"Halo, Assalamualaikum. Gus, hape kita ketuker. Hape l-kamu pasti banyak yang pentingnya kan?" kataku.


Semua orang memandangku.


"Waalaikumsalam. Yasudah tidak apa-apa. Kamu pegang saja ponsel milik saya. Dan saya akan jaga baik-baik ponsel milik kamu. Mungkin ini takdir agar kita bisa terus berkomunikasi." kata Gus Faiz, diakhiri dengan kekehan.


Pipiku panas. Kata-katanya seperti menyuruhku untuk menunggunya. Rasanya ingin tersenyum. Tapi malu banyak orang.


"Ada apa, Nak? Apa kata Nak Faiz?" tanya Mama.


"T-tukaran dulu, Ma. Sampai dia pulang." kataku.


"Lho, pipi kamu kenapa, Nak. Kamu sakit ya?" kata Umi.


"Itu merah bukan karena sakit, Umi. Hahahaha." kata Kak Ulfa.


Aku melotot ke Kak Ulfa menyuruhnya diam. Namun dia tetap tertawa hingga semua orangpun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2