
Mataku belum bisa terpejam. Padahal udara malam plus AC semakin membuatku merasa dingin. Aku sangat suka dingin, namun ntah bagaimana caranya malam ini, dingin yang biasanya bersahabat denganku justru membuatku tidak bisa tidur.
Aku memandangi wajah suamiku. Damai sekali. Sepertinya dia kelelahan sampai terlihat pulang seperti itu. Seperti biasa dia memelukku dari samping. Tangan kirinya berada di atas perutku.
“Mas maafkan aku ya?” kataku. Kataku lirih sambil mengusap pipinya.
Aku benar-benar merasa tidak enak pada Mas Faiz tentang insiden Kak Ulfa. Di satu sisi aku ingin sekali hanya berduaan dengan Mas Faiz, namun di sisi lain, Kak Ulfa kakakku, perempuan, dan kedua orang tuaku meminta kami mengizinkan Kak Ulfa untuk bersama di sana.
Saat asyik memandangi wajah Mas Faiz. Tiba-tiba Mas Faiz membuka mata. Lalu mengerjap.
“Kenapa belum tidur?” tanyanya.
“Em, mungkin karena besok kita akan pergi. Hehe. Tidurlah, Mas. Maafkan aku ya karena telah membangunkanmu.” kataku tidak enak hati.
Mas Faiz memandangku, aku jadi salah tingkah. Aku ingin sekali meminta maaf padanya agar aku bisa tidur. Namun, aku tidak mau membuat Mas Faiz terjaga lebih lama, dia pasti lelah.
“Ada yang ingin kamu sampaikan pada, Mas?” tanya Mas Faiz.
Aku menggeleng ragu.
“Katakanlah,” kata Mas Faiz.
“Maafkan aku ya, Mas.” kataku akhirnya.
“Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, An.” katanya.
“Tentang Kak Ulfa. Aku, aku..” aku tak bisa melanjutkan kata-kataku.
“Apa karena ini kamu tidak bisa tidur?” tanya Mas Faiz.
Aku mengangguk lemah.
“Aku sungguh tidak apa-apa. Sudah jangan minta maaf lagi ya.” kata Mas Faiz.
“Terima kasih ya, Mas.” kataku.
“Dengan senang hati, An. Kamu seperti anak yang mau pergi studytour saja, An.” kata Mas Faiz, tersenyum. “Tidurlah..” kata Mas Faiz.
Akupun mengangguk dan mulai memejamkan mata.
***
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, aku dan Mas Faiz sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta menunggu Kak Ulfa dan Revan datang. Setelah mereka datang, seruan untuk masuk pesawatpun terdengar. Kamipun berjalan.
Aku sengaja melambatkan langkahku agar bisa mengobrol dengan Kak Ulfa. Karena Mas Faiz seperti terlihat sedang serius membicarakan pekerjaan pada Revan. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan suamiku.
“Kak Ulfa, tadi berangkat sama siapa?” tanyaku.
“Ya sendirilah, kamu tidak lihat kakak datang sendirian?” tanya Kak Ulfa.
“Aku kira diantar Papa.” kataku.
Kak Ulfa hanya menggumam. Aku tak bertanya lagi.
“Gus Faiz!” seru Kak Ulfa.
Aku terkejut. Mas Faiz yang mendengar namanya dipanggilpun menoleh.
“Nanti di sana kita jalan-jalan ya.” kata Kak Ulfa.
“Baik.” kata Mas Faiz.
Aku menghentikan langkahku. Lalu beristighfar dalam hati. Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah aku lakukan, aku begitu cemburu malihat Kak Ulfa mengobrol dengan Mas Faiz. Cara berbicara Kak Ulfapun berbeda, tadi saat aku mengajaknya mengobrol dia terlihat sangat enggan untuk menanggapi, namun lihatlah bagaimana dia mengajak Mas Faiz mengobrol.
“Kamu tidak apa-apa, Nin?” tanya Revan.
Aku sedikit mempercepat langkah. Mas Faiz yang menyadari tidak ada aku maupun Revan di sampingnya buru-buru menoleh ke belakang. Dia melihatku bersama Revan. Matanya kembali berubah, dia terlihat marah dan tajam menatapku.
Mas Faiz menghampiriku, lalu menggenggam tanganku. “Ayo, Sayang!” katanya.
Kalau kuamati. Mas Faiz seperti sengaja mengatakan kata ‘sayang’. Dia seperti ingin menegaskan kalau aku miliknya, baik kepada Revan maupun pada Kak Ulfa. Diapun membawaku jalan di depan, membiarkan Revan dan Kak Ulfa di belakang.
