
Aaronpun pergi meninggalkanku. Akupun masuk ke dalam gerbang. Kini, aku tidak perduli lagi dengan tatapan orang-orang yang mendengar percakapan kami. Aku masuk ke dalam dan menutup gerbang.
Setelah kututup gerbang. Akupun lemas dan jatuh terduduk. Aku benar-benar merasakan sedih sekali mendenagr apa yang dikatakan oleh Aaron. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa Kak Ulfa bisa setega itu kepadaku, Aaron, dan Farha.
Kak Ulfa mencoba mengambil Farha, temanku yang paling dekat denganku. Pikiran-pikiran mulai berkecamuk dalam pikiranku. Akupun menangis dan mulai menutup wajahku dengan telapak tanganku. Aku benar-benar membutuhkan Mama. Aku benar-benar merindukan Mama.
Mama.. Aku merindukanmu. –batinku.
Aku mendengar ada suara mobil yang berhenti di depan gerbang rumahku. Aku buru-buru mengusap air mataku. Aku mencoba tersenyum. Sepertinya itu Mas Faiz. Karena tadi dia mengatakan kalau dia hanya sebentar ke kantor, dan dia ingin membawaku ke dokter kandungan.
Aku membuka gerbang rumahku. Mas Faizpun memasukkan mobilnya ke dalam. Akupun menutup gerbang kembali.
“Lho, An. Kamu kenapa?” tanya Mas Faiz.
Dia memegangi pipi kiriku. Dan mengamati mataku.
Aku menggeleng.
Mas Faiz menggeram. Dia terlihat sangat marah. “Siapa yang melakukan ini?” tanya Mas Faiz.
Aku menggeleng. Hanya satu air mata yang mengalir di sudut mataku. Aku tidka mungkin mengatakan kalau Farha yang melakukannya. Lagi pul ini hanya karena salah paham. Aku tidak mau Mas Faiz marah pada Farha.
“Apa ini kerjaan Kak Ulfa?” tanya, Mas Faiz. Matanya mulai menggelap. Tangannya sudah terkepal.
Aku buru-buru meraih tangan Mas Faiz. “Bukan. Ini bukan karena Kak Ulfa.” kataku.
“Katakanlah yang sejujurnya, An.” kata Mas Faiz.
Aku tidak berani berbohong pada suamiku. “Tadi Farha datang..”
“Jadi, kamu ditampar Farha?” tanya Mas Faiz.
Dia berbalik dan hendak membuka mobil. Aku memeluknya dari belakang, membuat pergerakannya berhenti, “Mas Aku mohon dengarkan dulu. Farha hanya salah paham kepadaku. Karena dia mengira kalau kau yang menyuruh Aaron datang ke sini dan..” aku mulai berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Mas Faiz.
“Dan apa?” tanyanya. Dia berbalik menatapku.
“Aaron memerkosa Farha. Iya, Farha marah karena ini. Tadi, Aaronpun datang meminta aku membantunya.” kataku.
“Aaron datang?” tanya Mas Faiz.
Aku mengangguk membenarkan kata-kata Mas Faiz.
“Iya tadi kami dia datang setelah Farha pergi. Kami mengobrol di depan.” kataku.
“Kamu mengobrol dengan dia, berdua?” tanya Mas Faiz. Kini dia menatapku dengan tatapan aneh, dan penuh kemarahan.
Aku mulai berpikir kalau aku salah berbicara. Namun aku bingung di mana letak kesalahan itu karena yang aku rasakan aku hanya menjelaskan apa yang terjadi.
“Iya, Mas.” kataku polos.
“Lain kali jangan berduaan dengannya. Mas tidak suka.” kata Mas Faiz.
“Apa kamu cemburu pada Aaron, Mas?” tanyaku.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya tidak suka melihat kamu berdekatan dengan pria lain.” kata Mas Faiz.
“Baik, Mas. Tapi bagaimana kalau Aaron datang untuk meminta bantuan seperti tadi?” tanyaku.
“Suruh dia meminta izin padaku.” kata Mas Faiz.
Aku mengangguk mengerti.
“Ayo, masuk. Aku kan mengobati pipimu.” kata Mas Faiz.
Di dalam rumah, Mas Faizpun langsung mengompres pipiku dengan es batu. Mas Faiz mulai merawatku dengan telaten.
“Mas, bolehkah kalau ke dokternya besok saja?” tanyaku.
Ntahlah meski aku tidak melakukan hal atau pekerjaan yang berat aku merasa sangat lelah.
“Baiklah, sepertinya kamu memang sangat lelah.” kata Mas Faiz.
Aku mengangguk.
Tiba-tiba ponsel Mas Faiz berdering. Mas Faizpun mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
“Waalaikumsalam. Baik. Terima kasih.” kata Mas Faiz lalu memutuskan hubungan.