Mas Faiz memeluk pundakku. Lalu menciumku sekilas.
“Masss..” kataku.
“Biarkan saja biar mereka melihat.” katanya di telingaku.
Mau tak mau akupun tersenyum mendengar kata-kata Mas Faiz. Selepas Mas Faiz mengatakan kalimat itu di telingaku, aku mendengar seseorang menghentakkan kaki di belakangku. Aku tidak tahu siapa itu, meski aku penasaran namun aku tetap tidak menoleh.
Di pesawat aku duduk di samping Kak Ulfa, sedangkan Mas Faiz duduk bersama Revan.
“Kamu sengaja kan?” kata Kak Ulfa.
__ADS_1
“Sengaja apa ya, Kak?” tanyaku tidak mengerti arah pembicaraannya.
“Kamu tahu Kakak suka sama Gus Faiz, terus kamu sengaja pamer kemesraan di depan Kakak, kan?” tanya Kak Ulfa.
“Lho, Kak. Sebentar. Mas Faiz kan suamiku. Mau bermesraan ataupun tidak, bukankah itu hak kami?” tanyaku. Keceplosan berbicara. Aku benar-benar tak menyaring kata-kataku.
“Kamu benar-benar jahat, Nindy.” kata Kak Ulfa.
“Bukan begitu, Kak.” kataku.
“Ah, sudahlah Kakak mau tidur. Jangan ganggu Kakak.” kata Kak Ulfa.
Tadinya aku kira, kami akan mengobrol sambil tertawa selama perjalanan di pesawat, jadi aku meminta Mas Faiz membelikan tiket di samping Kak Ulfa, namun ternyata aku salah besar. Mungkin karena Kak Ulfa masih marah padaku makanya dia bertingkah seperti ini padaku.
Aku menghembuskan nafas frustasi. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kali ini. Jadi aku memilih untuk diam dan tidur juga. Di tiket kami, estimasi perjalanan 1 jam 50 menit. Waktu yang cukup panjang itu pasti membuang rasa kantukku. Akupun mengikuti jejak Kak Ulfa yang sudah terpejam. Terlepas dia sudah tidaur atau belumnya, aku tahu dia tidak mau aku ganggu.
Singkat cerita kamipun sampai di Bandara Internasional Lombok. Setelah mengambil koper, kami pergi ke sebuah hotel yang sudah di pesan Revan. Dia memasan 3 kamar. Satu kamar untuk aku dan Mas Faiz, satu lagi untuk Kak Ulfa dan satu lagi untuk dirinya.
“Bagaimana, kamu suka?” tanya Mas Faiz.
“Suka sekali, Mas.” kataku.
“Syukurlah kalau begitu.” kata Mas Faiz.
“Bagaimana perjalananmu selama di pesawat, Mas?” tanyaku pada Mas Faiz.
“Tidak terlalu mengasyikkan karena tidak berada di sampingmu, An.” kata Mas Faiz.
“Gombal..” kataku.
Mas Faiz terkekeh. “Bagaimana denganmu?” tanya Mas Faiz.
“Baik, hehe.” kataku, mencoba tersenyum.
“Tapi mengapa wajahmu menampilkan hal sebaliknya?” tanya Mas Faiz.
Aku mengusap tengkukku yang tidak gatal.
“Aku mandi duluan ya, Mas.” kataku menghindari pembicaraaan lebih lanjut.
Walau bagaimanapun Kak Ulfa adalah kakakku. Aku tidak mungkin menjelek-jelekkan Kak Ulfa pada Mas Faiz. Toh, aku yakin rasa marah dan sikap menyebalkan Kak Ulfa hanya bertahan sebentar tidak akan lama. Mungkin karena belum bisa bangkit dari rasa sukanya pada Mas Faiz membuat Kak Ulfa sedikit merasakan perasaan cemburu.
__ADS_1
Akupun langsung mandi. Kamar mandi ini benar-benar sangat mewah dan menyenangkan. Aku benar-benar bahagia. Setelah mandi akupun keluar, melihat aku yang sudah keluar kamar mandi membuat Mas Faiz bangkit untuk mandi juga.
Akupun berganti baju lalu menyiapkan pakaian untuk suamiku. Setelah itu akupun menuju meja rias untuk memoles wajahku senatural mungkin dan menyemprotkan minyak wangi agar aku terus wangi. Aku tidak mau Mas Faiz mendapatiku bau asam. Kuusahakan tidak akan pernah.