“Siapa, Mas?” tanyaku.
“Katanya Asisten Rumah Tangga dan Satpam akan datang hari ini, mereka lagi di jalan.” kata Mas Faiz.
“Apa masih sakit” tanya Mas Faiz.
Aku menggeleng, “Tidak, Mas. Aku sudah sembuh.” kataku.
Tidak lama kemudian, seseorang memencet bel. Aku dan Mas Faizpun keluar untuk membukakan gerbang.
“Assalamualaikum, Pak. Bu. Pak Faiz, ini Bu Darmi dan Pak Jarwo.” kata seseorang laki-laki berjas rapih kepada suamiku.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” kami semua menjawab salamnya.
“Saya Darmi, Bu, Pak. Bisa dipanggil Bi Darmi saja.” kata Bi Darmi.
“Saya Jarwo, Pak, Bu. Panggil Jarwo atau Mang Jarwo saja tidak apa-apa.” kata Mang Jarwo.
“Baik, Bi Darsih dan Mang Jarwo, perkenalkan, saya Faiz dan ini istri saya Nindy.” kata Mas Faiz. “Oiya, Nindy, ini Rizki. Rizki ini istri saya.” Lanjutnya.
Kami hanya saling mengangguk.
Aku mulai berasa pria berjas atau Rizki itu terus melihat ke arahku. Saat aku menoleh ke arahnya dia buru-buru membuang pandangannya kea rah lain. Sepertinya dia salah satu staf Mas Faiz di kantor.
“Ayo, masuk dulu semuanya.” kata Mas Faiz.
Kami semuapun masuk ke dalam. Aku buru-buru membuatkan teh hangat untuk Bi Darsih dan Aku, dan membuatkan kopi untuk Mas Faiz, Mang Jarwo, dan Rizki.
“Bi Darsih dan Mang Jarwo bisa bekerja mulai besok.” kata Mas Faiz.
__ADS_1
“Bi Darsih mulai hari ini saja tidak apa-apa, Pak.” kata Bi Darsih.
“Memang bibi tidak lelah? Istirahat saja dulu tidak apa-apa.” kataku pada Bi Darsih.
“Tidak, Bu. Saya justru kalau istirahat badan saya pegal-pegal.” kata Bi Darsih.
“Saya juga, Pak, Bu. Kalau bisa langsung bekerja saja.” kata Mang Jarwo.
“Baiklah, bagaimana baiknya Bi Darsih dan Mang Jarwo saja.” kata suamiku. Aku tersenyum mengiyakan.
Setelah berbincang-bincang. Kami pun memberitahu di mana kamar untuk Bi Darsih dan Mang Jarwo.
***
Aku sedang tidur-tiduran di dalam kamar, lalu tiba-tiba Mas Faiz masuk. Mas Faiz tersenyum lebar melihat wajahku. Dia menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.
Mau tak mau aku terkekeh melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan.
“An, aku ada sesuatu untuk kamu.” kata Mas Faiz.
“Apa, Mas?” tanyaku, penasaran.
“Kamu tutup mata dulu.” kata Mas Faiz.
Akupun menutup mata. Aku tidak tahu apa yang dilakukan suamiku.
“Sekarang buka mata.” katanya.
Aku mulai berpikir apa yang akan diberikan Mas Faiz kepadaku.
Akupun membuka mata. Lalu mengerjap-ngerjap. Mulai meragukan penglihatanku. Aku melihat dua telapak tangan Mas Faiz kosong di depanku. Aku merasa sedikit kecewa. Aku menatap Mas Faiz.
“Mana hadiahnya?” kataku lemas. Karena realita seindah ekspektasi.
“Ini..” katanya.
“Tangan kosong?” tanyaku.
Mas Faiz mengangguk. Aku pun kesal. “Aku mau tidur saja.” kataku.
Mas Faiz terkekeh melihat aku yang marah padanya. “Aku bercanda. Ayo ikut sama aku. Kali ini aku betulan.” kata Mas Faiz.
“Sungguh?” tanyaku sambil menatapnya, mencari kebohongan di balik matanya.
“Sungguh.” kata Mas Faiz.
Mas Faiz mengulurkan tangannya lagi. Aku segera menyambut kedua tangannya dengan kedua tanganku. Tangan kamipun kini saling bertautan.
Aku pun berdiri.
“Aku tutup mata kamu ya.” kata Mas Faiz.
Masa Faiz menutup mataku dengan tangannya. Lalu kamipun berjalan dengan Mas Faiz yang menuntunku dengan hati-hati. Aku tersenyum, ternyata suami balok es-ku ini bisa romantis juga.
__ADS_1